Rasyid Ridha, Wahabi, dan Reproduksi Anti-Wahabisme Baru


 Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Wacana mengenai Wahabi sepanjang abad ke-20 hingga sekarang terlihat masih merupakan wacana yang selalu hangat. Penyebabnya pasti bukan semata-mata karena keberadaan ajaran Wahabinya, melainkan karena ajaran ini berkait dengan salah satu aktor politik internasional sepanjang abad ke-20 hingga saat ini, yaitu Kerajaan Saudi Arabia (KSA). KSA memang secara ideologis menjadikan ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab sebagai pegangan dasar dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Bukan hanya itu, KSA juga menjadi penyokong paling serius penyebaran ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahab ini ke seluruh penjuru dunia.

Karena ideologi sudah berkelindang dengan politik dan kekuasaan, maka adalah wajar bila bersamanya juga muncul beragam fitnah yang sebagian besarnya merupakan kebohongan yang diada-adakan untuk kepentingan politik tertentu. Fitnah-fitnah itupun, walaupun sudah banyak yang diklarifikasi sejak Ibn Abdul Wahhab masih ada terus saja berlangsung hingga sekarang. Bahkan buku-buku yang berisi fitnah itupun terus direproduksi hingga saat ini. Di antara fitnah yang sering dilontarkan kepada Wahabi adalah: takfir terhadap kelompok yang tidak sepaham, melakukan pembunuhan terhadap para ulama, melarang ziarah ke kuburan Nabi, mau menghancurkan kuburan Nabi, bekerja sama dengan Inggris merebut Mekah dan Madinah dari tangan Usmani, dan sebagainya.

Karena fitnah-fitnah ini sesungguhnya hanya reproduksi ulang sejarah hampir dua abad ke belakang, maka penting untuk mengulas kembali bagaimana tokoh-tokoh pada masa lalu menyikapi fitnah semacam ini. Salah satu yang penting dihadirkan adalah sosok Rasyid Ridha. Ia adalah ideolog bagi gerakan-gerakan pembaharuan Islam di Indonesia awal abad ke-20 sepert Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persis. Pandangannya sesungguhnya berbeda dengan pandangan Muhammad ibn Abdul Wahab; tapi ia sering dituding sebagai Wahabi-nya Mesir. Tudingan yang sama juga sering dialamatkan kepada gerakan-gerakan modernis Indonesia seperti Muhammadiyah dan Persis. Bagaimana sesungguhnya pendirian Rasyid Ridha dibandingkan dengan Ibn Abdul Wahab; dan bagaimana sikapnya terhadap gerakan Ibnu Abdul Wahhab sendiri? Dua pertanyaan inilah yang hendak diulas secara singkat dalam tulisan sederhana ini.

 Mazhab Pemikiran Ormas-Ormas Islam Modernis Indonesia

Sudah dimaklumi bahwa isu Wahabi yang tengah ramai dibicarakan saat ini sesungguhnya bukan isu baru. Isu ini sudah muncul sejak akhir abad ke-19. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, isu ini sampai juga ke kawasan Indonesia, yaitu pada awal abad ke-20. Pada waktu yang sama dengan ramainya isu Wahabi, berdiri pula organisasi-organisasi Islam, baik yang bercorak modernis seperti Muhammadiyah. Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis) maupun yang bercorak tradisional seperti Nahdhatul Ulama, Al-Ittihad Islamiyah, dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Hadirnya dua kelompok yang memang memiliki latar belakang berbeda dari segi mazhab fikih dan beberapa model gerakan ini tidak ayal ikut semakin meramaikan isu tentang Wahabi di Indonesia. Dalam hal ini gerakan-gerakan modernis seperti Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad sering disebut sebagai “representasi” Wahabi di Indonesia. Ajaran-ajaran yang dibawa ormas ini yang memang tidak sama persis dengan ajaran fikih mazhab Syafi’i yang telah berkembang sebelumnya di Indonesia menjadi salah satu pemicu kelompok-kelompok modernis ini disebut Wahabi.

Apakah ormas-ormas modernis ini memang memiliki hubungan langsung dengan gerakan Muhammad ibn Abdul Wahab di Saudi Arabia atau dengan murid-muridnya? Inilah yang sejarah tidak bisa menjawabnya secara positif. Ormas-ormas modernis ini memang dalam beberapa hal mengritik praktik-praktik keagamaan yang umum dilakukan oleh masyarakat yang bermazhab Syafi’i. Akan tetapi, bila dihubungkan secara langsung dengan gerakan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab pasti tidak akan ditemukan jalurnya secara langsung. Kalaupun boleh disebut nama Ahmad Soorkati pendiri Al-Irsyad yang besar di Mekah, namun ia pun tidak secara langsung berhubungan guru-murid dengan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab. Lalu mengapa ormas-ormas modernis ini sering disebut Wahabi? Jawaban pasti sulit didapat. Hanya dugaan bahwa gerakan-gerakan tradisionalis yang diwakili terutama oleh Nahdhatul Ulama mungkin ingin menyederhanakan masalah bahwa semua pandangan yang berseberangan dengan mereka dianggap dipengaruhi oleh gerakan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab.

Mudah-mudahan dugaan ini tidak terlalu tepat. Akan tetapi, kalau memperhatikan secara l;ebih detil terhadap sejarah pemikiran gerakan-gerakan modernis, memang genealoginya tidak sampai secara langsung kepada Muhammad ibn Abdul Wahab. Gerakan-gerakan modernis ini, bila dilihat dari pengaruh pemikiran, lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Rofermis Mesir Muhammad Abduh dan muridnya Rasyid Ridha. Hampir semua sejarawan yang meneliti gerakan-gerakan pembaruan Islam awal abad ke-20 menyetujui hal ini seperti Deliar Noer, Howard Federspiel, Harry J. Benda, Alfian, Akh Minhaji, dan yang lainnya. Karakter pemikiran Reformis Mesir ini jelas berbeda dengan karakter pemikiran Muhammad ibn Abdul Wahab, sekalipun irisannya ada.

Di antara perbedaan yang mencolok adalah isu dasar yang digagas. Ibn Abdul Wahhab dalam dakwahnya lebih banyak menggelorakan isu pentingnya purifikasi akidah Islam menuju tauhid yang sejati; membasmi syirik dan bid’ah. Gerakan ini hampir tidak tersentuh agenda politik tertentu. Mereka cenderung menyerahkan masalah politik kepada penguasa yang memberi perlindungan yang dalam hal ini diperankan oleh raja-raja keluarga Saudi. Sementara itu, isu yang diusung oleh gerakan Reformis Mesir adalah isu “Pan-Islam” atau “Persatuan Islam”. Gagasan inilah yang dikampanyekan Jamaludin Al-Afghani ke mana-mana dan mendapat dukungan intelektual sangat serius dari kawan seperjuangannya Muhammad Abduh yang dipercaya saat itu menjadi Rektor di Universitas Al-Azhar.

Jamaluddin Al-Afghani dikenal getol berkampanye agar kaum Muslim di seluruh dunia bersatu secara politik untuk menghadapi kolonialisme yang saat itu membelenggu dunia Islam. Sementara itu, Muhammad Abduh secara kreatif mencoba untuk mempersatukan umat Islam secara pemikiran. Ia menulis Risâlah Al-Tauhîd sebagai upaya untuk mempersatukan pandangan kaum Muslim Ahlus-Sunnah dalam masalah akidah yang saat itu tersekat oleh pandangan salaf (Ibnu Taimiyah) dan khalaf (Asy’ariyah). Langkahnya diikuti oleh murid dan koleganya Thohir Al-Jazairi yang menulis risalah Al-Jawahir Al-Kalamiyyah dengan misi yang kurang lebih sama, yaitu menjembatani pemahaman salaf dan khalaf dalam masalah akidah.

Muhammad ibn Abdul Wahab sesungguhnya termasuk dalam kategori muqallid dalam masalah fikih, yaitu taqlîd terhadap mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal. Oleh sebab itu, Wahabi termasuk dalam kategori mazhabiyah sama seperti para pengikut mazhab yang lain, baik pengikut mazhab Syafii’i, Hanafi, maupun Maliki. Bila di Indonesia umumnya masyarakat mengikuti mazhab Syafi’i dan gerakan ormas tradisionalis pun mengukuhkan itu, maka karakter yang sama juga dianut oleh Ibn Abdul Wahhab, murid-muridnya, dan juga pengikut-pengikutnya. Tidak mengherankan apabila saat ini, Kerajaan Saudi Arabia yang merupakan negara pengikut setia dakwah Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab menjadikan Mazhab Imam Ahmad ibn Hambal sebagai mazhab resmi negara. Dalam hal ini, Muhammad Abduh dan murid-muridnya sama sekali berbeda dengan Ibn Abdul Wahhab. Abduh menyerukan persatuan antar-mazhab secara pemikiran dengan menawarkan pendekatan perbandingan mazhab dan tarjih dalam masalah-masalah fikih, bukan taklid terhadap mazhab. Pendekatan ini kemudian dikembangkan oleh muridnya Muhammad Rasyid Ridha. Bahkan pendekatan ini menjadi pendekatan khas Universitas Al-Azhar dalam pengembangan kajian fikih.

Dalam konteks pemikiran, gerakan-gerakan pembaharuan Islam pada awal abad ke-20 satupun tidak ada yang sepenuhnya mengambil pemikiran Muhammad ibn Abdul Wahab, baik dalam masalah akidah maupun fikih. Gerakan-gerakan ini lebih memilih pendekatan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang lebih menekankan pada “persatuan”. Hal ini terlihat dari pendekatan-pendekatan pengajaran akidah dan fikih pada organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Selain itu, karya-karya tulis dalam bidang akidah dan fikih seperti yang banyak dibuat oleh A. Hassan dari Persis juga memperlihatkan pengaruh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho yang sangat kuat. Tidak ada satupun di antara organisasi pembaharu ini yang menyatakan diri bermazhab salaf dan berfikih Hambali.

 Rasyid Ridha dan Sikapnya terhadap Wahabi

Bila secara mendasar ada perbedaan cukup penting antara Muhammad Abdur dan Rasyid Ridha dengan Ibn Abdul Wahhab, lalu bagaimana pandangan Ridha sendiri terhadap Ibnu Abdul Wahhab dan gerakannya? Pandangan dan sikap Ridha terhadap gerakan ini terekam baik dalam salah satu bukunya Al-Wahhabiyyûn wa Al-Hijâz yang terbit tahun 1344 H atau bertepatan dengan tahun 1926 M. Buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisannya di Harian Al-Ahram dan Majalah Al-Manâr yang dipimpinnya. Ini berarti tulisan-tulisannya sendiri sudah dibuat sebelum tahun 1926. Kalau melihat angka tahunnya, tulisan-tulisannya sezaman dengan tulisan Ahmad Zaini Dahlan yang sangat terkenal, Al-Durar Al-Sunniyyah fî Radd alâ Al-Wahhabiyyah. Ini juga menunjukkan bahwa tulisan yang dibuat masanya lebih dekat kepada zaman kekisruhan politik yang berujung pada jatuhnya Kekhalifahan Turki Usmani dan diambilalihnya Hijaz oleh keluarga Ibnu Sa’ud dari Nejd. Oleh sebab itu, suasana perseteruan politiknya pasti akan dirasakan langsung oleh penulis buku ini.

Dalam buku ini Ridha sampai pada kesimpulan bahwa terjadinya fitnah terhadap gerakan Wahabi, baik sejak awal kemunculannya di Nejd awal abad ke-19 maupun seabad berikutnya awal abad ke-20 ketika keluarga Saudi berhasil menaklukkan Mekah, disebabkan karena dengki politik dari penguasa Mekah saat itu. Berikut kesimpulan paling penting dari Rasyid Ridha berkaitan dengan fitnah terhadap dakwah Ibn Abdul Wahhab.

“Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab adalah pembaharu Islam di negeri Nejd yang berusaha mengembalikan penduduk Nejd dari perbuatan syirik dan bid’ah yang tersebar luas saat itu menuju jalan “tauhid” mengikuti manhaj Ibnu Taimiyyah. Keberhasilannya yang relatif cepat karena dukungan dan perlindungan dari keluarga Saud. Keluarga Saudi ini sesungguhnya bukan klan yang paling kuat dan paling berpengaruh di Nejd, akan tetapi Allah Swt. menolong mereka karena telah menolong agama-Nya. Dakwah Ibn Abdul Wahab ini di samping mendapatkan keberhasilan, juga tidak sepi dari ujian dan fitnah. Walau begitu, pembelaan terhadap fitnah ini juga diperlihatkan oleh Allah Swt. Fitnah-fitnah ini umumnya terjadi karena penguasa Mekah yang sering melakukan kerusakan di muka bumi dan berbuat mulhid (pelanggaran agama) di Tanah Haram sejak awal kemunculan dakwah pembaharuan ini telah melakukan penolakan dan perlawanan. Merekalah yang menyebarkan fitnah ke seluruh dunia Islam bahwa dakwah Ibn Abdul Wahab adalah dakwah kufur, bid’ah, dan bertujuan untuk memusuhi kaum Muslimin. Posisi mereka yang berada di Mekah memudahkan untuk menyebarluaskan fitnah ini ke seluruh kaum Muslim. Mereka juga berusaha menghasut Kerajaan Usmani untuk memerangi keluarga Saudi. Usmani kemudian meminta bantuan kepada penguasa baru Mesir untuk melakukan penyerangan terhadap Keluarga Saudi. Dalam tulisan ini kami tidak bermaksud menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu, melainkan ingin menjelaskan dampak yang terjadi akibat kelakuan para penguasa Mekah yang dikenal dengan sebutan “syarif” itu.

Semula Kerajaan Usmani terhasut sehingga memusuhi Keluarga Saudi selama hampir satu abad, karena berkeyakinan bahwa keluarga Saudi hendak mendirikan kerajaan Arab baru yang kuat yang akan menghapus pengaruh dan kekuasaan Usmani di kawasan Arab, lalu mereka akan menghancurkan kekhalifahan. Akan tetapi, semua tidak terbukti. Mereka malah mendapatkan keuntungan ketika melakukan kesepakatan dengan Keluarga Saudi dan mengakui kekuasaannya di Nejd dan sekitarnya. Atas dasar kesepakatan ini, diketahui bahwa permusuhan Usmani terhadap Keluarga Saudi sebelumnya sama sekali bukan karena alasan agama seperti sangkaan orang-orang jahil.

Sementara itu, para amir Mekah yang dikenal dengan sebutan “syarif” terus saja dalam kesesatan mereka dengan menyebarkan fitnah dan dusta atas dakwah Wahabiyah. Di antara amir yang paling berlebihan dalam memfitnah dan memusuhi Keluarga Saudi adalah Amir Husein ibn Ali. Saat Hijaz lepas dari Usmani dan jatuh ke tangan Inggris, kekuasaan Hijaz seolah-olah sudah berada di tangannya. Ia juga menyangka bahwa Nejd yang dikuasai oleh Keluarga Saudi akan segera jatuh juga ke tangannya. Ia pun semakin gencar melakukan tipudaya, fitnah, dan provokasi kepada Keluarga Saudi. Akan tetapi, akhirnya justru Hijaz yang dikuasainya berhasil direbut oleh Abdul Aziz ibn Saud hingga kawasan ini dapat diselamatkan dari thoghut yang menggelari dirinya sebagai “penyelamat” ini dan keturunannya. (hal. 6-7)

Melalui pernyataannya ini, terlihat Rasyid Ridho berkesimpulan bahwa munculnya fitnah-fitnah terhadap dakwah Muhammad ibn Abdul Wahab terutama bermula dari kekhawatiran politik terhadap semakin menguatnya kekuasaan Keluarga Saudi di Jazirah Arab. Ketika penguasa ini menjadi penyokong penuh dakwah Wahabi, yang disokongnya pun tidak luput dari fitnah. Apalagi memfitnah ajaran agama sebagai sesat, bid’ah, dan kafir lebih menjual daripada melakukan fitnah politik yang bisa jadi tidak akan terlalu mendapat perhatian masyarakat.

Kesimpulan ini tentu saja harus dibuktikan oleh Ridha. Pertama, ia membuktikan bahwa akidah yang dipegang dan diyakini oleh Muhammad ibn Abdul Wahab sama sekali bukan akidah baru. Akidahnya adalah juga akidah Ahlus-Sunnah wal Jamaah dengan menggunakan manhaj Ibnu Taimiyah yang telah dikenal luas sebelumnya di dunia Islam. Tidak ada yang menyangkal keulamaan Ibnu Taimiyah, apalagi membid’ahkan pemikirannya, sekalipun dalam beberapa hal pemikirannya banyak tidak disetujui sebagian kalangan. Akan tetapi, perbedaan pandangan di kalangan ulama sejak lama memang sering terjadi. Hal itu sudah merupakan kebiasaan yang tidak pernah menggugurkan keulamaan seseorang. Apalagi Ibnu Taimiyyah banyak yang menilai sudah layak menjadi mujtahid mustaqil atau mujtahid mutlaq yang boleh menjadi anutan mazhab mandiri. Oleh sebab itu, mengikuti mazhab Ibnu Taimiyyah adalah sesuatu yang sah dan wajar, bukan penyimpangan dan bid’ah. Tuduhan-tuduhan bahwa Ibn Abdul Wahhab mengkafirkan orang yang berseberangan dengannya dan lainnya dibantah sendiri oleh yang bersangkutan dalam kitabnya Al-Hadiyyah Al-Saniyyah wa Al-Tuhfah Al-Wahhabiyyah Al-Najdiyyah.

Kedua, dari sudut pandang politik tindakan Keluarga Saudi mengambil alih Hijaz telah tepat. Saat itu Hijaz berada di bawah Inggris, karena menjadi wilayah yang dimenangkan Inggris ketika Usmani kalah perang. Saat jatuh ke tangan Inggris, Syarif Husein mulai memanfaatkan untuk kepentingan ambisi kekuasaannya. Ia mengklaim diri sebagai kekhalifahan baru yang sah yang seluruh kaum Muslim wajib berbaiat kepadanya. Siapa yang tidak berbaiat dianggap khawarij dan sah untuk diperangi. Ia bahkan berani mengafirkan orang-orang yang tidak mau berbaiat pada kekuasaannya. Syarif Husein juga berusaha sekuat tenaga agar wilayah Nejd yang dikuasi Keluarga Saudi agar masuk menjadi bagian dari kekuasaannya. Beberapa kali ia berusaha melakukan penyerangan dengan meminta bantuan kepada Inggris untuk mengambil alih Nejd dari tangan Keluarga Saudi.

Ketiga, karena persekongkolan Syarif Husein dengan Inggris ditambah usahanya untuk merebut Nejd itulah yang menyebabkan Keluarga Saudi berada pada posisi yang benar secara politik. Nejd yang kemudian memukul balik Syarif Husein dan melalui berbagai perundingan akhirnya mendapatkan kawasan Hijaz dianggap oleh Ridha telah berhasil menyelamatkan Tanah Haram dari cengkeraman kaum kafir Inggris. Lagi pula raja yang memegang kekuasaannya adalah raja yang dianggap oleh Ridha sangat serius dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam di negara barunya. Raju baru ini juga berhasil untuk sementara waktu melindungi kota terpenting bagi kaum Muslimin.

Dari analisis politik di atas terlihat bahwa sebetulnya yang banyak menjadi incaran adalah penguasa pendukung dakwah Ibn Abdul Wahab, yaitu Keluarga Saudi. Keluarga ini juga yang mendapat fitnah lanjutan setelah berhasil menguasai kawasan Tanah Haram, Mekah dan Madinah. Ridha menunjukkan contoh tuduhan bahwa rezim baru ini akan menghancurkan makam Nabi Saw. karena berada di lingkungan Masjid Nabawi. Walaupun dalam masalah agama ini  bukan hal yang mendasar, tetapi justru menjadi fitnah baru yang sangat laku ditimpakan kepada pengikut Ibn Abdul Wahhab ini. Kenyataannya apa yang dituduhkan itu benar-benar hanya fitnah. Ridha saat itu memastikan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh penguasa Hijaz yang baru ini. Sebab, tidak ada alasan syar’i apapun untuk menghancurkan kuburan Nabi Saw. Kalaupun ada larangan menjadi kuburan sebagai mesjid, kasusnya sangat berbeda dengan kuburan Nabi. Kuburan Nabi walaupun berada di kompleks Masjid Nabawi saat itu, sama sekali tidak dijadikan masjid. Kawasan makam Nabi bersama Umar ibn Khattab dipisahkan dengan dinding khusus yang menandai bahwa kawasan itu bukan kawasan mesjid. Bukan hanya pada masa awal kekuasaannya di Hijaz, bahkan hingga saat ini Keluarga Saudi tidak pernah mengganggu kawasan pekuburan Nabi Saw. Selain fitnah itu juga muncul fitnah lain seperti kamar Aisyah akan dihancurkan dan semisalnya. Atas semua tuduhan itu, Ridha menunjukkan bahwa semuanya fitnah belaka.

Bila memperhatikan pembelaan penuh Rasyid Ridha terhadap Keluarga Saudi dan gerakan dakwah Muhammad ibn Abdul Wahab, maka siapapun akan mengatakan bahwa Ridha adalah pengikut dan antek Wahabi. Mungkin ini juga yang menyebabkan siapa saja yang terpengaruh oleh pemikiran Rasyid Ridha seperti Muhammadiyah dan Persis di Indonesia dengan mudahnya disebut sebagai “Wahabi”. Padahal, Rasyid Ridha justru hanya melihat masalah Wahabi ini sebagai fitnah yang di belakangnya terdapat kepentingan politik yang sangat kental. Sementara dari segi ajaran, Ridha melihatnya sebagai satu varian pemikiran biasa yang merupakan bagian dari dinamika pemikiran umat Islam.

Sekalipun dari segi politik ia sangat membela Wahabi, namun dari segi pemikiran ia justru berbeda yang pokok perbedaannya telah dijelaskan di atas. Oleh karena itu, murid-murid penerus dakwah Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab generasi sesudah Rasyid Ridha justru malah mencela Rasyid Ridha. Ridha bersama gurunya, Muhammad Abduh, dianggap memiliki pendekatan yang terlampau rasionalis (aqlaniyyah) yang dianggap tidak tepat menurut manhaj salaf yang mereka pahami. Ia bersama dua gurunya Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh dianggap yang paling bertanggung jawab atas tumbuhnya mazhab rasionalis di dunia Islam setelahnya. Anggapan ini hampir umum diketahui oleh mereka yang menyatakan diri sebagai pengikut Muhammad ibn Abdul Wahab saat ini; atau yang lebih sering disebut sebagai “salafi”.

Reproduksi Fitnah Wahabi Abad ke-21

Sejak sekitar awal abad ke-21, seiring dengan tragedy WTC (11/9/2001) dan munculnya isu terorisme yang dialamatkan kepada umat Islam, istilah “Wahabi” muncul kembali menjadi isu hangat. Wahabisme oleh media-media Barat dianggap sebagai basis ideologi gerakan-gerakan yang dianggap teroris seperti Al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin, Hizbut-Tahrir, dan sebagainya. Media-media Barat yang menguasai informasi dunia telah menyebabkan stigma ini sangat tertanam dalam pikiran umat manusia di dunia, yaitu bahwa Wahabisme sama dengan “terorisme”.

Karena penguasaannya yang massif, media-media Barat berhasil membentuk opini mengenai isu ini. Tambahan lagi, menguatnya persaingan antar negara-negara Arab ikut menyulut semakin digorengnya isu Wahabi ini. Dalam hal ini, ekspansionisme Iran semenjak Revolusi 1979 menjadi salah satu pemantiknya dan munculnya Saudi Arabia sebagai negara kaya di Timur Tengah. Revolusi Iran tahun 1979 cukup berhasil mengeluarkan Iran dari jebakan krisis ekonomi dan politik selama masa kekuasaan Syah Reza. Perlahan namun pasti Iran muncul sebagai negara dengan kekuatan ekonomi, militer, dan politik baru di kawasan Timur Tengah. Pengaruh Iran semakin membesar sejak saat itu. Pada saat yang sama, Iran mendapat pesaing kuat dari negara Petro-Riyal Saudi Arabia yang pada saat yang bersamaan telah sampai pada tingkat kemakmuran yang cukup untuk Saudi Arabia memperkokoh posisi khasnya di Timur Tengah.

Masalah masing-masing memiliki latar belakang keagamaan dan ideologi tertentu yang berbeda sudah menjadi pengetahuan umum. Di satu pihak, Iran sejak masa Dinasti Safawi hingga Revolusi Khumainiyah tahun 1979 menganut Syi’ah aliran Imamiyah. Sedangkan Saudi Arabia tergolong negara Sunni mazhab Ibnu Taimiyyah atau yang lebih sering disebut sebagai “Wahabi”. Paham ini dipraktikkan dan diajarkan secara massif di Saudi Arabia dan disebarluaskan ke seluruh dunia melalui da’i-da’i yang di-training khusus di universitas-universitas di Saudi Arabia.

Di kalangan Ahlus-Sunnah sendiri sudah dimaklumi lahir berbagai mazhab dan kecenderungan pemikiran, baik dalam bidang akidah, ibadah, maupun muamalah. Perbedaan-perbedaan ini tidak bisa dihindari sebagai konsekwensi dari diperkenankannya ijtihad dalam berbagai masalah yang tidak ada ketentuan dalilnya di dalam Islam. Walaupun demikian, perbedaan di kalangan internal Ahlus-Sunnah berbeda dengan perbedaan ushulî antara Ahlus-Sunnah dengan Syiah, misalnya. Oleh sebab itu, tidak bisa disebandingkan antara perbedaan Sunni-Syiah dengan perbedaan antara Wahabiyah dengan Asy’ariyah, misalnya. Akan tetapi, dalam konteks politik, perbedaan setipis dan sekecil apapun dapat menjadi alasan untuk munculnya perseteruan politik.

Di tengah persaingan baru Iran dan Saudi Arabia di Timur Tengah, isu ideologi ikut menjadi salah satu alat kontestasi di antara kedua negara ini. Iran dengan Syiah-nya, Saudi Arabia dengan Wahabi-nya. Oleh sebab itu, pasca-Revolusi Iran tahun 1979, isu mengenai Syiah dan Wahabi sebagai ideologi kembali ikut ramai kembali menjadi wacana yang sering dilihat dari berbagai aspek dan sudut pandang. Isu ini bukan hanya menjadi bahan kajian wacana akademik, tetapi juga muncul juga sebagai isu sosial-politik yang berdampak ke dalam hubungan antar-kelompok ideologi ini di seluruh dunia, mengingat ideologi-ideologi ini juga memiliki audiens di berbagai belahan dunia seiring dengan ekspansi para propagandisnya yang sengaja disiapkan di negara masing-masing. Iran dengan terang-terangan menyerang Wahabisme Saudi Arabia, sebaliknya Saudi Arabia menjadi negara nomer wahid penentang Syiisme Iran.

Persaingan politik di Timur Tengah ini dampaknya mau tidak mau juga sampai ke Indonesia yang memberlakukan politik luar negeri bebas-aktif yang menyebabkan hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah termasuk Iran dan Saudi Arabia sangat terbuka. Kerja sama Indonesia, baik dengan Iran maupun dengan Saudi Arabia, terjalin cukup baik, tanpa menafikan salah satunya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila di Indonesia pendukung-pendukung Iran dan Saudi Arabia, baik secara politik maupun ideologi, cukup banyak. Saudi Arabia sebagai negara Sunni lebih diuntungkan karena mayoritas warga Muslim di Indonesia pun Sunni sehingga hubungan menjadi lebih intensif dan tidak terlau saling mencurigai. Berbeda dengan hubungan Indonesia dengan Iran yang seringkali banyak dicurigai karena Syiah yang dianut mayoritas pendudukan Iran.

Salah satu efek persaingan itu adalah hidupnya kembali isu Wahabi di Indonesia yang selama beberapa dekade sebelumnya sudah mulai pupus dalam ingatan masyarakat Muslim di Indonesia. Apalagi setelah media-media Barat selalu mengait-ngaitkan “terorisme” dengan Wahabisme setelah peristiwa WTC 11/9. Serang Iran terhadap Wahabisme dan sebaliknya serangan Saudi terhadap Syiisme juga terjadi di Indonesia. Para penganut Syiah di Indonesia yang semakin berani menunjukkan jati dirinya sejak Era Reformasi dengan terang-terangan menjadikan “Wahabi” sebagai musuh utama mereka. Begitu pula da’i-da’i yang dididik oleh Saudi Arabia juga menjadi garda paling depan dalam menyuarakan penentangan terhadap Syiah Iran.

Rupanya konflik ini tidak bisa dikanalisasi hanya antara pendukung Wahabi dengan Syiah. Perseteruan merembet juga ke kelompok-kelompok lain. Pasalnya, da’i-da’i Wahabi ini selain sangat bersemangat menyerang Syiah, juga seringkali melontarkan kritik-kritik dengan bahasa yang tidak santun kepada kelompok Sunni lain yang berbeda mazhab. Di Indonesia kelompok yang paling sering menjadi sasaran adalah pengikut NU yang bermazhab Syafi’i dalam fikih dan Asy’ari-Maturidi dalam akidah. Kelompok ini sering diejek sebagai ahlul-bid’ah (pelaku bid’ah), quburiyyûn (suka berziarah kubur), dan istilah-istilah lain yang cukup membuat telingan panas. Tentu saja, karena bahasa ejekan dan setengah cacian, maka muncul reaksi yang juga emosional dari kalangan Nahdhiyyin. Saling serang secara verbal ini bahkan dapat disaksikan secara tebuka oleh seluruh dunia melalui saluran www.youtube.com. Sangat mudah mencari ceramah-ceramah dari dua kelompok ini yang satu sama lain, bukan hanya saling mengritik dan mempertahankan argument, tapi kadang sampai saling mengejek dan mencaci. Bukan hanya ceramah-ceramah terbuka di dunia maya, berbagai buku pun terbit dari kedua kelompok ini dengan tema yang saling serang satu sama lain.

Sebagian kalangan NU yang merasa diserang kemudian melakukan serangan balik dengan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah Indonesia pada awal ke-20 saat isu anti-Wahabi mulai muncul di Indonesia. Buku-buku karangan penulis awal abad ke-20 seperti tulisan Ahmad Zaini Dahlan dan yang lainnya dipublikasi ulang. Narasi-narasi di dalam buku-buku tersebut dihadirkan kembali untuk menunjukkan betapa berbahayanya Wahabi sejak dulu. Dengan buku-buku itu para penentang Wahabi ingin menunjukkan bahwa saat inipun bahaya Wahabi masih tidak jauh berbeda, sekalipun objek yang disebut “Wahabi” pada awal abad ke-20 berbeda dengan yang disebut “Wahabi” saat ini.

Isu-isu mengenai Wahabi yang dimunculkan pun cenderung mengulang apa yang disampaikan awal abad ke-20. Tambahannya hanya ulasan mengenai ulama yang dianggap sebagai ideolog Wahabi baru seperti Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Utsaimin, Abdullah bin Baz, dan sebagainya. Bahkan “Wahabisme” bagi sebagian kalangan NU diidentikkan dengan “Albanisme” atau Albanisme ini dianggap sebagai perwujudan Wahabisme Baru di zaman ini. Akan tetapi Wahabisme Baru ini setali tiga uang dengan Wahabisme awal abad ke-20, tidak bisa dipisahkan; sehingga tidak mengherankan bila kemudian serangan terhadap Wahabi masa kini pun isinya sama seperti yang dapat kita baca seabad yang lalu.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis-analisis di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan penting yang harus menjadi pelajaran berharga untuk kita. Pertama, sejalan dengan temuan Rasyid Ridha dan apa yang kita saksikan belakangan ini, isu Wahabi sejatinya bukan isu agama semata-mata, apalagi menyangkut isu aliran sesat. Isu Wahabi adalah bagian dari produk intrik politik untuk melanggengkan atau merebut kekuasaan tertentu. Bila kemudian umat Islam terkecoh dengan isu satu abad ke belakang, berarti umat Islam berhasil dijadikan objek politik musuh-musuh Islam. Saat ini yang paling diuntungkan dengan isu Wahabi ini adalah Syiah-Iran yang sedang sangat berambisi untuk menaklukkan negara-negara Sunni.

Kedua, perbedaan antara Wahabi dan Asy’ari di kalangan Ahlus-Sunnah wal Jamaah harus dilihat dari sudut pandang ikhtilaf furû’iyyah biasa sebagaimana telah banyak dibuktikan oleh para peneliti, termasuk Rasyid Ridha. Tulisan terkahir K.H. Ali Musthafa Ya’kub tentang perbedaan furû’iyyah antara NU dan Wahabi dapat menjadi salah satu contoh yang paling tegas bahwa perbedaan ini adalah sungguh-sungguh hanya perbedaan masalah furû’iyyah ‘aqâ’idiyyah dan fiqhiyyah.

Ketiga, bila demikian kenyataannya maka untuk menyelesaikan kasus persengketaan antara Wahabi dengan yang menyebut diri sebagai Aswaja “asli” adalah dengan memperbanyak dialog, saling pengertian, dan menahan diri untuk tidak saling menghujat satu sama lain. Perbedaan-perbedaan besar yang sifatnya furû’iyyah yang sering dijadikan sebagai penyebab utama persengkataan antara dua kelompok ini sudah saatnya untuk tidak dijadikan alat untuk saling menyerang satu sama lain. Sebab, dari sinilah seringkali konflik horizontal umat Islam. Dalam hal ini, umat Islam juga harus mewaspadai provokasi musuh-musuh Islam yang tidak menghendaki bersatunya umat Islam. Wallâhu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s