Dakwah Via Internet


thumb_112915_06140223032015_Media-Sosial-Yang-Bakal-Melesat-Di-2014Dunia kini semakin modern dan canggih, apalagi dalam menyerap informasi, kini tinggal klik, lalu muncul informasi yang kita inginkan. Ya munculnya mesin pencarian semisal Google dan Yahoo makin mempermudah aktifitas kita, dari mulai tugas sekolah, kuliah, memasak sampai ‘memperdalam ilmu agama’, lebih cepat mengakses jawabannya dan lebih murah biayanya, cukup dengan smartphone atau modem yang sudah berpulsa. Ketimbang duduk bersila mengikuti halaqah di majlis taklim atau membeli buku/kitab yang kian hari kian mahal.

Seiring kecanggihan internet ini sejumlah ulama di Arab Saudi menjadikan fasilitas tersebut untuk berdakwah, Ikhwanul Kiram Mashuri dalam tulisannya di REPUBLIKA.CO.ID, yang berjudul Era Ulama dengan Santri Followers di Medsos, ia mencatat, Sejumlah ulama di Arab Saudi yang mahir menggunakan medsos (media sosial) telah berhasil menggaet puluhan juta santri di dunia maya. Mereka antara lain Sheikh Mohammad al Arifi, Sheikh Ahmad al Shugairi, Sheikh Salman al Odah, dan Sheikhah Nawal al Eid.

Mohammad al Arifi mempunyai 21 juta santri (baca: followers) di Facebook dan 14 juta santri di Twitter. Ahmad al Shugairi memiliki 13 juta santri di Facebook dan jumlah yang sama di Twitter. Sedangkan di Instagram terdapat sekitar lima juta yang selalu menyimak postingannya. Sementara itu, Salman al Odah mempunyai 8 juta santri di Twitter, 5 juta di Facebook, dan 1 juta di Instagram.

Yang menarik, ternyata yang menjadi superstar di media sosial di Saudi bukan hanya ulama laki-laki saja. Adalah Nawal al Eid yang merupakan pendakwah perempuan paling terkenal di Saudi. Sebuah majalah perempuan pan-Arab, Sayidati, mentahbiskan al Eid sebagai perempuan Saudi paling berpengaruh. Santrinya di Twitter mencapai 1 juta orang, Facebook 45 ribu orang, dan di Instagram menyentuh angka 150 ribu.

Dengan jumlah santri di medsos yang jutaan orang seperti itu, maka akan sangat mudah bagi al Shugairi, al Arifi, al Odah, dan Nawal al Eid untuk menyampaikan dakwahnya. Tiap waktu yang diinginkan mereka bisa menyapa, menanggapi, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para jutaan pengikutnya. Bisa lewat tweet, update status, postingan atau bahkan melalui video.

Ikhwanul Kiram Mashuri membandingkan dengan di Negara kita, Di Indonesia tampaknya para ulama belum ngeh dengan pengaruh dahsyat dari dunia internet ini, terutama media sosial. Minimal mereka belum masuk sepuluh besar yang mempunyai followers terbanyak di Twitter. Kesepuluh besar itu kebanyakan masih ditempati oleh para artis pop, media online, dan politikus.

Yang terdepan adalah artis Agnes Monica (15.137.635), lalu Raditya Dika (13.313.989), detik.com (12.405.907), Ramalan Indonesia (11.684.369), Luna Maya (10.735.935), Sherina Sinna (10.573.313), Afghansyah Reza (9.072.952), Susilo Bambang Yudhoyono (8.813.475), Metro TV (8.680.497), dan Vidi Aldiano (8.532.329). Ustad Yusuf Mansur yang dikenal aktif berdakwah di media sosial hanya mempunyai pengikut di Twitter sebanyak 2,69 juta orang.

Minimnya respon para ulama untuk memanfaatkan internet — dari Web, Blog, Twitter, Facebook, Instagram, hingga Youtube dan aplikasi online lainnya — sebagai media dakwah tentu sangat memprihatinkan. Sebab, inilah dunia baru kita. Dunia online. Dunia informasi tak terbatas yang hanya dalam genggaman. Dunia baru yang tidak bisa kita tolak kehadirannya. Dunia anak-anak muda.

Dakwah via mimbar, atau pengajian di masjid-masjid perlu untuk membimbing, memperkuat aqidah-ibadah, namun dakwah harus dilebarkan ke seluruh pelosok negeri dan dunia via internet, bukankah Nabi Saw juga menulis surat kepada raja-raja dunia saat itu untuk mengajak masuk Islam?!, disamping itu bila kita perhatikan, umat Islam yang suka ngaji ke mesjid jumlahnya bisa dihitung jari, dan hanya itu-itu saja, bahkan jumlahnya bisa berkurang, bisa karena faktor tayangan tv yang lebih ‘menghibur’ atau bentrok dengan siaran langsung sepak bola Persib dan lain sebagainya.

Maka dalam era informasi saat ini, sangat disayangkan bila para ulama/ustadz tidak menyebarkan syiar Islam yang berpijak pada Al-Qur’an dan Hadits via internet. Jangan sampai anak-anak bangsa ini harus menyerap informasi atau memperdalam ilmu dari sumber yang tidak jelas, sebutlah website yang beraqidah Syi’ah, penyebar bid’ah, aliran sesat dan Islam Liberal. (AS)

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Bidang Dakwah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s