Ahmad Sumargono Meninggal Dunia


Ahmad Sumargono menjewer Bush

Dunia Islam Indonesia berduka. Satu lagi tokoh cendekiawan muslim Indonesia berpulang ke hadirat Allah SWT. Cendekiawan muslim yang juga mantan anggota DPR, Ahmad Sumargono, tutup usia dini hari tadi. Diketahui, Ahmad Sumargono meninggal  Jumat (24/2) pukul 02.00 dini hari. Pria kelahiran 69 tahun lalu itu meninggal saat sedang berada di Sukabumi, Jawa Barat, untuk menhadiri sebuah kegiatan sejak Kamis (23/2) sore. Sumargono, yang akrab disapa Gogon adalah ke 5 dari 7 bersaudara, dari pasangan R Sumantri dan RR Sumariah. Sumargono pernah menjabat Ketua DPW Partai Bulan Bintang (PBB) DKI Jakarta. Sumargono menjadi anggota Dewan pada 2004-2009 dari PBB. Namun kemudian ayah 4 anak dan kakek 11 cucu ini memilih pindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan menduduki posisi sebagai anggota Majelis Pertimbangan PPP.

Ahmad Sumargono ? lebih popular disebut Gogon- lahir di Jakarta, 1 Februari, 1943, dari pasangan R.Sumantri dan R.R. Sumariah Sebenarnya bukan anak Betawi asli melainkan dari ?Wetan? yaitu berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, namun karena dibesarkan di lingkungan masyarakat Betawi di Petojo, Jakarta Pusat maka bukan saja gaya bicaranya ala Betawi, lebih dari itu ia sangat terpengaruh oleh kebiasaan orang Betawi. Jadi secara geneologis Jawa tetapi secara kultural ia telah di ?Betawikan.? Ia anak ke 5 dari 7 bersaudara, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 3 perempuan. Ayahnya telah wafat saat Gogon masih kecil.

Usai Gogon menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMU), minatnya mulai berubah menjelang menjadi mahasiswa pada 1963. Ia sempat tertarik ajaran Marhaen dan hampir menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kalau saja kantor GMNI di Pegangsaan tidak tutup.

Waktu itu mengikuti kuliah di dua Universitas dengan fakultas yang sama yaitu ekonomi. Gogon kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan Universitas Indonesia (UI) tahun 1963. Di UKI hanya sempat kuliah 1 semester, selebihnya ia mengikuti pendidikan tinggi itu di Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta sampai tamat.

Saat kuliah, para seniornya mengajak Gogon bergabung dalam organisasi ekstramahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dari dunia kemahasiswaan di HMI itula, Gogon mulai berkenalan dengan seniornya di antaranya Firdaus Wajdi, Eky Sahruddin, Fahmi Idris, Mar’i Muhammad, juga tokoh dan senior HMI yang rajin memberikan kursus-kursus politik yaitu Dahlan Ranuwihardjo.

Dari sinilah, Gogon mengalami babak baru dalam pemahamannya terhadap Islam, teologis-ubudiah, kini meluas kepada pemahaman Islam Ideologis-amaliah al muamalah, atau istilah penulis pemahaman holistik Islam. Aktivitas di lingkungan HMI pada masa itu lebih kepada social action. Gogon bergabung dengan HMI rayon Petojo, Grogol, dan Tomang (PGT).

Gogon telah masuk dalam perjuangan Islam secara ideologis. Ia memiliki kawan dekat yaitu Ridwan Saidi dan Mar’i Muhammad, para aktivis HMI dari kampus UI, dan ketiga orang ini dikenal dengan Trio sekawan. Ketiganya kemudian dipercayakan duduk di kepengurusan HMI pada tingkat pengurus besar di era kepemimpinan Sulartomo. Bedanya, kawan-kawan Gogon sempat menjabat pada tingkat teras kepemimpinan, sedangkan Gogon cukup di level departemen kader.

“Awal mula saya belajar soal politik Indonesia dari sahabat saya Mar’i Muhammad, seorang mahasiswa, aktivis HMI keturunan Arab,” ujarnya. Darinya kemudian ia dikenalkan dengan tokoh mahasiswa tingkat nasional masa itu seperti David Napitupulu, Cosmas Batubara, Zamroni, Husni Tamrin yang dikenal kemudian sebagai tokoh mahasiswa angkatan ’66’ dalam wajah pergulatan pemuda dan mahasiswa di Indonesia. Kemudian Gogon melakukan pembinaan soal kepemimpinan, keorganisasian, keislaman dan masalah politik dengan belajar banyak pada Almarhum Mas Dahlan Ranuwihardjo SH, mantan Ketua PB HMI yang sangat mumpuni dan disegani.

Perjalanan hidup seseorang, bukan garis linear. Ia terkadang jalan berkelok, bagai lurah (lembah) kehidupan penuh terjal dan pendakian. Kehidupan seseorang dapat pindah dari satu ruang kehidupan yang satu ke yang ruang lain dan itu kemudian membentuk karakter sejarahnya sendiri. Demikian Gogon, selain ditempa di HMI dan kampus UI Salemba, juga terbina dalam aktivisme pengajian asuhan Ustaz Sobary. Ustaz Mohammad Sobary, bukanlah orang yang baru dimata Gogon, sebenarnya mereka tinggal bertetangga, akan tetapi intimitas itu dimulai ketika keluarga Ustaz Mohammad Sobary mengalami cobaan, istri beliau sakit, hingga kemudian dipanggil oleh Al Khalik.

”Saya kagum dengan Ustad Mohammad Sobary, ia menguasai ilmu agama yang luas, hafal Alquran (hafiz) dan menguasai empat bahasa yaitu Inggris, Prancis, Belanda dan bahasa Arab. Ia pernah tinggal di London-Inggris menyelesaikan pendidikan Masternya di bidang kepustakaan. Pengetahuannya diraih sebagian besar secara otodidak. Saya banyak berguru kepadanya,” ujarnya.

Ustaz Mohammad Sobary selain berpengetahuan sangat luas, sebagai kiai, kepribadiaanya juga sangat mengagumkan ia seorang dermawan, rasa solidernya tinggi terhadap siapapun termasuk Gogon. Kiai Sobari juga orang yang khusyuk dalam shalatnya tidak jarang beliau menitikkan air matanya ketika shalat. Kekaguman dan kedekatan Gogon itu mengantarkannya aktif bersama-sama di organisasi Al-Irsyad. Kyai Sobary pernah menjabat sebagai Ketua Umum dan Gogon sebagai Sekretaris Umum diorganisasi tersebut, ini sekitar tahun 1980-an.

Awalnya Gogon turut membina akivitas masjid sebagai ketua remaja Masjid Nurul Ala Nurin di kawasan Petojo. Di sini Gogon dan kalangan remaja lainnya selalu mengadakan kegiatan pengajian-ceramah setiap hari Jumat dan Ahad, atau dua kali dalam satu minggu. Gogon yang telah tertempa di organisasi HMI dan organisasi kampus, mampu memainkan peran kepemimpinannya di lingkungan tempat tinggalnya melalui lembaga masjid.

Di Masjid ini, ia sering mengundang tokoh-tokoh Islam, kalangan ulama maupun cendiekiawan, khususya dari kalangan Masyumi seperti DR Mohammad Natsir, Pro DR Hamka, Buya Sutan Mansur, Buya Malik Ahmad, DR Mahmudin Sudin dan banyak lainnya. Sosialisasi yang intens ini semakin mendekatkan cara berfikir dan berjuang sebagaimana kalangan tokoh Islam itu. Islam bagi Gogon telah menjadi pandangan dan cita cara berjuang hidup.

Perlu diketahui bahwa pada masa mahasiswa, untuk biaya kuliah Gogon berasal dari pamannya, sewaktu masih di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Masa dibangku kuliah juga telah terlibat dalam aktivitas keorganisasian mahasiswa untuk kegiatan dibidang mengelola lembaga pers Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam sebagai staf Biro kader PB HMI.

Dr Ahmad Sumargono,  salah seorang tokoh yang namanya identik dengan Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI meninggal dunia pada Jumat, pukul 01.30 dini hari akibat serangan jantung . Pria  yang  kiprahnya dikenal di era tahun 90-an  ini meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit di Sukabumi.

Melalui wadah KISDI, ia  membela umat Islam di berbagai belahan dunia yang mengalami penderitaan akibat hegemoni Barat. Di antaranya kasus Palestina, Kashmir, Moro, Patani, Afghanistan, Bosnia, Kosovo, Chechnya, Aljazair, Turki dan Iraq.

KISDI beberapa kali melakukan aksi massa di Jakarta yang dihadiri oleh ribuan umat Islam.

Selain kasus dunia Islam, KISDI juga sering beraksi dalam kasus-kasus nasional yang menyangkut umat Islam. Sebut saja kasus kerusuhan di Tasikmalaya, Kupang, Ambon sampai ke Poso. Pernah beraksi menggugat Harian Kompas, CSIS serta pembelaannya pada syariat Islam yang membuat ia banyak dibenci kelompok sekuler.

Selain aktif di KISDI, Bang Gogon pernah aktif  sebagai salah satu Ketua DPP Partai Bulan Bintang. Bahkan ia pernah menjadi Ketua Fraksi Bulan Bintang di DPR RI. Sebelumnya, Bang Gogon aktif sebagai Ketua Lembaga Manajemen dan Pengembangan Infak, Ketua Korps Mubaligh Jakarta, Lembaga Pers Mahasiswa Islam dan Himpunan Mahasis Islam (HMI).

Ketua Umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), putra terbaik umat Islam Indonesia yang peduli terhadap perjuangan kaum muslim, baik di dalam negeri maupun di dunia internasional. H. Ahmad Sumargono atau yang akrab disapa Bang Gogon dikenal sebagai Tokoh KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam). Ia juga sosok pejuang tegaknya Syariat Islam yang oleh musuh Islam yang sering disebut-sebut sebagai tokoh Islam Fundamentalis.

Almarhum Ahmad Sumargono menurut politikus Irgan Chairul adalah seorang negarawan yang tegas, jelas dan tidak pernah bersikap abu-abu. Salah satu kejelasan sikap politik Ahmad Sumargono, dalam ingatan Irgan, terlihat dalam perjuangannya menyuarakan kepentingan umat Islam dan menyatukan berbagai kelompok dalam agama itu.

Pemikiran Nurcholis, yang menjadi Ketua Pengurus Besar HMI periode 1966-1968 (Ahmad Sumargono mulai menjadi mahasiswa 1963), sebagaimana telah diketahui sangat mengedepankan politik Islam yang substansial dan anti penggunaan simbol agama dalam kehidupan negara.

Slogan yang paling terkenal dari almarhum Nurcholis adalah “Islam yes, partai Islam no”.

Namun pemikiran Nurcholis yang banyak diikuti oleh kader HMI tersebut nampaknya tidak membekas di benak Ahmad, bahkan dia akhirnya malah menjadi politikus Partai Bulan Bintang yang berhaluan Islam.

“Fakta ini menunjukkan bahwa Ahmad adalah pribadi yang kuat, yang tidak mudah terpengaruh arus besar,” kata Irgan menanggapi anomali sikap politik Ahmad.

Beliau meninggal Jumat dini hari di Rumah Sakit Sekarwangi Sukabumi pada usia 69 tahun, Selamat jalan Pejuang Islam, jasa-jasamu akan tercatat di Lauhul Mahfudz. Semoga Allah menerima segala kebaikan yang dilakukan orang tua kami, H. Ahmad  Sumargono. Bagi yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Jenazah pria yang lahir pada 1 Februari 1943 ini akan disemayamkan di rumah duka, di Komplek Dokter Jalan H. Baping, Ciracas, Jakarta Timur. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s