MUSKERWIL: Mubahasah Gaza-Palestina dan ISIS


SAM_1576

Acara penyerta Muskerwil IV Diskusi Ilmiah, “Peranan Dunia Islam dalam Kancah Geopolitik Palestina” moderator Asep Sobirin (kiri), Ust. Tiar Anwar Bachtiar (kanan)

Agresi militer Zionis-Israel atas rakyat Palestina hampir terjadi lima tahun sekali, bahkan berbarengan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) di Indonesia, yakni pada tahun 2009 dan tahun 2014 sekarang ini, hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum PP. Pemuda Persis, Ust. Tiar Anwar Bachtiar, M. Hum dalam kajian diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh PW. Pemuda Persis Jawa Barat, pada 24 Agustus 2014/ 28 Syawal 1435 H belum lama ini di RM. Sukahati Jl. Tangkuban Perahu KM. 16 Lembang-Bandung.

Dalam acara penyerta Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) ke-IV ini, panitia mengambil tema diskusi, “Peranan Dunia Islam dalam Kancah Geopolitik Palestina”. Namun seiring perkembangan berita, penderitaan rakyat Palestina seakan pupus dengan diekspos besar-besaran pemberitaan tentang Islamic State of Iraq and Sham/ الدولة الاسلامية في العراق والشام/ Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), apakah ini pengalihan isu? Ataukah ada agenda lain dibalik itu?! Begitu prolog yang disampaikan oleh moderator, Asep Sobirin.

Tragedi yang menimpa rakyat Gaza-Palestina seakan tidak pernah berakhir, penderitaan tersebut sangat memprihatinkan, yang penderitaannya lebih dari embargo, yakni di blokade, sehingga berdampak pengangguran tinggi, populasi perempuan (baik gadis maupun janda) tinggi, karena banyak laki-laki yang syahid, begitu menurut Ust. Tiar, bahkan Penulis buku, “Kenapa HAMAS dibenci Israel?” ini berkelakar, jadi Pemuda Persis harus menyelamatkan perempuan-perempuan Palestina dengan menikahinya.

Namun keajaiban selama perang, antara HAMAS dan Israel, yang meninggal dipihak rakyat Palestina sekira 2.000 orang dan pada waktu yang sama, lahir 2.000 bayi, jadi tidak aneh bila ada lahir kembar tiga atau empat, ungkap Ust. Tiar.

Selanjutnya beliau memaparkan bahwa Zionis-Israel pada dasarnya tidak mau damai dengan HAMAS, namun karena Israel kehabisan dana, maka mereka minta gencatan senjata, bayangkan saja Israel meluncurkan sebuah rudal Iron Dome seharga 100.000 dollar/ 1 miliar rupiah, maka dalam sekali perang mereka menghabiskan dana sekitar 20 Triliun.

Gejolak Palestina terus membara, karena Amerika Serikat dan Israel tahu bahwa Palestina adalah kunci, siapa yang menaklukkan kunci maka ia akan menguasai seluruh kawasan tersebut. Berkenaan dengan peran dunia Islam untuk kemerdekaan Palestina, hampir tidak berdaya melihat kepongahan Israel yang di sokong Amerika Serikat, karena Negara-negara yang mayoritas muslim hampir secara kesuluruhan ada dalam ketiak Amerika Serikat, seperti: Iran, Saudi Arabia, Yaman, Qatar, Sudan, Mesir, Yordan, Afghanista, bahkan dunia pun yang masuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi kontrol Amerika Serikat, dan Indonesia-pun hanya bisa pidato.

Berkenaan dengan pemberitaan tentang ISIS, Ust. Tiar mengungkapkan bahwa hal tersebut adalah untuk pengalihan isu atas penderitaan rakyat Palestina, namun berbeda hal-nya untuk di Indonesia bahwa pemberitaan tentang ISIS ini merupakan proyek bagi pemangku kebijakan, intelejen dan lain-lain, ungkap peneliti INSISTS ini. Hal tersebut manakala proyek Terorisme sudah tidak laku dijual, seperti diketahui Densus 88 dan BNPT mendapat kucuran dana 150 Miliar, maka pemberitaan ISIS ini seakan menjadi ladang baru untuk meraup pundi-pundi dollar dari Amerika Serikat. Apalagi dalam kacamata Amerika Serikat, Presiden-presiden RI “good boy”, maka aksi drama pun dimulai dengan penangkapan penjual es kelapa yang memakai baju ISIS.

Menurut Ust. Tiar, bahwa kemunculan ISIS ternyata memperlemah perlawanan faksi Jihadis Sunni lainnya, seperti ketika Jabhah Nushroh melawan PM Irak, Nouri Al-Maliki yang Syi’ah, dan perlawanan terhadap Bashar Al-Assad di Syuriah/Syam, lemah kembali setelah ISIS datang.

Berkenaan ISIS memproklamirkan khilafah (Islamic State), menurut beliau bahwa ISIS bukan model Khilafah, karena mereka tidak mempunyai kekuatan politik, seperti Amerika Serikat yang mampu menghegemoni Negara-negara lain.

Kekuatan politk inilah khilafah akan berdiri dan ketika kekuatan politik habis, maka runtuhlah khilafah tersebut, hal tersebut terjadi pada masa Dinasti Umayah, Abasiah sampai Turki Utsmani.

Sebagai penutup, dihadapan peserta Muskerwil IV yang terdiri para Tasykil Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Persis Jawa Barat dan sejumlah Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Persis se-Jabar, Ust. Tiar mengajak Pemuda Persis agar tidak terbawa arus Isu ini, apalagi sampai bertengkar gara-gara hal tersebut, karena isu ini dimanfa’atkan media diantaranya untuk memecah belah umat Islam. Beliaupun melanjutkan bahwa Pemuda Persis sudah on the track, yakni berdakwah, karena salah satu pondasi dasar dan anasir politik ada dalam unsur dakwah, dengan dakwah bisa mempererat ukhuwah Islamiyyah dan menjadi ikatan ideologis. (AS)

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Musykerwil, Palestina, Peradaban Islam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s