Keresahan Dr. Adian Husaini Terhadap Kondisi Umat Islam Saat Ini


kingdomofheaven-jerusalem_siege_1115317724Keresahan Dr. Adian Husaini terhadap kondisi umat Islam saat ini, mewakili kaum muslimin yang lain, yang peduli terhadap keberlangsungan dakwah dan risalah Rasulullah Saw. Keresahan Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor ini di ungkapkan dalam artikel yang dimuat oleh hidayatullah.com dengan judul “Ramai-Ramai Mengeroyok Umat Islam”.

Dalam tulisan ini Dr. Adian Husaini mengkritisi sejumlah berita dan peristiwa yang telah dan sedang berlangsung pada umat Islam, diantaranya serangan tehadap Paris; serbuan kaum Kristen GIDI di Papua terhadap masjid dan kios-kios umat Islam; Islam Nusantara; revolusi mental; konflik KMP dan KIH masih terus berlangsung hingga kini, hal yang terbaru adalah pencatutan nama Presiden oleh Ketua DPR dalam kasus papah minta saham, hingga media massa pendukungnya terus saja mengompori dan seolah berseteru antara TV One dan Metro TV; serta Bupati Puwakarta yang gemar paham kemusyrikan, dengan alasan mengembangkan kebudayaan.

Dengan landasan Hadis Rasulullah Saw, beliau mendiagnosa penyakit umat Islam saat ini. Selain itu, pakar kontra liberalisme ini mengungkapkan berbagai data dan fakta, bahwa sejak dulu umat Islam dikeroyok, berikut paparannya:

RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassallam   bersabda: “Hampir tiba suatu masa dimana berbagai kaum mengepung kalian, bagaikan orang-orang yang lapar mengerumuni hidangan mereka.” Maka seorang sahabat Nabi   bertanya: “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?” Nabi   menjawab: “Bahkan, pada hari itu jumlah kamu banyak, tetapi kamu (laksana) buih dari air yang mengalir; dan Allah Subhanahu Wata’ala akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian; dan Allah Subhanahu Wata’ala akan menancapkan ke dalam hati kalian penyakit al-wahnu.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah al wahnu itu Ya Rasulullah ?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud)

Di zaman seperti sekarang, kita, umat Islam, patut benar-benar merenungkan makna hadits Nabi Muhammad   tersebut. Bahwa, ada satu zaman dimana kondisi umat Islam laksana buih. Jumlahnya banyak, tetapi tidak berharga; tidak disegani oleh musuh-musuh Islam. Ketika itu umat Islam ada dalam kondisi dikeroyok oleh berbagai kaum. Mereka yang mengepung umat Islam itu adalah manusia-manusia lapar yang meleleh air liurnya, sedang siap menerkam hidangan lezat. Mereka siap menerkam dan mencabik-cabik, melumat, dan menelan hidangan lezat di hadapannya.

Gambaran Nabi   tentang kondisi umat Islam seperti itu mengejutkan para sahabat beliau yang mulia. Maka, seorang diantara mereka bertanya, apa sebab-musababnya, sehingga umat Islam menjadi makhluk lemah tak berdaya dan super-hina seperti itu? Apakah karena mereka berjumlah sedikit? Nabi   pun menjawab, bahwa jumlah umat Islam itu banyak. Tetapi, mereka adalah “buih” air yang mengalir. Buih adalah benda tidak berharga; tidak bernilai, tidak diperhitungkan; mengikut saja kemana arus air mengalir.

Ketika itulah umat Islam menjadi bulan-bulanan berbagai kaum; menjadi ajang permainan; tidak berdaya dihadapan musuh-musuh yang sudah lama menunggu kesempatan mencabik-cabik mereka. Rasa takut, rasa segan, apalagi rasa hormat terhadap umat Islam tiada lagi. Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjelaskan akar masalah atau sumber penyakit umat Islam, yakni mereka terjangkit penyakit ganas bernama “al-wahnu”, yaitu penyakit cinta dunia dan takut mati. Ibarat virus HIV, penyakit al-wahnu kemudian menggerogoti daya tahan tubuh manusia. Berbagai virus atau bakteri penyakit – bahkan yang daya virulensinya lemah sekalipun – dengan leluasa merusak sel-sel dan jaringan tubuhnya.

Mari kita renungkan dengan pikiran jernih dan perasaan yang lapang! Apakah kondisi kita dan umat Islam sekarang ini seperti telah digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam? Jumlah kita di Indonesia sekarang lebih dari 200 juta jiwa. Itu jumlah yang sangat besar. Jumlah kaum Yahudi di dunia saat ini saja tidak sampai 15 juta orang. Tetapi, dunia paham, bagaimana kedudukan dan kemampuan kaum Yahudi dalam menguasai berbagai bangsa, termasuk umat Islam. (Lihat: www.davidduke.com).

Kaum yang kecil ini masih terus menjajah, menista, dan membunuhi orang-orang Palestina. Bangsa Palestina yang berjuang untuk merebut kemerdekaan justru sering diposisikan sebagai pihak yang salah; diberikan julukan militan, radikal, dan teroris. Sementara negara Israel masih nyaman dengan aneka perilaku kejahatannya. Tak ada sanksi internasional yang diterimanya.

Israel masih saja menikmati dukungan dari negara AS dan khususnya kaum Kristen fundamentalis (Kristen-Zionis) yang mempercayai kejayaan negara Yahudi Israel sebagai prasayarat kedatangan Yesus kedua kalinya (the second coming of Christ). Meskipun membunuh ribuan warga jajahan Palestina, media-media massa internasional tidak menjuluki Benyamin Netanyahu sebagai seorang militan atau teroris Yahudi. Itu sangat berbeda dengan pelaku serangan 11 September 2001 dan Serangan Paris belum lama ini – siapa pun mereka. Para pemimpin dunia langsung meneriakkan para pelakunya sebagai teroris.

Di Indonesia, umat Islam bisa memahami dan merasakan, bagaimana dahsyatnya serbuan kaum Kristen GIDI di Papua terhadap masjid dan kios-kios umat Islam di sana. Serangan itu dilakukan ketika umat Islam sedang menjalankan shalat Idul Fithri. Pemerintah tahu itu. Umat Islam pun paham, bagaimana kemudian proses penanganan terhadap para pelaku. Mereka tidak disebut sebagai teroris atau diberikan label teroris Kristen. Entah sudah berapa puluh tentara dan polisi yang meninggal dibunuh di Papua. Hingga kini, pelakunya tidak disebut sebagai teroris. Mereka hanya disebut kelompok bersenjata.

Umat Islam merasakan ada sesuatu yang tidak adil; tetapi suara mereka seperti tersekat. Dari berbagai berita dan informasi yang beredar terus-menerus secara beruntun melalui media sosial dan media komunikasi umat – khutbah, majlis taklim, dan sebagainya – terbentuk pemahaman yang sama, bahwa umat Islam merasa diperlakukan tidak adil. Perasaan itu bisa terus terakumulasi, tertimbun dalam hati, seperti api dalam sekam. Semua kekacauan dunia ini ditimpakan kesalahannya kepada ISIS dan kelompok sejenis. Dulu, kesalahan itu ditimpakan kepada al-Qaeda (Al Qaidah). AS dan kawan-kawannya tidak pernah salah. Might is right. Yang kuat adalah yang benar.

Digelontorkan opini global, bahwa yang salah adalah kaum radikal. Liberal tidak salah. Umat Islam lalu dipaksa berpikir liberal, meskipun dengan kemasan baru. Dibuatlah opini, seolah-olah ada yang namanya “Islam Nusantara”, yang katanya berbeda dengan “Islam Arab”. Katanya, Islam Nusantara itu hebat sekali, karena bersifat damai dan toleran.

Sejumlah survei menggambarkan bahwa umat Islam Indonesia tidak toleran, karena tidak bisa menerima paham-paham dan aliran sesat. Umat Islam disuruh menerima paham dan apa saja, sehingga umat Islam layak menerima julukan “terhormat” sebagai umat yang toleran, berwawasan pluralisme dan multikulturalisme. Pokoknya telan saja!

Pada saat yang sama, umat Islam dan bangsa Indonesia dipaksa menerima aneka jenis hiburan yang “melenakan” jiwa bangsa.

Berbagai perilaku amoral, mengumbar aurat, melecehkan norma dan akal sehat, terus-menerus diberikan tempat terhormat di layar kaca. Semua atas nama kebebasan. Paham liberalisme ekstrim yang membongkar nilai-nilai moral agama dan kesopanan pun bebas dijejalkan kepada masyarakat. Lalu, disela-sela tontonan yang memanjakan syahwat, diselipkan iklan perlunya bangsa Indonesua melakukan revolusi mental. Apa definisinya? Telan saja dulu.

Dari berbagai pertanyaan yang muncul dalam forum-forum kajian dan perkuliahan, saya memahami adanya keresahan umat Islam di Indonesia terhadap diri dan bangsa mereka. Sebagai mayoritas, umat Islam seperti merasakan adanya kekuatan dahsyat yang mengeroyok diri dan keimanan mereka. Ironisnya, umat Islam merasa tidak berdaya, karena mereka berhasil dipecah belah dan diadu-domba. Devide et impera! Artinya, pecah belah dan adu domba! Sebagian tokoh dan kalangan umat Islam diangkat, diberikan tempat terhormat, untuk digunakan menyerang kelompok lain. Ratusan tahun kekuatan penjajah – yang kecil jumlahnya – berhasil memecah belah bangsa Indonesia dan kemudian dengan leluasa mengeruk kekayaan alam negeri kita.

Sepatutnya, umat Islam mau belajar dari sejarah.

Lihatlah saat ini, kondisi bangsa kita sendiri! Para politisi yang semua mengaku sebagai patriot dan cinta bangsa, terlibat tindakan saling jegal, saling caci-maki, dan saling hujat, untuk mengangkat diri dan kelompoknya dengan menjatuhkan politisi lain. Rakyat diajari para elite bangsa untuk terus-menerus terlibat dalam pelestarian dendam dan kebencian. Rasa kasih sayang pada sesama perlahan-lahan sirna bersamaan dengan meruyaknya kebebasan saling caci di media sosial.

Mungkin, kondisi umat Islam saat ini bisa diumpamakan laksana seorang musafir yang dirampas harta bendnya dan dilucuti pakaiannya. Yang tersisa tinggal celana kolor, jiwa, pemikiran, dan keimanannya. Si musafir masih bersyukur, ada yang tersisa. Tapi, si perampas masih tidak puas. Pikiran dan jiwanya pun hendak dilucuti pula. Ia tidak boleh lagi berpikir dan meyakini bahwa agamanya sendiri yang benar. Dengan mudahnya ia mendapat julukan garis keras, fundamentalis, radikal, intoleran, dan sebagainya. Bagi kaum kafir, iman dianggap tidak penting.

Bahkan, ada yang menyebut, keyakinan beragama sebagai sumber konflik umat beragama. Disebarkanlah paham pluralisme yang meminta umat Islam mengakui kebenaran semua agama; atau minimal ‘pluralisme kewargaan’ yang mengajak umat Islam memiliki pandangan dan sikap bahwa keimanan, kesesatan, dan kekufuran harus diperlakukan sama di ruang publik; diberikan perlakuan dan anggaran yang sama. Katanya, itu demi HAM dan kebebasan beragama; Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) mereka pandang lebih suci dan lebih tinggi martabatnya dibandingkan dengan al-Quran. Dengan alasan, negara Indonesia bukan negara Islam. Mereka tidak ridho jika umat Islam punya iman yang kokoh, karena dianggap membahayakan eksistensi dan kenyamanan kekufuran.

Semoga kita masih berakal sehat. Jika seorang yang mengaku muslim menyatakan, bahwa iman dan kufur, tauhid dan syirik adalah sama saja, lalu apa artinya keimanan bagi dirinya? Jika ada polisi mengatakan, bahwa korupsi dan tidak korupsi sama saja, maka apa artinya ia jadi polisi? Maka, sungguh aneh jika para para ulama dan pejabat yang muslim berdiam diri ketika ada seorang kepala daerah dengan sengaja dan terang-terangan mengembangkan paham kemusyrikan, dengan alasan mengembangkan kebudayaan atau kebijakan lokal (local wisdom).

Padahal, setiap hari, seorang muslim senantiasa memanjatkan doa untuk Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim A.S. dalam shalatnya. Ketangguhan dan kegigihan Nabi Ibrahim A.S. dalam melawan kemusyrikan sungguh luar biasa. Beliau harus berhadapan dengan raja, masyarakat, dan bahkan orang tuanya sendiri. Nabi Muhammad Saw pun memberikan keteladanan bagaimana membersihkan patung-patung di dalam Ka’bah. Apa yang akan dikatakan sang kepala daerah dan pejabat yang mengaku muslim kepada Allah Swt di akhirat nanti jika mereka ditanya tentang maraknya pembuatan dan penyembahan patung-patung? Belum lagi pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara yang seharusnya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok, seperti pendidikan, pekerjaan, pangan, sandang, papan, dan seterusnya.

Nativisasi

Dalam buku Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, Mohammad Natsir menyebutkan, ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini, yaitu (1) Pemurtadan, (2) Gerakan sekularisasi dan (3) gerakan nativisasi. Dalam nasehat yang disampaikan kepada M. Amien Rais dan kawan-kawan, Pak Natsir mengingatkan perlunya umat Islam mencermati dengan serius gerakan nativisasi yang dirancang secara terorganisir, yang biasanya melakukan koalisi dengan kelompok lain yang juga tidak senang pada Islam, apakah golongan Kristen maupun golongan sekularis sendiri.

Nativisasi adalah usaha untuk mengecilkan peran Islam dalam sejarah dan pembangunan bangsa. Digambarkan seolah-olah Islam adalah biang keladi kehancuran kejayaan bangsa yang disimbolkan dengan kejayaan Majapahit. Gara-gara perkembangan dakwah Islam – yang dilakukan terutama oleh Wali Songo – Majapahit hancur. Maka, secara diam-diam dan terus-menerus, dirancang strategi untuk merusak keimanan umat Islam dengan cara mengembangkan paham syirik dengan aneka rupa istilah indah-indah, sejenis ”local wisdom” dan sebagainya. Islam diletakkan sebagai ”virus asing” yang bertentangan dengan budaya lokal. Uniknya, pengembangan tradisi syirik di tengah kaum muslim, tak jarang mendapat sokongan pejabat dan pihak asing.

Sebagian kalangan Hindu, bahkan bernafsu ingin mengambalikan orang Jawa agar memeluk kembali agama Hindu. Majalah Media Hindu (Oktober, 2011) menulis: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju.”

Salah satu proyek nativisasi yang terkenal adalah diterbitkannya kitab Darmogandul yang sangat melecehkan Islam. Dalam Tesis masternya di Program Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Susiyanto menunjukkan beberapa paragraf dalam Kitab Darmogandul, yang secara tersurat mencita-citakan kekristenan orang-orang Jawa: “Serat ‘Arab djaman wektu niki,sampun mboten kanggo,resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, Serate Djeng Nabi, Isa Rahu’llahu. Artinya, Serat Arab jaman waktu ini sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara Serat Kanjeng Nabi Isa Rahullah. ”Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh, …. Yang artinya, “Orang Jawa berganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh (agama budi)”.

Kitab Darmogandul yang tidak diketahui penulisnya hingga kini, adalah kitab yang ditujukan untuk melecehkan Islam, dan mengagungkan budaya lokal. Para Wali Songo digambarkan sebagai manusia-manusia yang tidak tahu balas budi yang mengkhianati Raja Majapahit. Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI, pernah menulis dan menerjemahkan Darmogandul yang banyak memuat pelecehan terhadap Islam. Dalam salah satu bait Pangkur-nya serat ini menulis:

“Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah Subhanahu Wata’ala, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”

Ada lagi ungkapan dalam serat ini: “Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, nabi terakhir. Ia sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.”

“… Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau makan dagingnya.”

Menyimak berbagai peristiwa yang menimpa umat Islam di Indonesia dan berbagai dunia, patutlah kita merenung, apakah kondisi kita saat ini seperti yang sudah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad Saw? Jika benar, kita patut melakukan diagnosa yang menyeluruh, untuk menemukan sumber penyakitnya, dan kemudian kita lakukan terapi kausalis dan simptomatis sekaligus! Tujuannya, agar penyakit itu tidak kambuh lagi di masa depan. Allahu A’lam. (AS)

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Aqidah, Artikel, liberalisme, Misionaris, Sejarah, siyasah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s