Selamat dan Sukses


DIGITALISASI DAKWAH DALAM TINJAUAN KOMINFO PW PEMUDA PERSIS JABAR


Digitalisasi dakwah adalah salah satu program jihad yang digulirkan oleh kominfo Pemuda Persis Jabar, hal ini dianggap perlu untuk agar supaya penyebaran informasi dan ideologisasi Jam’iyyah yang lebih luas yang tidak mengenal batas wilayah baik regional maupun internasional, itu semua bisa terjangkau dengan akses internet dan kekuatan media komunikasi yang barbasis teknologi di era saat ini.

Media komunikasi dengan basis informasi dan teknologi yang digarap dan dikembangkan Pimpinan Wilayah Pemuda Persis ini, ke depannya bisa menjawab permasalahan serta tantangan jaman yang begitu pelik serta komplek yang tengah dihadapi oleh umat pada saat ini maupun kedepannya. Media komunikasi yang berbasiskan teknologi juga harus dimanfaatkan serta dijadikan alat untuk mengakserisasikan nilai-nilai jam’iyyah Pemuda Persis Jawa Barat dalam kehidupan masyarakat secara khusus dan dunia internasional secara global.

Digitalisasi adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan proses alih media dari bentuk tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital. (wikipedia). Sebagai sebuah proses yang sepenuhnya mengandalkan teknologi, maka proses digitalisasi membutuhkan ketrampilan teknis khusus yang harus dipelajari secara simultan. Digitalisasi disini lebih mengacu kepada digitalisasi informasi yang mengandung pengertian proses mengubah berbagai informasi, kabar, atau berita dari format analog menjadi format digital sehingga lebih mudah untuk diproduksi, disimpan, dikelola, dan didistribusikan. (wikipedia)

Dengan pengertian-pengertian di atas maka digitalisasi dakwah adalah sebuah proses untuk mengubah (merekam, mengemas, dan menyajikan) informasi dakwah dari format analog menjadi format digital sehingga lebih mudah untuk diproduksi, disimpan, dikelola, dan didistribusikan.

Digitalisasi dakwah adalah sebuah gerakan transformasi infomasi dari analog menuju digital yang mesti dilakukan untuk menyebar luaskan informasi serta menumbuh suburkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, mupun dalam hal muamalah yang dituangkan dalam sebuah media komunikasi dalam format digital, seperti internet, medsos, web, blog, TV online, radio online, dsb. Yang ini semua suatu kemestian yang mesti digarap dan dikembangkan secara serius oleh para mujahid dakwah, sehigga terciptanya tatanan kehudipan masyarakat yang berdasarkan nila-nilai aturan Islam.

IMG-20181203-WA0000

Urgensi Digitalisasi Dakwah

Urgensi digitalisasi dakwah sesuatu yang teramat penting bila ditinggalkan, maka kita perlu melihat bagaimana salah satu contoh yang pupuler dari keberhasilan Ustadz Abdul Somad menjadi dai kondang, kemudian ustadz Adi Hidayat dan ustadz Evie Efendi. Ketiganya menjadi dikenal karena ceramah-ceramahnya dibuat dalam versi video dan disebarkan melalui Youtube. Kalau memang memegang prinsip keikhlasan dan tidak ingin populer, lihatlah dari sisi betapa dengan memposting kajian/pengajian ke Youtube pesan-pesan dakwah begitu cepat diterima banyak orang? Betapa efektifnya dakwah seperti itu, bisa diputar ulang, diakses dari manapun, kapanpun sepanjang ada akses internet.

Argumentasi lain adalah kehadiran internet yang sudah begitu melekat dalam kehidupan manusia, seperti pedang bermata dua, bisa berdampak positif dan negatif dengan sifat kebebasan dan kontennya. Karena sudah tidak bisa dilepaskan dari aktifitas sehari-hari, maka alangkah lebih baik jika semua yang peduli terhadap dakwah berlomba-lomba mengisi internet dengan konten-konten positif sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkannya daripada konten-konten negatif. Konten positif itu salah satunya berasal dari aktifitas dakwah yang sarat ajakan untuk berbuat baik bagi manusia. Adapun konten negatif dan positif. Adapun mengenai konten-konten yang terdapat di dunia Internet dari hasil sebuah penelitian DR.Yusuf Qordawi dalam bukunya yang berjudul “nikah online” konten negatif jumlahnya 75% sedangkan konten positif sesisanya hanya berisi 25 % suatu perbandingan yang begitu jomplang yang mesti di respon dan di cari jalan keluarnya. Diantara solusi yang ditawarkan kominfo PW. Pemuda Persis Jabar untuk menjawab permasalahan tersebut dengan sebuah gerakan bernama digitalisasi dakwah.

Selanjutnya tuntutan masyarakat modern saat ini dengan mobilitas tinggi menuntut segala sesuatu bisa diraih dengan cepat bahkan instan, informasi bisa diakses dimanapun dan kapanpun karena didukung teknologi internet yang makin cepat. Dunia akan terus bergerak maju dengan digitalisasi tidak mundur ke belakang maka siapapun yang tidak mengikuti perkembangan dunia ini, akan tergilas betapapun kuat eksistensinya. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri demikian kata Rhenald Kashali. Wallahu a’lam

Muswil IV


MUSKERWIL IV PW PEMUDA PERSIS JABAR


Rasyid Ridha, Wahabi, dan Reproduksi Anti-Wahabisme Baru


 Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Wacana mengenai Wahabi sepanjang abad ke-20 hingga sekarang terlihat masih merupakan wacana yang selalu hangat. Penyebabnya pasti bukan semata-mata karena keberadaan ajaran Wahabinya, melainkan karena ajaran ini berkait dengan salah satu aktor politik internasional sepanjang abad ke-20 hingga saat ini, yaitu Kerajaan Saudi Arabia (KSA). KSA memang secara ideologis menjadikan ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab sebagai pegangan dasar dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Bukan hanya itu, KSA juga menjadi penyokong paling serius penyebaran ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahab ini ke seluruh penjuru dunia.

Karena ideologi sudah berkelindang dengan politik dan kekuasaan, maka adalah wajar bila bersamanya juga muncul beragam fitnah yang sebagian besarnya merupakan kebohongan yang diada-adakan untuk kepentingan politik tertentu. Fitnah-fitnah itupun, walaupun sudah banyak yang diklarifikasi sejak Ibn Abdul Wahhab masih ada terus saja berlangsung hingga sekarang. Bahkan buku-buku yang berisi fitnah itupun terus direproduksi hingga saat ini. Di antara fitnah yang sering dilontarkan kepada Wahabi adalah: takfir terhadap kelompok yang tidak sepaham, melakukan pembunuhan terhadap para ulama, melarang ziarah ke kuburan Nabi, mau menghancurkan kuburan Nabi, bekerja sama dengan Inggris merebut Mekah dan Madinah dari tangan Usmani, dan sebagainya. Continue reading →

M. Natsir; dari Pendis sampai Dakwah Kampus


natsirOleh: Tiar Anwar Bachtiar

Muhammad Natsir, pria murah senyum bergelar Datuk Sinaro Panjang ini lebih dikenal orang sebagai seorang pemimpin dan politisi kawakan yang jujur dan lurus. Lahir di sebuah kota kecil berhawa sejuk, Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat tanggal 17 Juli 1908, seratis tahun yang lalu. Karirnya sebagai politisi dicatat dengan tinta emas dalam sejarah. Ketika tahun 1950, dalam usia yang relatif muda (42 tahun) menjabat perdana menteri Indonesia Mosi Integral-nya yang terkenal itu berhasil mengembalikan Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus mengantarkanya duduk di kursi perdana menteri. Kala itu, bentuk negara serikat rentan diobok-obok oleh Belanda yang kelihatan masih sangat ingin menguasai Indonesia. Banyak negara bagian yang dihasut oleh Belanda untuk melakukan pembangkangan. Dengan Mosi Integral, akhirnya Natsir berhasil mengeliminasi kembalinya pihak asing mengkooptasi kedaulatan pemerintahan Republik Indonesia.

Setelah menjadi perdana menteri, karir politiknya banyak dihambat oleh Sukarno karena selalu berseberangan paham sampai akhirnya tahun 1960, kurang dari satu tahun setelah pembacaan Dekrit Presiden tahun 1959, partai yang pernah dipimpinnya, Masyumi, dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno. Sejak saat itu, Natsir bersama politisi-politisi masyumi lain lebih banyak bergerak di belakang layar. Terlebih setelah Suharto naik, Natsir dan kawan-kawan yang dicap sebagai “ekstrim kanan” benar-benar disingkirkan dari panggung perpolitikan Indonesia dengan berbagai cara. Natsir pun akhirnya lebih memilih menekuni bidang dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang mengantarkannya menjadi Wakil Presiden Rabithah Alam Islami yang bermarkas di Karachi sampai akhir hayatnya tahun 1993. Continue reading →

M. Natsir Tokoh Pendidikan


Profil-Biografi-Mohammad-Natsir-1

 Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Muhammad Natsir, pria murah senyum bergelar Datuk Sinaro Panjang ini lebih dikenal orang sebagai seorang pemimpin dan politisi kawakan yang jujur dan lurus. Lahir di sebuah kota kecil berhawa sejuk, Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat tanggal 17 Juli 1908. Karirnya sebagai politisi dicatat dengan tinta emas dalam sejarah. Ketika tahun 1950, dalam usia yang relatif muda (42 tahun) menjabat perdana menteri Indonesia Mosi Integral-nya yang terkenal itu berhasil mengembalikan Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus mengantarkanya duduk di kursi perdana menteri. Kala itu, bentuk negara serikat rentan diobok-obok oleh Belanda yang kelihatan masih sangat ingin menguasai Indonesia. Banyak negara bagian yang dihasut oleh Belanda untuk melakukan pembangkangan. Dengan Mosi Integral, akhirnya Natsir berhasil mengeliminasi kembalinya pihak asing mengkooptasi kedaulatan pemerintahan Republik Indonesia.

Setelah menjadi perdana menteri, karir politiknya banyak dihambat oleh Sukarno karena selalu berseberangan paham sampai akhirnya tahun 1960, kurang dari satu tahun setelah pembacaan Dekrit Presiden tahun 1959, partai yang pernah dipimpinnya, Masyumi, dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno. Sejak saat itu, Natsir bersama politisi-politisi masyumi lain lebih banyak bergerak di belakang layar. Terlebih setelah Suharto naik, Natsir dan kawan-kawan yang dicap sebagai “ekstrim kanan” benar-benar disingkirkan dari panggung perpolitikan Indonesia dengan berbagai cara. Natsir pun akhirnya lebih memilih menekuni bidang dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang mengantarkannya menjadi Wakil Presiden Rabithah Alam Islami yang bermarkas di Karachi sampai akhir hayatnya tahun 1993. Continue reading →