HALAL BI HALAL SUNNAH ATAU BID’AH?


Dian Hardiana

Oleh : Dian Hardiana

Pendahuluan

                Manusia adalah makhluq mukallaf yang sejatinya sudah mengemban amanah untuk melaksanakan keta’atan kepada Allah sebagai tujuan dari penciptaan dirinya sebagaimana yang termaktub dalam qur’an surat Ad-Dzariyat:56. Maka sebagai makhluq mukallaf, sudah seyogyanya manusia harus mau mengikuti apa yang diperintah Tuhannya, atau meninggalkan apa yang dilarang oleh Tuhannya.

                Dalam istilah fiqh, keberadaan hukum yang mengikat manusia sebagai makhluq mukallaf  paling tidak terbagi menjadi tiga, ya’ni yang dituntut pelaksanaannya dimana nanti akan menjadi bentuk wajib atau sunnah, atau apa yang dituntut untuk ditinggalkan dimana hal tersebut akan berwujud haram atau makruh, dan apa yang tidak dituntut untuk dilaksanakan juga tidak dilarang untuk dilaksanakan, maka inilah yang namanya mubah-Al-‘Itisham:25-.

                Nabi s.a.w telah melakukan klasifikasi terhadap segala perbuatan manusia menjadi dua bentuk, yaitu perkara dunia dan perkara agama. Maka semua yang berkaitan dengan perkara dunia nabi memberi kebebasan dalam mengekspresikannya sebagaimana haditsnya: “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian”-HR.Muslim-, tapi kalau dalam urusan agama nabi sangat membatasi bahkan tidak memberi ruang kepada manusia untuk bebas berekspresi sebagaimana sabdanya: “Dan jika yang berkaitan dengan agama kalian,maka kembalikanlah kepadaku”-HR.Muslim-, dalam hadits lain nabi mengatakan: “Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada padanya perintah dari kami, maka perbuatan itu tertolak”.-Mutaffaq’Alaih-

                ‘Idul Fithri adalah perayaan umat islam setelah shaum Ramadhan sebulan penuh yang dalam pelaksanaannya ditetapkan oleh syari’at, bahkan didefinisikan sendiri maknanya oleh nabi sebagaimana hadits yang diriwayatkan tirmidzi: “Sungguh Allah telah merubah kedua hari yang biasa padanya orang-orang madinah pada masa jahiliyyah berhari raya dan bergembira ria dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari adlha dan hari fithri”. Maka tidak heran jika dalam ‘idul fithri nabi mencontohkan sendiri amalan waktu ‘id seperti mandi dan memakai wangi-wangian,  memulai dengan makan sebelum kelapang, shalat ‘id dilanjutkan dengan khutbah, kemudian amalan lainnya seperti pulang dari arah yang berbeda atau amalan sahabat dalam mengucapkan tahniyyah ‘idul fithri yaitu taqabbalallahu minna waminkum.

                Dewasa ini di Indonesia, ‘Idul fithri bukan sekedar perayaan rutinan setelah ramadhan saja, tetapi dimaknai dan bahkan difahami oleh kebanyakan orang sebagai waktu untuk saling memaaf-maafkan dan saling berjabat tangan guna saling membebaskan kesalahan masing-masing agar kembali kepada fihtrah (kesucian)[1]. Kemudian dari pemahaman tersebut melahirkan tradisi yang mengakar dalam masyarakat Indonesia untuk melakukan acara ziarah ke makam untuk meminta maaf kepada yang sudah meninggal (nadran), atau mengadakan acara halal-bihalal sebagai media untuk mengumpulkan orang dan sebagai efektifitas waktu dalam melakukan acara saling memaafkan dan bersalaman, sebagaimana definisi kamus bahasa Indonesia (Em Zul Fajri:344) dikatakan bahwa: “halal-bihalal merupakan kata benda bermakna hal maaf memaafkan setelah menyelesaikan ibadah puasa ramadhan, dalam acara halal bihalal nanti akan diisi dengan ceramah agama.

Menurut Rizqon Khamami[2] mengutip ungkapan Dr. Quraish Shihab, bahwa halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Lanjut beliau, meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, sejauh yang saya ketahui, masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. Halal-bihalal merupakan tradisi khas dan unik bangsa ini. Menurut Ustadz Anas Burhanuddin MA[3] mengutip pendapat Iwan Ridwan yang menyebutkan bahwa halal bihalal adalah suatu tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal. Umumnya kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan shalat Idul Fitri. Kadang-kadang, acara halal bihalal juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fitri dalam bentuk pengajian, ramah tamah atau makan bersama. Menurut beliau[4], Konon, tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 April 1725), yang terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sambernyawa’. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.

Pembahasan

Maaf-memaafkan adalah ibadah

                Manusia adalah makhluq yang memiliki potensi untuk berbuat salah sebagaimana sabda nabi yang disimpan oleh Imam Al-Maraghi untuk menafsirkan firman Allah Ta’ala dalam QS.Al-Baqarah:285[5]:

ورد فى السنة قوله صلى الله عليه وسلم «وضع الله عن هذه الأمة ثلاثا: الخطأ والنسيان والأمر يكرهون عليه» رواه ابن ماجهورد فى السنة قوله صلى الله عليه وسلم «وضع الله عن هذه الأمة ثلاثا: الخطأ والنسيان والأمر يكرهون عليه» رواه ابن ماجه.

Terdapat keterangan dalam sunnah tentang sabda nabi s.a.w: “Allah telah meletakkan dari umat ini tiga hal, yaitu kesalahan, lupa, dan perkara yang mereka tidak suka”.-HR.Ibnu Majah-

                Maka berdasarkan keterangan diatas, sudah seyogyanya manusia menyadari potensi diri yang memiliki dua kemungkinan sekaligus yaitu kemungkinan berbuat salah dan kemungkinan lupa, untuk senantiasa meminta ampun kepada Allah dalam shalat maupun diluar shalat terlebih ketika manusia berbuat kesalahan sebagaimana firman-Nya dalam QS.Ali Imran:134-135, bahkan diterangkan bahwa rasulullah dalam satu hari meminta ampun kepada Allah (istighfar) lebih dari 70 kali. Akan tetapi jika kesalahan itu dilakukan sesama manusia, maka seorang mu’min tidak cukup meminta ampun kepada Allah saja, melainkan dia harus meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang terdzhalimi oleh perbuatannya, sebagaimana sabdanya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( من كانت له مظلمة لأحد من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه ) –رواه البخاري-

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari)

                Maka dari keterangan diatas jelaslah bahwa maaf atau memaafkan merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu, jika maaf memaafkan akan ditetapkan dalam moment tertentu, maka harus ada dalil yang mengkhususkannya atau yang memalingkannya bahwa maaf memaafkan bisa dilakukan meski tanpa ada sebab. Perbedaan antara bid’ah dan sunnah adalah bahwa bid’ah menetapkan dan melaksanakan perkara baru tanpa adanya keterangan dan contoh dari nabi dan terkadang bertentangan dan menghapus sunnah nabi dan para sahabat seperti maaf memaafkan diwaktu ‘Id, sebab orang yang meminta maaf keumumannya tidak mengucapkan do’a yang dicontohkan para sahabat. Sementara sunnah adalah melaksanakan sesuatu disertai adanya perintah dan contoh dari nabi.

Berjabat tangan adalah ‘ibadah bahkan sunnah nabi

                Berjabat tangan merupakan amalan sahabat, juga sunnah yang dilakukan nabi ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya sebagaimana hadits:

عن قتادة قال قلت لأنس: أكانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم ؟ قال نعم.-رواه البخاري-

Dari Qatadah dia berkata,  aku bertanya kepada Anas : Apakah  Berjabat tangan pernah terjadi pada masa para sahabat nabi s.a.w. ? Anas menjawab iya. (HR.Bukhari)

عبد الله بن هشام قال: كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم وهو آخذ بيد عمر بن الخطاب-رواه البخاري,كتاب الإستأذان,باب المصافحة-

Berkata ‘Abdullah bin Hisyam : Kami bersama nabi saw dan beliau memegang tangan (berjabaat tangan) umar bin khatab, (HR.Bukhari  kitab istadzin bab jabat tangan)

 

Berjabat tangan dapat menghapuskan dosa dan kesalahan sebagaimana sabdanya:

عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاَ-رواه أبو داود:5212,والترمذي:2727,وقال الألباني:صحيح-

Dari al-Bara’ (bin ‘Azib) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah diampuni sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani)

                Dan perlu diketahui bahwa berjabat tangan atau musafahah itu tidak sekedar ketika bertemu saja, malah nabi dan para sahabatnya melakukan itu pada saat pelaksanaan ba’iat meski bukan sebuah syarat, sebagaimana keterangan dibawah ini:

( فَصْلٌ ) وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ يُرِيدُ لَا أُبَاشِرُ أَيْدِيَهُنَّ بِيَدِي يُرِيدُ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ – الِاجْتِنَابَ وَذَلِكَ أَنَّ مِنْ حُكْمِ مُبَايَعَةِ الرِّجَالِ الْمُصَافَحَةَ فَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ فِي مُبَايَعَةِ النِّسَاءِ لِمَا فِيهِ مِنْ مُبَاشَرَتِهِنَّ وَلَيْسَ ذَلِكَ بِشَرْطٍ فِي صِحَّةِ الْمُبَايَعَةِ ؛ لِأَنَّهَا عَقْدٌ فَإِنَّمَا يَنْعَقِدُ بِالْقَوْلِ كَسَائِرِ الْعُقُودِ وَلِذَلِكَ صَحَّتْ مُبَايَعَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ لِعَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ بِالْمُكَاتَبَةِ دُونَ الْمُصَافَحَةِ.-منتقى شرح موطأ, المكتبة الشاملة:4/442-

(pembahasan)  mengenai sabda nabi saw “sesungguhnya aku tidak  berjabat tangan dengan wanita”,  maksud beliau “Aku tidak berjabat tangan secara langsung dengan mereka”. Beliau bermaksud – wallahu a’lam- menjahui, dan itu karena diantara yang  termasuk hukum bai’at kaum laki-laki adalah bejabat tangan. Kemudian hal itu dilarang pada bai’at wanita karena apa yang padanya terdapat mubasyarah (jabat tangan secara langsung), dan itu bukanlah syarat sahnya bai’at; karenanya bai’at itu aqad, sehingga apa yang di’akadi dengan perkataan seperti semua ‘akad. Oleh karena itu sah bai’at Abdullah bin umar terhadap abdul malik bin marwan dengan surat menyurat tanpa adanya musafahah – Muntaqa Syarah Muwattha’, maktabah as-syamilah; 4/ 442

اعلم أن السنة أن تكون بيعة الرجال بالمصافحة والسنة في المصافحة أن تكون باليد اليمنى فقد روى مسلم في صحيحه عن عمرو بن العاص قال أتيت النبي صلى الله عليه و سلم فقلت أبسط يمينك فلأبايعك فبسط يمينه الحديث.-تحفة الأحوذي,المكتبة الشاملة:5/183-

Ketahuilah bahwasanya sunnahnya itu, hendaklah bai’at laki-laki dengan berjabat tangan dan sunnah pada berjabat tangan hendaklah dengan tangan kanan. Sungguh telah diriwayatkan muslim pada kitab shahihnya dari Amr bin Ash berkata: Aku mendatangi nabi saw lalu aku berkata: Rentangkanlah tangan kananmu sebab aku akan berbai’at kepadamu. Kemudian nabi menjulurkan tangan kanannya. Al-hadits.-tuhfatul ahwazi, makhtabah syamilah 5/ 183-

Komentar para ulama seputar musafahah

قوله ( قلت لأنس بن مالك هل كانت المصافحة في أصحاب رسول الله قال نعم ) فيه مشروعية المصافحة قال بن بطال المصافحة حسنة عند عامة العلماء وقد استحبها مالك بعد كراهته. وقال النووي المصافحة سنة مجمع عليها عند التلاقي. تنبيه قال النووي في الأذكار اعلم أن هذه المصافحة مستحبة عند كل لقاء وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر فلا أصل له في الشرع على هذا الوجه ولكن لا بأس به فإن أصل المصافحة سنة وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال وفرطوا فيها في كثير من الأحوال أو أكثرها لا يخرج ذلك البعض عن كونه من المصافحة التي ورد الشرع بأصلها.وقد ذكر الامام أبو محمد بن عبد السلام أن البدع على خمسة أقسام واجبة ومحرمة ومكروهة ومستحبة ومباحة قال ومن أمثلة البدع المباحة المصافحة عقب الصبح والعصر انتهى

(maksud) Perkataannya: (Aku berkata kepada anas bin malik apakah bersalaman terjadi pada masa sahabat rasulullah? Aku berkata” ya” ) pada hadits itu terdapat syari’at bersalaman. Berkata Ibnu Baththal: Bersalaman itu baik menurut keumuman para ulama dan sungguh malik telah menyunnahkan bersalaman itu setelah dia memakruhkannya. Berkata imam an-nawawi: Bersalaman itu sunnah yang disepakati atasnya ketika bertemu. Perhatian: Berkata imam An-Nawawi didalam Al-Adzkar: Ketahuilah bahwa berjabat tangan ini adalah sunnah  pada setiap bertemu. Adapun apa yang dilakukan orang-orang seperti bersalamaan setelah shalat subuh dan ashar, tidak ada dasarnya menurut syara’ dalam aspek ini, akan tetapi tidak apa-apa, karena asal dari bersalaman itu adalah sunnah, sedangkan mereka memelihara bersalaman dalam sebagian keadaan dan mereka menyalah gunakannya dalam setiap keadaan atau kebanyakannya. Dan sebagiannya tidak akan keluar dari kedudukannya termasuk musafahah yang ditetapkan syara’ secara asli. Sungguh Imam Abu Muhammad bin ‘Abdus Salam telah menyebutkan bid’ah itu ada lima, yaitu wajib, haram, makruh, sunnah dan mubah. Nawawi berkata: Dan diantara bentuk-bentuk bid’ah yang mubah adalah bersalaman setelah subuh dan ashar,selesai.

 قال الحافظ بعد ذكر كلام النووي هذا ما لفظه وللنظر فيه مجال فإن أصل صلاة النافلة سنة مرغب فيها ومع ذلك فقد كره المحققون تخصيص وقت بها دون وقت ومنهم من أطلق مثل ذلك كصلاة الرغائب التي لا أصل لها انتهى. وقال القارىء بعد ذكر كلام النووي ولا يخفى أن في كلام الامام نوع تناقض لأن إتيان السنة في بعض الأوقات لا يسمى بدعة مع أن عمل الناس في الوقتين المذكورين ليس على وجه الاستحباب المشروع فإن محل المصافحة المشروعة أول الملاقاة وقد يكون جماعة يتلاقون من غير مصافحة ويتصاحبون بالكلام ومذاكرة العلم وغير مدة مديدة ثم إذا صلوا يتصافحون فأين هذا من السنة المشروعة ولهذا صرح بعض علمائنا بأنها مكروهة حينئذ وأنها من البدع المذمومة انتهى

Berkata Al-Hafidz setelah menyebutkan perkataan Nawawi: ini adalah apa yang beliau ungkapkan dan untuk melihatnya ada beberapa aspek, sebab sesungguhnya asal shalat sunnah itu adalah sunnah yang dicintai, dan oleh sebab itu para ahli tahqiq tidak menyukai pengkhususan waktu musafahah bukan pada waktunya. Dan diantara mereka ada yang memutlakan yang seperti itu, seperti shalat raghaib (shalat pengharapan) yang tidak ada dalilnya, selesai. Berkata Al-Qari setelah menyebutkan pendapat Nawawi: Jelas sekali bahwa dalam pendapat Imam Nawawi terdapat bagian yang diperdebatkan, karena sesungguhnya mengkhususkan sunnah dalam sebagian waktu tidak dikatakan bid’ah padahal amalan orang-orang pada dua waktu yang disebutkan tidak menurut aspek sunnah yang disyari’atkan, karena tempat musafahah yang disyari’atkan adalah awal pertemuan, sedangkan kadang-kadang sekelompok orang saling bertemu tanpa bermusafahah dan mereka saling akrab dalam pembicaraan dan kajian keilmuan dan seterusnya. Kemudian jika mereka shalat, lalu ini (musafahah) ditegaskan sebagai sunnah yang disyari’atkan, oleh sebab itu sebagian ulama kami menegaskan bahwa musafahah (setelah shalat) tercela pada saat tersebut, dan bahwasanya dia itu termasuk bid’ah yang tercela, selesai.

 قلت الأمر كما قال القارىء والحافظ. وقال صاحب عون المعبود وتقسيم البدع إلى خمسة أقسام كما ذهب إليه بن عبد السلام وتبعه النووي أنكر عليه جماعة من العلماء المحققين ومن آخرهم شيخنا القاضي العلامة بشير الدين القنوجي فإنه رد عليه ردا بليغا قال وكذا المصافحة والمعانقة بعد صلاة العيدين من البدع المذمومة المخالفة للشرع انتهى. قلت وقد أنكر القاضي الشوكاني أيضا على تقسيم البدعة إلى الأقسام الخمسة في نيل الأوطار في باب الصلاة في ثوب الحرير والقصب وأنكر عليه أيضا صاحب الدين الخالص ورده بستة وجوه.-تحفة الأحوذي,المكتبة الشاملة:7/426 ,فتح الباري:11/55-

Aku mengatakan: Urusan (musafahah) itu seperti yang dikatakan Al-Qari dan Al-Hafidz. Berkata pengarang ‘Aun Al-Ma’bud: dan pembagian bid’ah menjadi 5 bagian sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Abdus Salam dan diikuti Nawawi telah diingkari oleh jama’ah ‘Ulama ahli tahqiq, dan diantara yang paling akhir dari mereka adalah Syaikh kami Al-Qadlhi Al-‘Allamah Basyirud Din Al-Qanuji, sesungguhnya dia menolak dengan penolakan yang fasih, dia berkata: Begitupula Musafahah dan berpelukan setelah shalat dua ‘Id (‘Idul Adlha dan ‘Idul Fithri) termasuk bid’ah yang tercela yang menyelisihi Syara’, selesai. Aku berkata: Sungguh Al-Qadlhi As-Syaukani juga telah mengingkari pembagian bid’ah menjadi 5 bagian dalam Nailul Authar pada bab As-Shalatu fi Tsaubil harir wal qashabi, dan diingkari juga (pembagian bid’ah menjadi 5) oleh Shahibud Din Al-Khalis, dan beliau membantahnya dengan 6 aspek.-Tuhfatul Ahwadzi, Al-Maktabah As-Syamilah:7/426, Fathul Bari:11/55-

Kesimpulan

                Berdasarkan semua keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa halal bihalal yang menjadiu media dan didalamnya mengharuskan bermaaf-maafan dan bersalam-salaman sangat bermasalah baik dari segi istilah maupun inti keberadaan halal bihalal itu sendiri dan bahkan merupakan perbuatan mengada-ada dalam agama atau perbuatan bid’ah. Maka bagi kita yang takut akan ancaman dari rasulullah bahwa “Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama apa yang tidak ada dalilnya dari kami, maka hal itu tertolak”-HR.Muslim-, bahkan dalam redaksi lain rasul mengusir kaum muslimin yang mengada-ada suatu perbuatan dalam agama dengan bahasa “innaka laa tadri maa ahdatsu ba’daka ”(sesungguhnya kamu tidak tau apa yang mereka ada-adakan setelah kamu tiada) lalu nabi mengusir mereka dari telaga.-HR.Bukhari-

Dan perlu kita ketahui bahwa apapun yang dipandang baik apalagi dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari ‘adzabnya pasti telah ditetapkan oleh Allah dan dicontohkan oleh nabi dan para sahabat sebab telah sempurnanya islam sebagaimana dalam QS.Al-Maidah:4, maka apapun yang tidak dilakukan nabi dan para sahabat dalam urusan agama janganlah kita mengira itu baik apalagi sunnah, dan apapun yang dilakukan nabi dan para sahabat sekalipun tidak cocok dengan keinginan kita maka janganlah kita mengatakan tidak baik apalagi meninggalkannya, sebab mereka adalah generasi terbaik yang pernah dilahirkan sebagaimana firman Allah dalam QS.Ali Imran:110 yang ditafsirkan Ibnu Katsir dengan hadits: “Sebaik-baik zaman adalah zamanku (nabi), kemudian seterusnya, kemudian selanjutnya”.-HR.Bukhari-

Maka marilah kita tempatkan dan maknai ‘Idul ithri seperti nabi dan para sahabat memaknainya sebagaimana keterangan-keterangan dibawah ini:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ». قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ ».-رواه أبو داود وأحمد قال الألباني:صحيح-

Dari Anas dia berkata: Rasulullah s.a.w. datang ke Madinah, sedangkan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain pada hari itu, kemudian nabi s.a.w. bersabda: Hari apa ini? Mereka menjawab: Kami suka bermain-main pada dua hari itu sewaktu jahiliyyah. Lalu rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikan buat kalian dua hari yang lebih baik dari pada keduanya, yaitu hari Adlha dan hari Fithri.-HR.Abu Daud dan Ahmad. Berkata Al-Bani:Shahih-

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ مَا مِنْ شَيْءٍ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا وَقَدْ رَأَيْتُهُ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَلَّسُ لَهُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَالَ جَابِرٌ هُوَ اللَّعِبُ.-رواه أحمد-

Dari Qais bin Sa’id bin ‘Ubadah dia berkata: Tidak ada sesuatupun yang terjadi pada masa rasulullah kecuali aku telah melihatnya, kecuali ada satu saja (yang baru kuketahui), bahwa rasulullah s.a.w. dipukulkan rebana sambil bernyanyi untuknya pada hari ‘Idul Fithri. Jabir berkata: dia itu adalah permainan.-HR.Ahmad-

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِى أَيَّامِ مِنًى تُغَنِّيَانِ وَتَضْرِبَانِ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُسَجًّى بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْهُ وَقَالَ « دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ ». وَقَالَتْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتُرُنِى بِرِدَائِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ وَهُمْ يَلْعَبُونَ.-رواه مسلم باب الرخصة في اللعب الذي لا معصية فيه في أيام العيد-

باب الرُّخْصَةِ فِى اللَّعِبِ الَّذِى لاَ مَعْصِيَةَ فِيهِ فِى أَيَّامِ الْعِي

Dari ‘Aisyah bahwa Abu Bakar datang kepadanya, sedangkan bersamanya ada dua pelayan perempuan pada har-hari Mina (hari raya) dan mereka berdua bernyanyi dan memukul rebana sedangkan rasulullah s.a.w. santai saja. Kemudian Abu Bakar membentak keduanya, lalu rasulullah mencegahnya dan berkata kepadanya: Tinggalkan keduanya wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari-hari ‘Id. ‘Aisyah berkata: Aku melihat rasulullah s.a.w. menutupiku dengan pakaiannya ketika aku melihat orang habsyi bermain-main.-HR.Muslim, Bab Rukhsah dalam permainan yang tidak ada padanya kemaksiatan pada hari-hari raya-

عَنْ أَبِى عُبَيْدٍ قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ أَمَّا يَوْمُ الأَضْحَى فَتَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمِ نُسُكِكُمْ وَأَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ.-رواه أبو داود وابن ماجة والتروذي والبخاري وأحمد,وقال الألباني:صحيح-

Dari ‘Abu ‘Ubaid dia berkata: Aku menghadiri ‘Id bersama ‘Umar, kemudian beliau memulai shalat sebelum khutbah, kemudian berkata: Sesungguhnya rasulullah s.a.w. melarang shaum di duahari ini. Adapun hari Adlha adalah hari kalian makan daging sembelihan kalian, dan hari fithri adalah hari kalian makan-makan setelah kalian shaum ramadhan.-HR.Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Bukhari, dan Ahmad, berkata Al-Bani:Shahih-

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو « يَوْمُ الْفِطْرِ يَوْمُ الْجَوَائِزِ ».-رواه مسلم-

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr: Hari Fithri adalah hari hadiah (hari diperkenankannya segala hal kecuali kemaksiatan-Pen).-HR.Muslim-

Wallahu ‘Alam. (Penulis adalah Bidang Jam’iyyah PW. Pemuda Persis Jawa Barat)

 

Daftar Pustaka

  1. 1.       http://www.pesantrenvirtual.com
  2. 2.       http://muslim.or.id
  3. 3.       Tafsir Al-Maraghi, Al-Maktabah As-Syamilah.
  4. Muntaqa Syarah Muwattha, maktabah as-syamilah.
  5. Tuhfatul ahwazi, makhtabah syamilah.
  6. Fathul Bari, Al-Maktabah As-Syamilah.
  7. Kutubu As-Sittah Maktabah Syamilah.
  8. Al-‘Itisham Imam Asy-Syathibi, Dar Al-‘Aqidah-Kairo.2007 M.

[4] Ibid.

[5] Tafsir Al-Maraghi, Al-Maktabah As-Syamilah:5/120.

42 Balasan ke HALAL BI HALAL SUNNAH ATAU BID’AH?

  1. ibnu saad asro berkata:

    mas dian perlu mengkaji lagi banyak pendapat para ulama dan mendalami ilmu ushul fiqh

  2. abu almujahid berkata:

    Ibnu saad.isi makalah halal bihalal dimana salahnya?adakah ulama berpendapat beda?dimana bedanya?tinjauan ushul fiqh dari sudut mana?jangan menyalahkan tapi anda tidak punya kemampuan dan pengetahuan ttgnya!

    • ibnu saad asro berkata:

      saya tidak menyalahkan sampeyan mas, lihat komentar saya.
      dalam kesimpulan makalah, sampeyan kesusu ambil kesimpulan bid`ah.
      Padahal sampeyan harus tahu pembagian bid`ah, terus kedudukannya dalam mu`amalah itu bagaimana.ada urf (seperti yang disampaikan mas Abu Noval), maslahah mursalah, istihsan dll.
      Lihat juga Qs.51.55.
      Dengan demikian sampeyan nantinya tidak mudah mengatakan bid`ah
      Wallohu A`lam

  3. ABU NOVAL berkata:

    Harus ada kriteria yg jelas… Halal bi halal saya fikir merupakan adat atau urf yg baik. Benar Islam adalah agama yg sempurna dlm hal ibadah. Sekarang saya ingin bertanya apakah Bank Syariah juga Bid’ah, karena tidak ada jaman Rosul konsep pembiayaan, yg ada adalah semangat, roh tidak boleh ada Riba. Konsep Ijarah, musyarakah akan terus berkembang tetapi tetap berpedoman pada nilai-nilai ruh keadilan kedua belah pihak. Wallahu a’lamu bisshowab

    • abu almujahid berkata:

      Kelihatan mas Sa’ad ini malas baca yah…susah mas dapat ilmu kalau malas baca.ttg pembagian bid’ah mjd 5 sudah dibantah mas monggo dibaca makalahnya.ttg kesimpulan itu adalah resume penelitian dan fatwa ulama,hakikatnya mrk yg menyimpulkan.malah kata quraisy Sihab:”orang arab tidak akan memahami arti halal bihalal”.boro2 disebut sunnah atau bid’ah,istilahnya saja aneh!mas juga kelihatan tidak baca muqaddimah dgn seksama,buktinya masih terjebak antara urusan dunia dan ibadah.susah mas orang kalu malas baca!

      • abu almujahid berkata:

        Abu Noval:bank syari’ah sekalipun ‘urf tetap saja merujuk kpd dalil,contohnya spt ijarah yg mas sebutkan.halal bihalal yg intinya menyengaja salaman dan maafan dihariraya atau setelahnya jelas tidak merujuk kpd dalil dan bahkan divonis bid’ah tercela yg menyelisihi syara’ oleh para ulama!ngeri!

  4. ibnu saad asro berkata:

    Mas Almujahid juga terjebak masalah “istilah”. Halal bihalal walaupun tidak disebutkan dalam Quran dan Hadis, itu tetap saja merujuk kpd Qs. 64.14 dan semisalnya.
    Tidak semua yang tidak ada pada jaman Nabi itu dilarang apalagi dihukumi bid`ah dlolalah.
    Walaupun Quraisy Syihab mengatakan,:orang arab sendiri tidak memahami arti halal bi halal,
    namun beliau tidak mengatakan menyelisihi syara`
    Sebab itu termasuk istihsan (Ushul Fiqh)
    Wallahu a`lam

  5. Abu Almujahid berkata:

    mas Sa’ad. seandainya maksud surat 64.14 adalah tentang rujukan halal bihalal, maka tentu nabi dan para sahabatnya sudah pasti faham ayat itu dan mengamalkannya.akan tetapi halal bihalal terjadi bukan dimasa nabi dan para sahabat, bahkan hanya ada diindonesia,itupun pertama kali diadakan oleh pangeran samber nyawa,bukan oleh seorang ulama.saya kira anda jangan terlalu jauh membawa ayat qur’an laludipaksakan membenarkan keyakinan yang salah.Halal bihalal adalah bid’ah dolalah yg dilakukan umat indonesia,sebab dia telah mengkhususkan waktu bersalaman dan waktu bermaafan,dan bahkan menganggap bahwa salaman dan maafan adalah tradisi,dan ini adalah jenis kesesatan kedua.kenapa?mersalaman dan meminta maaf bukan tradisi!liat isi makalah diatas.

  6. Abu Almujahid berkata:

    IMAM SYAFI’I MENCELA PELAKU ISTIHSAN DAN BAHKAN BERLINDUNG DARINYA.SIMAKLAH!
    قالَ الإمامُ (الشَّافعيُّ) -رَحِمَه اللهُ-: “مَن استحسَنَ فَقد شَرَع” ! فأنتَ إذا استحسَنتَ حُكمًا مِن الأحكام دون استنادٍ إلى نَصٍّ مِن الكِتاب والسُّنَّة فَقَد نازَعتَ الله -سُبحانَه وتَعالَى- في التَّشريع، عياذًا باللهِ!- أرشيف ملتقى أهل التفسير:1/1281-

  7. Abu Almujahid berkata:

    IMAM SYAFI’I MENYATAKAN BAHWA PENDAPAT BERDASARKAN ISTIHSAN SESAT!SIMAKLAH!وفي رواية عن الشافعي أنه قال: القول بالاستحسان باطل.- إرشاد الفحول إلي تحقيق الحق من علم الأصول:2/182-

  8. Abu Almujahid berkata:

    MADZHAB SYAFI’I MENYATAKAN BAHWA YANG BERISTIHSAN TELAH KUFUR!SIMAKLAH!
    قال أَصْحَابُنَا وَمَنْ شَرَّعَ فَقَدْ كَفَرَ.- البحر المحيط في أصول الفقه:4/386-

  9. Abu Almujahid berkata:

    ISTIHSAN ADALAH PENDAPAT DALAM SYARI’AT SEMATA-MATA BERDASARKAN HAWA NAFSU DAN BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR’AN:”APAPUN YANG KALIAN PERSELISIHKAN MAKA KEPUTUSANNYA KEMBALI KEPADA ALLAH”
    وقال الشَّيْخُ الشِّيرَازِيُّ إنَّهُ الذي يَصِحُّ عنه وَإِلَيْهِ أَشَارَ الشَّافِعِيُّ بِقَوْلِهِ من اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ وَهَذَا مَرْدُودٌ لِأَنَّهُ قَوْلٌ في الشَّرِيعَةِ بِمُجَرَّدِ التَّشَهِّي وَمُخَالِفٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وما اخْتَلَفْتُمْ فيه من شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إلَى اللَّهِ.- البحر المحيط في أصول الفقه:4ظ392-

  10. Abu Almujahid berkata:

    IMAM SYAFI’I SANGAT KERAS MENENTANG ISTIHSAN DAN BAHKAN MEMBUAT KITAB KHUSUS UNTUKNYA!SIMAKLAH!
    وأنكر الإمام مالك حجية الاستحسان وكذلك فقد تشدد الشافعي في إنكار المسألة وقال من استحسن فقد شرع وصنف كتابا خاصا أسماه : إبطال الاستحسان.-شرح المعتمد:1/55-

  11. Abu Almujahid berkata:

    IMAM MALIK MENCELA ORNG YANG MENGANGGAP BAGUS PERBUATAN BID’AH!SIMAKLAH!
    وأثر عن الإمام مالك رحمه الله أنه قال: من ابتدع بدعة فزعم أنها حسنة فقد زعم أن محمد صلى الله عليه وسلم خان الرسالة، لأن الله تعالى يقول: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [المائدة: 3].- فتاوى الشبكة الإسلامية معدلة:6/797-

  12. ibnu saad asro berkata:

    Saya menghargai pendapat mas Mujahid. Tapi perlu diingat bahwa selain Imam Syafi` masih ada beberapa Imam yang menjadi rujukan ummat Islam termasuk di Indonesia.
    Mereka para Imam berijtihad, yang terkadang pendapat mereka itu berselisih bahkan sangat tajam. Itulah dinamika dan uniknya hukum Islam yang berlaku sepanjang jaman.
    Apalagi jaman sekarang,; pada jaman Nabi pun sudah ada perbedaan pendapat (kisah Khulafaurrosyidin beda pendapat tentang “HIN”). Dan juga sepeninggal Nabi, Abu Bakar dan Umar RA berbeda pendapat tentang penulisan Alquran jadi Mushaf.( Dan masih banyak lagi kisah tentang ketasamuhan para Imam).Tapi mereka saling menghormati,menghargai dan tidak saling mengkafirkan, karna tujuan mereka adalah mardlotillah.
    Maka dengan ini saya sepakat tidak sependapat dengan pendapat mas Mujahid.
    Semoga Allah menjaga hati kita sesuai yang diharapkan QS.59.10

  13. bambang sigit berkata:

    Sy bmbang sigit ingin cba berkomentar, menurut sy bid,ah ttp bid,ad dan tdk ada bid,ah hasanah alias kl baik mka yg bid,ah jdi halal. Cuma sy kok jdi ingin bersikap netral ya krn di lndonesia ini panganut lslamnya macam2 kayak bhineka tunggal ika gtu,jdi seenaknya sj tp para tokoh lslamnya sendiri jga byk yg melakukan bld,ah tsb dg alasan kl bid,ah hasanah yo ora opo2 mas,jdi ngapain kta ngotot ototan kl memang soalan ini tdk akan bs tuntas, menurutku mending kta itu sebagai ummat lslam rukun2 aj tanpa debat2 sep itu lah, krn sejak kita kecil smpe tua kok gitu2 aj, mungkin bhkan dri jaman baheula sdh gtu,oleh krn itu mari kta tenangkan diri msg2 sj lah yg penting rukun selalu,dp saling berpendpt yg dri dlu gitu2 aj utk apa, kan mubazir bkn.

  14. werdoyo berkata:

    Buat orang Indonesia halal bihalal merupakan amalan periodik tahunan.
    Orang berbondong-bondong melaksanakan safari mudik ke kampung halaman demi sebuah acara besar berjudul halal bihalal dengan handai taulan.
    Mereka hiruk pikuk berebut tiket dan bermacet-macet berlama-lama di tengah jalan.

    Di lain sisi, 1/3 bagian di akhir ramadhan, orang diberi harapan besar kelak di kemudian hari, apabila banyak melaksanakan amalan-amalan sunah.
    Sholat malam ditingkatkan kekhusyukannya. Semalaman di masjid mengingat yang maha Esa dalam kesenyapan.

    Kalau boleh memberi saran, halal bihalal dgn sanak saudara tidak dilaksanakan pada 1 syawal, tetapi pada tanggal 15 syawal, sehingga ramadhan senantiasa satu bulan penuh penghormatan tidak disibukkan urusan arus mudik.

  15. abasyiah berkata:

    Suatu tradisi dan budaya yang hasanah adah diperboleh dan di sunnahkan diantaranys mengeratkan tali silaturrohim justru yang bidah adalah yang membidahkan.

  16. ahmd faisal fauzi al hazin berkata:

    Jngan memandng islam dari satu sisi saja. Sehingga membid’kan sisi yg lain. Tidakkah kita tau didlm al qur’an, Allah berfirman. ” …. Dan tidak aku brikan pada kalian, dari ilmu, kecuali hanya sedikit”…. Itu yg harus kita renungi, biar tdk sllu membid’ akn orang lain. Sehingga menganggap dri paling bnar. Kbnaran hnyalah milik Allah, tidak ada satupun manusia yang paling bnar. Hnya syetnlh yg mengaku dirinya paling bnar. Wallahu ‘alam bisshawab. Minal aizin wal faizin, mhon maaf lahir dan bathin. Bila kita pusing, minumlah bodreksin. Amin

  17. abu berkata:

    Yang komentar disini banyak yang KAFIR Sok tahu masalah agama tapi isinya nol, BIDAH YA BIDAH HUKUMAN BAGI YANG MELAKSANAKAN ADALAH NERAKA JAHANAM

  18. lilipali berkata:

    Semuanya pada bahas bid’ah .. Aku orang awam .. Ehmm .. Emangg apa sih itu bid’ah mohon penjelasanya dan pembagianya 😉 makasih sebelumnya

  19. Ali berkata:

    Saling menghargai antara umat seagama jauh lebih bijak dan menyejukkan. Laksankan amalan” ibadah sesuai dgn keyakinan masing” pribadi kita. Saling mencela, menghujat, memvonis, mengkafirkan, menghina ajaran dan amalan orang, merasa paling benar sendiri, bukanlah Akhlak Rasull SAW, keluarga, sahabat, tabi’in. Contoh para sahabat yg 4, para imam mazhab yg 4, mereka” berbeda pendapat tidak saling mencela, menghina, menghujat, mengkafirkan, dsb. Kelahiran hidup kita yg begitu jauh jaraknya dgn kelahiran hidup Rasull SAW, para sahabat dsb dan apa yg kita ketahui sekarang semuanya “katanya” dari para orang terdekat, dekat dgn Rasull SAW dan para’alim ulama terdahulu, kenapa ga bisa rukun? Seolah sy lah yg paling benar yg lain salah. Menyalahkan itulah perbuatan yg salah. Sampaikanlah perbedaan dgn bijak bukan dgn menghujat disertai sikap dewasa, toleransi dan saling menjaga perasaan sesama. Al-Fakir

  20. Endin Rofiudin berkata:

    HATI HATI KALAU NULIS BISA KETAHUAAN BODONYA APA[AGI BAWA NAMA PERSIS

  21. abah deden berkata:

    Melihat perdebatan di atas berdasarkan keterangan di atas sepertinya sih bisa di ambil jln tengah, tentang bid’ah saya setuju ada bid’ah hasanah ada bid’ah dlolalah, gimana kalau kita ambil jln tengah, halal bilhalal hanya bahasa saja, gimana kalau kita niatin shilaturohim saja, wong Allooh dan Rosul menganjurkan Shilaturohim iya to? Malah gak bakalan masuk surga yg memutuskan shilaturohim, nah jadi shilaturohim tidak ada takhsis nya ya to? kapan saja bisa kok, nah ketika kita ketemu kita bisa bersalaman(mushofhahah), ini juga sesuai anjuran Rosul to, barang siapa yg bertemu terus berjabat tangan maka Alloh mengahapus dosa yg mereka kerjakan, artinya ketika mereka sebelumnya melakukan kesalahan di antara mereka, y Alloh hapus dosanya, nah enak kan? Gak jauh2, bahas pake dalil dulu, biar kita adem, makasih ah( salam abah, pimp. Dan pengasuh doktren di lembang bandung)

  22. Arshlen Ghart berkata:

    As salamu alaikum saudara seimanku.
    untuk saat ini saya juga lebih cinderung mem bid’ahkan,
    Islam itu satu, ajaran yang bersandar pada AL-QUR’AN dan As-sunnah..
    saya ambil jalan aman, yaitu yanya mengikuti berdasarkan apa yang pernah dicontohkan Rasullullah SAW dan menjauhkan apa yang bukan ajaranya..
    karena kita tidak mengetahui kalaukah ini akan menjadi amalan baik diakhirat kelak, atau malah akan dilemparnya kepada muka kita seperti pakaian yang kotor diakhirat kelak.

    saya bersedia mendengar pendapat yang menerima halal bi halal sebagai bid’ah yang dibolehkan
    kalau penjelasanya jelas dan berdasarkan dalil, yang setidaknya sekuat tulisan mas Dian.

  23. roy berkata:

    Ma’af mas ! Halal bihalal itu masuk bab apa ? Bid’ah itu apa ? Saya tdk pernah dengar istilah ibadah halal bihalal, ibadah rajaban, ibadah mauludan. Itu semua hanya judul saja, yg isinya ibadah ! Apakah saling ma’af mema’afkan itu tdk boleh pada waktu2 tertentu? Apa ada dalilnya? Nggak kan !!! Halal bihalal juga kadang dilakukanya nggak nentu tuh ! Ada yg tgl 2,3,4,5 sampai tgl puluhan, tergantung situasinya… Coba belajar lagi ttg ilmu usul fiqh dg benar…

  24. Andrian Nugraha berkata:

    saling memaafkan itu sangat bagus, hanya halal bihalal bukan berarti harus setelah Iedul fitri. saya kira anda salah. hanya masyarakat di Indonesia memanfaatkan acara tersebut supaya kebetulan orang-orang sedang pada kumpul semua. jangan dikit2 bidah, dikiti2 bidah. fahami dulu dong dg jernih. memang rosul tidak melakukan halal bihalal. kan adanya juga di Indonesia. tapi pada intinya kan saling memaafkan. bukan acaranya. ini jadi bahan memecah belah umat. mash untung bagi umat yg mau belajar. jangan merasa paling benar, setan saja sombong dan merasa paling benar tidak mau tunduk sama nabi adam. balasannya neraka kekal.

  25. ard berkata:

    halal bihalal itu tradisi/kebiasaan.
    apa semua tradisi (kebiasaan( yg gak di contohkan nabi itu bid’ah????

    apa perlu semua tradisi di muka bumi kita lenyapkan tanpa pandang bulu????

    sudah kebiasaan orang indonesia berdakwah pakai bahasa indonesia. tapi rosul gak pernah nencontohkannya.
    apa anda bilang bahasa indonesia itu bid ah

    tradisi halal bihalal baik, tidak melanggar tauhid . kenapa disalahkan?
    berjabatan pria & wanita itu salah orangnya saja, bukan tradisinya.

    ingat loh. kalau kebiasaan salam2an usai shalat idul fitri dianggap bid’ah karena pengkhususan waktunya,
    maka menyalakan kipas angin pas saat shalat juga bid’ah. karena tak ada dalilnya nabi mendinginlan udara ketika hendak shalat.

    juga menyalakan speaker ketika akan adzan. itu juga gak ada dalilnya.
    ceramah pakai bahasa indonesia juga gak pernah di contohkan rosul. apa anda anggap bid ah.????

    ini itu bid ah apa sih maunya.
    wajar kalau anda pengikut mahzab dzahiriyah. yg lihat dalil fokus pada tampilan luarnya saja.

  26. ard berkata:

    internet temuan orang kafir.
    mereka lebih dulu menggunakannya sebagai sarana dakwah.
    lalu anda ikut2an.
    apa anda suka saya sebut sebagai peniru orang kafir???

    udah gitu gak ada zaman nabi dakwah lewat internet.
    apa anda suka jika saya sebut sebagai ahlu bid ah yg meniru kaum kafir????

    gak suka kan???
    apalagi jutaan warga indonesia, gak akan suka Tradisi nya di usik usik bahkan di cela se enaknya.

    ini tradisi baik tapi anda katakan buruk.

    okelah sekarang gini aja.
    indonesia kan punya MUI,
    mereka2 kan bukan ulama sembarangan. nah jika memang tradisi halal bihalal itu buruk, mereka pasti akan melarangnya.

    tapi mana? gak ada tuh orang MUI yg bilang gitu. muhammadiyah, nu, persis al irsyad dll gak ada yg cemooh.

    nah kalau pakai cara aman.
    pilihlah pendapat yang mayoritas.

    sekarang lihat, mayoritas ulama membolehkan atau melarang tradisi halal bihalal idul fitri?

    • cuma pembaca berkata:

      Waduh dari semua comment yg saya baca semuanya punya sudut pandang masing”. saya tidak membenarkan dan menyalahkan karena bukan ranah saya hehe..tp comment mas @ardppada ini yg paling netral dan REALISTIS salam kenal ya mas..

  27. Wedoro berkata:

    Saya sering mendpt undangan halal bihalal di bulan dzulqaidah, apakah sah amalan itu? Bolehkah saya membaca dalil hrs bulan syawal setelah wktu shalat ied?

  28. Ranting` Songo berkata:

    apa iya gara-gara halal bihalal bisa masuk neraka. Harapan saya sih bisa masuk surga dong. kalau saya tidak keliru memahami hadis yang pahala orang dikurangi dan dosanya ditimpakan pada orang itu dengan acara bermaaf-maafkan jadi selesai masalahnya. Umumnya psikhologi bangsa kita gengsi meminta maaf khususnya datang kerumah orang yang bersangkutan. dengan halal bihalal dosa antaramanusia akan hilang. semoga bener

  29. H.Masrof berkata:

    Ribut masalah bid’ah nggak penting itu yang penting ibadah ikhlas karena Allah selsai jangan mencari pembenaran pribadi allah lah yang lebih tau tentang kita ini ,jangan merasa bisa bisalah merasa

  30. H.Masrof berkata:

    Ribut masalah bid’ah nggak penting itu.yang penting ibadah ikhlas karena Allah selsai jangan mencari pembenaran pribadi allah lah yang lebih tau tentang kita ini ,jangan merasa bisa bisalah merasa

  31. cak sol berkata:

    perkoro swargo utowo neroko iku urusane gusti Alloh SWT..Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi..sing penting golek ridhane Gusti Alloh SWT..

  32. beginilah islam di indonesia, karena bukan hukum islam yang diterapkan makannya setiap yang ngaku ulama apalagi punya ponpes pada punya aturan masing2 dan semua mengaku sesuai ajaran nabi Muhammad. katanya ngaku orang islam paham ilmu tapi masih nabung di bank makan bunganya lagiiii. ini contoh kecil aja. riba masih dipakai kok ngomongin bid’ah.

  33. smpmarifnu margasari kab tegal berkata:

    ijin ngopas, mas.. .

  34. Taqim berkata:

    Terima kasih penjelasanya
    semoga bermakna uk kita semua 🙂

  35. Ranting` Songo berkata:

    Dari judulnya saja sudah memancing pro dan kontra bagi masyarakat muslim yang mempunyai faham beda. Bisa memperuncing kontra lama dan menyulut panas yang sudah mulai mendingin. Prinsip asasi Islam di antaranya ikhwah juga persatuan, mohon diutamakan. Fahimtum ?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s