Majalah Al-Muslimun dari Masa ke Masa


al_muslimun_145

Majalah Al-Muslimun salah satu majalah Islam legendaris yang mempunyai pembaca dengan jangkauan yang luas. Karakternya yang tegas, kritis, dan cerdas, terutama terkait dengan hukum Islam, menjadi magnet tersendiri bagi para penggemarnya.

Suatu waktu, saya ditugaskan untuk meliput ke wilayah pedalaman di Aceh Singkil, Nangroe Aceh Daarussalam. Perjalanan menuju Aceh Singkil saya tempuh lewat jalan darat dari Medan, dengan waktu perjalanan kurang lebih 6-8 jam. Setibanya di Singkil, saya kemudian melakukan liputan, diantaranya mewawancarai seorang tokoh masyarakat (teuku) yang tinggal di pelosok wilayah Singkil. Ia memimpin pondok pesantren yang sangat sederhana, yang di Aceh biasa disebut dayah.

Ketika masuk ke ruang tamu tokoh itu, saya melihat deretan buku di rak kaca rumah tersebut. Pandangan saya tertuju pada deretan majalah kusam yang tertata rapi di rak buku itu. Setelah saya perhatikan dengan jelas, diantara majalah-majalah itu terselip beberapa edisi Majalah Al-Muslimun. Saya tertegun, dari mana ia mendapatkan majalah Al-Muslimun? Apalagi ia tinggal di pedalaman. “Saya berlangganan Majalah Al-Muslimun dengan membelinya dari agen majalah di Medan,” jawabnya ketika saya bertanya tentang dari mana ia dapat majalah tersebut.

Teuku itu kemudian becerita, bahwa setiap bulan, jika jadwal terbit Al-Muslimun tiba, ia berangkat ke Medan untuk membeli majalah tersebut. Luar biasa. Singkil-Medan bukanlah jarak yang pendek. Demi untuk mendapatkan sebuah majalah yang menarik minat bacanya, ia rela menempuh perjalanan jauh, turun ke kota untuk membelinya. Saya berpikir, betapa hebatnya daya jangkau dan magnet dari majalah ini untuk menarik minat pembacanya.

Cerita itu hanya sebagian kecil dari kisah-kisah lain dimana saya banyak menemukan majalah Al-Muslimun terpampang dalam rak-rak buku di perpustakaan-perpustakaan pribadi dan umum. Banyak para tokoh; ustadz, kyai, ulama, aktivis, bahkan pejabat yang menjadi pembaca setia Majalah Al-Muslimun. Dengan tagline “Majalah Hukum dan Pengetahuan Agama Islam” dan kutipan ayat Al-Qur’an “wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun”, Al-Muslimun mampu menggaet ketertarikan pembaca sampai ke pelosok-pelosok di Nusantara. Bahkan di beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, Australia, Amerika, dan lain-lain juga terdapat banyak pembaca setianya.

Al-Muslimun didirikan di kota kecil, Bangil, Jawa Timur, pada 1 April 1954. Pendirinya adalah Allahyarham Abdullah Musa, sosok yang mempunyai kepedulian terhadap media massa Islam. Al-Muslimun dilahirkan dari tempat yang sederhana, namun dengan membawa ide-ide yang besar. “Begitulah gambarannya “Al-MUSLIMUN” kita ini. Dia diterbitkan di kota Bangil, disebuat straat kecil jalan Pandean lima nol tiga (503, red.),” demikian tulis majalah ini ketika memperingati 29 Tahun Al-Muslimun. “Namun dari tempat yang tidak terkenal itu, Al-Muslimun dapat masuk ke seluruh pelosok, bahkan dapat menjadi teman akrab di gedung-gedung bertingkat, bukan saja di dalam negeri, bahkan sampai menerobos negara luar,” tulis redaksi dalam mengenang 29 tahun majalah ini pada 1982.

a-qadir-hassan-coverKarena didirikan di Bangil, yang mana di kota berdiri Pesantren Persatuan Islam (Persis) yang didirikan oleh Ustadz A. Hassan, juga disebabkan banyaknya asatidz dari Persis Bangil yang mengisi rubrik di majalah tersebut, maka keberadaan majalah Al-Muslimun seringkali diidentikkan dengan Pesantren Persis Bangil. Karena itu, banyak dari pembaca di berbagai pelosok Nusantara; Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sumatera, dan sebagainya yang kemudian mengirimkan anaknya untuk menimba ilmu di Pesantren Persis Bangil. Sehingga keberadaan Majalah Al-Muslimun ini menjadi wasilah para orang tua murid untuk menyekolahkan anaknya ke sana.

Al Muslimun

Bisa dibilang, pada era tahun 60-an sampai tahun 80-an, Al-Muslimun menjadi bacaan para dai, aktivis, dan intelektual Islam. Kalangan menengah Islam yang terpelajar hampir bisa dikatakan tak ada yang tak mengenal majalah ini. Mereka banyak yang berlangganan atau sekadar tahu namanya. Begitu luasnya jangkauan majalah ini, bahkan kabarnya tokoh sekelas Jenderal Besar Abdul Haris (A.H) Nasution pun menjadi pembaca setianya.

Tak mengherankan jika pada Majalah Al-Muslimun di era tahun 60 sampai 80-an, banyak bertebaran artikel-artikel yang ditulis oleh para tokoh nasional dan intelektual Muslim. Diantara tokoh-tokoh dari beragam organisasi dan gerakan Islam yang pernah menulis dan mengirimkan tulisan di majalah ini adalah; Mohammad Natsir, KH. Mohammad Isa Anshari, Prof.T.Hasbi Ash-Shiddiqie, KH.Rusyad Nurdin, Prof. H.M Rasjidi, Prof. Yusril Ihza Mahendra, Dr. Rifyal Ka’bah, Drs. Ridwan Saidi, Dr.Kuntowijoyo, Ajip Rosidi, Drs. Mohammad Thalib, Prof. Didin Hafiduddin, Prof. A.M Saefuddin, Prof. Syafi’I Ma’arif, Prof. Amien Rais, Dr. Haedar Nasir, H.M Amin Djamaluddin, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Ja’far Umar Thalib, dan banyak lagi.

Diantara rubrik yang paling menjadi perhatian pembaca, bahkan sampai berlanjut pada polemik antar pembaca dan penulis atau pembaca dengan pembaca, adalah rubrik yang terkait dengan tanya jawab tentang hukum Islam. Rubrik tanya jawab hukum Islam tersebut, dari masa ke masa memiliki nama yang berbeda-beda, yaitu: Soal Jawab (Diasuh oleh Ust. A. Hassan, dkk), Kata Berjawab (Diasuh oleh Ust. Abdul Qadir Hassan, dkk), Nadwah Mudzakarah, dan Gayung Bersambut. Untuk nama rubrik kedua terakhir, diasuh oleh generasi selanjutnya, diantaranya Ust. Ghazie Abdul Qadir Hassan.

Selain rubrik tanya jawab hukum Islam, beberapa rubrik lainnya juga sangat digemari pembaca, diantaranya; Laisa Minal Islam (rubrik yang membahas tentang ajaran-ajaran di luar Islam, yang terkadang diamalkan oleh umat Islam), Mimbar Pendapat (tulisan dari pembaca yang berisi polemik dengan penulis atau dengan sesama pembaca), Hadits-hadits Lemah dan Palsu (berisi kumpulan hadits-hadits lemah dan palsu), Tafsir Ahkam, dan Fiqh Lughah.

Salah satu rubrik dalam Majalah Al-Muslimun

Ciri dari tulisan yang ada di Majalah Al-Muslimun dikenal kritis dan tajam, dengan argumentasi-argumentasi yang diajukan. Tak jarang tulisan yang ada di majalah ini menuai pro-kontra di masyarakat, sehingga mengundang polemik secara terbuka. Namun, pro-kontra yang terjadi diselesaikan dengan cara-cara ilmiah tanpa kekerasan. Bukan dengan cara adu kekuatan atau mengirimkan massa untuk menduduki kantor redaksi.

Majalah Al-Muslimun tahun 2015

Sebagai majalah Islam, Al-Muslimun juga tampil sebagai media yang membela kepentingan-kepentingan Islam. Lewat beberapa editorial atau tajuk rencana yang mencerminkan sikap resmi redaksi, Al-Muslimun seringkali mengeritik secara tajam kelompok-kelompok yang berusaha memusuhi Islam dan merusak ajaran Islam, seperti; Kristen radikal, Komunis, sekularis, dan kaum abangan dan kebatinan.

Kini di tahun 2016, keberadaan Majalah Al-Muslimun memasuki usia lebih dari setengah abad: 62 tahun! Generasi selanjutnya yang kebanyakan kaum muda berusaha terus untuk menampilkan kembali dakwah bil qalam yang cerdas dan kritis, sebagaimana yang sudah dirintis para pendahulunya. Usaha untuk tetap mempertahankan majalah ini tidaklah mudah, apalagi di era digital saat ini. Namun, jika tekad dan semangat masih tetap ada, usaha-usaha yang dilakukan untuk membangkitkan kembali kejayaan majalah ini tak akan pernah sia-sia. (Artawijaya)