Dasar Pertimbangan Penetapan Hari Raya Idul Adha


Sebagaimana telah diputuskan oleh Sidang Dewan Hisab dan Rukyat dan diikuti oleh Dewan Hisbah, bahwa penetapan hilal itu ditetapkan dengan Imkan al-Rukyat dengan perhitungan ketinggian hilal 4 (empat) derajat.

Untuk penetapan hari raya Idul Adha Almanak Persatuan Islam telah menetapkan bahwa Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 2013. Sementara Pemerintah (Kemenag) menetapkan hari selasa tanggal 15 Oktober 2013.

Untuk menetapkan hari raya Idul Adha tahun 1434 H sebagaimana hasil rapat terakhir Dewan Hisab dan Rukyat dan Dewan Hisbah masih menunggu hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kemenag. Jika pada sidang itu dinyatakan ada yang dapat merukyat dengan bukti visual, maka Jam’iyyah Persatuan Islam bersedia untuk meneria ketetapan bahwa hari raya Idul Adha jatuh pada hari Selasa tanggal 15 Oktober 2013. Dan jika tidak dapat dibuktikan adaya yang dapat merukyat, maka Jam’iyyah Persatuan Islam tetap sebagaimana Almanak Persatuan Islam, yaitu hari Rabu tanggal 16 Oktober 2013.

Pertimbangan lain

Jika hasil sidang Isbat jatuh pada hari Selasa tanggal 15 Oktober 2013 walau tidak ada yang dapat merukyat, maka saya berpendapat lebih baik mengikuti hasil musyawarah sidang isbat, mengingat:

  1. Keputusan tersebut hasil Syura Bainahum. Andai Kemenag tidak bisa dianggal Uli al-Amri (menurut Prof. Dr. Dien Syamsuddin), tetapi keputusan tersebut adalah hasil musyawarah bersama organisasi-organisasi Islam dan para ahli Hisab dan Rukyat di kalangan tokoh-tokoh ulama Islam di Indonesia. Dan menerima hasil musyawarah bersama tentu lebih baik demi keutuhan dan kekompakan ummat Islam.
  2. Menyalahi keputusan bersama atau keputusan imam adalah jelek. Sebagaimana keputusan yang diambil oleh ‘Abdullah bin Mas’ud di saat melihat ‘Utsman melaksanakan shalat di Mina 4 (empat) raka’at, padahal Nabi SAW, Abu Bakar dan ‘Umar shalat di Mina 2 (dua) raka’at (diqashar). ‘Abdullah menyalahkan tindakan ‘Utsman shalat di Mina 4 raka’at tetapi kenyataannya ‘Abdullah ikut ‘Utsman shalat di Mina 4 raka’at.

Di saat ‘Abdullah ditanya; “Mengapa engkau salahkan ‘Utsman tetapi engkau ikut shalat bersama ‘Utsman 4 raka’at?” jawab ‘Abdullah: اَلخِلاَفُ شَرٌّ (menyalahi imam itu jelek)

  1.  Menempatkan Imkan al-Rukyat dengan ketinggian 4 (empat) derajat itu adalah hasil ijtihad Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam, dan belum menjadi keputusan bersama di kalangan  tokoh-tokoh atau ulama Badan Hisab dan Rukyat yang lainnya. Buktinya, Mabim menetapkan 2 (dua) derajat dan menurut pak Suhandoyo 7 (tujuh) derajat. Dengan demikian, jika sekiranya kita menerima hasil Sidang Isbat dengan berbagai argumentasinya, sepertinya tidak akan meyalahi syar’i.
  2. Sebagai perbandingan, jika menurut perhitungan ulama Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam, bahwa Hari ‘Arafah itu jatuh pada hari Rabu, sementara Peremintah Saudi Arabia menetapkan hari Selasa, apakah kita akan konsisten saja melaksanakan hasil perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam atau ikut Pemerintah Saudi Arabia saya yang menurut kita itu salah? Tentu saja dalam kondisi seperti itu kita ambil keputusan Pemerintah Saudi Arabia saja ikut Wuquf di ‘Arafah pada hari yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Saudi Arabia.
  3. Tempat-tempat Idul Adha yang biasa dikelola atau diisi khatibnya oleh ulama Persatuan Islam umumnya atau kebanyakannya bukan tempat-tempat milik Jam’iyyah Persatuan Islam, tetapi instansi-instansi Pemerintahm kantor-kantor, Pertamina, PLN, Rumah Sakit, dan tempat-tempat umum lainnya.

Jika Pemerintah menetapkan Hari Raya itu jatuh pada hari Selasa, tentu saja mereka akan mengikuti keputusan Pemerintah. Jika demikian, Jam’iyyah Persatuan Islam akan kehilangan sekian banyak tempat Idul Adha yang telah biasa diisi oleh ulama Persatuan Islam. Sebagai contoh, di Kab. Garut tempat-tempat yang biasa diisi dan dijadwal oleh ulama Persatuan Islam kira-kira 146 titik atau tempat, sementara tempat-tempat yang khusus milik Jam’iyyah tidak sampai 20 tempat. Berarti, Persatuan Islam akan kehilangan peluang untuk mengisi tempat-tempat tersebut padahal tempat-tempat tersebut telah biasa diisi oleh Muballigh Persatuan Islam. Demikian juga di Bandung, Jakarta, dan tempat-tempat yang lainnya. Dengan demikian, keputusan Jam’iyyah Persatuan Islam yang menyalahi keputusan Sidang Isbat akan merugikan dakwah Persatuan Islam.

Demikian saran dan pendapat saya tentang penetapan Hari Raya Idul Adha. Mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan bersama. sumber

Iklan

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dasar Pertimbangan Penetapan Hari Raya Idul Adha

  1. Ping balik: fajarnoorhikmat

  2. Fitrianto berkata:

    Semoga Allah SWT merahmati Persis dan KH A Zakaria atas putusan ikut jamaah muslimin walaupun berbeda dengan ijitihad kelompok sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s