REPOSISI PERSIS DIANTARA MADZHAB FIQIH


Jpeg

Ust. Dedi Rahman (kiri) dan Ust. Amin Muchtar (kanan)

Oleh: Ust. Amin Muchtar

Pengertian Mazhab

Mazhab menurut bahasa Arab adalah isim makan (keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya “tempat pergi”, yaitu jalan (ath-tharîq).

Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

Dengan demikian istilah mazhab mencakup dua hal:
(1) fikih atau produk ijtihad, yakni sekumpulan hukum-hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid, yang kami sebut dengan Madzhab Qauli;
(2) ushul fikih atau kerangka metodologis yang digunakan oleh mujtahid itu dalam berijtihad, yang kami sebut dengan Madzhab Manhaji.

Jadi, jika kita mengatakan mazhab Syafi’i itu artinya adalah fikih dan ushul fikih menurut Imam Syafi’i. Karena itu ketika hendak memahami epistemologi fiqih yang dibangun dan dikembangkan oleh berbagai madzhab itu kita harus mengkaji melalui pendekatan madzhab manhaji, yakni kerangka metodologis, yang mencakup qawaid ushul fiqih, qawaid ulumul hadits, dan thuruqul istinbath.

Selanjutnya, pengertian madzhab berkembang menjadi komunitas atau kelompok umat Islam yang mengikuti metode ijtihad imam mujtahid tertentu; atau mengikuti pendapat (produk ijtihad) imam mujtahid tentang masalah hukum Islam. Dari sini kemudian muncul sebutan, misalnya madzhab syafi’iyyun dan syafi’iyyah

Perkembangan makna ini dapat dilihat dari sejarah dan latar belakang lahirnya madzhab itu sendiri.

Sejarah dan Latar Belakang Lahirnya Mazhab

Berbagai mazhab fikih sebenarnya telah lahir pada pertengahan abad ke-1 H. Namun berkembang dengan pesat pada masa keemasan Islam, yaitu dari abad ke-2 H/815 M hingga pertengahan abad ke-4 H/1009 M dalam rentang waktu 250 tahun di bawah Khilafah Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun 132 H/749 M. Ciri khas yang menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi dikalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan berkembang.

Perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan umum.

Pada masa ini, tercatat telah lahir paling tidak 13 mazhab fikih (di kalangan Sunni) dengan para imamnya masing-masing, yaitu Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H/728 M), Abu Hanifah (w. 150 H/767 M), al-Auza’i (w. 157 H/773 M), Sufyan ats-Tsauri (w. 160 H/776 M), al-Laits bin Sa’ad (w. 175 H/791 M), Malik bin Anas (w. 179 H/795 M), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H/813 M), asy-Syafi’i (w. 204 H/819 M), Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H/852 M), Abu Tsaur (w. 240 H/854 M), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/855 M), Dawud azh-Zhahiri (w. 270 H/883 M), dan Ibn Jarir ath-Thabari (w. 310 H/922 M).

Pada zaman sebelumnya, bila orang berbicara tentang madzhab, maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar, Aisyah, Ibn Umar, Ibn Abbas, Ali dan sebagainya. Namun karena pada periode ini para imam madzhab itu menempati posisi sentral, maka nama madzhab identik dengan nama imam madzhab. Meskipun demikian, perkembangan madzhab fikih pada masa ini sangat dinamis. Hal itu tampak jelas dengan terjadinya interaksi antar madzhab, bahkan para murid imam madzhab itu tidak segan-segan meninggalkan madzhabnya dan menguatkan madzhab lain yang dianggap memiliki argumentasi lebih kuat. Contoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah sikap Abu Yusuf dan Muhamad bin Zhufar sebagai murid setia Abu Hanifah, bahkan yang paling mengetahui madzhab Abu Hanifah. Namun keduanya seringkali tidak sependapat dengan Abu Hanifah dalam beberapa masalah. Muhamad bin Hasan as-Syaibani, sebagai sahabat dekat Abu Hanifah, sengaja datang ke Hijaz untuk mempelajari kitab al-Muwatha karya Imam Malik. Demikian pula Imam as-Syafi’i menemui as-Syaibani untuk mengetahui secara jelas fikih Irak. Karena itu perdebatan sengit antar madzhab fikih waktu itu lebih menonjol sifat ilmiahnya ketimbang ta’ashub al-madzhab (fanatisme madzhab).

Periode keemasan ini juga ditandai dengan dimulainya penyusunan kitab fiqh dan ushul fiqh. Diantara kitab fiqh yang paling awal disusun pada periode ini adalah al-Muwaththa’ oleh Imam Malik, al-Umm oleh Imam asy-Syafi’i, dan Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir oleh Imam asy-Syaibani. Kitab usul fiqh pertama yang muncul pada periode ini adalah karya Abu Yusuf, murid Abu Hanifah. Namun belum tersusun secara sistematis. Di samping itu, tulisan tersebut tidak menyebar secara luas. Yang pertama kali membahas masalah ini secara benar-benar ilmiah dengan menyatukan berbagai kaidah ushul fiqih adalah Imam asy-Syafi’i dengan kitabnya berjudul ar-Risalah. Pada masa ini teori ushul fiqh dalam masing-masing mazhab pun bermunculan, seperti teori qias, istihsan, dan al-maslahah al-mursalah.

Hal ini amat berbeda dengan periode selanjutnya (pertengahan abad ke-4 H hingga pertengahan abad ke-7 H) ketika gerakan ijtihad mulai melemah. Para ulama madzhab waktu itu lebih memfokuskan diri untuk melakukan pengkajian terhadap pendapat madzhab masing-masing. Bahkan ada di antara ulama madzhab tersebut yang mengemukakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Periode ini ditandai dengan munculnya ta’ashub al-madzhab, yang mengakibatkan kejumudan (kemandegan berfikir) dan taqlid (mengikuti pendapat imam tanpa analisis) di kalangan para pendukung imam madzhab itu sendiri.

Di samping itu munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing mazhab yang memudahkan orang untuk memilih pendapat mazhabnya dan menjadikan buku itu sebagai rujukan bagi masing-masing mazhab, sehinga aktivitas ijtihad terhenti. Ulama mazhab tidak perlu lagi melakukan ijtihad, sebagaimana yang dilakukan oleh para imam mereka, tetapi mencukupkan diri dalam menjawab berbagai persoalan dengan merujuk pada kitab mazhab masing-masing. Sehingga persaingan tajam antar pengikut mazhab pada masa ini lebih dipengaruhi unsur subjektivitas mazhab daripada sikap ilmiah. Kondisi ini diperparah dengan sikap para penguasa yang hanya “merekomendasikan” satu mazhab fiqh tertentu yang disetujui khalifah. Karena itu, pada periode ini madzhab tidak lagi berwujud aliran pemikiran, tetapi menjadi komunitas atau kelompok umat Islam (penganut) dalam konteks sosial dan budaya lokal, sehingga pada tahun 645 H/1247 M muncul istilah Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah.

Pada perkembangan selanjutnya (pertengahan abad ke-7 H hingga tahun 1293 H/1876 M), madzhab fikih semakin memperlihatkan “wajah kekakuannya”. Ijtihad semakin tertutup dan penyelesaian masalah yang muncul tigal merujuk pada kitab-kitab madzhab yang ada saja, tanpa dibahas dan didiskusikan lagi. Hal ini pada akhirnya membuat kreativitas ilmiah secara mandiri yang sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat tidak lagi muncul. Di samping itu munculnya kehendak (intervensi) penguasa dalam menentukan sebagian hukum berdasarkan madzhab tertentu.

Bagaimana latarbelakang mazhab-mazhab itu lahir di tengah masyarakat dalam kurun sejarah saat itu? Madzhab bermula dari perbedaan dalam penggunaan metode ijtihad, yang menimbulkan perbedaan pendapat. Kemudian terbentuk kelompok pendukung, yang terdiri atas para murid imam mujtahid, selanjutnya berkembang menjadi madzhab sebagaimana dikenal dewasa ini.

Terjadinya perbedaan dalam metode ijtihad tersebut disebabkan adanya perbedaan dalam 3 (tiga) hal, yaitu: (1) perbedaan dalam sumber hukum (mashdar al-ahkâm); (2) perbedaan dalam cara memahami nash; (3) perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash.

Penjelasannya sebagai berikut:

Mengenai perbedaan sumber hukum, hal itu terjadi karena ulama berbeda pendapat dalam 4 (empat) perkara berikut, yaitu:

  1. Metode mempercayai as-Sunnah serta kriteria untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat lainnya. Para mujtahidin Irak (Abu Hanifah dan para sahabatnya), misalnya, berhujjah dengan sunnah mutawâtirah dan sunnah masyhûrah; sedangkan para mujtahidin Madinah (Malik dan sahabat-sahabatnya) berhujjah dengan sunnah yang diamalkan penduduk Madinah (Khulashah Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, 1985: 57-58).
  2. Fatwa sahabat dan kedudukannya. Abu Hanifah, misalnya, mengambil fatwa sahabat dari sahabat siapa pun tanpa berpegang dengan seorang sahabat, serta tidak memperbolehkan menyimpang dari fatwa sahabat secara keseluruhan. Sebaliknya, Syafi’i memandang fatwa sahabat sebagai ijtihad individual sehingga boleh mengambilnya dan boleh pula berfatwa yang menyelisihi keseluruhannya (Ibid., 58-59).

3.Kehujjahan Qiyas. Sebagian mujtahidin seperti ulama Zhahiriyah mengingkari kehujahan Qiyas sebagai sumber hukum, sedangkan mujtahidin lainnya menerima Qiyas sebagai sumber hukum sesudah al-Quran, as-Sunnah, dan Ijma (Ibid., 59).

4.Subyek dan hakikat kehujjahan Ijma. Para mujtahidin berbeda pendapat mengenai subyek (pelaku) Ijma dan hakikat kehujjahannya. Sebagian memandang Ijma Sahabat sajalah yang menjadi hujjah. Yang lain berpendapat, Ijma Ahlul Bait-lah yang menjadi hujah. Yang lainnya lagi menyatakan, Ijma Ahlul Madinah saja yang menjadi hujah. Mengenai hakikat kehujjahan Ijma, sebagian menganggap Ijma menjadi hujjah karena merupakan titik temu pendapat (ijtimâ‘ ar-ra‘yi); yang lainnya menganggap hakikat kehujjahan Ijma bukan karena merupakan titik temu pendapat, tetapi karena dalilun ‘ala wujud dalilin (menyingkapkan adanya dalil dari as-Sunnah).

Mengenai perbedaan dalam cara memahami nash, sebagian mujtahidin membatasi makna nash syariat hanya pada yang tersurat dalam nash saja. Mereka disebut Ahl al-Hadîts (fukaha Hijaz). Sebagian mujtahidin lainnya tidak membatasi maknanya pada nash yang tersurat, tetapi memberikan makna tambahan yang dapat dipahami akal (ma‘qûl). Mereka disebut Ahl ar-Ra‘yi (fukaha Irak). Dalam masalah zakat fitrah, misalnya, para fukaha Hijaz berpegang dengan lahiriah nash, yakni mewajibkan satu sha’ makanan secara tertentu dan tidak membolehkan menggantinya dengan harganya. Sebaliknya, fukaha Irak menganggap yang menjadi tujuan adalah memberikan kecukupan kepada kaum fakir (ighnâ’ al-faqîr), sehingga mereka membolehkan berzakat fitrah dengan harganya, yang senilai satu sha‘ (1 sha‘= 2,176 kg takaran gandum) (Khulashah Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, 1985: 61; al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, 1996: 909-911).

Mengenai perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash, hal ini terpulang pada perbedaan dalam memahami cara pengungkapan makna dalam bahasa Arab (uslûb al-lughah al-‘arabiyah). Sebagian ulama, misalnya, menganggap bahwa nash itu dapat dipahami menurut manthûq (ungkapan eksplisit)-nya dan juga menurut mafhûm mukhâlafah (pengertian implisit yang berkebalikan dari makna eksplisit)-nya. Sebagian ulama lainnya hanya berpegang pada makna manthûq dari nash dan menolak mengambil mafhûm mukhâlafah dari nash (Khallaf, 1985: 64).

Perbedaan ini pada gilirannya melahirkan berbagai aliran pemikiran atau perspektif di bidang ushul fiqh. Secara umum terbagi menjadi dua macam, yaitu aliran mutakallimun dan Hanafiyah.

  1. Aliran Mutakallimun

Para ulama dalam aliran ini dalam pembahasannya dengan menggunakan cara-cara yang digunakan dalam ilmu kalam yakni menetapkan kaidah ditopang dengan dalil naqliy (dengan nash) maupun ‘aqliy (dengan akal fikiran) tanpa terikat dengan hukum furu’ yang telah ada dari madzhab manapun, sesuai atau tidak sesuai kaidah dengan hukum-hukum furu’ tersebut tidak menjadi persoalan. Aliran ini diikuti oleh para ulama dari golongan Mu’tazilah, Malikiyah, dan Syafi’iyah.

Di antara kitab-kitab Ushul Fiqh dalam aliran ini, yaitu :

  1. Kitab al-Mu’tamad fi Ushul al-Fiqh karya Abdul Husain Muhammad bin Aliy al-Bashriy al-Mu’taziliy asy-Syafi’iy (w. 463 H/1070 M).
    2. Kitab al-Burhan fi Ushul al-Fiqh karya Abdul Ma’aliy Abdul Malik bin Abdullah al-Juwainiy an-Naisaburiy asy-Syafi’iy yang terkenal dengan nama Imam Al-Haramain (w. 487 H/1094 M).
    3. Kitab aI-Mushtashfa min ‘Ilm al-Ushul karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazaliy as-Syafi ‘ iy (w. 505 H/1111 M).

Dari tiga kitab tersebut hanya al-Mushtshfa yang beredar secara meluas, sedangkan dua kitab lainnya banyak dijumpai dalam nukilan-nukilan kitab yang disusun oleh para ulama berikut, seperti nukilan kitab dari al-Burhan oleh al- Asnawiy dalam kitab Syarhul Minhaj.
Kitab-kitab yang muncul berikutnya adalah al-Mahshul fi ‘Ilm al-Ushul karya Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Raziy asy-Syafi’iy (w. 606 H/1209 M). Kitab ini merupakan ringkasan dari tiga kitab yang disebutkan di atas.

Kemudian aI-Mahshul diringkas lagi oleh dua orang yaitu :

  1. Tajjuddin Muhammad bin Hasan al-Armawiy (w. 656 H/1258 M) dalam kitabnya al- Hashil.
    2. Mahmud bin Abu Bakar al-Amawiy (w. 672 H/1273 M) dalam kitabnya at-Tahshil.

Kemudian al-Qadhi Abdullah bin Umar al-Badhawiy (w. 675 H/1276 M) menyusun kitab Minhajul Wushul ila ‘Ilmil Ushul sebagai intisari dari at-Tahshil. Namun karena ringkasnya isi kitab tersebut, maka sulit untuk dapat dipahami. Hal ini mendorong para ulama berikutnya untuk menjelaskannya, antara lain Abdur Rahim bin Hasan al-Asnawiy as-Syafi’iy (w. 772 H/1370 M) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan isi kitab al-Minhaj tersebut.

Selain kitab al-Mashul terdapat kitab lain sebagai ringkasan dari kitab al-Mu’tamad, al-Burhan dan al-Mushtashfa, yaitu al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, karya Abdul Hasan Ali atau yang populer dengan nama Saifuddin al-Amidiy as-Syafi’i (w. 631 H/1233 M). Kitab ini kemudian diringkas oleh Abu Amr Utsman bin Umar yang terkenal dengan sebutan Ibnul Hajib al-Maliki (w. 646 H/1248 M) dalam kitabnya Muntahal Suli wal Amal fi Ilmil Ushul wal Jidal. Kemudian diringkas lagi dalam Mukhtasharul Muntaha. Kitab ini mirip dengan Minhajul Wulshul ila Ilmil Ushul, yang juga sulit difahami karena ringkasnya. Hal ini mengundang minat para ulama berikutnya untuk menjelaskannya, antara lain Adhuddin Abdur Rahman bin Ahmad al-Ajjiy (w. 756 H/1355 M) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan kitab Mukhtasharul Muntaha tersebut.

  1. Aliran Hanafiyah.

Para ulama dalam aliran ini, dalam pembahasannya, berangkat dari hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam (madzhab) mereka; yakni dalam menetapkan kaidah selalu berdasarkan kepada hukum-hukum furu ‘ yang diterima dari imam-imam mereka. Jika terdapat kaidah yang bertentangan dengan hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mereka, maka kaidah itu diubah sedemikian rupa dan disesuaikan dengan hukum-hukum furu’ tersebut. Jadi para ulama dalam aliran ini selalu menjaga persesuaian antara kaidah dengan hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mereka.

Di antara kitab-kitab Ushul Fiqh dalam aliran ini, yaitu kitab yang disusun oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali atau yang lebih populer dengan sebutan al-Jashshash (w. 380 H/990 M), kitab yang disusun oleh Abu Zaid ‘ Ubaidillah bin ‘Umar Al Qadliy Ad Dabusiy (w. 430 H/1038 M), kitab yang disusun oleh Syamsul Aimmah Muhammad bin Ahmad as-Sarkhasiy (w. 483 H/1090 M). Kitab yang disebut terakhir ini diberi penjelasan oleh Alauddin Abdul ‘Aziz bin Ahmad al-Bukhari (w. 730 H/1329 M) dalam kitabnya Kasyful Asrar an Ushul Fakhril Islam . Kemudian tampil Abdullah bin Ahmad an-Nasafiy (w. 790 H/1388 M) dengan judul al-Manar, dan syarahnya yang terbaik yaitu Misykatul Anwar.

Pada abad itu tampil pula para ulama yang memadukan kedua aliran tersebut, yakni dalam menetapkan kaidah, memperhatikan argumentasi yang arjah (paling kuat) dan memperhatikan pula munasabah (korelasi)nya dengan hukum-hukum furu’, antara lain Mudhafaruddin Ahmad bin ‘Aliy As Sya’atiy al-Baghdadiy (w. 694 H/1295 M) dengan kitab Badi’un Nizham sebagai perpaduan antara karya al-Bazdawiy dengan al-Ihkam fi Ushulil Ahkam karya al-Amidiy; dan Syadrusiy Syari’ah ‘Ubaidillah bin Mas’ud al-Bukhariy al-Hanafiy (w. 747 H/1346 M) menyusun kitab Tanqihul Ushul yang kemudian disyarahi dalam kitabnya at-Taudhih .Kitab tersebut merupakan ringkasan karya al-Bazdawiy, al-Mahshul karya ar-Raziy dan Mukhtasharul Muntaha karya Ibnul Hajib. Lalu tampil Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin’ Aliy as-Subkiy as-Syafi’iy (w. 771 H/1369 M) dengan Jam’ul Jawami’ dan Kamaluddin Muhammad ‘Abdul Wahid yang terkenal dengan Ibnul Hamam (w. 861 H/1456 M) dengan judul at-Tahrir.

Selanjutnya Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy Syatibiy (w. 760 H/1358 M) dengan al-Muwafaqat. Muhammad bin’ Aliy asy-Syaukaniy (w. 1255 H/1839 M) dengan Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min ‘Ilmil Ushul. Syaikh Muhammad ‘Abdur Rahman al-Mihlawiy (w. 1920 M) dengan Tashilul Wushul ila ‘Ilmil Ushul. Syaikh Muhammad al-Khudlariy Bek (w. 1345 H/ 1927 Mi) dengan Ushul Fiqh.

Dari catatan singkat di atas terlihat bahwa perkembangan berbagai madzhab itu, selain didukung oleh fuqaha (mujtahid), serta para pengikut mereka, juga mendapat pengaruh dan dukungan dari kekuasaan politik. Misalnya, Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi bin Mansyur (berkuasa 158-169 H/755-785 M), al-Hadi bin Mahdi (berkuasa 169-170 H/785-786 M, dan Harun al-Rasyid (berkuasa 170-193 H/786-809 M. Al-Kharaj adalah kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur (berkuasa 136-158 H/754-755 M) dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Di Afrika, al-Mu’iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki. Madzhab Syafi’i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu (tahun 583 H/1187 M). Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil (berkuasa 232-247 H/847-861 M). Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Dalam menyimpulkan semua ini, Syah Wali al-Dahlawi menulis: “Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa, dan tulisan mereka terkenal di masyarakat, lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Dengan begitu, tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa, maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama.”

novel_sejarah_4mazhab

Karena itu dapat dimengerti apabila dari 13 madzhab itu yang masih berkembang di antaranya empat madzhab, yaitu:

(1) Madzhab Hanafi

Dalam konteks aliran fikih berarti fikih dan ushul fiqh Abu Hanifah. Namanya an-Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir di Kufah tahun 80 H/699 M dan wafat di Baghdad tahun 150 H/767 M, dalam usia 70 tahun. Oleh Ibnu Hajar, beliau dikategorikan thabaqat (generasi ke-6), yaitu sezaman dengan salah seorang sahabat Rasul, namun tidak pernah bertemu. Menurut Imam Nawawi, sezaman dengan 4 shahabat Rasul yang paling akhir wafat, yaitu Anas bin Malik, Abdullah bin Abu Aufa, Sahl bin Sa’ad, dan Abut Thufail.

Setelah berkembangnya madzhab Abu Hanifah, beliau populer dengan sebutan Imam Hanafi.

Abu Hanifah thalab al-ilm dan hadis dari 76 ulama, di antaranya Atha bin Abu Rabbah, Amir as-Sya’bi, ‘Ikrimah maula Ibnu Abbas. Khusus dalam bidang fikih, Abu Hanifah berguru kepada Hammad bin Abu Sulaiman, ahli fikih di Kufah yang populer waktu itu, selama 18 tahun, hingga dipercaya menjadi asistennya. Dari Hammad beliau belajar fikih ulama Irak yang merujuk kepada fikih Ali bin Abu Thalib dan Ibnu Mas’ud.

Sedangkan murid (syafi’iyyun) yang belajar kepada Abu Hanifah sebanyak 97 orang, namun yang paling dekat sarta dipercaya menjadi asistennya ada 4 orang, (1) Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari, yang populer disebut Abu Yusuf, serta peletak dasar usul fiqh Mazhab Hanafi (2) Muhamad bin Hasan as-Syaibani, (3) Zufar bin Hudzail, (4) Hasan bin Ziyad.

Kemudian tentang sumber dan metode yang digunakan dalam menetapkan hukum adalah sebagai berikut:

Sumber hukum: Alquran, sunnah, ijma’ sarta fatwa-fatwa sahabat. Namun jika tidak ditemukan dalam 4 sumber itu, beliau menetapkan dasar dan metode tersendiri yang terkenal disebut (1) istihsan, (2) qiyas, dan (3) urf, yaitu adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash, terutama dalam masalah buyu’ (perdagangan)..

Jadi, ketiga sumber inilah yang menjadi dasar lahirnya madzhab Hanafi serta membedakan dengan madzhab-madzhab yang lain.

Sebagian pikiran, pendapat, dan metode Imam Hanafi ditulis oleh beliau sendiri, seperti al-Faraid, as-Syurut, dan al-Fiqhul Akbar. Namun paling banyak ditulis oleh Hanafiyyun (murid-murid, para pelanjut) dan Hanafiyyah (penganut, pengamal), di antaranya Musnad Abu Hanifah disusun oleh Qasim bin Quthlubugha al-Hanafi, berdasarkan periwayatan al-Haritsi dari 15 orang murid Abu Hanifah. Musnad Abu Hanifah dibukukan setelah al-Muwatha Imam Malik dan Musnad as-Syafi’i. Kemudian 6 kitab yang dihimpun oleh Abdul fadhl Muhamad bin Ahmad al-Marwuzi dalam kitabnya al-Kafi fi Fiqhil Imam al-Hanafi. Lalu diberi syarah (keterangan) oleh Muhamad as-Syarkhasi dalam kitabnya al-Mabsuth.

Dilihat dari aspek komunitas (Hanafiyyah) Mazhab ini diamalkan terutama di kalangan orang Islam Sunni Mesir, Turki, anak-benua India dan sebahagian Afrika Barat.

(2) Madzhab Maliki

Dalam konteks aliran fikih berarti fikih dan ushul fiqh Malik. Namanya Malik bin Anas bin Abu Amir. Beliau lahir di Madinah tahun 93 H/711 M dan wafat tahun 179 H/795 M.

Malik thalab al-ilm dan hadis dari lebih 50 ulama, di antaranya Abdurrahman bin Hurmuz, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Ibnu Syihab az-Zuhri. Khusus dalam bidang fikih, Malik berguru kepada Rabi’ah bin Abdurrahman. Dari Rabi’ah beliau belajar fikih ulama Madinah yang merujuk kepada fikih Zaid bin Tsabit dan Ibnu Umar.

Sedangkan murid (syafi’iyyun) yang belajar kepada Abu Hanifah sangat banyak, namun yang paling dekat sarta dipercaya menjadi asistennya adalah, (1) Yahya bin Yahya al-Laitsi, pengembang Mazhab Maliki di Andalusia (spanyol) (2) Muhamad bin Idris as-Syafi’i, yang kemudian mengembangkan madzhab baru (3) Abdurrahman bin al-Qasim, pengembang Mazhab Maliki di Mesir (4) Ali bin Ziyad at-Tunisi, pengembang Mazhab Maliki di Maroko.

Kemudian tentang sumber dan metode yang digunakan dalam menetapkan hukum adalah sebagai berikut:

Sumber hukum: Alquran, sunnah, ijma’, dan fatwa-fatwa sahabat. Namun jika tidak ditemukan dalam 4 sumber itu, beliau menetapkan dasar dan metode tersendiri yang terkenal disebut (1) amal (tradisi) ahli Madinah (2) istishlah (maslahatul mursalah), (3) istihsan, (4) qiyas, dan (5) sadd ad-dzari’ah.

Jadi, perbedaan sumber hukum madzhab Maliki dengan madzhab Hanafi terletak pada amal (tradisi) ahli Madinah. Sedangkan secara metodologi adalah (1) istishlah (maslahatul mursalah) dan (2) sadd ad-dzari’ah.

Sebagian pikiran, pendapat, dan metode Imam Hanafi ditulis oleh beliau sendiri, seperti al-Muwatha. Namun paling banyak ditulis oleh Malikiyyun (murid-murid, para pelanjut) dan Malikiyyah (penganut, pengamal), di antaranya al-Mujalasat karya Abdullah bin Wahab bin Muslim.

Dilihat dari aspek komunitas (Mlikiyyah) Mazhab ini dianut dan amalkan terutama di kalangan orang Islam Tunisia, Maroko, al-Jazair, Mesir Atas dan beberapa daerah Afrika

(3) Madzhab Syafi’i

Dalam konteks aliran fikih berarti fikih dan ushul fiqh as-Syafi’i. Namanya Muhamad bin Idris as-Syafi’i. Beliau lahir di Gaza Palestina tahun 150 H/767 M, tahun kewafatan Abu Hanifah di Irak, dan wafat di Mesir tahun 204 H/819 M.

As-Syfi’i thalab al-ilm dan hadis dari lebih 50 ulama, di antaranya Muslm bin Khalid az-Zanki, Imam Malik, Sufyan bin Uyainah. Khusus dalam bidang fikih, as-Syafi’i berguru kepada Imam Malik, belajar al-Muwatha secara langsung darinya dalam waktu relatif singkat 9 malam. Dari Imam Malik beliau belajar fikih ulama Madinah. Ia juga belajar kepada as-Syaibani, murid Abu Hanifah. Dari as-Syaibani beliau belajar fikih hanafi.

Dari sini tampak jelas bahwa beliau membuat kerangka metodologi baru dengan mengkombinasikan dua madzhab fikih Pendahulunya.

Sedangkan murid (syafi’iyyun) yang belajar kepada as-Syafi’i sangat banyak, namun yang paling dekat sarta dipercaya menjadi asistennya adalah, (1) Ismail bin Yahya al-Muzani, tokoh utama pengembang Mazhab Syafi’i di Khurasan, Irak, dan Syam, (2) ar-Rabi’ bin Sulaiman, transmiter (rawi) utama karya-karya as-Syafi’I, antara lain al-Umm dan ar-Risalah, (3) Ahmad bin Hanbal, yang kemudian mengembangkan madzhab baru (4) Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam, yang kemudian pindah madzhab menjadi Madzhab Maliki.

Kemudian tentang sumber dan metode yang digunakan dalam menetapkan hukum adalah sebagai berikut:

Sumber hukum: Alquran, sunnah, ijma’, dan qiyas. Tentang fatwa sahabat as-Syafi’i memandangnya sebagai ijtihad individual sehingga boleh mengambilnya dan boleh pula berfatwa yang menyelisihi keseluruhannya. Beliau tidak menggunakan pula istihsan, dan menolak al-mashalih serta amal ahli Madinah, namun menerima Qiyas. Di samping itu beliau menawarkan metodologi alternatif yang disebut istidlal.

Dengan demikian tampak jelas perbedaan sumber hukum madzhab Syafi’i dengan dua madzhab pendahulunya.

Hampir seluruh pikiran, pendapat, dan metode Imam as-Syafi’i ditulis oleh beliau sendiri, seperti al-Umm dan ar-Risalah. Pada tahun 195 H/810 M. di Baghdad beliau menyusun madzhabnya dalam kitab al-Hujjah. Namun setelah pindah ke Mesir tahun 200 H/815 M. beliau menyusun lagi madzhabnya yang baru. Kitab pertama kemudian populer dengan sebutan “al-madzhab al-qadim” atau qaul qadim, yang kedua disebut “al-madzhab al-jadid” atau qaul jadid.

Sebagian madzhabnya ditulis oleh syafi’iyyun (murid-murid, para pelanjut) dan syafi’iyyah (penganut, pengamal), di antaranya al-Tahdzib fi Fiqh al-Imam as-Syafi’i karya al-Husen bin Mas’ud al-Farra.

Dilihat dari aspek komunitas (syafi’iyah) Mazhab ini dianut dan amalkan terutama di kalangan orang Islam Mesir Bawah, Arab bagian barat, Suriah, Indonesia, Semenanjung Malaya, Pantai Koromandel dan Malabar, Hadromaut, Bahroin, dan beberapa daerah Asia Tengah.

(4) Madzhab Hanbali

Dalam konteks aliran fikih berarti fikih dan ushul fiqh Ahmad bin Hanbal. Namanya Ahmad bin Muhamad bin Hanbal as-Syaibani. Beliau lahir di Baghdad tahun 164 H/780 M, dan wafat di tempat yang sama tahun 241 H/855 M.

Setelah berkembangnya madzhab Ahmad, beliau populer dengan sebutan Imam Hanbali.

Ahmad thalab al-ilm dan hadis dari lebih 100 ulama, di antaranya Hammad bin Khalid, Ismail bin Ulayyah, Abu Yusuf al-Qadhi, Imam as-Syafi’I, dan Abdurrazaq bin Hamam. Dari merekalah Ahmad mendalami ilmu fikih, ilmu hadis, lmu tafsir, ilmu ushul, ilmu kalam, dan bahasa Arab.

Sedangkan murid (hanabiyyun) yang belajar kepada Ahmad sangat banyak, namun yang paling dekat sarta dipercaya menjadi asistennya adalah, (1) Shalih bin Ahmad bin Hanbal, putra Ahmad yang tertua, dan banyak belajar fikih darinya, (2) Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, putra Ahmad yang banyak belajar hadis darinya, bahkan ia menjadi transmiter (rawi) utama hadis-hadis riwayat Ahmad, antara lain al-Musnad, (3) Ahmad bin Muhamad bin al-Hajjaj Abu bakar al-Marudzi, teman sekaligus murid yang paling dekat, hingga bila disebut Abu Bakar dalam madzhab Hanabilah, maka dialah orangnya, (4) Muhamad bin Ismail al-Bukhari, murid Ahmad yang paling masyhur dalam bidang hadis.

Kemudian tentang sumber dan metode yang digunakan dalam menetapkan hukum adalah sebagai berikut:

Sumber hukum: Alquran, sunnah shahihah, ijma’, fatwa sahabat, hadis mursal (putus di akhir sanadnya), hadis daif yang tidak parah daifnya, dan qiyas.

Dengan demikian tampak jelas perbedaan sumber hukum madzhab Hanbali dengan ketiga madzhab pendahulunya.

Hampir seluruh pikiran, pendapat, dan metode Imam Ahmad ditulis oleh beliau sendiri, seperti Tafsir al-Quran dan al-Musnad.

Sebagian madzhabnya ditulis oleh hanabiyyun (murid-murid, para pelanjut) dan hanabilah (penganut, pengamal), di antaranya al-Mughni fi Fiqh al-Imam Ahmad karya Ibnu Qudamah dan al-Muharrar fil Fiqh ‘Ala Madzhab al-Imam Ahmad, karya Ibnu Taimiyyah.

Dilihat dari aspek komunitas (Hanabilah) Mazhab ini dianut dan amalkan terutama di kalangan orang Islam Arab Tengah (kaum Wahabi), di pedalaman Oman dan beberapa tempat sepanjang Teluk Persia dan di beberapa kota Asia Tengah.

Dilihat dari aspek kawasan Asia dan Afrika, madzhab Syafi’i merupakan madzhab yang paling banyak dianut secara resmi, yakni 12 negara. Disusul Maliki di 10 negara. Kemudian Hanfi di 8 negara, dan terakhir Hanbali hanya di 2 negara. (lihat, tabel Sebaran Penganut Madzhab).

Adapun beberapa madzhab lainnya yang tidak berkembang, bahkan hilang ditelan zaman, antara lain sebagai berikut:

  1. Madzhab al-Tsawri. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih, ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. Ia berguru pada Ja’far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma’in. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya, tetapi ia berhasil lolos. Ketika ia diminta menjadi qadhi, ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah;
  2. Madzhab Ibn ‘Uyaiynah. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn ‘Uyaiynah wafat tahun 198 H. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja’far, al-Zuhry, Ibn Dinar, Abu Ishaq dan lain-lain. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi’i. Ia memberi komentar: “Seandainya tidak ada Malik dan Ibn ‘Uyaiynah, hilanglah ilmu Hijaz. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV, tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa.
  3. Madzhab al-Awza’iy. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza’iy adalah imam penduduk Syam. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi’i. Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah, al-Awza’iy, Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: “Al-Awza’iy.” Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H;
  4. Madzhab al-Thabary. Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al- Qur’an; mengetahui betul makna al-Qur’an. Ia faqih, mengetahui sunnah dan jalan-jalannya; dapat membedakan yang sahih dan yang lemah, yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang.
  5. Madzhab al-Zhahiry. Abu Sulayman Dawud ibn ‘Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara harfiah pada teks-teks nash. Ia berkembang di daerah Maroko, ketika Ya’qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu’min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry.

Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini

Persis dan Mazhab Fikih

“TIDAK BERMADZHAB” Sebagai Madzhab PERSIS

Satu persoalan yang juga menarik adalah, apakah Persis itu suatu mazhab atau pelanjut, bahkan penganut madzhab tertentu? Hal itu dapat kita lihat dari dua aspek;

Pertama, madzhab qauli (produk ijtihad).

Dilihat dari aspek ini, Persis dapat dikatakan sebagai madzhab mustaqil (mandiri), karena tidak berdasarkan kepada salah satu madzhab di atas. Bagi Persatuan Islam, produk ijtihad imam atau guru tidak dijadikan sumber hukum, tetapi menjadi bahan perbandingan dalam mengambil ketentuan hukum,. Dan umat yang belum mampu berijtihad diwajibkan ittiba’ terhadap keputusan itu sepanjang jelas dalil-dalilnya (Alquran dan sunah). Karena itu keputusan hukum di Persis bisa jadi mengalami perkembangan bahkan perubahan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kedua, madzhab manhaji (kerangka metodologis)

Dilihat dari aspek ini, Persis dapat dikatakan sebagai madzhab fil madzhab dalam qawaid ushul dan ulum al-hadits, karena berdasarkan kepada metodologi yang dikembangkan oleh berbagai madzhab di atas, dengan pendekatan muqaran (komparatif) dan tarjih (memilih yang lebih kuat).

Kemudian tentang sumber dan metode yang digunakan dalam menetapkan hukum adalah sebagai berikut:

Sumber hukum: Alquran dan sunnah

Sedangkan manhaj yang dipergunakan dalam hal ini oleh Dewan Hisbah dalam beristidlal (menetapkan dalil) dengan sunnah adalah sebagai berikut :

[a] Dilihat dari status

  • Menggunakan hadits shahih dan hasan dalam mengambil keputusan hukum.
  • Tidak menerima kaidah: “Hadis daif dapat diamalkan dalam masalah fadhailul A’mal” Karena yang menunjukan fadailul amal dalam hadits shahihpun cukup banyak.
  • Menerima hadits shahih sebagai tasyri yang mandiri, sekalipun tidak merupakan bayan dari Al-Quran.
  • Menerima hadits ahad sebagai dasar akidah dan hukum selama hadis tersebut shahih.
  • Hadis mursal sahabi dan mauquf bi hukmil marfu dipakai sebagai hujah selama sanad hadis tersebut shahih dan tidak bertentangan dengan hadits lain yang shahih.
  • Hadis mursal Tabi’i di jadikan hujah apabila hadis tersebut disertai qorinah yang menunjukan ittishalnya hadits tersebut.
  • Menerima qaidah: Al-jarhu Muqqdamun a’lat ta’dil dengan ketentuan sebagai berikut: a. Jika yang menjarah menjelaskan jarahnya maka yang didahulukan jarah daripada ta’dil. b. Jika yang menjarah tidak menjelaskan sebab jarahnya maka didahulukan ta’dil daripada jarah. c. Bila yang menjarah tidak menjelaskan sebab jarahnya, tapi tidak ada seorangpun yang menyatakan tsiqat, maka jarahnya bisa diterima.
  • Menerima kaidah tentang shahabat: “Kullu Shahabah ‘Udul”
  • Riwayat orang yang suka melakukan tadlis diterima jika ia menerangkan bahwa yang ia riwayatkan itu jelas shighat tahamulnya menunjukan ittishal, seperti menggunakan kata “Hadzdzatsani”

[b] Dilihat dari fiqhul hadits

  • Dalam memahami matan hadis, Dewan Hisbah menggunakan kaidah-kaidah Ushul Fiqih sebagaimana lazimnya para Fuqaha.
  • Dewan hisbah tidak mengikatkan diri pada satu madzhab, tapi pendapat Imam madzhab menjadi bahan pretimbangan dalam mengambil ketentuan hukum, sepanjang sesuai dengan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Demikianlah manhaj yang dipergunakan oleh Dewan Hisbah Persatuan Islam dalam memahami sunah.

Dewan Hisbah pun menyadari bahwa sekalipun para ulama telah sepakat dengan rumusan yang sama belum tentu hasil ijtihadnya sama, karena masih bergantung kepada ketepatan, keahlian, kejelian, ketelitian, dalam mengambil satu keputusan dan meninjau dari seginya. Untuk itu diperlukan sekali jiwa yang terbuka, berani mengoreksi pendapat orang lain dan rela menerimanya andaikata hasil ijtihadnya keliru.

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Persis dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s