TAFIQ III 2014: Unduh Jadwal Agenda Acaranya


Logo Pemuda Persis

Logo Pemuda Persis

TERM OF REFERENCE

TAZWIDU FITYAN AL-QUR’AN TAFIQ ‘ALY / TAFIQ III

PIMPINAN PUSAT PEMUDA PERSATUAN ISLAM

Bandung, 9 s.d. 12 Oktober 2014

 PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan salah satu implikasi dari modernitas mengalir cepat menembus batas-batas rasional masyarakat. Masyarakat sudah tidak diberikan waktu untuk memilih, menerima atau menolaknya. Seolah-olah masyarakat dunia diberikan kesempatan hanya untuk menyaksikan, menjadi penonton, dan terkadang sekaligus menjadi penikmat dan tidak bisa mempunyai waktu untuk menyusun kekuatan pembendung arus yang semakin lama semakin dahsyat. Tragis !

Modernisme yang merupakan anak kandung dari worldview Barat mencoba menembus batas kultural yang sama sekali berbeda dengannya. Modernitas adalah kenyataan dan merupakan hal yang mustahil melarikan diri darinya. Lawrence E. Cahoone, dalam bukunya The Dilemma Of Modernity (1988), menggambarkan hegemoni modernitas tersebut bagi umat manusia. Sejak masa renaisance, manusia yang hidup di Barat sudah harus hidup dalam alam modernitas, laksana ikan yang hidup di air. Tapi, bagi masyarakat non-Barat, mereka juga dipengaruhi oleh budaya modernitas dengan kuat. Jadi, semua manusia dipengaruhi paham modernitas ini.

Meskipun semua manusia di dunia ini sedang dipengaruhi modernitas, tapi ada beberapa perbedaan dalam penyikapannya. Pertama, kelompok yang memiliki persepsi dominan, bahwa Barat adalah simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem pendidikan, sosial dan politik, hiburan, dan simbol-simbol kebudayaan lainnya. Oleh sebab itu segala yang berasal dari Barat diterima sebagai standar untuk menentukan kemajuan. Persepsi ini biasanya dimiliki oleh kelompok masyarakat awam.

Kedua, orang yang memiliki persepsi Barat sebagai simbol kecanggihan dalam metodologi penelitian dan pengkajian. Persepsi ini biasanya dimiliki oleh kelompok masyarakat terpelajar atau terdidik.

Ketiga, kelompok yang melihat Barat sebagai bangsa kolonial (penjajah) yang harus dimusuhi. Jadi, segala sesuatu yang berasal dari Barat harus ditolak. Kelompok ini juga percaya bahwa dalam tradisi Islam juga terdapat segala sesuatu yang ada di Barat dalam versi dan bentuk yang berbeda. Kelompok ini biasanya mendapatkan label ‘fundamentalis’ atau ‘puritan’.

Keempat adalah kelompok yang melihat Barat secara kritis dan obyektif, yaitu Barat adalah peradaban asing yang berbeda dengan Islam pada banyak hal. Tidak semua yang lahir dari Barat itu baik dan tidak semuanya buruk. Barat perlu dikaji secara cermat dan seirus sampai ke akar-akarnya. Oleh sebab itu kelompok ini melihat Barat secara prorporsional. Tidak berlebihan.

Bagaimana dengan gerakan Islam Pemuda Persis? Berdasarkan pasal 4 QA/QD Pemuda Persis, Pemuda Persis bertujuan agar para anggotanya dan kaum muslimin memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan aqidah, syariah, dan akhlaq Islam berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah dalam segala ruang dan waktu.

Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, kader pemuda persis akan dihadapkan kepada realitas konteks sosio-historis yang sangat heterogen. Tujuan sebagai sebuah nilai idealitas harus dapat bertransformasi dalam menghadapai realitas. Realitas bisa dimaknai berupa problematika kekinian dan prediksi-predksi yang mengarah pada kecenderungan di masa depan.

Transformasi yang dilakukan dikonstruksi dari aspek-aspek fundamental kehidupan masyarakat dimana pemuda persis berada di dalamnya. Hal ini perlu dilakukan, karena pemuda persis lahir dan besar di tengah-tengah masyarakat dan bertanggung jawab terhadap kondisi masyarakat dan diharapkan mampu merekayasa arah dari perkembangan suatu masyarakat. Kondisi tersebut dapat dilakukan jika pemuda persis mampu membaca kondisi realitas (realitas obyektif) dengan baik. Oleh sebab itu, kader pemuda persis diharapkan mampu mentransformasikan nilai-nilai yang masih dalam tataran idealitas (realitas subyektif), berupa tujuan pemuda persis kepada relaitas obyektif kondisi bangsa Indonesia pada khususnya, dan ummat manusia pada umumnya.

Aspek-aspek fundamental masyarakat yang dapat dikonstruksi, berdasarkan bacaan prioritas yang dihadapi saat ini dan rencana proyeksi ke depan, dikelompokkan ke dalam bentuk 7 orientasi gerakan.

Orientasi dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai arah. Jadi, orientasi ini akan menjadi dasar pemikiran dalam merumuskan arah bagi keseluruhan proses kaderisasi. Implementasinya akan terwujud di dalam kurikulum pada setiap satuan jenjang kaderisasi. Ke-7 orientasi gerakan tersebut adalah :

IDEOLOGIS

Orientasi ini berdasarkan atas penyimpangan aqidah, krisis ibadah, dan degradasi akhlaq yang terjadi pada umat Islam.

  1. Penyimpangan dalam aqidah dan ibadah menyebabkan munculnya organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam, namun memahami sumber Islam berdasarkan hawa nafsu dan hanya memuaskan intelektual saja.
  2. Penyimpangan ini akan memberikan dampak kebingungan dan kegalauan pada umat serta memunculkan potensi perpecahan pada umat. Selain itu, umat juga akan semakin lemah ketika berhadapan dengan ideologi-ideologi tertentu yang mempunyai kepentingan terhadap umat Islam.
  3. Degradasi akhlaq merupakan salah satu bentuk dari penyimpangan Aqidah dan krisis ibadah yang terjadi pada umat. Kondisi membuat seseorang tidak lagi mempedulikan nilai-nilai agama atau norma-norma yang berkembang pada suatu masyarakat. Jika ini tidak dibenahi akan terjadinya kerusakan pada masyarakat dikarenakan sebab perilaku individunya.

ILMU PENGETAHUAN

Orientasi ini berdasarkan:

  1. Masih berkembangnya dan semakin menguatnya sekulerisasi pada cara berfikir. Umat masih dihadapi dengan dikotomi antara science dan agama atau sebaliknya.
  2. Cara berfikir dogmatis-eksklusif yang akan menyebabkan seseorang berfikir jumud, picik, dan kaku terhadap realitas yang heterogen.
  3. Ketertinggalan dalam wawasan pengetahuan yang dampaknya adalah kebodohan.

EKONOMI

Orientasi ini berdasarkan:

  1. Kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi yang dialami hampir oleh sebagian besar umat Islam. Jurang yang lebar antara yang berkecukupan (kaya) dan berkekurangan (miskin) menjadi salah satu penyebab munculnya problem masyarakat. Serta minimnya kesadaran dari yang berkecukupan ‘membantu’ kepada yang berkekurangan.
  2. Rendahnya etos kerja dan semangat berwirausaha yang merupakan fondasi bangunan ekonomi umat menyebabkan penguasaan terhadap sumber daya ekonomi sangat lemah dan terbatas.

PENDIDIKAN-DAKWAH

Tantangan dalam orientasi ini mencakup:

  1. Terpisahnya pola pendidikan umum dan agama. Meskipun secara kasat mata sudah terintegrasi namun secara filosofis masih sekuler.
  2. Paradigma pendidikan yang berorientasi kerja dengan mengabaikan tujuan dari pendidikan yang luhur, yakni mengenal jati diri dan tugasnya sebagai manusia (khalifah) di muka bumi.
  3. Dakwah yang masih diaplikasikan secara sempit. Aplikasi dakwah baru efektif sebatas verbal, melalui mimbar-mimbar masjid. Belum menyentuh secara substansial dimensi kehidupan masyarakat yang lain. Perlunya pembaharuan dalam menyampaikan content dakwah, sehingga content dakwah tidak terlepas dari kondisi sosio-kultural yang sedang up to date.

KEPEMIMPINAN

Orientasi ini berdasarkan:

  1. Masih berkembangnya parternalistik dalam hubungan interpersonal. Kondisi ini akan mengakibatkan terkungkungnya potensi kreativitas dan kemandirian. Dikarenakan munculnya ketakutan dan ketergantungan kepada orang lain yang dianggap ‘lebih’. Akibat yang lain, kondisi ini akan membuat sesorang tidak bisa tumbuh dan berkembang secara alami sehingga menyebabkan potensi kepemimpian dalam dirinya tidak muncul dengan optimal.
  2. Minimya kapasitas dan kompetensi pemimpin, yang menyebabkan kurang terkelolanya sumber daya secara maksimal, tidak mampu menghantarkan organisasi mendekati atau mencapai tujuannya, apalagi melampauinya, malah sebaliknya, semakin menjauhkan dari tujuannya. Minimnya kapasitas dan kompetensi pemimpin disebabkan rendahnya perhatian terhadap perkaderan dan keengganan untuk belajar dengan lembaga lain yang dianggap sudah cukup baik dalam menyelenggarakan proses perkaderan pemimpin. Dampak dari semuanya, menyebabkan para bawahan tidak memiliki rasa kepercayaan, kesetiaan, dan keinginan untuk meneladani pemimpinnya.

KEUMATAN (SOSIAL-POLITIK)

Orientasi ini berdasarkan problem dan tantangan yang meliputi:

  1. Eksklusifisme dan sektarianisme adalah dua fenomena yang terjadi pada umat Islam. Terlepas dari faktor-faktor penyebabnya, hal ini kurang menguntungkan bagi umat Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang kaffah berdasarkan Qur’an dan Sunnah.
  2. Kristenisasi adalah suatu kondisi lain yang juga tidak menguntungkan umat Islam. Problem dan tantangan yang datang dari eksternal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus dihadapi tidak dengan semangat reaksioner tapi lebih kepada tindakan preventif. Karena jika dikaji lebih lanjut fenomena ini merupakan dampak dari terjadinya krisis aqidah dan ekonomi yang melanda hampir sebagian besar umat Islam.

KELEMBAGAAN (ORGANISASI)

Orientasi ini berdasarkan:

  1. Rendahnya mutu pengelolaan organisasi menjadi faktor pertama tersendatnya pelaksanaan program. Sudah menjadi kenyataan bahwa pengelolaan organisasi sering dilakukan dengan alokasi waktu dan tingkat perhatian yang semampunya. Belum adanya kesadaran untuk membagi waktu antara organisasi dan yang lainnya dengan baik. Kondisi ini melahirkan kondisi ‘bias’ antar kepentingan organisasi dan pribadi. Keadaan ini juga diperparah dengan rendahnya distribusi potensi kader yang dimiliki organisasi. Hal ini bisa dilihat dengan penempatan dan pemberian tanggung jawab bukan kepada orang yang tepat.
  2. Produktivitas dan mutu aktivitas organisasi secara umum masih rendah. Ukuran kuantitias kegiatan tidak selamanya berjalan seiring dengan kualitas kegiatan.
  3. Komunikasi organisasi antar struktur kelembagaan yang masih belum terbenahi dengan baik. Sebagai contoh masih belum terstrukturnya pola pertemuan, baik itu tentang waktu atau agendanya. Belum adanya model pertemuan formal secara rutin yang mengevaluasi kinerja lembaga yang berada di bawah terhadap lembaga yang berada diatasnya. Dan belum adanya model pertemuan formal secara rutin yang mengagendakan sosialisasi program kerja lembaga yang berada di atas kepada lembaga yang berada di bawahnya.

Pemuda Persis sebagai kader Persis secara struktural dan kader ummat secara kultural mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk mewujudkan transformasi pada masyarakat. Pendidikan dan dakwah yang menjadi core gerakan tidak semestinya membuat Pemuda Persis gagap dalam menyikapi issue yang lain.

Untuk mewujudkan tranformasi masyarakat tersebut, maka diperlukan suatu visi besar (grand vision) yang diback-up oleh kader-kader handal. Transformasi bukanlah kerja kecil dan ringan. Diperlukan adanya kesinambungan dan konsistensi serta kesabaran yang tinggi untuk tetap berada dikoridor yang telah disepakati bersama.

Oleh sebab itu dalam konteks inilah, kita memerlukan kader pemuda persis yang mumpuni dalam menyikapi problem sosial dan respon terhadap perubahan sosial, serta mampu memberikan solusi atau sekedar jawaban yang berangkat dari ingertisa keilmuan yang mendalam.

TUJUAN KEGIATAN

  1. Terbentuknya kader Pemuda Persis yang mampu menjadi problem solver bagi permasalahan keumatan.
  2. Terbentuknya kader Pemuda Persis yang siap dalam menghadapi segala kemungkinan perubahan yang terjadi dalam sosial-masyarakat.
  3. Terbentuknya kader Pemuda Persis yang siap bekerjasama atau berkomunikasi dengan ormas Islam di tingkat nasional maupun global dalam kerangka memperjuangkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

INDIKATOR KEBERHASILAN

  1. Mampu memimpin jam’iyyah di tingkat propinsi/nasional (Pimpinan Wilayah/PimpinanPusat)
  2. Mampu menganalisis isu-isu yang berkembang di masyarakat dan berperan aktif untuk menawarkan solusi secara lisan atau tulisan.
  3. Siap ditugaskan dimanapun dalam rangka kepentingan jam’iyyah.
  4. Mampu menjadikan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan pribadi.

KUALIFIKASI PESERTA

  1. Peserta adalah anggota Pemuda Persis yang telah mengikuti Tafiq II
  2. Tasykil Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Persis yang belum mengikuti Tafiq III.
  3. Aktif / tasykil di tingkat Pimpinan Daerah (PD) atau Pimpinan Wilayah (PW)

PENUTUP

Demikianlah, kegiatan tafiq III ini merupakan bagian dari proses kaderisasi yang berlaku di lembaga Pemuda Persatuan Islam. Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala saja semuanya diserahkan. Semoga segala jerih payah kita untuk menegakkan ‘izzul Islam wal Muslimin senantiasa berada dalam bimbingan dan ridha-Nya.

Pelaksanaan TAFIQ III

Hari : Kamis – Ahad, 9 Oktober 2014
Tempat : Gedung PP Persis Viaduct – Bandung

Tema Makalah seputar Aliran Sesat

Acara, Materi, dan rangkaian kegiatan silahkan UNDUH file ini :

UNDUH Rangkaian Acara Tafiq III

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Bidang Kaderisasi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s