Jihad dan Khilafah dalam Timbangan Syari’ah : Bagian 2


Oleh : Nashruddin Syarief

KHILAFAH DAN KETENTUAN SYARI’ATNYA

jihad2Harus diakui—suka atau tidak suka—dampak dari kehadiran ISIS ini, media nasional dan internasional memberikan stereotip negatif pada “khilafah”. Di Indonesia misalnya, hampir di setiap penjuru kota dan desa, bahkan sampai ke tingkat RW-RW terpampang spanduk menolak ISIS dan hanya mengakui NKRI. Penerimaan dengan harga mati terhadap NKRI ini secara otomatis melahirkan stereotip negatif terhadap semua yang menjadi antitesanya, khilafah salah satunya. Karena ISIS memproklamirkan diri sebagai khilafah atau negara Islam, maka otomatis ideologi ini pun menjadi dikesankan negatif oleh masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas muslim.

Isu khilafah atau negara Islam itu sendiri memang bukan isu yang baru bagi masyarakat Indonesia yang sudah 69 tahun merdeka dari kolonialisme ini. Pada masa-masa awal kelahirannya, masyarakat Indonesia sudah disibukkan dengan kehadiran NII (Negara Islam Indonesia). Paham dan gerakannya yang cenderung radikal dan menyimpang dari ajaran Islam secara otomatis melahirkan stereotip negatif terhadap gagasan “negara Islam”.

Pada era reformasi, gagasan yang dikemas dengan istilah “khilafah” ini kemudian digelindingkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sikapnya yang mengharamkan demokrasi—padahal ideologi ini sudah menjadi semacam ideologi wajib bagi setiap negara di dunia, lagi-lagi menempatkan wacana khilafah pada posisi yang dimusuhi karena dinilai sebagai ideologi yang tidak manusiawi. Ini diperparah lagi dengan tidak disambutnya gagasan khilafah dari HTI ini oleh ormas-ormas Islam di Indonesia, termasuk MUI, disebabkan faham anti-demokrasinya diturunkan pada menolak semua produk turunannya, khususnya pemilu. Ini lagi-lagi menyebabkan gagasan khilafah terjebak pada posisi yang tidak menggembirakan karena berkonfrontasi dengan pergerakan umat Islam yang giat ber-amar ma’ruf nahyi munkar di internal sistem negara Indonesia.

Sikap yang harus diambil oleh umat Islam dalam menyikapi wacana khilafah atau negara Islam ini tentu saja adil dan bijak. Menerima dengan sepenuh hati ajaran khilafah berdasarkan syari’ah—karena memang faktanya diajarkan. Di samping itu tetap melakukan tawashau bil-haq wa tawashau bis-shabr kepada pihak-pihak yang keliru dalam memahami dan menyikapi khilafah ini. Baik itu internal pergerakan Islam, masyarakat Islam, ataupun masyarakat Indonesia dan dunia secara umum.

Definisi Khilafah

Khilafah asal katanya khalafa, bermakna ‘kebalikan dari terdahulu’, mencakup makna ‘belakang atau yang datang kemudian’. Khilafah itu sendiri menurut ar-Raghib al-Ashfahani adalah:

اَلْخِلاَفَةُ اَلنِّيَابَةُ عَنِ الْغَيْرِ إِمَّا لِغِيْبَةِ الْمَنُوْبِ عَنْهُ وَإِمَّا لِمَوْتِهِ وَإِمَّا لِعَجْزِهِ وَإِمَّا لِتَشْرِيْفِ الْمُسْتَخْلِفِ

Menggantikan yang lain, bisa karena yang lain hilang, meninggal, lemah, atau karena penghormatan dari yang memilih.[1]

Dalam konteks syari’at, khilafah bermakna dua; umum dan khusus. Khilafah secara umum adalah imamah dan imarah; kepemimpinan dan pemerintahan umat Islam. Khalifah, imam a’zham atau amirul-mu`minin bermakna sama, yakni pemimpin tertinggi umat Islam. Sementara khilafah dalam makna khusus adalah pemerintahan umat Islam yang sesuai dengan manhaj Nabi saw. Dalam makna ini, tidak semua pemerintahan umat Islam bisa disebut khilafah. Hanya pemerintahan atau negara Islam yang merujuk pada manhaj Nabi saw saja yang berhak disebut sebagai khilafah.

Khilafah dalam makna yang umum dan khusus ini terlihat dari dua hadits berikut ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi saw. Aku mendengar beliau bersabda: “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau: “Semuanya dari Quraisy.”[2]

Sementara khilafah dalam makna khusus terdapat dalam hadits berikut:

الْخِلَافَةُ ثَلاَثُونَ عَامًا ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ الْمُلْكُ

Khilafah itu 30 tahun. Kemudian sesudah itu mulk/kerajaan.[3]

Hadits yang pertama, yang menginformasikan akan ada khalifah 12, disebutkan dalam riwayat lain:

لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ— كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ— ثُمَّ يَكُونُ الْهَرْجُ

Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat—semuanya dari Quraisy—kemudian sesudah itu akan ada banyak pembunuhan.[4]

Hadits Nabi saw di atas menginformasikan akan adanya dua belas khalifah yang disepakati oleh semua umat Islam sebelum ada perpecahan khilafah. Imam an-Nawawi dan al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa kedua belas khalifah yang dimaksud itu adalah Khulafa Rasyidun (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali) dan delapan khalifah sesudahnya dari Bani Umayyah (Mu’awiyah, Yazid, ‘Abdul-Malik ibn Marwan, al-Walid, Sulaiman, ‘Umar, Yazid, dan Hisyam). Sesudah itu, mulai ada khalifah kembar dan saling kudeta di antara khalifah-khalifah yang ada.[5] Dalam kaitan ini pula Nabi saw bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Bani Israil itu dipimpin oleh para Nabi. Setiap kali ada Nabi yang meninggal, maka langsung digantikan oleh Nabi yang lain. Akan tetapi tidak akan lagi ada Nabi sesudahku. Yang akan ada adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak.” Para shahabat bertanya: “Apa yang akan engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: “Sempurnakanlah bai’at yang pertama dan permulaan. Berikanlah kepada mereka (pemimpin yang dibai’at) hak mereka. Karena sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban kepemimpinan mereka.[6]

Meski di zaman berikutnya akan banyak pemimpin umat Islam dan Nabi saw hanya memerintahkan berbai’at pada khalifah yang pertama dibai’at, tetap saja Nabi saw menyebutkan semuanya itu dengan istilah khalifah. Termasuk kepada 12 khalifah dari Quraisy yang tidak semuanya sesuai manhaj kenabian. Ini menunjukkan bahwa makna khalifah/khilafah dalam hadits-hadits kelompok pertama ini bermakna pemerintahan Islam secara umum.

Hadits-hadits yang menyebutkan khalifah dari kelompok pertama tersebut tidak bertentangan dengan hadits kedua yang menyebutkan khilafah 30 tahun. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, khilafah dalam hadits yang kedua ini merupakan kebalikan dari mulkan yang akan datang sesudahnya. Khilafah ini disebutkan dalam riwayat lain sebagai khilafah yang sesuai manhaj kenabian. Sementara mulkan adalah yang tidak sesuai dengan manhaj kenabian, meski tidak kemudian disebut sebagai pemerintahan yang harus digulingkan.

Lebih lengkapnya, penjelasan Imam an-Nawawi yang mengutip penjelasan al-Qadli ‘Iyadl, sebagai berikut:

قَوْلُهُ : (إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِيَ فِيهِمْ اِثْنَا عَشَرَ خَلِيفَة كُلّهمْ مِنْ قُرَيْش) … قَالَ الْقَاضِي: … أَنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيث الْآخَر: “الْخِلَافَة بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَة ثُمَّ تَكُون مُلْكًا” وَهَذَا مُخَالِف لِحَدِيثِ اِثْنَيْ عَشَرَ خَلِيفَة، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي ثَلَاثِينَ سَنَة إِلَّا الْخُلَفَاء الرَّاشِدُونَ الْأَرْبَعَة وَالْأَشْهُر الَّتِي بُويِعَ فِيهَا الْحَسَن بْن عَلِيٍّ. قَالَ: وَالْجَوَاب عَنْ هَذَا أَنَّ الْمُرَاد فِي حَدِيث ” الْخِلَافَة ثَلَاثُونَ سَنَة ” خِلَافَة النُّبُوَّة، وَقَدْ جَاءَ مُفَسَّرًا فِي بَعْض الرِّوَايَات “خِلاَفَةُ النُّبُوَّةِ بَعْدِي ثَلاَثُونَ سَنَة ثُمَّ تَكُون مُلْكًا” وَلَمْ يُشْتَرَطْ هَذَا فِي الِاثْنَيْ عَشَرَ

Sabda Nabi saw: “Sesungguhnya urusan ini tidak akan berakhir sampai ada di tengah-tengah 12 khalifah yang semuanya dari Quraisy.”… al-Qadli berkata: “…sungguh telah ada dalam hadits lain: ‘Khilafah sesudahku 30 tahun kemudian setelah itu kerajaan’, ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Sebab dalam masa 30 tahun hanya ada khulafa rasyidun yang empat dan beberapa bulan masa dibai’atnya Hasan putra ‘Ali.” Ia berkata: “Jawaban pertanyaan ini adalah, maksud hadits ‘Khilafah itu 30 tahun’ adalah khilafah kenabian (yang sesuai manhaj Nabi), karena sungguh telah disebutkan dalam sebagian riwayat ‘Khilafah kenabian sesudahku 30 tahun kemudian akan ada kerajaan’. Dan tidak disyaratkan hal ini (sesuai manhaj Nabi) pada 12 khalifah (dalam hadits di atas).”[7]

Apa yang dijelaskan oleh al-Qadli ‘Iyadl di atas sudah dijelaskan juga oleh Nabi saw dalam kesempatan lain sebagai berikut:

عن حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Dari Hudzaifah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Kenabian sedang berada di tengah-tengah kalian sesuai kehendak Allah, kemudian Dia akan mencabutnya ketika ia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada khilafah yang berdasarkan manhaj kenabian. Khilafah itu akan ada sekehendak Allah, lalu Dia mencabutnya ketika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit. Kerajaan itu akan ada sekehendak Allah, lalu Dia mencabutnya ketika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada kerajaan yang kejam. Kerajaan itu akan ada sekehendak Allah, lalu Dia mencabutnya ketika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada khilafah yang berdasarkan manhaj kenabian.” Kemudian beliau terdiam.[8]

Faktanya, selama 30 tahun sesudah Nabi saw wafat itu ada khulafa rasyidun yang mengikuti manhaj Nabi saw. Sementara sesudahnya adalah khilafah yang diwariskan turun temurun dalam bentuk mulkan. Maka khilafah yang ada dalam hadits-hadits bagian kedua di atas adalah khilafah dalam makna khusus, yakni sebuah pemerintahan Islam yang sesuai dengan manhaj Nabi saw.[9]

Identifikasi Khilafah

Catatan di atas bahwa khilafah yang tidak sesuai manhaj kenabian tidak kemudian berarti sebagai pemerintahan yang harus digulingkan, perlu ditekankan, sebab pada faktanya Nabi saw menyebut para pemimpin tersebut dengan khalifah. Dan ketika nanti di akhir zaman khalifah banyak juga, Nabi saw tetap memerintahkan untuk berbai’at kepada mereka dan tidak mencabut keta’atan kepada mereka. Lebih jelasnya sudah Nabi saw terangkan dalam hadits-hadits berikut ini:

فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Bai’at yang beliau ambil dari kami adalah, kami berbai’at untuk patuh dan taat, dalam senang dan tidak senang, dalam susah dan mudah, dalam ketidakmerataan pembagian harta di antara kami dan agar kami tidak melepas urusan ini (bai’at kepemimpinan) dari pemiliknya. Kecuali jika kalian melihat kufur yang terang-terangan. Kalian sudah punya penjelasannya dari Allah.[10]

Hadits ini dengan tegas menyebutkan kewajiban taat meski khalifah zhalim dan memperkaya segelintir orang saja, tepatnya selama pemimpin itu tidak kafir yang terang-terangan. Al-Qur`an sudah menjelaskan apa yang dimaksud kafir tersebut, yakni keluar dari Islam atau non-Islam sebagaimana dijelaskan Allah swt dalam QS. an-Nisa` [4] : 150-151.

Dalam hadits lain, Nabi saw menyebutkan kriteria tidak kafir tersebut dengan masih shalat:

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا

“Akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal tapi kalian mengingkari mereka. Siapa yang mengenali (dan tidak terbawa arus), maka ia terbebas dari dosa. Siapa yang mengingkari, maka ia selamat. Akan tetapi siapa yang simpati dan mengikuti, maka ia tidak selamat.” Para shahabat bertanya: “Apakah kita harus memerangi mereka?” Rasul saw menjawab: “Tidak, selama mereka shalat.”[11]

Perintah Nabi saw dalam menyikapi khilafah yang kurang sesuai dengan manhaj Nabi saw adalah taat dalam hal yang ma’ruf dan sabar atau tidak sampai khuruj (berbuat separatisme) dalam hal yang tidak ma’ruf.

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ. فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Setiap muslim harus patuh dan taat pada hal yang ia sukai atau benci, selama ia tidak diperintah maksiat. Tapi jika ia diperintah maksiat, maka jangan patuh dan taat.[12]

Perintah yang bukan maksiat dan tidak menyalahi Allah dan Rasul-Nya itu disebutkan dalam hadits lain ma’ruf (kebaikan). Istilah ma’ruf ini dekat dengan ‘urfi; adat atau pemahaman umum manusia. Artinya, jika bukan maksiat, tidak menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya, dan secara adat atau akal bagus-bagus saja, maka hukumnya wajib untuk ditaati.

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah. Taat itu hanya dalam ma’ruf.[13]

Sementara dalam menyikapi hal yang tidak sesuai syari’at Islam, selama mereka muslim, adalah sabar dan tidak khuruj:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa yang tidak menyukai dari pemimpinnya sesuatu hal, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memberontak kepada sulthan (pemerintahan) meski sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah.[14]

Maksud dari “memberontak kepada sulthan”, menurut Ibn Hajar adalah: Keluar dari ketaatan kepada sulthan (pemerintah). Ini merupakan kinayah dari maksiat kepada sulthan dan memeranginya.[15]

Jika memerangi, khuruj, berontak, kudeta, dan semacamnya dilakukan, maka ketika jatuh korban, korban-korban tersebut pada hakikatnya merupakan korban kejahiliyyahan. Sebab mereka berperang dengan sesama muslim, bukan memerangi orang kafir. Persis sama dengan orang-orang jahiliyyah yang saling membunuh dengan sesamanya karena tidak ada amir yang ditaati. Meski mereka tidak mati dalam keadaan kafir, mereka mati dalam keadaan muslim yang bermaksiat.[16]

Maka dari itu, meski kezhaliman dari khalifah sangat terasa menyakitkan, akan tetapi khuruj/separatisme bukanlah solusinya. Jika ini dianggap sebagai solusi, bukannya kebaikan yang didapatkan, tetapi malah perang sipil yang cenderung abadi seperti yang terjadi di Suriah, Mesir, Libya, Irak dan sebagainya. Yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah sabar; menahan diri sambil tetap berdakwah, sehingga ketika pemimpin zhalim mati—dan sudah pasti ada matinya dan berakhir kekuasaannya, sudah siap generasi baru yang lebih baik dan siap menggantikannya.

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُوْراً تُنْكِرُوْنَهَا قَالُوْا: فَمَا تَأْمُرُناَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ، وَسَلُوْا اللهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sesudahku budaya mementingkan dunia dan hal-hal lain yang kalian ingkari (tidak terima).” Para shahabat bertanya: “Apa yang akan kau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Berikanlah kepada mereka (pemimpin) hak mereka, dan pintalah kepada Allah hakmu.”[17]

وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ زَيْدٍ: قَالَ النَّبِيُّ : اِصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

Abdullah ibn Zaid berkata: Nabi saw bersabda: “Bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku di telaga (surga).”[18]

Di samping membina generasi baru untuk menyongsong kepemimpinan baru yang lebih bermartabat, umat Islam juga tetap wajib amar ma’ruf nahyi munkar kepada khalifah yang zhalim tersebut, tetapi dengan tanpa senjata.

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِى ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لاَ يُغَيِّرُوا إِلاَّ يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ

Tidak ada satu kaum pun yang ma’shiyat diamalkan di tengah-tengah mereka, tapi mereka tidak mengubahnya padahal mereka mampu untuk mengubahnya, kecuali Allah akan segera menimpakan adzab kepada mereka secara merata.[19]

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Sebaik-baiknya jihad adalah kalimat yang benar yang disampaikan kepada pemerintah yang zhalim.[20]

Dari dalil-dalil di atas maka bisa diidentifikasi bahwa khilafah itu adalah pemerintahan umat Islam, dimana pemimpin tertingginya seorang muslim dan yang dipimpinnya umat Islam. Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah yang mayoritas penduduknya muslim, ini termasuk khilafah dalam makna yang umum. Khilafah ini wajib terus dipertahankan demi keselamatan umat Islam.

Akan tetapi, khilafah-khilafah ini tetap harus berusaha untuk mewujudkan khilafah berdasarkan manhaj Nabi saw yang ditunjukkan dengan adanya pemimpin bersama untuk semua umat Islam sedunia. Tidak perlu dengan melebur negara-negara Islam yang sudah ada, jika itu memang tidak memungkinkan, melainkan cukup dengan membentuk aliansi internasional yang kewenangannya seluas kewenangan khilafah dan khalifahnya itu sendiri.

Peresmian Khilafah/Khalifah

Sebagai perkara yang melibatkan semua komponen umat Islam, maka peresmian khilafah atau pengangkatan khalifah mutlak melibatkan syura (musyawarah) kaum muslimin. Ini berdasarkan firman Allah swt:

 (Orang-orang yang akan mendapatkan kesenangan akhirat itu) … urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka.[21]

Adapun teknis dari syura itu sendiri, shahabat Ibn ‘Umar dalam hal ini pernah meriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ حَضَرْتُ أَبِى حِينَ أُصِيبَ فَأَثْنَوْا عَلَيْهِ وَقَالُوا جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا. فَقَالَ رَاغِبٌ وَرَاهِبٌ قَالُوا اسْتَخْلِفْ فَقَالَ أَتَحَمَّلُ أَمْرَكُمْ حَيًّا وَمَيِّتًا لَوَدِدْتُ أَنَّ حَظِّى مِنْهَا الْكَفَافُ لاَ عَلَىَّ وَلاَ لِى فَإِنْ أَسْتَخْلِفْ فَقَدِ اسْتَخْلَفَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى – يَعْنِى أَبَا بَكْرٍ – وَإِنْ أَتْرُكْكُمْ فَقَدْ تَرَكَكُمْ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى رَسُولُ اللَّهِ . قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ حِينَ ذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ غَيْرُ مُسْتَخْلِفٍ

Dari Ibn ‘Umar ra, ia berkata: Aku mendampingi ayahku (‘Umar) ketika beliau terkena musibah (ditusuk pedang oleh orang munafiq sampai hampir meninggal). Para pelayat mendo’akannya seraya mengucapkan: “Semoga Allah membalas anda dengan yang lebih baik.” ‘Umar menjawab: “(Aku ada dalam keadaan) harap dan cemas.” Para pelayat berkata: “Tentukanlah oleh anda khalifah (pengganti anda).” ‘Umar menjawab: “Haruskah aku mengurus urusan kalian ketika hidup dan mati. Sungguh aku sangat ingin bagianku darinya cukup saja (sampai di sini). Tidak ada beban apapun untukku, apakah itu yang jeleknya atau yang baiknya. Jika aku menentukan khalifah, maka orang yang lebih baik dariku sudah pernah menentukannya—yakni Abu Bakar. Dan jika aku tidak menentukan (khalifah), maka sungguh orang yang lebih baik dariku yakni Rasulullah saw, juga tidak menentukannya.” ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Saat ‘Umar menyebutkan Rasulullah saw, aku sudah tahu bahwa beliau tidak akan menunjuk langsung siapa khalifah sesudahnya.”[22]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa, pertama, mengangkat pemimpin itu wajib, dan shahabat sudah ijma’ untuk hal itu sehingga mereka membahasnya ketika melayat ‘Umar. Kedua, teknis pengangkatan itu sendiri bisa istikhlaf; ditentukan langsung oleh khalifah sebelumnya dan itupun melalui musyawarah, atau diserahkan sepenuhnya pada musyawarah umat Islam.

Ini adalah peresmian khilafah yang dibenarkan dalam Islam. Sementara yang tidak dibenarkan adalah dengan cara khuruj/separatisme, seperti sudah dibahas dalam sub bahasan di atas.

Konflik antar-Khilafah

Jika terjadi konflik antar-khalifah, Nabi saw mengajarkan:

وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Akan ada para khalifah dan jumlah mereka banyak.” Para shahabat bertanya: “Apa yang akan engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: “Sempurnakanlah bai’at yang pertama dan permulaan. Berikanlah kepada mereka (pemimpin yang dibai’at) hak mereka. Karena sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban kepemimpinan mereka.”[23]

Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا

“Apabila dua khalifah dibai’at, maka bunuhlah yang terakhir dari mereka.”[24]

Artinya, maka khalifah yang sah dan wajib ditaati itu adalah khalifah yang dibai’at pertama kali. Dalam konteks inilah maka ‘Ali ibn Abi Thalib bersikeras memerangi Mu’awiyah ibn Abi Sufyan.

Sementara jika situasinya sudah sedemikian kacau, dimana khalifah yang pertama dibai’at sudah hilang wewenangnya, dan khalifah yang baru juga belum jelas kewenangannya, maka dalam hal ini Imam al-Bukhari mencantumkan satu tarjamah khusus dalam kitab Shahihnya sebagai berikut:

بَاب كَيْفَ الْأَمْر إِذَا لَمْ تَكُنْ جَمَاعَة

Bab: Bagaimana urusannya jika tidak ada jama’ah?

Maksudnya sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar adalah apa yang harus dilakukan dalam kondisi ikhtilaf (konflik) sebelum adanya khalifah yang disepakati. Adapun hadits yang dijadikan landasan dalilnya adalah:

قال حذيفةُ بنُ الْيَمَانِ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِيْ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ.

Hudzaifah ibn al-Yaman berkata: “Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, tapi aku lebih suka bertanya kepada beliau tentang kejelekan, takut ia menimpaku. Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dulu ada dalam jahiliyyah dan kejelekan, lalu Allah datang kepada kami dengan kebaikan ini. Apakah sesudah kebaikan ini akan ada lagi kejelekan?” Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Apakah sesudah kejelekan itu akan ada lagi kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya, tapi ada kabut.” Aku bertanya: “Apa kabutnya?” Beliau menjawab: “Satu kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku, kamu kenal mereka tapi kamu ingkar/tidak terima.” Aku bertanya lagi: “Lalu apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi kejelekan?” Beliau menjawab: “Ya, akan ada dai-dai di pintu neraka Jahannam. Siapa saja yang memenuhi seruan mereka, maka mereka pasti akan menjerumuskannya ke dalamnya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, terangkan sifat mereka kepada kami.” Beliau menjawab: “Mereka dari kulit kita dan bertutur kata dengan lisan kita.” Aku bertanya: “Apa yang akan kau perintahkan kepadaku seandainya sampai zaman itu kepadaku.” Beliau menjawab: “Pertahankan kesatuan umat Islam dan imamnya.” Aku bertanya: “Kalau tidak ada jamaah dan imamnya?” Beliau menjawab: “Tinggalkan semua kelompok yang sesat itu, walau kamu harus menggigit akar pohon sampai datangnya kematian kepadamu, kamu tetap dalam keadaan seperti itu.”[25]

Dalam riwayat at-Thabrani, nasihat dari Nabi saw kepada Hudzaifah itu redaksinya sebagai berikut:

فَإِنْ رَأَيْت خَلِيفَة فَالْزَمْهُ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرك فَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَة فَالْهَرَب

Jika kamu menemukan khalifah, maka bergabunglah bersamanya, meski khalifah itu memukul punggungmu (zhalim). Tetapi jika tidak ada khalifah, maka larilah.[26]

Berdasarkan tuntunan Nabi saw dalam hadits di atas maka dalam situasi konflik dan khalifah masih ada, meski ia khalifah yang zhalim, maka harus bertahan bersamanya dan pertahankan kekhilafahan. Sementara jika khalifah tidak ada yang disepakati, yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah tawaqquf (menahan diri) dan tidak terbawa ke dalam pusaran konflik, sampai hadirnya khalifah yang disepakati. Meski sikap tawaqquf itu berimplikasi pada hidup yang sengsara dan bahkan berujung kematian. Inilah yang dilakukan oleh para shahabat ketika Mu’awiyah konflik khilafah dengan al-Hasan putra ‘Ali ibn Abi Thalib. Jika di masa kekhilafahan ‘Ali ibn Abi Thalib para shahabat mendukung sepenuhnya pada ‘Ali, maka di masa putranya, al-Hasan yang juga berkonflik dengan Mu’awiyah, maka para shahabat tawaqquf, sampai kemudian muncul khalifah yang definitif, dan itu adalah Mu’awiyah. Hal yang sama dilakukan para shahabat dan tabi’in di masa pemberontakan al-Husain ibn ‘Ali dan ‘Abdullah ibn az-Zubair, sampai khalifah ‘Abdul-Malik ibn Marwan menjadi khalifah yang definitif. ‘Abdullah ibn ‘Umar pun yang merupakan tokoh terkemuka dari kalangan shahabat kemudin berbai’at kepada ‘Abdul-Malik ibn Marwan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَتَبَ إِلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ يُبَايِعُهُ وَأُقِرُّ لَكَ بِذَلِكَ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ عَلَى سُنَّةِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ فِيمَا اسْتَطَعْتُ

Dari ‘Abdullah ibn Dinar, sesungguhnya ‘Abdullah ibn ‘Umar menulis surat kepada ‘Abdul-Malik ibn Marwan untuk berbai’at kepadanya: “Aku berikrar kepadamu akan senantiasa patuh dan taat berdasarkan sunnah Allah dan Rasul-Nya dalam hal yang aku mampu.”[27]

Realisasi Ajaran Khilafah

Dengan memperhatikan tuntunan Nabi saw dalam berbagai haditsnya, juga penjelasan dari para ulama hadits yang otoritatif, maka umat Islam Indonesia wajib menjaga khilafah dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan lembaga kepresidenannya. Umat Islam wajib taat dalam semua peraturan pemerintah yang ma’ruf dan wajib sabar atau haram khuruj ketika pemerintah memerintah yang tidak ma’ruf dan berlaku zhalim. Amar ma’ruf nahyi munkar dan tawashau bil-haq wa tawashau bis-shabr tetap wajib dilakukan, tetapi tidak boleh dengan mengangkat senjata.

Umat Islam Indonesia juga harus mendorong pemerintah NKRI mewujudkan khilafah berdasarkan manhaj Nabi saw, yang dimulai dengan penerapan syari’at Islam secara kaffah di NKRI. Langkah selanjutnya adalah mendorong pemerintah untuk mewujudkan khilafah internasional dalam bentuk aliansi/persatuan negara-negara Islam dan berkuasa penuh melebihi kekuasaan PBB hari ini.

Umat Islam tidak wajib berbai’at kepada ISIS mengingat: Pertama, ISIS belum menjadi khilafah yang definitif, bahkan di Irak dan Suriah sekalipun. Situasi di Irak dan Suriah dengan ISIS-nya hari ini masuk kategori konflik khilafah dimana umat wajib menyikapinya dengan tawaqquf (menahan diri) sampai lahirnya khilafah yang definitif; ditandai dengan penerimaan umat Islam terhadap khilafah berdasarkan syura. Meskipun dalam sikap tawaqquf tersebut—sebagaimana diajarkan hadits—harus menjalani hidup sengsara dan bahkan berujung pada kematian.

Kedua, ISIS ditentang oleh para ulama karena mudah membunuh pihak yang tidak mau berbai’at kepada mereka. Padahal ajaran Islam cukup mewajibkan membayar fidyah (semacam upeti) atau berjanji tidak akan mengganggu (mu’ahadah) kepada pihak-pihak yang tidak mau berbai’at kepada khalifah. Sebab selama seseorang muslim, maka darahnya haram dicucurkan kecuali jika ia terbukti harus dihukum qishash, rajam, atau dihukum mati karena murtad dan berbuat separatis.

Maraji’

  1. Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an, al-Maktabah as-Syamilah
  2. Shahih Muslim kitab al-imarah bab an-nas taba’un li Quraisy no. 4809
  3. Musnad Ahmad musnad al-Anshar hadits Abi ‘Abdirrahman Safinah maula Rasulillah saw no. 20910. Syu’aib al-Arnauth: Hadits hasan.
  4. Sunan Abi Dawud kitab al-mahdi no. 4281-4283
  5. Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab an-nas taba’un li Quraisy; Fathul-Bari kitab al-ahkam bab al-istikhlaf. Menurut Imam an-Nawawi, Nabi saw sama sekali tidak membatasi bahwa sesudah beliau hanya akan ada 12 khalifah, sebagaimana diyakini Syi’ah. Yang benar, Nabi saw hanya menginformasikan bahwa sesudah beliau akan ada 12 khalifah yang disepakati oleh umat Islam.
  6. Shahih al-Bukhari kitab ahaditsil-anbiya bab ma dzukira ‘an Bani Isra`il no. 3455
  7. Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab an-nas taba’un li Quraisy.
  8. Musnad Ahmad hadits an-Nu’man ibn Basyir no. 17680. Syu’aib al-Arnauth: Hadits hasan.
  9. Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab an-nas taba’un li Quraisy.
  10. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab qaulin-Nabiy saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 6533
  11. Shahih Muslim kitab al-imarah bab wujubil-inkar ‘alal-umara` fima yukhalifus-syar’a no. 3445-3446
  12. Shahih al-Bukhari al-ahkam bab as-sam’ wat-tha’ah lil-imam ma lam takun ma’shiyatan no. 6611
  13. Shahih Muslim kitab al-imarah bab wujub tha’atil-umara fi ghairi ma’shiyah no. 4871
  14. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab satarauna badi umuran tunkirunaha no. 7053; Shahih Muslim kitab al-imarah bab al-amr bi luzumil-jama’ah ‘inda zhuhuril-fitan no. 4879
  15. Fathul-Bari kitab al-fitan bab satarauna badi umuran tunkirunaha
  16. Ibid.
  17. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab qaulin-Nabiy shallal-llahu alaihi wa sallam satarauna badi umuran tunkirunaha no. 7052
  18. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab qaulin-Nabiy shallal-llahu alaihi wa sallam satarauna badi umuran tunkirunaha—hadits mu’allaq
  19. Sunan Abi Dawud kitab al-malahim bab al-amr wan-nahy no. 4340
  20. Sunan Abi Dawud kitab al-malahim bab al-amr wan-nahy no. 4346 [al-Albani: shahih]
  21. QS. As-Syura [42] : 38
  22. Shahih Muslim kitab al-imarah bab al-istikhlaf wa tarkihi no. 4817
  23. Shahih al-Bukhari kitab ahaditsil-anbiya bab ma dzukira ‘an Bani Isra`il no. 3455
  24. Shahih Muslim kitab al-imarah bab idza buyi’a li khalifataini no. 4905
  25. Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab kaifa al-amru idza lam takun jamaah wala imam no. 6557.
  26. Fathul-Bari kitab al-fitan bab kaifa al-amru idza lam takun jamaah wala imam.
  27. Shahih al-Bukhari kitab al-i’tisham bil-kitab was-sunnah no. 7272.

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Peradaban Islam dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s