Khutbah Jum’at: Takwa itu ada disini


Its me  3

Masih dalam suasana hari raya Idul fitri 1437 H ini, pertama-tama khatib mengucapkan do’a Taqobalallahu minna wa minkum, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt.

Sebulan penuh kita digembleng dalam ‘madrasah’ Ramadhan. Dalam menjalankan berbagai ibadah dalam bulan suci tersebut tentunya kita mendapat cobaan dan ujian, baik itu dari dalam diri kita (hawa nafsu), maupun dari luar (massa dan media massa) yang tidak henti-hentinya menggoda iman kita, sehingga nilai ibadah shaum kita rusak, walaupun kita kuat menahan lapar dan haus, namun tidak sedikit dan tidak terasa oleh kita, seperti: melakukan ghibah, namimah, suudzan dan lain-lain, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Oleh sebab itu jangan-jangan kita termasuk dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.”

Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah Swt, Adapun tujuan ibadah shaum adalah agar kita mencapai predikat takwa, sebagaimana dalam firman Allah Swt : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa merupakan kedudukan paling mulia di sisi Allah Swt, sebagaimana firman-Nya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Dalam ayat tersebut bahwa orang yang paling mulia bukan orang kaya, orang yang punya kedudukan dan jabatan, tapi yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling takwa.

Sementara kebanyakan manusia memandang bahwa orang yang paling mulia dilihat dari materi, status sosial, jabatan, sehingga memunculkan diskriminasi terhadap manusia yang lain, bahkan terjadi genosida terhadap ras yang lain, missal dalam sejarah kita mengenal bangsa Arya melakukan rasisme terhadap bangsa Dravida, Nazi-Hitler, Inkuisisi oleh salibis Ferdinand dan Isabella terhadap umat Islam di Andalusia (Spanyol), Zionis-Yahudi dengan ajaran talmud-nya, sehingga pemusnahan terhadap umat Islam di Palestina tidak mengenal laki/perempuan, milisi/sipil, dewasa/bayi, Genosida Muslim Rohingya oleh kelompok radikal Budhis Myanmar, pemusnahan bangsa asli Amerika, Indian, aborigin-Australia oleh bangsa Eropa, sistem Apartheid di Afrika Selatan, bahkan sampai saat ini masih ada yang merendahkan manusia yang lain karena berbeda warna kulit, dilapangan sepak bola di Eropa masih ada yang meniru-niru suara kera, mengejek pemain yang berkulit hitam. Padahal Allah Swt tidak memandang ras, warna kulit, kedudukan dan lain-lain. Bisa jadi dalam pandangan manusia hina tapi dalam pandangan Allah Swt mulia, misalkan Bilal bin Robah yang hitam kulitnya dan bekas hamba sahaya, tapi justru lebih mulia daripada Abu Lahab yang kaya raya dan punya kedudukan, yang kufur terhadap Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Takwa itu ada disini

Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah Swt, takwa adalah melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya. Melaksanakan perintah Allah Swt dengan cara menjadikan Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah. Selain itu kita selalu melakukan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Dalam beberapa hadis, Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita agar senantiasa menjaga kerukunan dan ukhuwah antar kaum muslimin. Tidak boleh saling menyakiti dan saling menghina, karena Seorang Muslim adalah Saudara Muslim yang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara, tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini {Rasulullah menunjuk dadanya} {Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali}. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” {H.r. Muslim}

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk tubuhmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat hatimu dan perbuatanmu.'” {H.r. Muslim}

Atsar Ramadhan

Oleh sebab itu ibadah dalam bulan Ramadhan, kita jadikan tarbiyah, upaya menjaga nilai-nilai ketakwaan pasca bulan Ramadhan. Ibadah dibulan Ramadhan semestinya membekas pada bulan-bulan selanjutnya.

Dalam bulan Ramadhan terdapat ibadah Shaum, maka kita lanjutkan dengan shaum-shaum sunnah. Contohnya dalam bulan syawal ini ada shaum 6 hari, dimana pahalanya sangat besar.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub Al Anshari RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengerjakan shaum Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan shaum enam hari di bulan Syawal, maka bagaikan berpuasa setahun penuh” {H.r. Muslim}

Shalat tarawih dilanjutkan dengan shalat tahajud, shalat witir, shalat lail dan lain-lain. Tadarus, thalabul ilmi dan zakat, infaq, shodaqoh (ZIS) di lanjutkan pada bulan-bulan yang lain. Begitupula pasca Ramadhan kita selalu menahan hawa nafsu dan saling memaafkan (kesalahan) orang lain (Qs. Ali ‘Imran: 134).

(Inti sari khutbah Jum’at ini di sampaikan oleh Asep Sobirin di Masjid Al-Ittihad, Jl. Pungkur Gg. Muncang No 31 Bandung, dekat kantor PW. Pemuda Persis Jabar/Kampus Imarot Putri, pada tanggal 8 Juli 2016 M/ 3 Syawal 1437 H).

Tentang Admin

Pimpinan Wilayah Pemuda Persis Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Hadis, Ibadah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s