M. Natsir Tokoh Pendidikan


Profil-Biografi-Mohammad-Natsir-1

 Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Muhammad Natsir, pria murah senyum bergelar Datuk Sinaro Panjang ini lebih dikenal orang sebagai seorang pemimpin dan politisi kawakan yang jujur dan lurus. Lahir di sebuah kota kecil berhawa sejuk, Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat tanggal 17 Juli 1908. Karirnya sebagai politisi dicatat dengan tinta emas dalam sejarah. Ketika tahun 1950, dalam usia yang relatif muda (42 tahun) menjabat perdana menteri Indonesia Mosi Integral-nya yang terkenal itu berhasil mengembalikan Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus mengantarkanya duduk di kursi perdana menteri. Kala itu, bentuk negara serikat rentan diobok-obok oleh Belanda yang kelihatan masih sangat ingin menguasai Indonesia. Banyak negara bagian yang dihasut oleh Belanda untuk melakukan pembangkangan. Dengan Mosi Integral, akhirnya Natsir berhasil mengeliminasi kembalinya pihak asing mengkooptasi kedaulatan pemerintahan Republik Indonesia.

Setelah menjadi perdana menteri, karir politiknya banyak dihambat oleh Sukarno karena selalu berseberangan paham sampai akhirnya tahun 1960, kurang dari satu tahun setelah pembacaan Dekrit Presiden tahun 1959, partai yang pernah dipimpinnya, Masyumi, dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno. Sejak saat itu, Natsir bersama politisi-politisi masyumi lain lebih banyak bergerak di belakang layar. Terlebih setelah Suharto naik, Natsir dan kawan-kawan yang dicap sebagai “ekstrim kanan” benar-benar disingkirkan dari panggung perpolitikan Indonesia dengan berbagai cara. Natsir pun akhirnya lebih memilih menekuni bidang dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang mengantarkannya menjadi Wakil Presiden Rabithah Alam Islami yang bermarkas di Karachi sampai akhir hayatnya tahun 1993.

Sebagai politisi, sekali lagi, reputasi Natsir sangat dikenal orang. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa sebelum terjun ke dunia politik Natsir adalah seorang pejuang pendidikan yang sepertinya layak disejajarkan dengan Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh pendidikan lainnya. Bahkan prestasi Natsir di dunia pendidikan perlu diberi catatan tersendiri. Selain keberaniannya mendirikan wilde school (sekolah liar), perhatiannya yang besar atas penanaman nilai-nilai Islam dalam pendidikan, Natsir juga amat concern dengan nasib pendidikan rakyat jelata yang tak punya hak pendidikan di masa itu. Bahkan, ketika menjadi Perdana Menteri salah satu prestasinya adalah keputusannya bersama menteri agama, Wahid Hasyim, untuk mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. Untuk secara jelas melihat bagaimana peran Natsir dan pendidikan di Indonesia, kita akan lihat pada tulisan berikut.

Perhatiannya pada pendidikan bermula, saat Natsir masih duduk di AMS (Algemenee Midele School) di Bandung dan telah cukup lama belajar agama di bawah bimbingan A. Hassan. Natsir melihat kenyataan bahwa tingkat kesejahteraan rakyat pribumi kebanyakan yang hampir semua umat Islam jauh di bawah kesejahteraan para penjajah Belanda yang jelas-jelas telah menindas mereka. Lebih menyedihkan Natsir, banyak umat Islam menganggap hal ini sebagai takdir Tuhan yang harus mereka terima sehingga tidak perlu protes terhadap kenyataan yang dihadapi. Keyakinan seperti ini membuat gairah umat Islam untuk hidup lebih baik dan maju menjadi semakin hilang. Sementara pihak penjajah semakin senang, karena mereka dapat lebih leluasa menindas rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam itu.

Akar dari semua masalah itu, menurut Natsir, adalah ketidakmengertian umat Islam terhadap ajaran agamanya sendiri. Seandainya mereka mengerti terhadap agamanya, pasti akan muncul kesadaran terhadap keberadaaan dirinya, harga dirinya, dan derajatnya sebagai manusia. Bukankah kitab suci umat Islam, al-Quran, mengajarkan bahwa di mata Tuhan semua manusia sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, yang membedakan hanyalah ketakwaan kepada Allah SWT. Ajaran yang begitu jelas dalam al-Quran tidak sanggup membangkitkan kesadaran umat Islam sendiri karena mereka memang banyak yang tidak memahami kandungan ajaran-ajaran agama mereka sendiri. Inilah problem besar yang tengah hinggap di dalam tubuh umat Islam saat itu.

Kesimpulannya itu membuat Natsir yang telah cukup lama mendalami agama ingin menyadarkan umat Islam. Ia pun lantas membantu Hassan menulis masalah-masalah keagamaan dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda agar dapat di terima di kalangan masyarakat elit. Ia pun seringkali berceramah mengenai masalah-masalah agama di sekolah-sekolah Belanda seperti MULO Jl. Jawa dan HIK Goenoengsari di Lembang atas prakarsa JIB (Jong Islamitien Bond).

Akan tetapi masih timbul pertanyaan dalam diri Natsir apakah semua ceramah-ceramahnya yang hanya diberikan dalam waktu satu atau dua jam seminggu itu dapat membangkitkan kesadaran umat Islam. Terlebih lagi, di samping ceramah para murid lebih banyak belajar hal-hal umum yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah agama. Bahkan dalam beberapa mata pelajaran ada guru yang suka sambil lalu mengejek agama Islam atau merendahkan. Kebanyakan pelajaran yang diberikan pun lebih banyak menyentuk aspek kognitif (pikiran) yang sangat mungkin menghambat masuknya ajaran Islam ke dalam hati para murid. Natsir akhirnya sadar bahwa kurikulum yang dilaksanakan di HIS, MULO, maupun AMS dan sekolah-sekolah Belanda lain tidak memberi peluang kepada pelajar Muslimin untuk memperdalam agamanya. Alih-alih memperdalam, malah secara tidak langsung ada pelajaran-pelajaran yang mendangkalkan pemahaman murid terhadap agamanya.

Di sisi lain Natsir tahu bahwa di surau-surau dan pesantren-pesantren diajarkan ilmu-ilmu agama secara cukup mendalam. Akan tetapi kelemahannya, suran-surau dan pesantren-pesantren tidak mengajarkan ilmu-ilmu modern untuk bekal para siswa di dunia ini. Lulusan pesantren memang banyak dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi mereka tidak dapat bersaing dengan orang-orang Barat atau lulusan-lulusan sekolah Belanda hingga umat Islam tetap saja terjajah.

Oleh sebab itu, perlu ada sekolah yang mengajarkan ilmu-ilmu modern, tapi juga memberikan pendidikan agama Islam kepada para pelajarnya supaya mereka dapat menjadi muslim yang tahu harga diri dan kukuh tegak dalam menghadapi kehidupan modern saat telah terjun ke masyarakat. Harus ada sekolah yang memberikan imbangan harmonis antara ilmu-ilmu modern yang lebih menekankan pada otak dengan pendidikan agama Islam yang lebih menekankan pada hati. Pendidikan semacam itu tidak lain harus diselenggarakan oleh umat Islam sendiri. Umat Islam tidak bisa mengharapkan orang lain yang menyelengarakannya.

Gagasan itu kemudian dibicarakan oleh Natsir kepada A. Hassan dan kawan-kawannya yang lain. Semuanya setuju, tetapi kemudian mereka kebingungan soal siapa yang akan menjadi guru di sekolah tersebut. Akhirnya Natsir dan kawan-kawannya memutuskan untuk menjadi gurunya. Hal ini mendorong Natsir untuk menekuni buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan, baik yang berbahasa Belanda, Inggris, Jerman, atau Prancis.

Setelah membaca beberapa buku, Natsir memberanikan diri untuk membuka sekolah. Awalnya diselenggarakan semacam kursus pada sore hari bagi mereka yang telah menamatkan HIS namun tidak mampu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Pelajarannya terdiri dari pengetahuan umum dan bahasa Inggris di samping pelajaran agama. Kelas yang pertama kali hanya diisi lima orang murid ini diselenggarakan selama dua jam, dari pukul tiga sampai pukul lima sore di sebuah gedung di Jalan Pangeran Soemedang yang sengaja disewa Natsir.

Bulan-bulan berikutnya ternyata murid yang mendaftar semakin banyak. Kesulitan serius yang dihadapi Natsir setelah bertambahnya murid adalah masalah keuangan. Masalahnya ia harus menambah jumlah tempat duduk dan sarana pendidikan lain yang sudah tidak memadai lagi. Namun kesulitan itu dapat teratasi berkat bantuan Haji Muhammad Yunus, salah seorang saudagar kaya pendiri Persis, yang selalu memberikan bantuan keuangan bagi kepentingan pendidikan yang diselenggarakannya.

Sambil tetap memberikan kursus pada sore hari, ketika pemerintah membuka kursus untuk menjadi guru bagi tamatan HBS dan AMS yang lamanya hanya setahun, Natsir segera mengikutinya agar ia mendapat wewenang mengajar sebagai seorang guru (Rosidi, 1990: 161-164). Berkat cita-cita dan kegigihan usahanya dalam bidang pendidikan ini Natsir sempat mendapat pujian dari Syaikh Ahmad Soorkati, pendiri Al-Irsyad, dalam rapat pengurus Al-Irsyad saat Natsir mengunjunginya. Soorkati berkata kepada hadirin yang hadir saat itu, “Tuan-tuan mari saya perkenalkan Tuan Natsir, seorang yang lebih besar dari tuan-tuan semua. Semuda ini beliau sekarang menyelenggarakan pelajaran ilmu-ilmu modern, tetapi dengan tetap meneguhkan pendidikan agama Islam yang menjadi dasarnya. Apa yang ditanamnya sekarang akan turut menentukan kedudukan agama Islam dan umatnya di negeri ini di masa depan” (Rosidi, 1990: 168).

Pada bulan Maret 1932, diselenggarakan pertemuan dengan kaum muslimin yang menaruh perhatian terhadap masalah pendidikan. Pertemuan ini menyepakati berdirinya lembaga pendidikan bernama “Pendidikan Islam” yang cikal bakalnya adalah kursus sore hari yang dirintis oleh Natsir. Usaha yang akan dilakukan oleh lembaga pendidikan ini adalah menyelenggarakan dan mengembangkan pelajaran-pelajaran ilmu modern yang dipadukan dengan pelajaran dan pendidikan Islam dalam arti yang seluas-luasnya. Adapun program yang dijalankannya antara lain: mendirikan sekolah-sekolah seperti Frobel School (Taman Kanak-kanak), HIS, MULO, serta pertukangan dan perdagangan; mengadakan asrama (internaat), mengadakan kursus-kursus dan ceramah-ceramah. (Rosidi, 1990: 169). Selain itu dibuka pula kweekschool (sekolah guru). (Noer, 1995: 101). Natsir sendiri dipercaya untuk menjadi ketua di lembaga “Pendidikan Islam” ini.

Kurikulum Pendidikan Islam disusun untuk mencapai tujuan: (a) memenuhi kekurangan pelajaran untuk anak-anak muslim, (b) mengatur pelajaran dan pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak muslim itu dengan berdasar dan ber-ruh Islam berikut praktiknya yang perlu dengan cara yang lebih rapi, dan (c) mengatur segala didikan yang akan diberikan untuk menjaga agar anak-anak muslim tidak hanya bergantung untuk menjadi pegawai sesudah lulus, melainkan sebisa-bisanya bekerja dengan tangan sendiri (Rosidi, 1990: 169). Namun sayang sampai saat ini agak sulit menemukan dokumen tentang kurikulum Pendis secara rinci sampai kepada mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Namun yang pasti dari tujuan kurikulum dan pemikiran pendidikan Natsir yang ditulisnya dalam Kapita Selekta Jilid II, kurikulum Pendis mencoba memadukan pelajaran-pelajaran ‘ilmu-ilmu umum’ dengan nilai-nilai keislaman.

Sesuai dengan tujuannya, Pendidikan Islam memang tidak secara khusus bertujuan mencetak ahli-ahli agama (ulama) tidak seperti Pesantren Persatuan Islam. Oleh sebagian orang, jenjang-jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh Pendis dianggap seperti pendidikan umum, hanya bermuatan Islam. Ada kalanya orang tua murid yang mengharapkan anaknya memiliki pengetahuan agama lebih mendalam, pada sore hari memasukkan anaknya ke Pesantren Persatuan Islam (Pesantren Kecil). Entang Sulaeman, salah seorang mantan murid HIS Pendis sekaligus santri di Pesantren Persatuan Islam, menceritakan pengalamannya dalam catatan pribadi yang ia berikan kepada anak-anaknya sebagai berikut:

“….Isuk-isuk sakola Umum di HIS Pendidikan Islam, pasosore di Pasantren Persis. Atuh Jang Entang teh kudu sapoe di Bandung. Subuh indit, wanci Isya kakara datang ka Sukamenak, bekel kudu cukup tilu benggol, lima sen keur kana sado bulak-balik, sabenggol keur dahar di warung. Resep sakola bari masantren teh. Piraku henteu rek resep atuh da sakola di HIS, Holandshe Inlandshe School tea. Pimanaeun harita mah anak Guru Desa pantar Uu make bisa nyakolakeun ka Sakola kitu di Bandung.”

(….Pagi-pagi sekolah umum di HIS pendidikan Islam, sore harinya di Pesantren Persis. Karena itu, Entang harus seharian di Bandung. Subuh pergi, Isya baru pulang ke Sukamenak [rumah orang tuanya, pen.], perbekalan sebanyak tiga benggol harus cukup, lima sen buat ongkos delman pulang-pergi, satu benggol untuk makan di warung. Senang sekali sekolah sambil belajar di pesantren. Siapa yang tidak senang sekolah di HIS, Holanse Inlandshe School. Waktu itu, mana ada Guru Desa seperti Uu [ayah Entang, pen.] dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah seperti itu di Bandung.) (Catatan Pengalaman Entang Sulaeman, tt: 9)

“Pendidikan Islam” semakin lama semakin berkembang, bahkan pada tahun 1938 atas inisiatif alumnus-alumnus Pendis Bandung sekolah model Pendis ini sempat dibuka di lima tempat lain di Jawa Barat (Noer, 1995: 102); juga di Bangka dan Kalimantan (Puar, 1978:35).  Perjalanan memang tidak selamanya mulus. Setelah beberapa bulan pindah ke gedung yang lebih besar di Jalan Lengkong Besar 16, penyokong keuangan terbesar Pendis, Haji Muhammad Yunus, meninggal. Sejak saat itu Pendis mulai merasakan kekurangan keuangan sampai-sampai diusir oleh pemilik gedung di Jalan Lengkong Besar 16 itu karena tidak sanggup membayar sewa. Namun demikian Natsir dan Pendis-nya tetap bertahan dengan memanfaatkan gedung milik Persatuan Islam di Jalan Lengkong Besar no. 74 Bandung sampai akhirnya ditutup oleh pemerintah Jepang pada tahun 1942 (Puar, 1978: 40).

Seperti telah disinggung di atas, “Pendidikan Islam” tidak secara resmi menjadi bagian dari rencana program pendidikan organisasi Persatuan Islam mengingat sifat organisasi Persatuan Islam pada saat itu tidak diarahkan ke arah sana. Walaupun demikian hubungannya dengan Persatuan Islam begitu erat hingga tidak salah bila “Pendidikan Islam” identik dengan Persatuan Islam. Orang-orang yang mempelopori, menyokong, dan mengajar di Pendidikan Islam adalah para aktivis Persatuan Islam. Bahkan sekolah ini memanfaatkan media resmi Persatuan Islam, majalah Pembela Islam tempat Natsir bekerja, sebagai sarana publikasi yang cukup efektif. Melalui Pembela Islam inilah Pendidikan Islam meminta uluran tangan para dermawan untuk membantu biaya operasional pendidikan dan mengundang para orang tua untuk memasukkan anaknya ke Pendis.

Sekalipun semenjak ditinggal Haji Muhamammad Yunus, Pendis seolah kehilangan tiang penyangga, namun Natsir tidak pernah putus asa. Sekuat tenaga mengandalkan kemampuanya Natsir terus mempertahankan Pendis. Sekalipun setiap bulan Natsir harus berkeliling mencari donatur kepada para aghniya dan tidak jarang hanya makian dan umpatan yang didapat bukan segepok uang, Natsir tetap bertahan dengan Pendis yang ia cita-citakan sejak muda. Pendis akhirnya benar-benar harus ditutup ketika Jepang menapakkan kakinya di Indonesia setelah berhasil mempecundangi tentara Sekutu pada Perang Dunia II. Jepang tidak mau ada lembaga pendidikan berbau Barat dan Arab seperti Pendis. Pendis dipaksa untuk menghentikan kegiatan belajar mengajarnya. Natsir sendiri kemudian lebih aktif di dunia politik melalui Partai Islam Indonesia (PII) dan dipercaya oleh Walikota Bandung, Raden Admadinata, sebagai Kepala Biro Pendidikan Kota Bandung.

Setelah Jepang angkat kaki dan Revolusi mulai mereda, Natsir semakin aktif di dunia politik. Saat itu ia menjadi tokoh penting di Partai Masyumi. Tahun 1950, Natsir bahkan sempat menjadi perdana menteri mewakili Masyumi. Pendis sendiri tidak pernah terdengar diaktifkan kembali. Di antara para muridnya pun tidak ada yang berinisiatif mengaktifkan kembali Pendis. Sayang memang, tapi begitulah kenyataannya. Pendis terkubur bersama sejarah dan akhirnya banyak dilupakan orang. Warga Persis sendiri banyak yang tidak tahu keberadaannya, sehingga banyak yang tidak terinspirasi untuk menggali ide-ide cemerlang Natsir tentang pendidikan Islam. Semoga tulisan kecil ini dapat membangkitkan kembali ingatan kita pada peristiwa puluhan tahun silam itu dan mengambil inspirasi darinya. Wallahu A`lamu Bish-Shawwab.

Bahan Bacaan:

Catatan Pengalaman Entang Sulaeman (dokumen keluarga, ditulis sekitar tahun 90-an)

Benda, Harry J. 1985. Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya

Boland, B.J. 1985. Pergumulan Islam di Indonesia 1945-1970. Jakarta: Grafiti Press

Corps Muballigh Bandung. 1988. K.H.M. Rusyad Nurdin: Profil Seorang Muballigh. Bandung: Corps Muballigh Bandung

Mughni, Syafiq A..1994. Hassan Bandung: Pemikir Islam Radikal. Surabaya: Bina Ilmu

Noer, Deliar. 1995. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES

Puar, Yusuf Abdullah. 1978. Muhammad Natsir 70 Tahun: Kenang-Kenangan Kehidupan dan Perjuangan. Jakarta: Pustaka Antara

Rosidi, Ajip. 1990. M. Natsir: Sebuah Biografi. Jakarta: Girimukti Pusaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s