Persaudaraan dalam Tali Iman


Debat A Hasan

Suatu ketika, sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhu, di hadapan para sahabatnya Rasulullah SAW mengatakan,”Sungguh di antara manusia pada hari Kiamat kelak, ada sekelompok orang yang bukan golongan para Nabi dan bukan pula syuhada, namun para Nabi dan syuhada iri akan kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat tertegun, lalu bertanya pada beliau,”Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah dan tidak saling mewariskan. Demi Allah, sungguh wajah-wajah mereka bercahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasakan takut, pada saat semua orang merasakan ketakutan, dan tidak merasakan sedih pada saat semua orang merasakan kesedihan.” (HR. Abu Dawud)

Mencintai karena Allah. Itulah kuncinya. Itulah syarat untuk mendapatkan cahaya kelak di hari Kiamat. Itulah persaudaraan dan persahabatan yang hakiki. Persahabatan yang diikat bukan dengan uang dan kepentingan duniawi. Persahabatan yang dilandasi dengan buhul ketauhidan, iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Asas iman inilah yang melahirkan energi yang kuat untuk saling mencintai. Meskipun ruang dan jarak berjauhan. Meskipun berbeda suku bangsa dan negara. Inilah cinta dalam persaudaraan yang tidak bisa disekat oleh batas.“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (Al-Hujurat:10)

Diantara upaya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam membangun kesatuan dan kekuatan umat setelah hijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah), adalah dengan mengikatkan tali persaudaraan (ta`akha) antara kaum Muhajirin dan Anshar. Rasulullah memahami, dalam setiap komunitas dan pergaulan, masing-masing tentu mempunyai ambisi, keinginan, dan hasrat alami (naluriah), yang jika tidak diikat dengan tali persaudaraan (ukhuwah) maka akan terjadi gesekan kepentingan (conflict of interest).

Sebagai sekumpulan manusia, bukan malaikat, baik kalangan Muhajirin atau Anshar, tentu memiliki keinginan dan ambisi masing-masing. Bisa jadi satu kelompok merasa paling berjasa dari kelompok lain, atau merasa paling berperan dalam perjuangan dakwah bersama Rasulullah SAW. Itu wajar dan manusiawi. Namun, jika potensi konflik itu tidak bisa diredam, maka akan menimbulkan gejolak dan permusuhan. Di sinilah Rasulullah berperan dalam memberikan tarbiyah, bahwa di atas segala kepentingan itu, ada keimanan yang mengikat kita. Keimanan itulah yang melahirkan rasa aman, rasa saling menyayangi, rasa saling menanggung amanah dakwah, dan seterusnya.

Ikatan Persaudaraan dalam tali keimanan inilah yang menghapus sekat-sekat primordialisme, fanatisme kelompok, egoisme pribadi, dan sebagainya. Ikatan inilah yang kemudian dikuatkan dengan sabda Rasulullah bahwa tidak ada bedanya antara orang Arab dan orang ‘Ajam (non Arab), sesungguhnya yang membedakan mereka adalah ketakwaannya.

Karenanya, sebagai wujud dari saling cinta, Rasulullah mengingatkan, bahwa jiwa seorang muslim, harta seorang muslim, kepribadian seorang muslim, haram untuk ditumpahkan, dirampas, dan dibunuh karakternya. Dalam hadits lain, Rasulullah menegaskan,“Tidak beriman seorang di antara kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapapun mungkin kita saling berbeda pandangan, berbeda dalam menyikapi persoalan, apalagi berbeda dalam urusan furu’ (cabang) bukan ushul (pokok), maka ikatan keimanan tak boleh putus. Kecintaan kita kepada sesama muslim, selain wujud dari keimanan kita, adalah upaya menjaga loyalitas dan kerahiman kita sebagaimana yang diamanatkan oleh Al-Qur’an Al-Karim. “Muhammad itu utusan Allah; dan orang-orang yang bersamanya itu tegas terhadap kaum kafir dan berkasih sayang terhadap sesama muslim” (Al-Fath:29).

Soekarno pernah berpolemik hebat dengan A. Hassan, guru dari Persatuan Islam (Persis). Pena yang mereka torehkan seperti peluru yang saling menerjang. Namun, ketika Soekarno ditahan di Penjara Sukamiskin, Bandung, A. Hassan lah diantara orang yang pertama kali datang dan membesuk. Membawa sekaleng kacang mete kesukaan Soekarno. Begitupun, ketika A. Hassan sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di Jawa Timur, tanpa sepengetahuannya, Soekarno lah yang memberikan biaya perawatan di rumah sakit tersebut.

Sungguh persahabatan yang indah, meskipun keduanya memiliki pandangan yang berbeda. Cahaya keimanan yang mengikat persaudaraan tak boleh dipadamkan hanya karena berbeda pandangan. Ada iman yang menjadi perekat. Ada hak dan kewajiban sesama muslim yang saling melekat. Untuk mengokohkan tali persahabatan dan persaudaraan, Rasulullah pernah menyuruh Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu untuk menyatakan kepada sahabat yang dicintainya dengan ungkapan, “Ana uhibbukum fillah…(Aku mencintaimu karena Allah)”  ~Artawijaya~