ASYURA: ANTARA SUNNAH & SYIAH (BAGIAN I-VI)


Puasa Aysuraoleh : Amin Muchtar

Pada bulam Muharram terdapat satu hari yang dianggap istimewa oleh berbagai kalangan, baik umat Islam maupun di luar umat Islam. Hari yang dimaksud adalah hari Asyura, sebutan untuk tanggal 10 bulan Muharram.

 Pengertian Asyura & Sejarahnya

 Al-Qurthubi berkata:

عَاشُوْرَاءُ مَعْدُوْلٌ عَنْ عَاشِرَةٍ لِلْمُبَالَغَةِ وَالتَّعْظِيْمِ وَهُوَ فِي الأَصْلِ صِفَةٌ لِلَّيْلَةِ الْعَاشِرَةِ لأَنَّهُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْعَشْرِ الَّذِي هُوَ إِسْمُ الْعَقْدِ وَالْيَوْمُ مُضَافٌ إِلَيْهَا فَإِذَا قِيْلَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ فَكَأَنَّهُ قِيْلَ يَوْمُ اللَّيْلَةِ الْعَاشِرَةِ اَلاَ إِنَّهُمْ لَمَّا عَدَلُوْا بِهِ عَنِ الصِّفَةِ غَلَبَتْ عَلَيْهِ الإِسْمِيَّةُ فَاسْتَغْنَوْا عَنِ الْمَوْصُوْفِ فَحَذَفُوْا اللَّيْلَةَ فَصَارَ هذَا اللَّفْظُ عَلَمًا عَلَى الْيَوْمِ الْعَاشِرِ

 “Kata Asyura adalah shigah mubalagah, yaitu dirubah dari kata ‘asyirah yang berfungsi untuk menyangatkan arti (mengandung makna sangat) dan mengagungkan. Pada asalnya digunakan sebagai sifat malam ke-10, karena diambil dari kata al-asyr sebagai nama bilangan puluhan, dan kata yaum disandarkan kepadanya. Bila dikatakan Yaum Asyura seolah-olah perkataan itu bermakna: Hari malam Asyirah. Ketahuilah, ketika mereka merubah kata itu dari sifat, dan didominasi oleh isim (nama), mereka mengangap cukup dengan mausuf (kata yang disifatinya), lalu membuang kata “al-lail”, sehingga kata itu menjadi nama bagi hari ke-10” (Lihat, Fath al-Bari, IV:245; Tanwir al-Hawalik, IV:326)

Sebagian ulama berpendapat bahwa hari ke-10 bulan Muharram dinamakan Asyura karena pada hari itu Allah memuliakan 10 Nabi dengan 10 kemuliaan. Para nabi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, Adam (diperkirakan hidup pada 5872-4942 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diterima taubatnya.

Kedua, Nuh (diperkirakan hidup pada 3993-3043 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diselamatkannya dari banjir besar dan bahteranya berlabuh di atas bukit Judi.

Ketiga, Ibrahim (diperkirakan hidup pada 1997 -1822 SM). Pada hari itu ia dilahirkan.

Keempat, Ya’qub (diperkirakan hidup pada 1837 – 1690 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan disembuhkannya dari kebutaan.

Kelima, Yusuf (diperkirakan hidup pada 1754 – 1635 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diselamatkannya dari sumur.

Keenam, Musa (diperkirakan hidup pada 1527 – 1407 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diselamatkannya dari kejaran Fir’aun.

Ketujuh, Dawud (diperkirakan hidup pada 1041 – 971 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diterima taubatnya.

Kedelapan, Yunus (diperkirakan hidup pada 820 – 750 SM). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diselamatkannya dari perut ikan.

Kesembilan, Isa (diperkirakan hidup di bumi pada 1 SM – 32 M). Pada hari itu ia dilahirkan dan diangkat ke langit dalam keadaan hidup.

Kesepuluh, Muhammad (diperkirakan hidup pada 571 – 632 M). Pada hari itu ia dimuliakan oleh Allah dengan diampuni dosa-dosanya, baik di masa lalu maupun masa mendatang.

Sementara menurut ulama yang lain, kategori 10 Nabi itu meliputi Idris, Ayub, dan Sulaiman. Adapun bentuk pengistimewaannya sebagai berikut:

  • Idris (diperkirakan hidup pada 4533 – 4188 SM). Pada hari itu ia diangkat ke langit.
  • Ayyub (diperkirakan hidup pada 1540 – 1420 SM). Pada hari itu ia disembuhkan dari penyakitnya.
  • Sulaiman (diperkirakan hidup pada 989 – 931 SM). Pada hari itu ia dianugerahi kekuasaan sebagai raja. (Lihat, Umdah al-Qari, XI:117-118)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa dilihat dari aspek kronologi Asyura memiliki rentang waktu yang cukup panjang. Meski demikian, yang akan diuraikan di sini hanya beberapa periode nabi yang diterangkan di dalam al-Quran dan Sunnah, di mulai pada masa Nabi Nuh (diperkirakan hidup pada 3993-3043 SM).

Asyura Zaman Nabi Nuh

Pada zaman ini, Asyura berhubungan erat dengan suatu peristiwa yang dialami oleh Nabi Nuh As., sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. sebagai berikut:

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .” Q.s. Hud:44

Peristiwa berlabuhnya kapal Nabi Nuh di atas bukit Judi terjadi pada hari Asyura sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ، قَالَ: مَرَّ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: …وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِىِّ، فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى…

Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Nabi saw. melewati beberapa orang Yahudi, sungguh mereka shaum hari Asyura, mereka berkata, “…Ini adalah hari di mana perahu itu (Nuh) berlabuh di atas bukit Judi, lalu Nuh dan Musa melaksanakan shaum hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah…H.r. Ahmad, al-Musnad, II:359, No. hadis 8702

Kata Imam al-Qurtubi:

إِسْتَوَتْ عَلَيْهِ فِي الْعَاشِرِ مِنَ الْمُحَرَّمِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَصَامَهُ نُوْحٌ وَأَمَرَ جَمِيْعَ مَنْ مَعَهُ مِنَ النَّاسِ وَالْوَحْشِ وَالطَّيْرِ وَالدَّوَابِ وَغَيْرِهَا فَصَامُوْهُ شُكْرًا للهِ تعالى

“Perahu itu (Nuh) berlabuh di atasnya pada 10 Muharram, hari Asyura. Maka Nabi Nuh melaksanakan shaum (hari itu) dan ia memerintah kepada semua makhluk yang menyertainya: manusia, binatang liar, burung, dan binatang ternak, dan lain-lain, lalu mereka melaksanakan saum itu sebagai rasa syukur kepada Allah” (Lihat, Tafsir al-Qurtubi, IX:41)

Kata Ibnu Hajar:

وَحَاصِلُهَا أَنَّ السَّفِيْنَةَ اسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ فِيْهِ فَصَامَهُ نُوْحٌ وَمُوْسَى شُكْرًا

“Dan kesimpulannya bahwa perahu itu (Nuh) berlabuh di atas bukit Judi pada hari itu (10 Muharram), lalu Nuh dan Musa melaksanakan shaum hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah” (Lihat, Fath al-Bari, IV:248)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa bagi Nabi Nuh hari Asyura dianggap istimewa karena pada hari itu Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya yang beriman dari banjir besar. Lalu Nabi Nuh melaksanakan shaum pada hari itu sebagai sebagai rasa syukur kepada Allah.

Adapun posisi bukit judi berhadapan dengan semenanjung Ibnu Umar, yang sekarang menjadi perbatasan Suriah-Turki, di tepian sebelah timur sungai Tigris. Bukit Judi ini terlihat jelas dari daerah Ainu Diwar, Suriah. (Lihat, Athlas al-Qur’an, hal. 25)

Asyura Zaman Nabi Musa

Pada zaman ini, Asyura berhubungan erat dengan suatu peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa As., sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. sebagai berikut:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Q.s. Al-Baqarah:49

Peristiwa di atas terjadi pada hari Asyura sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هذَا قَالُوا هذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

Dari Ibnu Abbas berkata, Ketika Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau medapati orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum pada hari Asyura. Maka beliau bertanya mengenai hal itu, maka mereka berkata, “Pada hari ini Allah Swt. pernah menyelamatkan Nabi Musa dan bani Israil atas (kejaran) Fir’aun, maka Musa menshauminya.” Rasulullah Saw. menjawab, “Kamilah yang paling berhak dengan Musa.” Kemudian beliau shaum dan memerintah para shahabat agar menshauminya. H.r. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, II:704, No. 1900.

Imam al-Bukhari meriwayatkan pula dengan redaksi:

فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْن فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ

“Maka mereka berkata, ‘Ini adalah hari agung, yaitu hari ini di mana Allah Swt. pernah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya, maka Musa menshauminya sebagai rasa syukur kepada Allah.” (Shahih al-Bukhari, III:1245, No. 3216)

 فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ

“Maka mereka berkata, ‘Ini adalah hari di mana Allah Swt. pernah memenangkan Nabi Musa dan bani Israil atas Fir’aun, dan kami menshauminya karena mengagungkannya’.” (Shahih al-Bukhari, III:1434, No. 3727)

Hadis di atas menunjukkan bahwa bagi orang Yahudi hari Asyura dianggap istimewa karena pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan tentaranya. Di mana waktu itu Fir’aun dan tentaranya mati tenggelam. Lalu Musa melaksanakan shaum pada hari itu. Dan peristiwa selamatnya Nabi Musa diperingati oleh Yahudi dengan cara melaksanakan shaum Asyura.

Asyura Zaman Nabi Isa

 حِينَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى …

Di saat Rasulullah Saw. shaum pada hari Asyura dan beliau memerintah shaum (kepada para sahabat) mereka berkata, “Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.” … H.r. Muslim, Shahih Muslim, II:797, No. 1134; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:327, No. 2445; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:287, No. 8184

Keterangan:

Bagi orang Nashrani hari Asyura dianggap istimewa karena pada hari itu Nabi Isa melaksanakan shaum, dan Shaum Nabi Isa merupakan kelanjutan syariat shaum Nabi Musa yang tidak dimansukh oleh syariat Nabi Isa. Karena itu orang Nashrani pun melaksanakan shaum Asyura. (Lihat, Fath al-Bari, IV:248)

Asyura Zaman Jahiliyyah

Jahiliyah adalah konsep dalam agama Islam yang menunjukkan masa dimana penduduk Mekah berada dalam ketidaktahuan (kebodohan). Akar istilah jahiliyyah adalah bentuk kata kerja jahala, yang memiliki arti menjadi bodoh, bodoh, bersikap dengan bodoh atau tidak peduli.

Kemudian dalam syariat Islam memiliki arti “ketidaktahuan akan petunjuk Ilahi”. Keadaan tersebut merujuk pada situasi bangsa Arab kuno, yaitu pada masa masyarakat Arab pra-Islam sebelum diutusnya seorang rasul yang bernama Muhammad. (Lihat penjelasan selengkapnya dalam Ianah al-Mustafid bi Syarah Kitab at-Tawhid, II:219)

Oleh Ibnu Abas, masa ini disebut pula masa fatrah yang memakan waktu selama 434 tahun, dihitung sejak Nabi Isa diangkat ke langit (sekitar 32 M) hingga masa diangkatnya Muhammad saw. menjadi Nabi dan Rasul. (Lihat, Tarikh Madinah Dimasyqa, I:2)

Bagi orang Arab Jahiliyyah, Asyura dianggap istimewa karena pada hari itu diperbarui penutup (kiswah) Ka’bah. Dan untuk melengkapi pengagungannya mereka melaksanakan shaum pada hari itu. Penjelasan tentang itu kita peroleh dari hadis berikut ini

عَن عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ

Dari Aisyah, ia berkata, “Hari Asyura adalah waktunya shaum orang-orang Quraisy di zaman jahiliyah” H.r. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, III:1393, No. 3619

Pada masa ini, Nabi Muhamad saw. turut serta menshauminya karena masih mengikuti tradisi jahiliyyah. Aisyah menjelaskan:

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُهُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ

“Dan Rasulullah saw. menshauminya pada masa jahiliyyah” HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:326, No. 2442; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:288, No. 8192; Malik, al-Muwatha, I:299, No. 662; asy-Syafi’I, Musnad asy-Syafi’I, I:161.

Adapun latar belakang orang jahiliyyah menghormati Asyura, dijelaskan oleh para ulama sebagai berikut:

Imam Al-‘Ainiy berkata:

كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيْهِ الْكَعْبَةُ وَكَانَتْ تُكْسَى فِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ

Hari Asyura adalah hari ditutupnya Ka’bah. Dan ia ditutup pada setiap tahun satu kali pada hari Asyura. (Lihat, Umdah al- Qari, juz XIV:455)

Syekh Athiyyah Muhamad bin Salim berkata:

وَقُرَيْشٌ كَانَتْ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَتُجَدِّدُ فِيْهِ كِسْوَةَ الْكَعْبَةِ

Orang-orang Quraisy saum pada hari Asyura dan pada hari itu (pula) mereka memperbarui kiswah Ka’bah. (Lihat, Syarh Bulughul Maram, VII:153)

Dr. Jawwad Ali berkata:

أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تُعَظِّمُ هذَا الْيَوْمَ، وَكَانُوْا يَكْسُوْنَ الْكَعْبَةَ فِيْهِ، وَصَوْمُهُ مِنْ تَمَامِ تَعْظِيْمِهِ

Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengagungkan hari ini, dan pada hari itu mereka menutup ka’bah, dan melaksanakan saum karena melengkapi pengagungannya. (Lihat, Al-Mufashal fi Tarikh al-‘Arab Qabl al-Islam, XVI:114)

ASYURA: ANTARA SUNNAH & SYIAH (BAGIAN II)

Asyura Zaman Nabi Muhamad

Nabi Muhammad saw. hidup di Mekah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak masa bi’tsah (pengangkatan Nabi & Rasul) tanggal 17 atau 25 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi, yang bertepatan dengan 6 atau 14 Agustus 610 M, hingga 1 Rabi’ul Awwal tahun ke-54 dari tahun kelahirannya atau tahun 13 kenabian, yang bertepatan dengan 13 September 622 M.

Dari data di atas kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa selama hidup di Mekah sebagai Nabi & Rasul, beliau telah “mengalami” Asyura sebanyak 11 kali. Selama periode Mekah ini, beliau telah menyikapi Asyura dengan melaksanakan shaum.

عَن عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ

Dari Aisyah, ia berkata, “Hari Asyura adalah waktunya shaum orang-orang Quraisy di zaman jahiliyah dan Rasulullah Saw. pun menshauminya…” H.r. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:704, No. 1898.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ ، وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ

Dari Ibnu Umar (ia berkata), “Sesungguhnya kaum jahiliyah melakukan shaum pada hari Asyura dan sesungguhnya Rasulullah Saw. beserta kaum muslimin melaksanakan shaum itu sebelum diwajibkannya shaum Ramadhan” H.r. Al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:289, No. 8195.

Setelah datang perintah berhijrah kepada Nabi saw. untuk, maka beliau melaksanakan perintah itu dan ditemani oleh Abu Bakar. Imam at-Thabari dan Ibnu Ishaq menyatakan, “Sebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian/24 September 622 M  waktu Dhuha (sekitar jam 8.00 atau 9.00). Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin Auf selama empat hari (hingga hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal/27 September 622 M. dan membangun mesjid pertama (yang disebut mesjid Quba). Pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M, beliau berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ‘Auf, datang kewajiban Jumat (dengan turunnya ayat 9 surat al-Jum’ah). Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat Jumat yang pertama di dalam sejarah Islam. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinah”. (Lihat,Tarikh at-Thabari, I:571; Sirah Ibnu Hisyam, juz III, hal. 22; Tafsir al-Qurthubi, juz XVIII, hal. 98).

Keterangan tersebut  menunjukkan bahwa Nabi tiba di Madinah pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M. Sedangkan ahli tarikh lainnya berpendapat hari Senin 12 Rabi’ul Awwal/5 Oktober 621 M, namun ada pula yang menyatakan hari Jumat 12 Rabi’ul Awwal/24 Maret 622 M.

Terlepas dari perbedaan tanggal dan tahun, baik hijriah maupun masehi, namun para ahli tarikh semuanya bersepakat bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram (awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M).

Memasuki bulan Muharram tahun ke-2 hijriah, Nabi saw. mendapati orang-orang Yahudi di Madinah melaksanakan shaum pada hari Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka mengenai hal itu, lantas mereka menjawab, “Pada hari ini Allah Swt. pernah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil atas (kejaran) Fir’aun, maka Musa menshauminya.” Rasulullah Saw. menjawab, “Kamilah yang paling berhak dengan Musa.” Kemudian beliau shaum dan memerintah para shahabat agar menshauminya. Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Lihat, Shahih al-Bukhari, II:704, No. 1900)

Perintah shaum Asyura pada masa awal hijrah itu dipertegas oleh keterangan Abu Musa sebagai berikut:

عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُ

ASYURA: ANTARA SUNNAH & SYIAH (BAGIAN III)

Sikap Orang Syi’ah Terhadap Asyura

Orang Syiah menjadikan Asyura sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap Asyura, mereka memperingati kematian Husen dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Husen secara histeria, membentuk kelompok-kelompok untuk berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukul badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan sebagainya. (Lihat, At-Tasyayyu’ Wa asy-Syi’ah, karya Ahmad al-Kisrawiy Asy-Syi’iy, Tahqiq Dr. Nasyir Al-Qafari, hal. 141)

Menurut pengakuan ulama mereka, perbuatan ini adalah usaha mereka dalam menebus dosa-dosa orang-orang Syi’ah yang terdahulu, yang karena perbuatan mereka, Husen sampai mati terbunuh (syahid) di Karbala.

Adapun asal muasal kemunculan bid’ah yang demikian itu telah dijelaskan oleh Syekh Islam Ibn Taimiyah sebagai berikut:

وكانت الكوفة بها قوم من الشيعة المنتصرين للحسين وكان رأسهم المختار بن أبي عبيد الكذاب وقوم من الناصبة المبغضين لعلي رضي الله عنه وأولاده ومهم الحجاج بن يوسف الثقفي وقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال سيكون في ثقيف كذاب ومبير فكان ذلك الشيعي هو الكذاب وهذا الناصبي هو المبير فأحدث أولئك الحزن وأحدث هؤلاء السرور … وهذه بدعة أصلها من المتعصبين بالباطل على الحسين رضي الله عنه وتلك بدعة أصلها من المتعصبين بالباطل له وكل بدعة ضلالة ولم يستحب أحد من أئمة المسلمين الأربعة وغيرهم لا هذا ولا هذا ولا في شيء من استحباب ذلك حجة شرعية

Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husen. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda,

سَيَكُونُ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيرٌ

‘Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.’ (HR. Muslim)

Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan.

Bid’ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain Ra, sementara bid’ah kesedihan berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab dan ulama lainnya yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (Lihat, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, IV:333-334)

Dalam perkembangan Syiah selanjutnya, ekspresi kesedihan itu diwujudkan dalam beragam bentuk ritual, antara lain pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, anak-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein, wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan  kebaikan- kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.

Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut ‘tanah suci karbala’. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.

Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di google atau youtube dengan kata kunci: كربلاء

Untuk menguatkan motifasi dan cara memperingati hari tersebut, ulama Syi’ah telah merekayasa hadis-hadis palsu dengan memanipulasikan nama Ahlul Bait dalam usaha mereka, di antara hadisnya sebagai berikut:

 إن من بكى على الحسين أو تباكى غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر

“Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husain, maka Allah akan mengampuni segala dosanya baik yang sudah dilakukkan maupun yang akan dilakukan.” (Lihat, asy-Syi’ah wa at-Tashhih ash-Shara’ baina asy-Syi’ah wa at-Tasyayu’, hal. 93) 

 كل الجزع والبكاء مكروه إلا الجزع والبكاء لقتل الحسين

“Setiap kesedihan dan tangisan adalah tercela kecuali kesedihan dan tangisan karena terbunuhnya Huisen.” (Lihat, Amaliy Syekh ath-Thusi, I:163, bab 7, hadis No. 20; Wasaa’il asy-Syi’ah, IV:505, bab 66, hadis No. 10; Bihar al-Anwar, XXXXIV:280, hadis No. 9; XXXXV:312, hadis No. 14)

 ان البكاء والجزع مكروه للعبد في كل ما جزع ما خلا البكاء على الحسين بن على (ع) فانه فيه مأجور

“Sesungguhnya tangisan dan kesedihan adalah tercela bagi hamba pada setiap kesedihan apapun kecuali tangisan atas Huisen bin Ali, karena tangisan padanya akan diberi pahala.” (Lihat, Kaamil az-Ziyarat, hal. 100, bab 32, Wasaa’il asy-Syi’ah, XIV:505, bab 66, hadis No. 13; Bihar al-Anwar, XXXXIV:280, hadis No. 9; XXXXV:312, hadis No. 14)

Selain riwayat-riwayat di atas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka rekayasa. Kurang lebih 458 riwayat, yang menerangkan kewajiban menziarahi makam para imam Syi’ah. Bahkan dari jumlah tersebut, 338 riwayat di antaranya dikhususkan mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah makam Imam Husen Ra. atau ke Karbala, di antaranya:

 إنّ زيارة قبر الحسين تعدل عشرين حجّة، وأفضل من عشرين عمرة وحجّة

“Sesungguhnya ziarah ke makam Husen pahalanya sebanding dengan haji 20 kali, dan lebih utama daripada 20 kali umrah dan haji.” (Lihat, Furu’ al-Kafiy, I:324; Tsawab al-A’mal , karya Ibnu Babawaih, hal. 52; Tahdzib al-Ahkam, karya at-Thusiy, II:16; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 161; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:348)

 من أتى قبر الحسين عليه السّلام عارفًا بحقّه كان كمن حجّ مائة حجّة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم 

“Siapa yang ziarah ke makam Husen As. dalam keadaan mengenal haqnya, dia bagaikan orang yang berhaji 100 kali bersama Rasulullah saw. (Lihat, Tsawab al-A’mal , karya Ibnu Babawaih, hal. 52; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:350)

 من زار الحسين عليه السلام يوم عاشوراء حتى يظل عنده باكيًا لقي الله عز وجل يوم القيامة بثواب ألفي ألف حجة، وألفي ألف عمرة، وألفي ألف غزوة

“Barang siapa menziarahi Husen  pada hari Asyura hingga terus-menerus menangis di sisinya, niscaya ia bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala haji 2 juta kali, pahala umrah 2 juta kali, pahala perang 2 juta kali…” (Lihat, Bihar al-Anwar, karya al-Majlisiy,  100:290; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 176)

 من أتى قبر الحسين عارفًا بحقّه في غير يوم عيد كتب الله له عشرين حجّة وعشرين عمرة مبرورات مقبولات.. ومن أتاه في يوم عيد كتب الله له مائة حجّة ومائة عمرة.. ومن أتاه يوم عرفة عارفًا بحقّه كتب الله له ألف حجّة وألف عمرة مبرورات متقبّلات

“Siapa yang ziarah ke makam Husen As. bukan pada hari ied—dalam keadaan mengenal haqnya—niscaya  Allah mencatat baginya pahala 20 kali haji dan 2o kali umrah yang mabrur lagi maqbul…dan siapa yang mendatanginya pada hari ied, niscaya Allah mencatat baginya pahala 100 kali haji dan 100 kali umrah… dan siapa yang mendatanginya pada hari Arafah—dalam keadaan mengenal haqnya—, niscaya Allah mencatat baginya pahala 1000 kali haji dan 1000 kali umrah… yang mabrur lagi maqbul … (Lihat, Furu’ al-Kafiy, I:324; Tsawab al-A’mal, karya Ibnu Babawaih, hal. 50; Man Laa Yahdhuruh al-Faqih, karya Ibnu Babawaih, I:182;Tahdzib al-Ahkam, karya at-Thusiy, II:16; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 169; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:359)

Ja’far ash-Shadiq berkata:

لو أنّي حدّثتكم بفضل زيارته وبفضل قبره لتركتم الحجّ رأسًا وما حجّ منكم أحد، ويحك أما علمت أنّ الله اتّخذ كربلاء حرمًا آمنًا مباركًا قبل أن يتّخذ مكّة حرمًا..

“Sekiranya saya menceritakan kepada kalian tentang keutamaan menziarahinya dan keutamaan kuburannya niscaya kalian meninggalkan haji dan tidak seorang pun di Antara kalian melaksanakan haji. Adapun saya tahu bahwa Allah telah menjadikan Karbala sebagai tanah haram yang aman lagi diberkati sebelum Dia menjadikan Mekah tanah haram.” (Lihat, Bihar al-Anwar, karya al-Majlisiy,  101:33; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 266)

Demikianlah perilaku gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (Al-Bida’ Al-Hailiyah, Hal. 56 – 57). 

Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Dan kita wajib berikhtiar untuk mengawal kaum muslimin dari hal itu dengan segenap jiwa raga. 

Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husen. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda,

سَيَكُونُ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيرٌ

‘Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.’ (HR. Muslim)

Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan.

Bid’ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain Ra, sementara bid’ah kesedihan berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab dan ulama lainnya yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (Lihat, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, IV:333-334)

Dalam perkembangan Syiah selanjutnya, ekspresi kesedihan itu diwujudkan dalam beragam bentuk ritual, antara lain pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, anak-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein, wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan  kebaikan- kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.

Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut ‘tanah suci karbala’. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.

Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di google atau youtube dengan kata kunci: كربلاء

Untuk menguatkan motifasi dan cara memperingati hari tersebut, ulama Syi’ah telah merekayasa hadis-hadis palsu dengan memanipulasikan nama Ahlul Bait dalam usaha mereka, di antara hadisnya sebagai berikut:

 إن من بكى على الحسين أو تباكى غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر

“Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husain, maka Allah akan mengampuni segala dosanya baik yang sudah dilakukkan maupun yang akan dilakukan.” (Lihat, asy-Syi’ah wa at-Tashhih ash-Shara’ baina asy-Syi’ah wa at-Tasyayu’, hal. 93) 

 كل الجزع والبكاء مكروه إلا الجزع والبكاء لقتل الحسين

“Setiap kesedihan dan tangisan adalah tercela kecuali kesedihan dan tangisan karena terbunuhnya Huisen.” (Lihat, Amaliy Syekh ath-Thusi, I:163, bab 7, hadis No. 20; Wasaa’il asy-Syi’ah, IV:505, bab 66, hadis No. 10; Bihar al-Anwar, XXXXIV:280, hadis No. 9; XXXXV:312, hadis No. 14)

 ان البكاء والجزع مكروه للعبد في كل ما جزع ما خلا البكاء على الحسين بن على (ع) فانه فيه مأجور

“Sesungguhnya tangisan dan kesedihan adalah tercela bagi hamba pada setiap kesedihan apapun kecuali tangisan atas Huisen bin Ali, karena tangisan padanya akan diberi pahala.” (Lihat, Kaamil az-Ziyarat, hal. 100, bab 32, Wasaa’il asy-Syi’ah, XIV:505, bab 66, hadis No. 13; Bihar al-Anwar, XXXXIV:280, hadis No. 9; XXXXV:312, hadis No. 14)

Selain riwayat-riwayat di atas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka rekayasa. Kurang lebih 458 riwayat, yang menerangkan kewajiban menziarahi makam para imam Syi’ah. Bahkan dari jumlah tersebut, 338 riwayat di antaranya dikhususkan mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah makam Imam Husen Ra. atau ke Karbala, di antaranya:

 إنّ زيارة قبر الحسين تعدل عشرين حجّة، وأفضل من عشرين عمرة وحجّة

“Sesungguhnya ziarah ke makam Husen pahalanya sebanding dengan haji 20 kali, dan lebih utama daripada 20 kali umrah dan haji.” (Lihat, Furu’ al-Kafiy, I:324; Tsawab al-A’mal , karya Ibnu Babawaih, hal. 52; Tahdzib al-Ahkam, karya at-Thusiy, II:16; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 161; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:348)

 من أتى قبر الحسين عليه السّلام عارفًا بحقّه كان كمن حجّ مائة حجّة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم 

“Siapa yang ziarah ke makam Husen As. dalam keadaan mengenal haqnya, dia bagaikan orang yang berhaji 100 kali bersama Rasulullah saw. (Lihat, Tsawab al-A’mal , karya Ibnu Babawaih, hal. 52; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:350)

 من زار الحسين عليه السلام يوم عاشوراء حتى يظل عنده باكيًا لقي الله عز وجل يوم القيامة بثواب ألفي ألف حجة، وألفي ألف عمرة، وألفي ألف غزوة

“Barang siapa menziarahi Husen  pada hari Asyura hingga terus-menerus menangis di sisinya, niscaya ia bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala haji 2 juta kali, pahala umrah 2 juta kali, pahala perang 2 juta kali…” (Lihat, Bihar al-Anwar, karya al-Majlisiy,  100:290; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 176)

 من أتى قبر الحسين عارفًا بحقّه في غير يوم عيد كتب الله له عشرين حجّة وعشرين عمرة مبرورات مقبولات.. ومن أتاه في يوم عيد كتب الله له مائة حجّة ومائة عمرة.. ومن أتاه يوم عرفة عارفًا بحقّه كتب الله له ألف حجّة وألف عمرة مبرورات متقبّلات

“Siapa yang ziarah ke makam Husen As. bukan pada hari ied—dalam keadaan mengenal haqnya—niscaya  Allah mencatat baginya pahala 20 kali haji dan 2o kali umrah yang mabrur lagi maqbul…dan siapa yang mendatanginya pada hari ied, niscaya Allah mencatat baginya pahala 100 kali haji dan 100 kali umrah… dan siapa yang mendatanginya pada hari Arafah—dalam keadaan mengenal haqnya—, niscaya Allah mencatat baginya pahala 1000 kali haji dan 1000 kali umrah… yang mabrur lagi maqbul … (Lihat, Furu’ al-Kafiy, I:324; Tsawab al-A’mal, karya Ibnu Babawaih, hal. 50; Man Laa Yahdhuruh al-Faqih, karya Ibnu Babawaih, I:182;Tahdzib al-Ahkam, karya at-Thusiy, II:16; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 169; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:359)

Ja’far ash-Shadiq berkata:

لو أنّي حدّثتكم بفضل زيارته وبفضل قبره لتركتم الحجّ رأسًا وما حجّ منكم أحد، ويحك أما علمت أنّ الله اتّخذ كربلاء حرمًا آمنًا مباركًا قبل أن يتّخذ مكّة حرمًا..

“Sekiranya saya menceritakan kepada kalian tentang keutamaan menziarahinya dan keutamaan kuburannya niscaya kalian meninggalkan haji dan tidak seorang pun di Antara kalian melaksanakan haji. Adapun saya tahu bahwa Allah telah menjadikan Karbala sebagai tanah haram yang aman lagi diberkati sebelum Dia menjadikan Mekah tanah haram.” (Lihat, Bihar al-Anwar, karya al-Majlisiy,  101:33; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 266)

Demikianlah perilaku gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (Al-Bida’ Al-Hailiyah, Hal. 56 – 57). 

Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Dan kita wajib berikhtiar untuk mengawal kaum muslimin dari hal itu dengan segenap jiwa raga.

ASYURA: ANTARA SUNNAH & SYIAH (BAGIAN IV)

Membaca Tragedi Karbala Secara Jernih

Apabila membicarakan tentang hari Asyura (10 Muharam) maka kita tidak dapat menghindarkan diri dari pembicaraan tentang peristiwa Karbala yang begitu menyayat hati. Peristiwa tersebut merupakan kisah di mana Husen Ra.—cucu  Rasulullah saw. dan anak Ali Ra.—telah dibunuh dengan kejam di sebuah tempat yang bernama Karbala, di Irak.

Rentetan dari peristiwa ini terdapat upacara-upacara khusus yang diadakan pada Hari Asyura dengan cara yang amat bertentangan dengan syariat Islam. Lebih jauh dari itu, kelompok Syiah juga telah mempergunakan peristiwa Karbala ini demi meraih simpati umat Islam kepada kelompok mereka bahwa merekalah satu-satunya kelompok yang membela Ahlul Bait (keluarga Rasulullah), tentu saja Ahlu Bait dalam konsep mereka.

Karena itu, tragedi Karbala merupakan persoalan yang memberi peluang kelompok Syi’ah mempermainkan opini banyak orang. Pada peluang yang sama mereka pun berupaya merancukan sejarah umat ini. Pergulatan yang terjadi antara tokoh yang dilambangkan sebagai Syi’ah, yaitu Husen, di satu pihak, dengan Yazid yang dilambangkan sebagai tokoh Ahlus Sunah di pihak yang lain. Seperti itulah opini yang hendak dibangun kelompok Syi’ah berkaitan pergulatan tersebut.

Padahal, sejatinya Husen Ra., juga termasuk salah seorang pimpinan Ahlus Sunah. Keyakinan Ahlus Sunah terhadap beliau, ialah bahwa beliau mati sebagai syahid, beliau dimuliakan oleh Allah dengan mati sebagai syuhada, dan Allah menghinakan orang yang membunuh beliau. Jadi, kasus pembunuhan beliau itu merupakan musibah besar. Dalam kondisi demikian Ahlus Sunah pun merujuk kepada firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ, الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa-ji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah 155-157).

Sehubungan dengan itu, ketika kita membicarakan peristiwa Karbala kita dituntut setidaknya untuk melakukan dua hal:

Pertama, kita perlu selektif terhadap berbagai riwayat yang mengisahkan tragedi itu—yang bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah)—karena sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dhaif dan ada juga yang shahih. Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadis yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadis, inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dari sini, kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka. Dalam konteks inilah, Syekh Islam Ibnu Taimiyyah telah mengingatkan:

والذين نقلوا مصرع الحسين زادوا أشياء من الكذب كما زادوا في قتل عثمان وكما زادوا فيما يراد تعظيمه من الحوادث وكما زادوا في المغازي والفتوحات وغير ذلك والمصنفون في أخبار قتل الحسين منهم من هو من أهل العلم كالبغوي وابن أبي الدنيا وغيرهما ومع ذلك فيما يروونه اثار منقطعة وأمور باطلة وأما ما يرويه المصنفون في المصرح بلا إسناد فالكذب فيه كثير

“Orang-orang yang meriwayatkan peristiwa gugurnya Husen Ra. telah memberikan tambahan dusta, sebagaimana juga mereka telah menambahkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap Usman Ra, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, penaklukan dan lain sebagainya. Para penulis berita tentang pembunuhan Husen Ra, ada di antara mereka sebagai ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya. Namun demikian, di antara riwayat yang mereka sampaikan ada yang terputus sanadnya dan beberapa perkara batil. Sedangkan yang menyampaikan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak” (Lihat, Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah, IV:334)

Kedua, fokus peristiwa tidak hanya pada peristiwa pembunuhan itu saja, melainkan harus mengikuti episode sejarah sebelumnya yang memberi kita gambaran utuh tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Pada umumnya, episode sebelum peristiwa Karbala terjadi sangat jarang diulas, kelompok mereka yang selalu mengulas dan menganalisa kisah Karbala jarang menyinggung peristiwa yang terjadi sebelumnya, yang mengakibatkan cucu Nabi ini dibunuh. Ini menimbulkan tanda tanya, dan kesan yang ditangkap adalah episode ini sengaja untuk tidak terlalu dibahas panjang lebar. (Bandingkan dengan versi Syiah tentang peristiwa itu pada http://www.majulah-ijabi.org/9/post/2012/11/mengenal-lebih-dekat-fakta-karbala.html)

Perlu dipahami oleh kita bersama, bahwa satu peristiwa tidak bisa lepas dari peristiwa sebelumnya sebagai satu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan, tentunya tidak bisa dipisahkan begitu saja, apa yang terjadi saat ini adalah bagaikan memisahkan ayat dan sabab nuzulnya. Memisahkan peristiwa Karbala dengan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi, yang akhirnya ikut menyebabkan terjadinya pembantaian Karbala. Tapi sayang peristiwa itu seolah terkubur di telan bumi, jarang kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi dan merangkai pembantaian Karbala. Barangkali bisa kita mulai dari pertanyaan penting, yang sayangnya jarang kita dengar. Barangkali akal sehat kita sering tertutupi oleh “kesedihan mereka yang mendalam”, yang barangkali dibuat-buat oleh mereka sendiri, dengan mendengarkan kisah-kisah sedih pembunuhan Husen, dengan diberi bumbu suara yang menyayat hati, dan lain- lain akhirnya kita lupa bertanya:

Mengapa peristiwa itu terjadi? Peristiwa apa yang menjadi latar belakang peristiwa itu? mengapa Husen berangkat ke Karbala? Barangkali pertanyaan terakhir ini menjadi titik awal bagi perjalanan kita kali ini untuk menelusuri peristiwa-perstiwa yang melatarbelakangi peristiwa Karbala.

Untuk memenuhi tuntutan di atas, di dalam pembahasan menentang Syi’ah ini, sedapat mungkin kami mempergunakan riwayat-riwayat mereka sendiri yang tersusun di dalam kitab-kitab sumber mereka, baik ortodoks maupun moderen, yang dianggap terpercaya dan dijadikan pegangan, dan yang dijadikan dalil di kalangan mereka sendiri.

 Latar Belakang Peristiwa

Peristiwa ini diawali ketika Yazid menggantikan Muawiyah (602 – 680 M) yang wafat dan segera meminta agar Husen berbaiat. Namun Husen menolak bersama Abdullah bin Zubair, dan keduanya pergi diam-diam ke kota Mekah. Seperti kita ketahui bahwa Husen Ra.adalah salah satu figur umat Islam karena hubungan kekerabatannya dengan Nabi, seluruh umat Islam mencintainya, dari dulu hingga hari ini, hanya orang menyimpang dan menyimpan penyakit di hatinya bisa membenci keluarga Nabi. Hingga ketika dia menolak berbaiat maka kabar beritanya tersebar ke segala penjuru, di antara mereka yang mendengar kabar berita mengenai Husen Ra.adalah warga Kufah. Lalu mereka mengirimkan surat-surat kepada Husen Ra.mengajaknya untuk datang ke kufah dan memberontak pada Yazid. Surat-surat itu begitu banyak berdatangan kepada imam, hingga jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Dr. Ahmad Rasim an-Nafis—seorang penulis syiah—menerangkan: “Surat-surat penduduk Kufah kepada Husen a.s. menyatakan: “Kami tidak memiliki Imam, oleh karena itu datanglah, semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas kebenaran.” Surat-surat itu mengandung berbagai tanda tangan menghimbau kedatangan untuk menerima bai’at dan memimpin umat untuk gerakan menghadapi para pendurhaka Bani Umayah. Begitulah, kian sempurnalah unsur-unsur dasar bagi gerakan Huseniyah. Di antaranya: . . . Adanya hasrat mayoritas masyarakat yang menuntut reformasi dan mendorong Husen Ra. untuk segera memegang tampuk kepemimpinan bagi gerakan tersebut. Juga peristiwa dorongan-dorongan di Kufah ini diungkapkan di dalam surat-surat baiat dari penduduk Kufah.” (Lihat, ‘Alaa Khuthaa al-Husain, hal. 94)

Muhammad Kazhim al-Qazwaini—seorang ulama syiah—menyatakan: “Penduduk Irak menulis surat kepada Husen, mengirim utusan, dan memohon agar beliau berangkat ke negeri mereka untuk menerima baiat sebagai khalifah, sehingga terkumpul pada Husen sebanyak 12.000 surat dari penduduk Irak yang semuanya berisikan satu keinginan. Mereka menulis: “Buah sudah ranum, tanaman sudah menghijau, Anda hanya datang untuk menjumpai pasukan anda yang sudah bersiaga. Anda di Kufah memiliki 100.000 (seratus ribu) pedang. Apabila Anda tidak bersedia datang, maka kelak kami akan menuntut Anda di hadapan Allah.” (Lihat, Faaji’ah ath-Thaff, hal. 6)

Seorang ulama syiah, Abbas Al Qummi menerangkan: “Melimpah ruahlah surat-surat sehingga terkumpul pada beliau di dalam satu hari sebanyak 600 surat berisikan janji hampa. Dalam pada itu pun beliau menunda-nunda dan tidak menjawab mereka. Sehingga terkumpul pada beliau sebanyak 12.000 surat.” (Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:430)

Ribuan—tepatnya puluhan ribu—surat yang berdatangan berhasil meyakinkan Husen mengenai kesungguhan penduduk Kufah.  Husen mengutus Muslim bin Aqil untuk mengecek keadaan kota Kufah dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Dan ternyata benar, sesampainya Muslim disana ternyata banyak orang berbaiat pada muslim untuk “membela” Husen Ra. melawan penguasa zhalim. Mereka menunggu kedatangan sang Imam untuk memimpin mereka.

Kedatangan Muslim di Kufah

Ridha Husen Shubh Al-Husaini—seorang penulis Syi’ah—mengatakan: “Lalu Muslim berangkat dari Mekah pada pertengahan bulan Sya’ban, dan tiba di Kufah selepas lima hari bulan Syawal. Orang-orang Syi’ah berdatangan berbaiat kepadanya, sehingga jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Sedang di dalam riwayat asy Sya’bi, jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 40.000 orang. (Lihat, asy-Syii’ah wa Asyuura’, hal. 167)

Dari situ ia mulai menerima masyarakat. Dan menyebarluaslah seruan agar berbaiat kepada Husen a.s., sehingga jumlah orang-orang yang “bersumpah setia sampai mati” mencapai 40.000 orang. Ada juga yang mengatakan, kurang dari jumlah tersebut. Gubernur Yazid yang berada di Kufah ketika itu adalah an Nu’man bin Basyir. Sebagaimana disifatkan oleh para sejarawan, gubernur ini seorang muslim yang tidak menyukai perpecahan dan lebih mengutamakan kesejahteraan.” (Lihat, Siirah al-A’immah al-Itsna ‘Asyar, II:57-58).

Seorang ulama Syi’i, Abdur Razaq al-Musawi al-Muqarram menerangkan: “Orang-orang Syi’ah menjumpai Muslim di rumah al Mukhtar dengan sambutan hangat dan menampilkan sikap taat dan patuh. Sikap yang membuat ia lebih gembira dan lebih bersemangat. . .  ., selanjutnya orang-orang Syi’ah pun datang saling berbaiat kepadanya sampai tercatat sejumlah 18.000 orang. Bahkan ada yang mengatakan sampai sejumlah 25.000 orang. Sedang di dalam riwayat asy Sya’bi dinyatakan, orang-orang yang berbaiat kepadanya berjumlah 40.000 orang. Kemudian Muslim menulis surat kepada Husen bersama Abs bin Syabib asy Syakiri, memberitakan kepada beliau tentang kesepakatan penduduk Kufah untuk patuh dan mereka yang menanti-nanti. Di dalamnya ia menyatakan: “Seorang penunjuk jalan tidak akan mendustai keluarganya sendiri. Bahkan sudah terdapat 18.000 orang penduduk Kufah yang berbaiat kepadaku. . .” (Lihat, Maqtal al-Husain, hal. 147. Ma’saah Ihdaa wa Sittiin, karya Abdul Husain al-‘Amiliy, hal. 24)

Seorang tokoh mereka bernama Abbas al-Qumi mengatakan: “Al-Mufid dan mereka yang lain menerangkan: “Masyarakat ber-baiat kepadanya (kepada Muslim bin Uqail) sampai jumlah me-reka mencapai 18.000 orang. Lalu Muslim menulis surat kepada Husein As. memberitahukan kepada beliau tentang 18.000 orang yang berbaiat kepadanya dan memerintahkan agar beliau datang.” (Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:436)

Abbas Al Qummi juga menerangkan: “Melalui riwayat yang lalu, membuktikan bahwa orang-orang Syi’ah secara diam-diam menjumpai Muslim di rumah Hani, secara rahasia. Lalu mereka pun saling mengikutinya, dan Muslim menekankan kepada tiap-tiap orang yang berbaiat kepadanya agar tutup mulut dan merahasiakan hal itu, sampai jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 25.000 laki-laki. Sementara Ibnu Ziyad masih belum mengetahui posisinya. (Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:437)

Sampai di sini barangkali kita membayangkan bagaimana puluhan ribu orang bersiap siaga untuk menyambut kedatangan Husen, bagaimana mereka mempersiapkan persenjataan untuk “melawan penguasa zhalim” di bawah pimpinan sang Imam. Tapi jangan berhenti membaca di sini, karena ternyata ending kisah tak seindah yang kita bayangkan.

ASYURA: ANTARA SUNNAH & SYIAH (BAGIAN V)

Pengkhianatan Terhadap Muslim bin ‘Aqil

Hasyim Ma’ruf asy-Syi’i menerangkan: “Gubernur baru berkuasa untuk membuat rekayasa guna menangkap Hani bin Urwah pemilik rumah di mana utusan Husen Ra. berada, dan yang telah menjamunya dengan sangat baik, bekerja sama di dalam pemikiran-pemikiran dan strategi. Lalu Gubernur itu pun menangkapnya dan membunuhnya setelah melalui perdebatan panjang di antara mereka berdua. Dan ia pun melemparkan bangkainya dari atas istana ke bahwa ke arah masyarakat yang berkerumun di sekitar istana. Lalu timbullah ketakutan dan kecemasan di kalangan masyarakat. Masing-masing orang pulang kerumahnya sendiri-sendiri. Seolah-olah tidak lagi perduli dengan situasi.” (Lihat, Siirah al-Aimmah al-Itsna ‘Asyar, II:61)

Pemuka Syi’i Muhammad Kazhim al-Qazwaini menerangkan: “Lalu Ibnu Ziyad masuk Kufah. Ia mengirim utusan kepada para pemuka setempat dan pimpinan-pimpinan kabilah, mengancam mereka dengan datangnya pasukan dari Syam, dan memikat mereka, sehingga mereka pun membubarkan diri sedikit demi sedikit meninggalkan Muslim sehingga tingggal Muslim seorang diri.” (Lihat, Faaji’ah ath-Thaff, hal. 7. Pernyataan serupa juga tersebut di dalam Tazhlim az-Zahraa’, hal. 149).

Abdul Husein Nuruddin al-‘Amili mengatakan: “Kemudian masyarakat pun bercerai-berai. Ketika itu para wanita menjumpai putranya dan saudaranya, lalu berkata, ‘Pulanglah, orang lain sudah cukup bagimu !’ Sementara kaum lelaki datang menjumpai putra dan saudaranya, lalu berkata, ‘Besok akan datang orang-orang Syam, apa yang akan engkau perbuat terhadap peperangan dan musibah? Pulanglah !’ Kemudian ia pun membawanya pergi. Dan secara terus menerus mereka bercerai berai, sehingga ketika tiba sore harinya dan hendak melakukan salat Maghrib, sudah tidak lebih orang-orang yang tinggal bersamanya kecuali tiga puluh orang di dalam masjid. Tatkala ia melihat sudah tiba sore hari sedang ia hanya berada bersama mereka ini. Lalu ia pun keluar dari masjid dan pergi menuju gerbang-gerbang kabilah Kindah, tetapi belum lagi sampai ke gerbang-gerbang tersebut, kini orang-orang yang bersamanya sudah tinggal sepuluh orang. Dan ketika keluar dari gerbang tersebut, ia sudah tidak bersama seorang pun.” (Lihat, Ma’saah Ihda wa Sittiin, hal. 27)

Menurut hemat kami: “Inilah situasi yang terjadi pada diri Muslim bin ‘Aqil ketika ia meminta kepada Husen Ra. agar memaafkan dirinya karena situasi ini. Sebab sekarang ia telah menyadari pengkhianatan Syi’ah terhadap pamannya Ali, juga terhadap putra pamannya Hasan Ra. Kini kian nyata bukti peristiwa itu. Dan Muslim pun dibunuh di hadapan dan di depan mata dan telinga orang-orang yang telah mengundangnya untuk dibaiat atas nama Husein.”

Seorang pemuka Syi’i fanatik Abdul Husein Syarafuddin dalam menyinggung pengkhianatan para pendahulunya (orang-orang Syi’ah) terhadap Muslim bin Aqil, ia mengatakan: “Tetapi justru sesudah itu mereka mengingkarinya, sesudah berbaiat kepadanya, menguburkan beban tanggung jawabnya, tidak teguh memegang janji, pun tidak kokoh memegang ikrar. Sungguh itu merupakan peristiwa paling tragis, merobek-ro-bek hak-hak, kehinaan paling rendah, peristiwa yang paling layak untuk dikenang. Tetapi berkaitan dengan sikapnya ketika diterima oleh para sahabatnya dan situasi kian menekan antara dirinya dengan musuh-musuhnya, terbukti ia bersikap mulia, dan berpendirian teguh. Pada saat datang musuh-musuh dari atas, dari bawah, dan mengepungnya dari berbagai penjuru, sedang dia hanyalah seorang diri, tanpa penolong tak ada pembela . . . , sehingga terjatulah ia ke tangan mereka selaku tawanan perang.” (Lihat, al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 62).

Husein Ra. Menuju Ke Kufah

Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs Ra. kerap kali menasehati Husen Ra. agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husen Ra, Ali bin Abi Thalib Ra, dibunuh di Kufah dan Ibnu Abbas Ra. khawatir mereka membunuh Husen Ra juga di sana.

Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau Ra. mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya Muslim bin ‘Aqil yang telah dibunuh di sana.

Nasehat yang sama disampaikan pula oleh Muhammad bin Ali bin Abu Thalib atau yang populer dengan gelar Ibnu al-Hanif. Ia berkata, “Wahai saudaraku, penduduk Kufah sudah Anda ketahui betapa pengkhianatan mereka terhadap bapakmu (Ali Ra.) dan saudaramu (Hasan Ra.). Saya khawatir nanti keadaanmu akan sama seperti keadaan mereka sebelumnya!” (Lihat, al-Luhuuf, karya Ibnu Thawus, hal. 39; Asyuura’, karya al-Ihsa’I, hal. 115; Al-Majaalis al-Faakhirah, karya Abdul Husen, hal. 75; Muntaha al-Aamaal, I:454; Alaa Khathi al-Husain, hal. 96)

Menyikapi nasehat-nasehat itu, Husen Ra. mengatakan, “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana.” Akhirnya, berangkatlah Husen Ra. bersama keluarga menuju Kufah.

Dikutip oleh seorang pakar hadis Syi’i Abbas al-Qumi, dan juga oleh seorang tokoh penulis Syi’i Abdul Hadi ash-Shalih, bahwa al-Husein ketika hendak berangkat dari Mekah, beliau melalukan thawaf dan sa’i, memotong rambut beliau dan berta-halul dari ihram beliau. Sebab, beliau tidak tenang untuk menyelesaikan hajinya karena takut akan ditangkap atau di-bunuh di Mekah. Lalu beliau mengumpulkan sahabat-sahabat be- liau pada malam delapan Dzul Hijjah dan berpidato kepada me-reka seraya berkata: “Segala puji bagi Allah. Segala sesuatu adalah atas kehendak Allah. Tiada kekuatan melainkan dari Allah. Semoga sholawat terlimpah kepada Rasul-Nya. Dia telah menetapkan kematian atas anak Adam, dan telah pula mene-tapkan kepemimpinan kepada sebaik-baik pemuda. Alasan yang mendorongku untuk mengenang orang-orang sebelumku adalah se-bagaimana kerinduan Ya’qub kepada Yusuf. Dan sebaik-baik tempat kematianku adalah yang akan kudapati. Seolah-olah de-ngan kedatanganku terhalang oleh lebah-lebah padang belan-tara di antara an-Nawawis dan Karbala’. Lalu merenggut da-riku sepenuh perutnya dengan sangat rakus. Tiada jalan kelu-ar dari hari-hari yang telah tertulis oleh “Pena” (takdir). Kerelaan Allah adalah kerelaan kami para Ahlul Bayt. Kami akan bersabar terhadap ujian-Nya, dan semoga kami dikaruniai pahala orang-orang yang bersabar. . . ” (Lihat, Muntaha al-Aamaal, I:453; Khair al-Ashhaab, hal. 33)

Dr. Ahmad Rasim an-Nafis mengatakan: “Bahkan Farazdaq si penyair telah berjumpa dengan kafilah Husein. Ia mengucapkan salam kepada beliau, dan berkata kepada beliau, ‘Demi bapak dan ibuku, wahai putra Rasulullah, dorongan apa yang membuat tuan menyegerakan ibadah haji?’ Beliau menjawab, ‘Sekiranya saya tidak terburu-buru, niscaya saya akan ditangkap..,’ Lalu Abu Abdillah (Husein) bertanya tentang keadaan masyarakat. Farazdaq menjawab, ‘Hati mereka ada pada tuan, tetapi pedang mereka pun akan menyerang tuan.’ Beliau menjawab, ‘Maha Benar Allah di dalam mengatur dan setiap hari Dia dengan urusan-Nya. Sekiranya terjadi ketentuan sesuai yang kami sukai dan kami rela, maka kami pun akan memuji karunia-Nya. Sedang Dia-lah tempat kita memanjatkan syukur. Tetapi jika yang terjadi di luar harapan, maka tidak akan tersia-sia orang yang baik niatnya dan takwa batinnya’.” (Lihat,  ‘Alla Khathi al-Husain, hal. 99-100; asy-Syii’ah wa Asyuura’, hal. 178).

Perhatikanlah keterangan tentang ucapan beliau: “Sekiranya terjadi ketentuan sesuai yang kami sukai …” Keterangan ini berlawanan dengan pernyataan yang dikutip oleh Abbas al-Qumi: “Seolah-olah dengan kedatanganku terhalang oleh lebah-lebah padang belantara di antara an-Nawawis dan Karbala’.”

Pemuka Syi’i bernama Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus al-Huseini mengatakan: “Si perawi menerangkan: “Husen As. berangkat sehingga tinggal berjarak dua hari perjalanan dari Kufah. Tiba-tiba beliau berjumpa dengan al-Hurr bin Yazid bersama seribu orang penunggang kuda. Husen Ra. pun bertanya kepadanya, ‘Adakah Anda berpihak kepada kami ataukah memusuhi kami?’ Ia menjawab, ‘Kami akan memusuhi Anda wahai Abu Abdillah.’ Beliau berkata, ‘Tiada daya maupun kekuatan melainkan dari Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.’ Selanjutnya terjadilah dialog di antara mereka berdua, sehingga Husen Ra. berkata kepadanya, ‘Jika kalian pada posisi yang berbeda dari surat-surat kalian yang datang kepadaku, dan juga utusan-utusan yang Anda utus kepadaku. Maka saya akan kembali ke tempat saya pergi.”

Al-Hurr melarang beliau bersama para sahabat beliau untuk melakukan itu. Dan ia pun berkata: “Wahai putra Rasulullah, ambillah jalan yang kiranya tidak memasukkan Anda ke Kufah, dan tidak pula mengantar Anda ke Madinah, agar saya dapat beralasan kepada Ibnu az-Ziyad, seolah-olah Anda telah berlawanan jalan denganku di perjalanan.” Kemudian Husen Ra. berbelok ke kiri, sehingga beliau sampai di Adzib al-Hajanat.” (Lihat, al-Luhuuf, hal. 47; al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 87).

Ayatullah Muhammad Taqiy Ali Bahri al-Ulum menerangkan: ” Husein keluar seraya mengenakan kain, selendang, sepasang sendal, dan bersandar pada penghulu pedang beliau. Lalu beliau menghadapi kelompok tersebut, memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata, ‘Dengan merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga kepada kalian. Sebenarnya saya tidak datang kepada kalian sehingga datang kepada saya surat-surat kalian. Dan dinyatakan oleh utusan-utusan kalian, ‘Datanglah kepada kami karena kami tidak memiliki imam. Semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas petunjuk.’ Jika kalian memang bersikap seperti itu, maka sekarang kami datang kepada kalian, maka penuhilah janji dan ikrar kalian dengan si kap yang baik. Tetapi sekiranya kalian tidak menyukai kehadiranku, maka saya pun akan meninggalkan kalian kembali ke tempat di mana saya berangkat.’ Mereka pun terdiam semuanya. Lalu al-Hajjaj bin Masruq al-Ju’fi menyerukan salat zhuhur. Kemudian Husen berkata kepada al-Hurr, ‘Apakah Anda hendak bertindak sebagai imam salat sahabat-sahabat Anda?’ Ia menjawab, ‘Tidak, namun kami semuanya akan bermakmum kepada Anda.’ Kemudian Husein pun bertindak sebagai imam salat mereka. Seusai salat, beliau menghadap mereka, memuji dan menyanjung Allah, dan bersholawat kepada Nabi Muhammad, beliau berkata, ‘Wahai hadirin, sekiranya kalian bertakwa kepada Allah dan memahami hak-hak ahli-Nya, niscaya itu lebih diridhai Allah. Kami adalah Ahlul Bayt Muhammad saw., lebih layak untuk menduduki jabatan ini dibanding mereka yang merasa memiliki apa-apa yang tiada pada mereka. Dan mereka orang-orang yang suka melakukan kejahatan dan permu-suhan. Tetapi sekiranya kalian merasa enggan dan tidak menyukai kami, tidak memahami hak-hak kami, dan sekarang kalian berpendapat (dengan pendapat baru) yang berbeda dengan pernyataan-pernyataan surat-surat kalian. Kami akan pergi meninggalkan kalian’.”

Al-Hurr berkata, “Saya tidak mengerti tentang surat-surat yang Anda sebutkan itu?” Lalu Husein memerintahkan kepada Uqbah bin Sam’an (agar mengeluarkan surat-surat tersebut). Ia pun mengeluarkan dua kantung penuh dengan surat-surat.

Al-Hurr berkata, “Saya bukan dari golongan mereka. Bahkan saya diperintah untuk tidak berpisah dari Anda apabila bisa menjumpai Anda sampai saya membawa Anda ke Kufah menjumpai Ibnu Ziyad.” Husein menjawab, “Maut lebih dekat pada diri Anda daripada melaksanakan hal itu.”

Lalu beliau memerintahkan sahabat-sahabat beliau agar menunggangi kendaraan, para wanita pun sudah menunggangi kendaraan. Tetapi tiba-tiba al-Hurr melarang mereka pergi menuju ke Madinah.” Husen berkata kepada al-Hurr, “Celakalah ibumu, apakah yang kalian harap dari kami?”

Al-Hurr berkata, “Sekiranya yang mengucapkan kata-kata itu orang Arab lain selain Anda, dan ia dalam posisi seperti Anda sekarang, niscaya tidak akan kubiarkan ia menyebut celaka terhadap ibunya, betapa pun alasannya. Demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan untuk menyebut ibu Anda, kecuali dengan ucapan yang baik dan kami hormati. Tetapi sekarang silahkan ambil jalan tengah yang mana tidak memasukkan Anda ke Kufah dan bukan ke arah Madinah, sehingga saya dapat menulis surat kepada Ibnu Ziyad. Semoga Allah berkenan mengaruniakan kesejahteraan kepada kita, dan saya pun tidak mendapat musibah karena persoalan Anda ini.” (Lihat, Waaqi’ah ath-Thaff, karya Bahr al-‘Ulum, hal. 191-192)

Peristiwa yang berkaitan dengan upaya Husen Ra. hendak pulang kembali ke tempat semula, dan betapa beliau dihinakan dan dikhianati oleh orang-orang Syi’ah Kufah, pada dasarnya telah dikutip oleh beberapa pakar sejarah Syi’ah, bahkan diterangkan juga oleh para tokoh Syi’ah seperti Abbas al-Qumi (dalam Muntahaa al-AAmaal, I:464), Abdur Razaq al-Musawi al-Muqarram (dalam Maqtal al-Husain, hal. 183), Baqir Syarif al-Qurasyi (dalam Fii Hayaah al-Imaam al-Husain, hal. 102), Dr. Ahmad Rasim an-Nafis (dalam ‘Alaa Khathi al-Husain, hal. 102), Fadhil Abbas al-Hayawi (dalam Maqtal al-Husain, hal. 11), Syarif al-Jawahiri (dalam Mutsiiru al-Ahzaan, hal. 43), Asad Haidar (dalam Ma’a al-Husaini fii Nahdhatih, hal. 165), Arwa Qushair Qalith (dalam Khuthbu al-Masiirah al-Karbala’iyyah, hal. 49), Muhsin al-Huseini (Al-Imaam al-Husain Bashiirah wan Hadhaarah), juga oleh pemikir Syi’i Abdul Hadi ash-Shalih, sebagaimana diterangkan Abdul Husein Syarafuddin (dalam al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 87). Juga dinyatakan oleh Ridha al-Qazwaini (dalam Tadhlim az-Zahraa’, hal. 174 dan halaman berikutnya).

Abbas al-Qumi juga mengutip riwayat, bahwa Husen Ra. melakukan perjalanan sehingga sampai di Qashr Bani Muqatil. Ternyata di sana sudah tersedia tenda-tenda terbentang, anak-anak panah yang disiagakan, kuda-kuda yang dipersiapkan. Lalu Husen Ra. Bertanya, “Bagi siapakah tenda-tenda ini?’ Mereka menjawab, ‘Bagi Ubaidullah bin al-Hurr al-Ju’fi.’ Kemudian Husen Ra. mengutus salah seorang sa-habat beliau bernama al-Hajjaj bin Masruq al-Ju’fi untuk menghadap kepadanya. Ia pun menghadap dan mengucapkan salam kepadanya. Ubaidullah menjawab salamnya, kemudian berkata, “Siapakah di belakang Anda?’ Ia menjawab, ‘Di belakang saya wahai Ibnu al-Hurr, kiranya Allah akan mengaruniakan kehormatan kepada tuan sekiranya tuan bersedia menerima beliau.’ Ibnu al-Hurr bertanya, ‘Apakah karunia kehormatan itu?’ Ia menjawab, ‘Beliau adalah Husen bin Ali, beliau mengundang Anda agar bersedia membelanya. Sekiranya Anda berperang di hadapan beliau, niscaya Anda akan dikaruniai pahala, dan jika Anda terbunuh di hadapannya, niscaya Anda akan mati syahid’.

Ubaidullah bin al-Hurr menjawab, “Demi Allah, hai Hajjaj, saya tidak berangkat dari Kufah melainkan karena khawatir, bahwa Husen Ra. akan masuk ke sana, sedang saya berada di sana dan tidak dapat membelanya. Sebab di Kufah tidak ada orang-orang Syi’ah maupun penolong-penolong melainkan para materialistis, kecuali (beberapa orang) yang diselamatkan Allah dari kalangan mereka. Sekarang kembalilah kepada beliau dan beritahukan hal itu kepada beliau.”

Kemudian Husen bangkit memakai sendal dan pergi menjumpainya bersama sejumlah sahabat dari kalangan saudara-saudara dan Ahlul Bayt beliau. Tatkala masuk dan mengucapkan salam, melonjaklah Ubaidillah bin al-Hurr dari posisi duduknya, mencium kedua tangan dan kaki beliau. Kemudian Husen duduk seraya memuji dan menyanjung Allah, lalu ber-kata, ‘Hai Ibnu al-Hurr, sebenarnya penduduk kota Anda telah menulis surat kepada saya dan menjelaskan kepada saya bahwa mereka telah berkumpul hendak membelaku, dan mereka pun memohon kepadaku untuk datang kepada mereka. Saya pun datang, dan persoalannya bukan seperti anggapan mereka. Sekarang saya mengajak Anda untuk membela kami para Ahlul Bayt. Sekiranya hak-hak kami diberikan, niscaya kami akan memuji Allah dan menerimanya. Tetapi sekiranya hak-hak kami ditolak dan dianggap kami melakukan kezaliman, maka sebenarnya tujuan saya adalah menuntut kebenaran.”

Ubaidillah menjawab, “Wahai putra Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam wa aalih, sekiranya di Kufah terdapat Syi’ah (sejati) dan para pembela yang akan berperang bersama Anda, niscaya saya orang yang paling mengetahuinya. Tetapi saya mengetahui bahwa Syi’ah Anda di Kufah itu telah meninggalkan rumah-rumah mereka masing-masing karena takut kepada pedang-pedang Bani Umayah.”

Husein tidak menjawab ucapan itu, dan beliau berlalu. . . “

Peristiwa tersebut diterangkan oleh Abbas al-Qumi di dalam Muntahaa al-Aamaal, I:466. Juga di catatan pinggir (haamisy), kitab an-Nafs al-Mahmuum, hal. 177.

Kabar Buruk

Abbas al-Qumi menerangkan: “Lebih lanjut perhatikanlah (maksudnya Husein), sehingga ketika tiba waktu sahur, beliau berkata kepada bujang-bujang dan pelayan-pelayan beliau, “Perbanyaklah air, sehingga kalian memiliki persediaan minum. Dan perbanyak lagi, kemudian berangkatlah. Lalu beliau melakukan perjalanan. Sehingga ketika beliau sampai di tempat sampah, datang kepada beliau berita tentang Abdullah bin Yaqthar. Kemudian beliau mengumpulkan para sahabat beliau. Mengeluarkan sepucuk surat di hadapan hadirin, dan beliau membacakannya di hadapan mereka. Ternyata tertulis di dalamnya sebagai berikut: “Bismillahirrahmanirrahim. Lebih lanjut, telah datang berita buruk kepada kami, Muslim bin Aqil dibunuh, Hani bin Urwah, dan juga Abdullah bin Yaqthar. Kita telah dihinakan oleh Syi’ah kita sendiri. Barangsiapa di antara kalian hendak pulang, silahkan pulang tanpa dipersalahkan dan tanpa dibebani sangsi.”

Kemudian para hadirin pun bercerai-berai meninggalkan beliau, yaitu dari kalangan orang-orang yang mengikuti beliau demi memperoleh harta rampasan dan kehormatan. Sehingga beliau hanya tinggal bersama Ahlul Bayt beliau dan para sahabat-sahabat beliau yang tetap memilih tinggal dan patuh bersama beliau atas dasar yakin dan iman.”(Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:462) diterangkan pula oleh al-Majlisi di dalam kitab Bihaar al-Anwaar, XXXXIV:374; Muhsin al-Amin dalam Lawaa’ij al-Asyhaan, hal. 67; Abdul Husein al-Musawi dalam al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 85; Abdul Hadi ash-Shalih di dalam Khair Ashhaab, hal. 37, dan hal. 107.

ASYURA: ANTARA SUNNAH & SYIAH (BAGIAN VI-TAMAT)

Syi’ah Harus Bertanggung Jawab atas Pembunuhan Husen Ra.

Penjelasan tentang peristiwa pembunuhan Husen Ra. dan berbagai pihak yang terlibat dalam pembunuhan itu kami ambil dari dua sumber:

Pertama, Kelompok Syi’ah

 Seorang penyair tersohor, Farazdaq berpantun berkaitan dengan Husen Ra., tatkala ia ditanya tentang Syi’ah beliau yang hendak dijumpai oleh beliau. Ia menjelaskan: “Hati mereka bersama Anda, sedang pedang beliau melawan An-da. Ketetapan turun dari langit, dan Allah kuasa berbuat se-kehendak-Nya.” Al-Husein menjawab: “Anda benar, Allahlah yang kuasa menetapkan persoalan. Dan setiap hari ia berada di dalam urusan. Sekiranya datang ketentuan sebagaimana kesukaan dan kerelaan kami, kami pun memuji Allah atas karu-nia-karunia nikmatnya, bahkan Dialah tempat tujuan selayak-nya untuk mengungkapkan syukur. Tetapi apabila terjadi si-tuasi yang di luar harapan, niscaya Dia tidak akan jauh dari orang-orang yang berniat baik dan berbatin takwa.” (Lihat, al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 79; ‘Alaa Khathi al-Husen, hal 100; Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 60; Ma’aalim al-Madrasatain, III:62)

Husen Ra. tatkala beliau berpidato kepada mereka, beliau telah menyinggung sikap pendahulu mereka dan juga sikap mereka terhadap bapak dan saudara beliau. Di dalam pidato beliau itu, beliau menyatakan: “ . . ., sekiranya kalian tidak bersedia melaksanakannya dan kalian hendak membatalkan janji kalian, kalian hendak menanggalkan baiat terhadapku dari pundak kalian, maka memang kalian sudah dikenal dengan sikap demikian, karena kalian pun telah bersikap serupa itu terhadap bapakku, saudaraku, dan juga putra pamanku Muslim. Akan tertipulah orang-orang yang cenderung kepada kalian, . . . “(Lihat, Ma’aalim al-Madrasatain, II:71-72; Ma’aali as-Sibthain, I:275; Bahr al-‘Uluum, hal. 194; Nafs al-Mahmuum, hal. 172; Khoir al-Ashhaab, hal. 39; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 170.)

Dan pernyataan-pernyataan Husen Ra. sebelumnya yang meragukan surat-surat mereka. Kata beliau: “Sesungguhnya mereka itu telah membuat diriku cemas, dan inilah surat-surat penduduk Kufah, sedang mereka memerangiku.” (Lihat, Maqtal al-Husain, hal. 175)

Pada kesempatan lainnya, beliau mengatakan: “Wahai Allah, turunkanlah ketetapan antara kami dengan kaum yang telah mengundang diri kami yang hendak membela, tetapi justru memerangi kami!”(Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:535).

Dari pernyataan-pernyataan Husen Ra. di atas tampak jelas bahwa Syi’ah (pengikut) Husein ra. telah mengundang beliau dengan dalih hendak membelanya, namun faktanya mereka justru memerangi beliau.

Salah seorang Syi’i bernama Husein Kurani mengatakan: “Penduduk Kufah tidak puas sekedar berpisah meninggalkan Imam Husen, bahkan mereka berubah sikap, mengubah pendirian mereka ke pendirian ketiga, yaitu kini mereka bergegas berangkat menuju Karbala dan memerangi Imam Husen Ra. di Karbala’. Mereka saling berlomba menyatakan pendirian mereka sesuai dengan kepuasan setan dan mendatangkan murka Sang Mahapemurah. Contohnya, kita lihat, bahwa Amru bin al-Hajjaj, lelaki yang baru kemarin bersiap siaga di Kufah laksana seorang penggembala gembalaan Ahlul Bayt, berjuang membela mereka, juga merupakan orang yang telah mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan orang besar Hani bin Urwah, secara nyata-nyata telah berbalik pendirian, yaitu menganggap bahwa Imam Husen telah keluar dari agama (Islam). Marilah kita renungkan pernyataan berikut:

“Ketika itu Amru bin al-Hajjaj berkata kepada rekan-rekannya: “Perangilah orang-orang yang telah keluar dari agama dan meninggalkan jamaah …” (Lihat, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 60-61)

Husein Kurani juga menjelaskan: “Kita lihat pendirian lain yang membuktikan sikap munafik penduduk Kufah. Abdullah bin Hauzah at-Taimi datang berdiri di hadapan Imam Husen Ra. seraya berteriak, ‘Adakah di antara kalian yang bernama Husein?’

Orang ini termasuk penduduk Kufah sedang kemarin ia tergolong Syi’ah Ali As. dan boleh jadi ia termasuk orang yang turut menulis surat kepada Imam, atau termasuk jamaah yang terlibat dan mereka yang lain yang juga menulis surat . . . , “ Lebih lanjut ia berkata, “Hai Husen, berbahagialah dengan masuk neraka !”(Lihat, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 61).

Murtadha Muthahari mempertanyakan: “Bagaimana penduduk Kufah sampai berangkat untuk memerangi Husen Ra. pada saat menganggap cinta kepada mereka dan memiliki jalinan kasih sayang?”

Kemudian ia pun menjawabnya sendiri: “Jawabannya, ialah karena rasa gentar dan takut yang telah menjangkiti penduduk Kufah. Secara umum sejak masa pemerintahan Ziyad dan Mu’awiyah, dan yang kemudian kian meningkat dan bertambah-tambah dengan kehadiran Ubaidillah, lelaki yang dengan serta merta telah membunuh Maitsam at-Tamar, Rasyid, Muslim, dan Hani, . . , dan ini berkaitan dengan perubahan sikap mereka yang terlibat lantaran berambisi dan berhasrat kepada penghasilan, harta, dan kehormatan duniawi. Sebagaimana hal itu terjadi pada diri Umar bin Sa’ad . . .,”

“Adapun sikap orang-orang terpandang dan para tokoh, mereka ini telah dilanda takut terhadap Ibnu Ziyad, terpikat oleh harta sejak hari pertama ia memasuki Kufah. Pada saat ia berseru kepada mereka semua seraya berkata, ‘Barangsiapa di antara kalian berada di barisan yang menentang, maka saya akan menghapuskan soal hadiah kepadanya.’

Demikianlah, contohnya Amir bin Majma’ atau bernama Majma’ bin Amir, ia berkata: “Adapun para tokoh mereka, maka mereka telah menjadi besarlah korupsi mereka, dan telah memenuhi tabiat mereka.” (Lihat, al-Malhamah al-Huseniyyah, III:47-48).

Ulama Syi’i Kazhim al-Ihsa’i an-Najafi menjelaskan: “Pasukan yang berangkat hendak memerangi Imam Husen a.s. sebanyak 300.000. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada di antara mereka yang berasal dari Syam, Hejaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, maupun Afrika, bahkan seluruhnya adalah penduduk Kufah yang terhimpun dari beraneka ragam kabilah.” (Lihat, Asyuura’, hal. 89).

Seorang sejarawan Syi’i Husein bin Ahmad al-Buraqi an-Najafi menerangkan: “Al-Qazwaini mengatakan: “Balasan yang perlu dilakukan terhadap penduduk Kufah, adalah lantaran mereka telah menikam Hasan bin Ali As., dan mereka membunuh Husen Ra. setelah mereka mengundang beliau.” (Lihat, Taariikh Kuufah, hal. 113).

Seorang sejarawan Syi’i ternama Ayatullah al-‘Uzhma Muhsin Amin mengatakan: “Lalu berbaiatlah dari penduduk Kufah sebanyak 20.000 orang, di mana mereka mengkhianatinya. Kemudian mereka pun berangkat memerangi beliau pada saat baiat (janji setia) masih berada di pundak mereka. Kemudian mereka pun membunuh beliau.” (Lihat, A’yaan asy-Syii’ah, I:26).

Jawad Muhaditsi mengatakan: “Segala penyebab seperti ini berdampak menyusahkan Imam Ali As. dalam dua kasus, dan Imam al-Hasan menghadapi pengkhianatan mereka. Di antara mereka Muslim bin ‘Aqil terbunuh dalam kondisi teraniaya. Husein mati dalam keadaan kehausan di Karbala dekat Kufah dan di tangan tentara Kufah.”(Lihat, Mawsuu’ah Asyuura’, hal. 59).

Seorang tokoh Syi’i Abu Manshur ath-Thabrisi, Ibnu Thawus, al-Amin, dan para tokoh lainnya mengutip informasi dari Ali bin Hasan (menurut kami: Husein –pent) bin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Zainal Abidin Ra., dari bapak-bapaknya, seraya mencela Syi’ahnya yang telah menghinakan bapaknya dan membunuhnya pula, ia berkata: “Wahai manusia, kuperingatkan kalian terhadap Allah, tidak sadarkah kalian, bahwa kalian telah menulis surat kepada bapakku, lalu kalian khianati? Kalian memberikan janji, ikrar, dan baiat, lalu kalian membunuhnya dan menghinakannya. Celakalah hasil dari perbuatan yang telah kalian lakukan bagi diri kalian, buruknya nalar kalian. Dengan pandangan bagaimanakah kalian akan memandang kepada Rasulullah saw. manakala beliau bertanya kepada kalian, ‘Kalian telah membunuh keturunanku, dan kalian telah mencemarkan kehormatanku. Jadi, kalian bukanlah umatku!’.”

Para wanita saling menjerit seraya menangis dari berbagai penjuru. Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Binasalah kalian lantaran perbuatan kalian.” Lalu beliau As. berkata lagi: “Semoga Allah merahmati orang yang suka menerima nasehatku, menjaga wasiatku berkaitan (hak-hak) Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul Baytnya. Sebab, kami telah memperoleh teladan baik dari Rasulullah.”

Secara serentak para hadirin berseru: “Kami semua bersedia mendengar, patuh, siap membantu beban tuan, tidak akan mengabaikan tuan dan tidak pula melalaikan tuan. Oleh karena itu, perintahkanlah kami dengan suatu perintah, semoga tuan dirahmati Allah. Sebab, kami siap berperang kepada orang yang memerangi tuan, berdamai dengan orang yang berdamai dengan tuan. Benar-benar kami akan menuntut bela terhadap Yazid, dan kami pun memutuskan hubungan dari mereka yang menzalimi tuan dan menzalimi kami.”

Beliau As. menjawab: “Aduhai, aduhai, wahai para pengkhianat penipu. Ambisi kalian telah dihalangi oleh hawa nafsu kalian. Adakah kalian akan bersikap terhadapku sebagaimana sikap kalian terhadap bapak-bapakku sebelumnya? Tidak lagi, betapa banyak orang-orang yang suka menari-nari. Sungguh luka ini belum lagi kering. Baru kemarin bapakku terbunuh dan Ahlul Baytku pun terbunuh bersamanya. Saya belum dapat melupakan derita Rasulullah saw. beserta keluarganya, derita bapakku beserta putra-putra bapakku. Dan itu bisa didapati di antara duka dan kepahitanku, di antara kerongkongan dan tenggorokanku, sedang cabang-cabangnya mengalir di hamparan dadaku…”(Pidato ini diterangkan oleh ath-Thabari, al-Ihtijaaj, II:32; Ibnu Thawus, al-Malhuuf, hal 92; Al-Amin, Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 158; Abbas al-Qumi, Muntahaa al-Aamaal, I:572; Husein al-Kurani, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 183; Abdur Razaq al-Muqarram, Maqtal al-Husen, hal. 317; Murtadha ‘Iyad, Maqtal al-Husen, hal. 87; Diulang pula oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum, hal. 360. Juga dikemukakan oleh Ridha al-Qazwaini di dalam Tadhlim az-Zahraa’, hal. 262)

Tatkala Imam Zain al-Abidin rahimahullahu Ta’ala lewat dan melihat penduduk Kufah sedang meratap dan menangis, lalu beliau menegurnya seraya berkata: “Kalian meratapi dan menangisi kami, lalu siapa yang telah memerangi kami?” (Lihat, al-Malhuuf, hal. 86; Nafsu al-Mahmuum, hal. 257; Maqtal al-Husen, karya Murtadha ‘Iyad, hal. 83; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 257).

Di dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala beliau melewati Kufah di mana penduduknya meratap. Ketika itu beliau tinggal sebagai tamu karena terhalang oleh sakit. Dengan suara pelahan beliau berkata: “Kalian meratapi dan menangis kami? Lalu siapa yang telah memerangi kami?” (Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:570).

Pada riwayat lain tentang diri beliau, dinyatakan bahwa beliau berkata dengan suara lemah karena beliau sedang dirundung sakit: “Sekiranya mereka itu menangisi kami, lalu siapakah yang telah memerangi kami selain mereka?” (Lihat, al-Ihtijaaj, II:29).

Ummu Kultsum binti Ali berkata: “Wahai penduduk Kufah, celakalah kalian, mengapa kalian menghinakan Husen dan membunuhnya, kalian rampok harta bendanya dan kalian warisi, kalian caci maki istri-istrinya dan kalian buat menderita. Celakalah kalian, terazablah kalian.”

Tragedi apakah yang menimpa kalian, beban apakah yang terpikulkan di punggung kalian, darah-darah manakah yang telah kalian tumpahkan, kehormatan-kehormatan mana pulakah yang telah kalian cemarkan, anak-anak manakah yang telah kalian bajak, harta-harta mana yang telah kalian rampok. Kalian telah membunuh orang-orang baik sesudah Nabi saw. dan keluarganya, dan kasih sayang sudah tercabut dari hati kalian!”(Lihat, al-Luhuuf, hal. 91; Nafsu al-Mahmuum, 363; Maqtal al-Husen, karya al-Muqarram, hal. 316; Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 157; Maqtal al-Husen, karya Murtadha ‘Iyad, hal.86; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 261).

Tentang riwayat Ummu Kultsum ini juga diterangkan pula oleh ath-Thabrisi dan al-Qumi, al-Muqarram, al-Kurani, Ahmad Rasim, dan juga menjelaskan tentang penyelewengan para pengkhianat yang hina dina. Kata beliau: “Kemudian dari itu, wahai penduduk Kufah, hai para pengkhianat, para penipu, dan tukang makar. Inga-lah, sejarah tiada akan terlupakan dan tragedi pun tiada akan tertenteramkan. Orang-orang seperti kalian adalah laksana orang yang merusak jalinan tenunannya sendiri setelah kokoh hingga tercerai berai.”

Kalian jadikan iman kalian selaku barang dagangan di antara kalian. Adakah pada pribadi kalian selain hasrat hati dan bangga, lirikan dan dusta, merayu budak-budak wanita, bergelimang permusuhan. Seperti seorang penggembala pada tempat sampah, atau perak di dasar tanah. Betapa buruk bidang-bidang yang kalian upayakan bagi diri kalian, karena kemurkaan Allah akan menimpa kalian, dan kalian pun akan kekal di dalam azab. Adakah kalian menangisi saudaraku? Memang, sungguh! Banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit, karena kalian mendapat tragedi kehinaan dan terkenang aib karenanya, dan tak akan pernah terlupakan selamanya.

Bagaimana kalian dapat melupakan pembunuhan terhadap keturunan Sang Penutup para nabi? sumber risalah? pemimpin pemuda penghuni surga? tempat berlindung perang kalian dan pembela kelompok kalian?  pusat kesejahteraan kalian, wilayah pangkalan kalian, tempat rujukan untuk kalian mengadu, dan menara hujah kalian sendiri? Betapa buruk apa-apa yang telah kalian upayakan bagi diri kalian sendiri, betapa buruk beban yang akan kalian pikul pada hari kebangkitan kalian. Binasa, binasa, celaka, celaka, sebab upaya telah sia-sia, dan celakalah tangan-tangan manusia, tepukan-tepukan pun merugi. Dan kalian akan kembali dengan menghadap kemurkaan Allah. Kalian akan ditimpa kehinaan dan kenistaan. Celakalah kalian, tidakkah kalian mengerti betapa susah payah Muhammad telah kalian sia-siakan? Betapa janji telah kalian pungkiri? Betapa kehormatan beliau telah kalian cemarkan? Betapa darah beliau telah kalian tumpahkan? Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karenanya, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung pun runtuh. Sesungguhnya kalian telah mendatangkan kelusuhan dan ketercabik-cabikan sepenuh bumi dan langit.” (Lihat, al-Ihtijjaaj, II29; Muntahaa al-Aamaal, I:570; Maqtal al-Husen, karya al-Muqarram, hal. 311, dan berikutnya; Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 146, dan seterusnya; ‘Alaa Khathi al-Husen hal. 138; Tadhlim az-Zahraa’, 258).

Seorang pemuka Syi’i Asad Haidar berkenaan Zainab binti Ali, di mana Zainab berpidato kepada segenap orang yang menyambutnya dengan tangisan seraya meratap. Kata beliau seraya mencemooh mereka: “Adakah kalian menangis dan berpura-pura sayang? Ya, benar, banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit. Sebab kalian akan menderita aib dan kenistaan karenanya, dan kalian tak akan dapat terbebas daripadanya melalui upaya pembersihan selama-lamanya. Bagaimana mungkin kalian akan terbebas dari pembunuhan terhadap cucu Sang Penutup para nabi? …” (Lihat, Ma’a al-Husen fii Nahdhatih, hal. 295, dan seterusnya).

Pada riwayat lain dinyatakan, beliau mengeluarkan kepala dari tandu seraya berkata kepada penduduk Kufah: “Celakalah kalian hai penduduk Kufah! Para lelaki kalian membunuhi kami sementara para wanita kalian menangisi kami. Yang akan menjadi hakim bagi kami atas kalian adalah Allah pada hari ditetapkannya hukuman masing-masing.” (Dikutip oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum, hal. 365. Juga disebutkan oleh Syeikh Ridhla bin Nubi al-Qazwaini di dalam Tadhlimu az-Zahraa’, hal. 264)

Berbagai penjelasan yang gamblang dari para saksi sejarah, baik dari Ahli Bait Nabi saw. Maupun lainnya, yang diakui kebenarannya oleh para sejarawan dan ulama Syi’ah di atas, telah membongkar kedustaan kelompok Syi’ah sendiri, di mana pada hakikatnya mereka tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa Husen As. telah dicela, dihinakan, dikhianati dan dibunuh oleh orang Syiah sendiri, karena mereka pengecut dan rakus akan kehidupan dunia.

Kedua, Ahlus Sunnah

 ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Kufah. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husen Ra. bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Kufah. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang Syiah yang ingin memanfaatkan Husen Ra.. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Kufah yang membujuk Husen Ra., dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husen Ra. dan keluarganya yang berhadapan dengan pasukan Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husen Ra. sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa kehadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.

Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka ini menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husen, padahal di situ ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami. Anas mengatakan, “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah saw. mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan, “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.”

Keterangan:

Ubaidullah disebut orang durhaka, karena dia tidak diperintah untuk membunuh Husen Ra., namun melakukannya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ فَجَعَلَ يَنْكُتُ وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ

“Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husen bin Ibrâhîm, dia mengatakan, ‘Aku diberitahu oleh Husen bin Muhammad.’ Kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad, dari Anas bin Mâlik Ra, dia mengatakan, ‘Kepala Husen dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husen. Anas Ra. mengatakan, ‘Di antara Ahlul bait, Husen adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw.’ Saat itu, Husen Ra. disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).” (Lihat, Shahih al-Bukhari, III:137, No. 3538)

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân, dari Hafshah binti Sirîn, dari Anas Ra dinyatakan :

فَجَعَلَ يَقُوْلُ بِقَضِيْبٍ لَهُ فِي أَنْفِهِ

“Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husen Ra.” (Lihat, Sunan at-Tirmidzi, V:660, No. 3778; Shahih Ibnu Hiban, XV:430, No. 6972)

Dalam riwayat ath-Thabrâni, dari hadis Zaid bin Arqam disebutkan:

فَجَعَلَ يَجْعَلُ قَضِيبًا فِي يَدِهِ فِي عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ ، فَقَالَ زَيْدُ بن أَرْقَمَ : ارْفَعِ الْقَضِيبَ ، فَقَالَ : لِمَ ؟ فَقَالَ فَقَدْ رَأَيْتُ فَمَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْضِعِهِ

“Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husen.” Maka Zaid bin Arqam mengatakan, “Angkat pedangmu!” Ia bertanya, “Mengapa?” Ia (Zaid) menjawab, “Sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu’.” (Lihat, al-Mu’jam al-Kabir, V:210, No. 5121)

Demikian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik :

فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَلْثِمُ حَيْثُ تَضَعُ قَضِيْبَكَ قَالَ : فَانْقَبَضَ

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya, “Sungguh aku telah melihat saw. mencium tempat di mana engkau menaruh pedangmu itu.” Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya. (Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, XV:144)

Demikianlah fakta peristiwa yang sesungguhnya, setelah Husen terbunuh, kepala beliau dipenggal dan ditaruh di bejana. Selanjutnya mata, hidung dan gigi beliau ditusuk-tusuk dengan pedang oleh ‘Ubaidullah, orang durhaka itu. Para Sahabat Ra. yang menyaksikan tindakan itu segera mencegahnya agar ia menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah pernah menempel tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah saw. dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah saw., orang kesayangan beliau dihinakan di depan mata mereka.

Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa “kepala Husen diarak sampai diletakkan di depan Yazid bin Muawiyah. Para wanita dari keluarga Husen dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas.”

Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid bin Muawiyah saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan ini berlangsung di Karbala, Irak.

Syekh Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul (tidak dikenal) dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid. Kepala Husen dibawa kehadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya gigi Husen. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka—untuk diketahui juga—para  Sahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan ‘Ubaidullah untuk membunuh Husen.” (Lihat, Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah, IV:557)

Yazid bin Muawiyah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah saw. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husen dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan mengqisas ‘Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husen secara tegas. (Lihat, Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah, IV:557)

Jadi memang benar, Husen Ra. dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dhaif (lemah). Alangkah banyak riwayat dhaif serta dusta seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyyah di atas.

Selain itu pula, kisah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi “bumbu penyedap” berupa berbagai cerita tambahan yang dusta. Tambahan-tambahan dusta ini bertujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum muslimin.

Sehubungan dengan itu, di sini perlu ditegaskan sikap Ahlus Sunnah terhadap tragedy Karbala, bahwa:

Husain Ra. bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Kufah, Irak, bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, beliau dapat mengerahkan penduduk Mekah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai beliau. Karena, saat beliau di Mekah, kewibaannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Mekkah. Beliau seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena beliaulah Ahli Bait yang paling besar.

Oleh karena itu, ketika dalam perjalanannya menuju Irak dan mendengar sepupunya Muslim bin ‘Aqîl dibunuh di Kufah, Irak, beliau berniat untuk kembali ke Mekkah. Akan tetapi, beliau ditahan dan dipaksa oleh kelompok Syiah di Kufah untuk berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Akhirnya, beliau tewas terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.

Demikian uraian singkat tentang tragedi Karbala, tempat terjadinya pembunuhan Husen Ra. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan.

Kita memohon kepada Allah swt. agar menghindarkan kita semua dari berbagai fitnah yang disebarkan oleh kelompok Syi’ah, laknatullaah ‘alaihim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s