Ketua Umum PP. Pemudi Persis 201402018 : Hj. Gian Puspa Lestari, Lc. M.Pd


10885503_10203544091187091_9451017456308172_nSelamat atas terpilihnya Hj. Gian Puspa Lestari, Lc. M.Pd sebagai Ketua Umum PP. Pemudi Persatuan Islam masa jihad 2014-2018 dalam Muktamar X di Bandung.

Ibu masa depan itu pemudi masa kini. Kualitas mereka bergantung kualitas pemudi sekarang. PERSIS sebagai ormas pembaruan membentuk otonom Pemudi Persis tahun 1954 atau 1375 H dengan tujuan tersebut

.

Semula bernama Jama’ah Pemudi Persistri kemudian berganti Jam’iyyatul Banaat pada Muktamar 1995 dikukuhkan jadi Pemudi Persis. Saat ini memiliki anggota sebanyak ±8.000 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, meliputi: 7 Pimpinan Wilayah (PW), 26 Pimpinan Daerah (PD), dan 122 Pimpinan Cabang (PC).

Kepimpinannya sudah berganti 9 kali periode sejak 1954, yaitu: Aminah Dahlan Sjihab (1957-1962), Nur Asikin Yahya (1962-1967), Lathifah Dahlan, BA. (1967-1981), Nung Nuriyah Sudibdja (1981-1990), Ai Maryamah (1990-1995), Hafifah Rahmi Puspitaningsih (1995-2000), Dra. Husni Rofiqoh (2000-2005), Imas Karyamah, S.Ag. (2005-2010), dan Lela Sa’adah, S. Pd. (2010-2014) dan Hj Gyan Puspa lestasi Lc (2014-2018).

Pemudi Persis mengemban misi memahami, mengamalkan dan mendakwahkan Al-Quran dan As-Sunnah, Membina Mendidik mengarahkan Mar’ah Sholihah bunyanul Islam.

Hidup ber-jama’ah, imamah, Imarah, dan taat pada nidzam yang sejalan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Bertanggung jawab sebagai Pengemban dan pelanjut Misi Persatuan Islam, Pemudi harus tampil sebagai generasi yang bersibghah dengan Al-Quran dan As-Sunnah, memiliki ruh jihad dan ruh ijtihad yang tinggi, berilmu, serta berakhlakul karimah.

Dalam prakteknya pesti tidak mudah. Kegiatan sering kali berbenturan dengan tugas sebagai istri dan ibu disamping karir. Tak jarang kegiatan jamiyyah sekedar sampingan belaka.

Secara organisatoris banyak kelemahan yang juga umum dialamai ormas lain:
1. Minimnya inventalisir. Pemudi tidak memiliki pusat dokumentasi pergerakan dari tahun ketahun sehingga setiap pergantian periode terkesan lagi-lagi dimulai dari awal.

  1. Centralistik. Juga dialami otonom persis lain. Cenderung di Jabar bahkan Bandung saja. Invasi keluar tidak signifikan. Akibatnya hanya menyentuh beberapa propinsi saja, hal itu terlihat PW yang masih minim.
  2. Miskin syiar. Tidak memiliki media atau sekedar kerjasama dengan media sefaham. Jangankan radio bahkan buletin pun nyaris tidak ada. Bahkan akses ke media Persis pun sebagai induk seperti Risalah masih sangat minim. Akibatnya kegiatan Pemudi jarang terekpose dengan baik
  3. Tidak mendorong tradisi penulis. Peradaban Islam itu menulis yang pastinya membaca. Itupun digambarkan dalam Al-Quran. Dalam kurun tertentu sangat jarang karya tulis yang terbit dari potensi Pemudi Persis.
  4. Mandegnya Regenerasi. Apalagi ditingkat akar rumput, ketika jamaah dan cabang-cabang memerlukan kepemimpinan baru sering kali sulit menemukan sosok, yang adapun kadang berusaha menolak.
  5. dan seterusnya menyusul karena waktu nulis dah habis.

‘Ala kuli hal, saya apresiasi semangat dan pencapaian selama ini ini. Penilaian ini sebagai bentuk cinta dan sayang. abu al-Ghifari

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Muktamar dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s