Jihad dan Khilafah dalam Timbangan Syari’ah : Bagian 1


oleh: Nashruddin Syarief

Sejatinya dua hal ini merupakan ajaran yang mulia dalam Islam. Tetapi faktanya, dua hal ini juga merupakan ajaran yang paling sering diselewengkan. Bagaimana sebenarnya jihad dan khilafah yang sesuai syari’ah?

jihad2

Menyeruaknya eksistensi ISIS (The Islamic State of Iraq and Syria/Negara Islam Irak dan Suriah) di balik perang sipil Suriah dan Irak beberapa bulan terakhir ini kembali menyadarkan kita betapa pentingnya memahami hakikat dua ajaran Islam; jihad dan khilafah. Di Indonesia sendiri, sebenarnya dua ajaran ini sudah lama menjadi wacana yang tiada akhirnya didiskusikan seiring keberadaan Negara Islam Indonesia (NII) dan beberapa kelompok garis keras seperti Amrozi Cs, Komando Jihad, Laskar Jihad Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT). Termasuk juga giatnya salah satu ormas Islam di Indonesia yang menyuarakan berdirinya khilafah, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kalaupun ada sedikit kekeliruan dari kelompok-kelompok tersebut dalam memahami jihad dan khilafah, tentunya umat Islam jangan terjebak dengan propaganda Barat yang kemudian menilai jelek jihad dan khilafah. Terlebih faktanya, beberapa kelompok Islam tersebut ada yang sebenarnya tidak keliru memahami jihad dan khilafah, tetapi hanya berbeda ijtihad dalam usaha menegakkannya dengan umat Islam Indonesia yang mayoritas, seperti yang terjadi pada HTI, MMI dan JAT. Maka keberadaan mereka tidak perlu dipandang dengan sinis, apalagi sampai memandang sinis juga pada jihad dan khilafah sebagai ajaran Islamnya itu sendiri.

JIHAD DAN KETENTUAN SYARI’ATNYA

Pengertian Jihad

Jihad asal katanya dari jahada (ha nya ha besar. Jika ha nya ha kecil maka maknanya ‘menentang’). Dalam bahasa Arab, semua kata yang diturunkan dari tiga suku kata ja-ha-da bermakna “susah dan melelahkan (masyaqqah dan thaqah)”.[1] Juhd artinya kemampuan maksimal sampai payah.[2] Ijtihad artinya meneliti dengan mencurahkan semua kemampuan yang dimiliki.[3] Mujahadah artinya berusaha sekuat tenaga menaklukkan diri sendiri dalam menempuh jalan ibadah.[4] Dan jihad artinya bersungguh-sungguh menaklukkan musuh.[5]

Al-Qur`an menggunakan istilah jihad untuk dua pengertian: Jihad yang disebutkan musuhnya secara zhahir dan jihad yang tidak disebutkan musuhnya. Pengertian jihad yang pertama adalah jihad melawan musuh Islam dan sering disebut juga dengan qital/perang, sedangkan jihad dalam pengertian yang kedua dipahami sebagai jihad melawan hawa nafsu atau godaan setan.

Jihad dalam pengertian perang melawan musuh-musuh Islam difirmankan Allah sebagai berikut:

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.[6]

Sementara jihad yang tidak disebutkan musuhnya, dan itu berarti melawan setan dan hawa nafsu difirmankan Allah sebagai berikut:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.[7]

Jihad sebagai Perang

Jihad dalam pengertian umum yang berlaku selanjutnya adalah qital/perang. Itu disebabkan al-Qur`an dan hadits banyak menggunakan istilah ini untuk makna ‘perang’. Maka dari itu, dalam kitab-kitab hadits dan fiqih, jika disebut misalnya kitab/bab al-jihad maka yang dimaksud adalah kitab/bab tentang perang. Isinya adalah pembahasan seputar hukum humaniter/perang. Jika dirumuskan dalam bentuk ta’rif/definisi, maka jihad adalah:

قِتَالُ مُسْلِمٍ كَافِرًا غَيْرَ ذِيْ عَهْدٍ لِإِعْلاَءِ كَلِمَةِ اللهِ أَوْ حُضُوْرُهُ لَهُ أَوْ دُخُوْلُ أَرْضِهِ

Seorang muslim memerangi orang kafir yang tidak terikat perjanjian, untuk meninggikan kalimah Allah, atau sebatas menghadirinya, atau masuk ke negeri orang kafir.[8]

Cakupan Amal Jihad

Maksud dari “memerangi… atau sebatas menghadirinya, atau masuk ke negeri orang kafir” menunjukkan bahwa di samping terlibat perang/kontak fisik, termasuk dalam jihad juga sebatas menghadiri atau masuk ke negeri kafir dengan niat melawan mereka. Sebab dalam faktanya sering terjadi ketika jihad hendak dilangsungkan, musuh sudah melarikan diri terlebih dahulu. Seperti yang terjadi pada Perang Tabuk (tahun 9 H) yang menjadi latar belakang historis surat at-Taubah. Perang dalam artian bentrok fisik atau senjatanya itu sendiri tidak terjadi, sebab pasukan Romawi di Tabuk sudah membubarkan diri terlebih dahulu. Meski demikian, ini tetap dinamakan jihad. Orang-orang yang tidak ikut serta dengan Nabi saw diancam dalam hampir keseluruhan ayat surat at-Taubah karena mereka tidak berjihad, seperti misalnya:

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.[9]

Muslim Yang Berjihad

Pembatasan ta’rif “Seorang muslim memerangi orang kafirmenunjukkan bahwa jihad dilakukan oleh seorang muslim meski ia seorang muslim pelaku dosa-dosa besar. Sepanjang seseorang berstatus muslim, maka sah disebut jihad ketika ia turut berperang. Di zaman Nabi saw sendiri tidak semua yang ikut berperang orang-orang shalih, ada juga orang-orang fajir (pelaku dosa besar). Salah seorang di antara mereka ada yang memilih bunuh diri karena tidak tahan menahan luka. Bunuh diri itu sendiri termasuk dosa besar meski tidak sampai menjadikan pelakunya kafir. Pada saat itu Nabi saw bersabda:

يَا بِلاَلُ قُمْ فَأَذِّنْ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَإِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ.

“Hai Bilal, berdirilah, dan umumkanlah, tidak akan masuk surga kecuali mukmin, tetapi Allah pasti akan menguatkan agama ini meski dengan laki-laki yang durhaka.”[10]

Lawan Jihad Bukan Muslim

Di samping itu pembatasan ta’rif “Seorang muslim memerangi orang kafirmenunjukkan bahwa jihad hanya berlaku pada lawan yang jelas-jelas sebagai orang kafir dalam pengertian yang sebenarnya, yakni non-muslim.[11] Artinya jika bentrok senjata yang terjadi kepada sesama muslim, maka ini bukan jihad, tetapi separatisme/makar (khuruj/mufaraqah), perbuatan onar/perang saudara (fitnah), kriminalitas (hirabah), pengrusakan bumi (fasad), atau yang hari ini dikenal dengan nama terorisme (irhab).

فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Bai’at yang beliau ambil dari kami adalah, kami berbai’at untuk patuh dan taat, dalam senang dan tidak senang, dalam susah dan mudah, dalam ketidakmerataan pembagian harta di antara kami dan agar kami tidak melepas urusan ini (bai’at kepemimpinan) dari pemiliknya. Kecuali jika kalian melihat kufur yang terang-terangan. Kalian sudah punya penjelasannya dari Allah.[12]

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa yang tidak menyukai dari pemimpinnya sesuatu hal, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memberontak kepada sulthan (pemerintahan muslim) meski sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah.[13]

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْراً فَمَاتَ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukainya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memecah belah kesatuan umat (al-jama’ah) sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah.[14]

Maksud dari ketiga hadits ini adalah jika yang diserang pemerintahan muslim dan belum terbukti jelas kafir, maka ini termasuk khuruj dan mufaraqah, yang jika itu dilakukan meski dalam skala yang kecil, pasti akan menimbulkan perang sipil di antara sesama muslim. Pada saat seperti itu, maka korban-korban yang mati tidak dinyatakan mati syahid, melainkan mati jahiliyyah, sebab tidak termasuk jihad.

Maka dari itu, Imam al-Bukhari mencantumkan satu hadits dalam bab fitnah (perang sipil sesama muslim) tentang pernyataan Ibn ‘Umar kenapa beliau tidak terlibat perang di masa pasca-Khulafa Rasyidin. Itu disebabkan yang terjadi waktu itu bukan jihad/qital, melainkan fitnah. Sebab musuhnya bukan orang kafir, melainkan sesama muslim. Dan yang dijadikan motif perang bukan menghalau gangguan orang-orang kafir, melainkan perebutan kekuasaan. Yang semacam ini tidak termasuk jihad.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ فَرَجَوْنَا أَنْ يُحَدِّثَنَا حَدِيثًا حَسَنًا قَالَ فَبَادَرَنَا إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدِّثْنَا عَنْ الْقِتَالِ فِي الْفِتْنَةِ وَاللَّهُ يَقُولُ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَقَالَ هَلْ تَدْرِي مَا الْفِتْنَةُ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ إِنَّمَا كَانَ مُحَمَّدٌ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ وَكَانَ الدُّخُولُ فِي دِينِهِمْ فِتْنَةً وَلَيْسَ كَقِتَالِكُمْ عَلَى الْمُلْكِ

Dari Sa’id ibn Jubair, ia berkata: ‘Abdullah ibn ‘Umar keluar ke tengah-tengah kami. Lalu kami berharap ia mengabarkan satu hadits yang baik. Ia berkata: Tapi seorang lelaki telah mendahului kami bertanya kepadanya (Ibn ‘Umar). Ia berkata: “Wahai Abu ‘Abdirrahman (panggilan Ibn ‘Umar), beritahukan kepada kami satu hadits tentang berperang dalam fitnah, karena Allah swt telah berfirman, ‘Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah’ [QS. al-Baqarah : 193]‘. Maka Ibn ‘Umar menjawab: “Tidak tahukah kamu apa fitnah di sana itu? Binasa ibumu. Sungguh Muhammad saw itu memerangi orang-orang musyrik, dan masuk ke dalam agama mereka, itulah fitnah. Tidak seperti peperangan kalian karena kekuasaan.”[15]

Memerangi orang-orang beriman, sama dengan memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebab ketiganya ini merupakan satu kesatuan dalam hizbul-‘Llah.[16] Perbuatan seperti ini dikenal dengan istilah hirabah atau fasad. Hukumannya salah satu dari empat hukuman, yaitu:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[17]

Lawan Jihad: Kafir Harbi

Akan tetapi orang kafir yang boleh diperangi tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam definisi di atas adalah “kafir yang tidak terikat perjanjian.” Atau dengan kata lain kafir harbi; kafir yang memerangi umat Islam atau dikhawatirkan akan memerangi umat Islam. Sementara kafir yang telah sepakat dengan umat Islam akan hidup damai (kafir mu’ahad), haram diperangi. Apalagi kafir yang sepenuhnya tunduk pada pemerintah Islam (kafir dzimmi), ini juga haram diperangi. Bentuk ketundukan mereka pada pemerintah Islam itu sendiri adalah kesanggupan untuk membayar jizyah (upeti). Maka dari itu selama orang kafir yang ada di sekitar umat Islam enggan terikat perjanjian damai atau tidak terang-terangan bersedia membayar jizyah, mereka harus diperangi.

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[18]

Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.[19]

Berdasarkan dua ayat ini, orang kafir yang terikat perjanjian untuk hidup damai dengan kaum muslimin, haram dijadikan sasaran jihad.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.[20]

Berdasarkan ayat ini, jihad harus diarahkan kepada orang kafir sampai mereka terbukti aman tidak akan memerangi umat Islam, dan itu ditandakan dengan membayar jizyah. Sebab sifat dasar orang kafir itu harbi; berpotensi besar untuk memerangi, menjajah, atau mendikte umat Islam. Agar itu tidak terjadi, maka adakan perjanjian damai dengan mereka atau mereka tunduk sepenuhnya kepada umat Islam (bayar jizyah).

Bagaimana bisa, padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.[21]

Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.[22]

Atau pilihan lain agar orang kafir dijamin tidak akan mengganggu umat Islam adalah mereka masuk Islam. Tetapi bukan berarti jihad dilancarkan untuk memaksa orang kafir masuk Islam. Hanya jika mereka sudah masuk Islam, jihad tidak boleh terus dilanjutkan. Tanda masuk Islam itu sendiri mengucapkan syahadat, melaksanakan shalat dan zakat.

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[23]

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَالِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad rasul Allah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukannya, maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka, kecuali karena haq (kewajiban) Islam, dan kelak perhitungannya (hisab) terserah kepada Allah.[24]

Dalam hal ini, jelas sekali ukuran seseorang tidak boleh diperangi adalah syahadat, shalat, dan zakat. Dalam hadits lain Nabi saw menyebutkan bahwa orang yang mengamalkan tiga hal ini termasuk muslim yang haram darahnya. Persoalan apakah mereka hanya melindungi diri semata, itu urusan dia dengan Allah swt. Yang jelas ketika ia sudah syahadat, shalat dan zakat, haram diperangi, dan harus diberlakukan sebagai muslim. Maka dari itu dalam hadits di atas Nabi saw bersabda: dan kelak perhitungannya (hisab) terserah kepada Allah. Dan ketika ada seorang shahabat yang membunuh seseorang dari pasukan kafir yang mengucapkan syahadat, Nabi saw pun memarahinya:

يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا. فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Hai Usamah, kau berani membunuhnya sesudah ia mengucapkan ‘La ilaha Illal-‘Llah’?” Aku menjawab: “Ia hanya berdalih untuk berlindung diri.” Tapi Nabi terus-terusan mengulangi pertanyaan tersebut sampai aku berangan-angan seandainya saja aku belum masuk Islam sebelum hari itu—saking takutnya dengan kemarahan Rasulullah saw.[25]

Penegasan bahwa orang yang bersyahadat sudah masuk kategori muslim yang haram dibunuh, kecuali jika ada pelanggaran-pelanggaran tertentu yang berdasarkan hukum Islam mengharuskannya mendapatkan hukuman mati, disabdakan Nabi saw dalam hadits berikut:

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمَارِقُ مِنْ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bersaksi sesungguhnya aku Rasulullah, kecuali karena salah satu dari tiga: (1) jiwa dengan jiwa (qishash/ hukum balas bunuh disebabkan membunuh seorang muslim), (2) orang yang sudah menikah lalu berzina (selingkuh), dan (3) keluar dari agama meninggalkan al-Jama’ah (khilafah/negara).[26]

Itu berarti batasan muslim-kafir yang boleh atau tidak boleh diperangi itu adalah syahadat, shalat, zakat, bukan karena tidak menegakkan hukum Islam atau tidak mendukung kelompok Islam tertentu.

Hukum Jihad

Fardlu Kifayah

Hukum jihad pada pokoknya fardlu kifayah; kewajiban yang cukup diwakili oleh sebagian umat Islam. Berdasarkan firman Allah swt:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.[27]

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.[28]

Kewajiban ini pun tertujunya kepada (1) lelaki muslim, (2) tidak cacat/lemah fisik, (3) mempunyai bekal untuk jihad, dan (4) mendapatkan izin dari orangtua.

Kewajiban jihad hanya bagi lelaki muslim dan tidak berlaku bagi perempuan muslimah, berdasarkan sabda Nabi saw:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ جِهَادُكُنَّ الْحَجُّ

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: Aku minta izin kepada Nabi saw untuk ikut jihad. Sabda beliau: “Jihad kalian (wanita) adalah haji.”[29]

Lelaki muslim yang dimaksud adalah lelaki yang tidak mempunyai keterbatasan fisik, berdasarkan firman Allah swt:

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang).[30]

Lelaki muslim yang wajib jihad itu juga adalah muslim yang mempunyai bekal yang cukup. Baik itu bekal dari kas pribadi ataupun dari kas negara atau zakat/infaq/shadaqah. Sebab jihad itu harus bi amwalikum wa anfusikum. Tidak bisa hanya mengandalkan semangat saja, lalu ketika di medan jihad menjadi beban bagi pasukan muslim karena tidak mempunyai bekal makanan, minuman, kendaraan, senjata, dan lain sebagainya yang dibutuhkan dalam peperangan.

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.[31]

Fardlu ‘Ain

Akan tetapi dalam keadaan tertentu, jihad bisa menjadi wajib bagi setiap orang, yaitu:

Pertama, ketika diwajibkan oleh imam/khalifah untuk setiap orang.

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[32]

Kedua, ketika berhadapan langsung dengan musuh.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.[33]

Ketiga, ketika musuh merangsek masuk ke daerah tempat tinggal kaum muslimin.

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.[34]

Adab Jihad

Selain menetapkan hukum wajib, Islam juga memberlakukan adab yang ketat untuk jihad. Jadi tidak asal wajib kemudian jadi asal berperang dan membunuh. Ada adab-adab tertentu yang tetap harus dipatuhi agar sesuatu sah disebut jihad:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِى خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللَّهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا ثُمَّ قَالَ اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَ لاَ تَغُلُّوا وَلاَ تَغْدِرُوا وَلاَ تَمْثُلُوا وَلاَ تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ – أَوْ خِلاَلٍ – فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ فَإِنْ أَبَوْا أَنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ يَجْرِى عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللَّهِ الَّذِى يَجْرِى عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَكُونُ لَهُمْ فِى الْغَنِيمَةِ وَالْفَىْءِ شَىْءٌ إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ

Dari Buraidah, ia berkata: Rasulullah saw apabila mengangkat seorang komandan pasukan perang, memberi wasiat kepadanya secara khusus untuk bertaqwa kepada Allah, juga untuk bersikap baik kepada pasukan muslim yang menyertainya. Beliau juga bersabda: “Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah. Perangilah orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah, dan janganlah kalian ghulul (khianat dalam harta rampasan/korupsi), menipu, membunuh dengan keji, dan janganlah membunuh anak kecil. Jika kamu bertemu dengan musuhmu dari kaum musyrikin, maka ajaklah mereka pada tiga hal. Mana saja yang mereka penuhi, terimalah dan jangan perang. Pertama, ajaklah mereka masuk Islam. Jika mereka penuhi, terima dan jangan perang. Kedua, ajak mereka untuk pindah dari negeri mereka ke negeri para muhajirin. Beritahukan bahwa jika mereka melakukan hal itu maka mereka berstatus sama dengan muhajirin. Jika tidak maka mereka seperti orang Arab muslim pada umumnya yang tetap berlaku bagi mereka hukum Allah tapi tidak mempunyai hak mendapatkan ghanimah dan fai sampai mereka ikut berjihad. Ketiga, jika menolak, mintalah jizyah dari mereka. Jika mereka penuhi maka terima dan jangan perang. Tetapi jika mereka tetap menolak maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangi mereka (Shahih Muslim kitab al-jihad was-siyar bab ta`miril-imam al-umara ‘alal-bu’uts no. 4619).

Dari uraian di atas bisa diketahui bahwa setiap gerakan yang melancarkan jihad di daerah kaum muslimin dan memakan korban kaum muslimin, tidak bisa dikategorikan jihad. Maka yang dilakukan oleh ISIS hari ini—jika benar faktanya sesuai yang diberitakan oleh media-media—keliru karena mereka memerangi sesama muslim sendiri. Akar masalahnya disebabkan mereka juga keliru menilai siapa muslim yang haram darahnya dan siapa kafir yang berhak diperangi. Padahal sebagaimana telah diuraikan di atas, seorang muslim haram darahnya selama ia terlihat syahadat, shalat dan zakat, meski ia seorang pelaku dosa-dosa. Hanya tiga dosa yang bisa menyebabkan seorang muslim halal darahnya, yakni membunuh seorang muslim tanpa haq, selingkuh padahal sudah menikah, dan murtad lalu berbuat separatisme. Itupun bukan dengan diperangi, tetapi dengan memberlakukan hukuman mati oleh Pemerintah kaum muslimin. Bahkan kalaupun yang akan dijadikan musuh itu benar-benar kafir, tetap harus selektif apakah benar mereka kafir harbi. Kalaupun kafir harbi, adabnya tetap dikedepankan dakwah terlebih dahulu, ajakan hijrah, atau membayar jizyah. Kalaupun mereka menolak, membunuhnya tidak boleh melebihi batas sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

Demikian halnya pengeboman yang dilakukan di Bali karena klaim bahwa Bali mayoritas non-muslim, tetap tidak bisa dibenarkan, karena orang kafir di Bali terikat perjanjian untuk hidup damai dan berdampingan dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Mereka adalah kafir mu’ahad yang haram diperangi.

Jihad sah dilancarkan, dan sudah semestinya karena wajib, bagi para pejuang Palestina yang jelas-jelas dijajah oleh penguasa kafir Israel yang merampas tanah air mereka dengan cara perang. Meski wajibnya tersebut wajib/fardlu ‘ain hanya bagi pejuang Palestina, sebab kepada merekalah Israel menjajah. Umat Islam lainnya hanya wajib fardlu kifayah. Jika memang mujahidin Palestina tidak cukup untuk melawan Israel, maka mujahidin daerah lainnya harus membantu. Tetapi sampai saat ini Palestina tidak kurang mujahidin. Yang jadi kendala adalah banyaknya kaum munafiq di Palestina sendiri yang menghalang-halangi jihad para mujahidin Palestina.

Dengan sendirinya mendirikan khilafah melalui cara separatisme atau perang saudara sesama muslim juga tidak bisa dibenarkan. Sebab khilafah dan semua hal yang terkait urusan umat Islam hanya bisa dinyatakan sah jika ada syura/musyawarah bulat di antara mereka. Apa yang terjadi pada ISIS justru ditentang oleh sesama muslim di Irak dan Suriahnya sendiri, bahkan oleh kelompok-kelompok yang selama ini sama-sama melancarkan gerakan jihad.

Bersambung…

Maraji’

  1. ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfazhil-Qur`an, al-Maktabah as-Syamilah
  2. “(Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi shadaqah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar juhd (kesanggupan)-nya, maka orang-orang munafiq itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih. (QS. at-Taubah [9] : 79).
  3. Disabdakan Nabi saw dalam konteks ahli hukum yang hendak mengambil kesimpulan. Selanjutnya digunakan dalam ilmu fiqih.

    إِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَأَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

    Apabila hakim memutuskan perkara dan ia berijtihad, maka jika benar ia dapat dua pahala, dan jika memutuskan keliru ia dapat satu pahala (Sunan at-Tirmidzi kitab al-ahkam bab al-qadli yushibu wa yukhthi`u no. 1326. Al-Albani: shahih).

  4. Digunakan dalam istilah kitab-kitab akhlaq seperti Riyadlus-Shalihin.

    باب في المجاهدة

  5. ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfazhil-Qur`an, al-Maktabah as-Syamilah
  6. QS. at-Taubah [9] : 73.
  7. QS. al-‘Ankabut [29] : 69
  8. ‘Abdul-Muhsin al-Munif, al-Jihad; Ahkamuhu wa Man Yad’u ilaih, Madinah: Universitas Islam, 1426 H, hlm. 16 mengutip dari kitab fiqh madzhab Maliki, Mawahibul-Jalil 3 : 347
  9. QS. at-Taubah [9] : 44-45
  10. Shahih al-Bukhari kitab al-qadr bab al-‘amal bil-khawatim no. 6606
  11. Rujuk QS. an-Nisa` [4] : 150-151
  12. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab qaulin-Nabiy saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 6533
  13. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab satarauna badi umuran tunkirunaha no. 7053.
  14. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab satarauna badi umuran tunkirunaha no. 7054
  15. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab qaulin-Nabiy saw al-fitnah min qibal al-masyriq no. 6566
  16. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya hizbullah (pengikut agama Allah) itulah yang pasti menang (QS. al-Ma`idah [5] : 55-56).
  17. QS. al-Ma`idah [5] : 33-34
  18. QS. al-Anfal [8] : 61
  19. QS. at-Taubah [9] : 4
  20. QS. at-Taubah [9] : 29
  21. QS. at-Taubah [9] : 8
  22. QS. at-Taubah [9] : 36
  23. QS. at-Taubah [9] : 5
  24. Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab fa in tabu wa aqamus-shalat wa atauz-zakat fa khallu sabilahum no. 25; Shahih Muslim kitab al-iman bab al-amr bi qitalin-nas hatta yaqulu la ilaha illal-‘Llah no. 138
  25. Shahih al-Bukhari kitab al-maghazi bab ba’tsin-Nabiy Usamah ibn Zaid ilal-Huraqat min Juhainah no. 4269, 6872; Shahih Muslim kitab al-iman bab tahrim qatlil-kafir ba’da an qala la ilaha illal-llah no. 288
  26. Shahih al-Bukhari kitab ad-diyat bab qaulil-‘Llah ta’ala annan-nafsa bin-nafsi no. 6878; Shahih Muslim kitab al-qasamah bab ma yubahu bihi dam al-muslim no. 4468-4470
  27. QS. Al-Baqarah [2] : 216
  28. QS. at-Taubah [9] : 122
  29. Shahîh al-Bukhari kitab al-jihad was-siyar bab jihadin-nisa no. 2875.
  30. QS. al-Fath [48] : 17
  31. QS. at-Taubah [9] : 91-92.
  32. QS. at-Taubah [9] : 38-39
  33. QS. al-Anfal [8] : 15-16
  34. QS. at-Taubah [9] : 123

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Jihadو Khilafah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s