KEDUDUKAN QA/QD MENURUT ALQUR’AN DAN AS-SUNNAH


Oleh : Dian Hardiana
قال علي رضي الله عنه: الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام
Ali r.a berkata: “Kebenaran yang tidak terorganisir
akan dikalahkan oleh kebhatilan yang terorganisir”.
A. Ta’rif
القانون ج قوانين: الأصل, مقياس كل شيئ, مجموعة الشرائع والنظم التي تنظم علاقات المجتمع سواء كان من جهة الأشخاص او من جهة الأموال.والقوانين كثيرة أهمها: القانون الأساسي وغيرها.
(قانون) داخلي من دخل يدخل داخل (فيه).
Qanun jama’ dari qowaaniinu artinya dasar, standar/norma segala sesuatu, kumpulan syari’at-syari’at dan aturan yang mengatur hubungan masyarakat apakah itu ditinjau dari sisi personaliti atau properti. Qanun-qanun itu banyak (macamnya) yang paling penting diantaranya adalah qanun asasi dan yang lainnya.
(Qanun) dakhili dari dakhola yadhkulu daakhilun (fiihi) artinya termasuk dalam, dalam kandungan. Qanun Dakhili artinya anggaran rumah tangga.
Dari pengertian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa qanun asasi itu adalah kumpulan aturan yang bersifat dasar, sedangkan qanun dakhili kumpulan aturan yang bersifat menerangkan dari apa-apa yang terkandung dalam qanun asasi baik secara tersurat maupun tersirat.
Sedangkan menurut PP Pemuda Persis masa jihad 2005-2010 QA/QD adalah pedoman dasar yang berfungsi laksana peta dan rute perjalanan dalam mengemudikan jam’iyyah agar berlayar menuju pelabuhan harapan dengan cepat, tepat serta selamat sentosa sebagimana dicita-citakan semua penumpangnya. Selain dari pada itu, QA/QD juga sebagai landasan jam’iyyah, yang pada organisasi lain pada umumnya sering disebut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Qaidah Asasi memuat aturan-aturan dasar dan pasal-pasal peraturan yang prinsipil, sedang Qaidah Dakhili memuat pasal-pasal peraturan yang lebih tekhnis.

B. Kedudukannya menurut Alqur’an dan As-Sunnah
Berdasarkan penelitian, penulis belum menemukan perintah secara tersurat dalam alqur’an maupun as-sunnah tentang perlunya membuat aturan-aturan yang diluar qur’an dan sunnah dalam hal-hal yang bersifat tekhnis dan strategis. Akan tetapi, jika kita memahami konteks qur’an surat Ali Imran ayat 159, maka secara tersirat berdasarkan redaksi yang ada dan penafsiran para mufassir, maka dapat disimpulkan bahwa QA/QD adalah aturan yang lebih bersifat tekhnis dan strategis yang mana pengaturannya diserahkan kepada musyawirin, akan tetapi hasil dari musyawarah itu bersifat mengikat dan menghasilkan sebuah komitmen dan konsistensi untuk menta’atinya dan mengingkarinya adalah sebuah dosa dan kemaksiatan yang nyata. Berikut dalil-dalilnya:
1. …وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله…-آل عمران:159-
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.”-QS.Ali Imran:159-.
Berkata Ibnu Katsir: “Adalah rasulullah s.a.w senantiasa bermusyawarah dalam suatu urusan yang bersifat sesuatu yang baru atau diluar syara’, sebagai penyenang hati para sahabat agar dapat lebih menggiatkan mereka dalam apa yang akan mereka lakukan (bersama nabi) sebagaimana nabi bermusyawarah dengan mereka ketika perang badar, perang uhud, perang khandak, pada hari (terjadinya perjanjian) hudaibiyyah, dan bahkan beliau bermusyawarah (meminta nasihat) kepada ‘Ali dan ‘Usamah dalam hal (rencana nabi) untuk menceraikan ‘Aisyah pada peristiwa haditsul ifqi.
Dalam penafsiran ayat ini dinyatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan perintah kepada seorang nabi atau amir untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang dianggap terpercaya untuk memberikan pandangannya walaupun pada akhirnya yang berhak menentukan hasil akhir keputusan musyawarah adalah nabi sendiri atau amir yang bersangkutan, sebab musyawarah bukan demokrasi yang selalu melihat perso’alan berdasarkan suara terbanyak, akan tetapi musyawarah lebih ditekankan bagaimana menyamakan persepsi dan mengambil keputusan yang lebih mashlahat dalam urusan yang diluar ketentuan yang telah ditetapkan syara’, dan jika terjadi perbedaan pendapat maka suara terbanyak bukan yang utama, akan tetapi yang paling utama adalah keputusan seorang amir.
2 …وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ…-الشورى:38-
“…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka…”.-As-Syuro:38-.
Berkata Ibnu Katsir: “(maksud ayat itu) adalah mereka (kaum muslimin) tidak menetapkan suatu urusan sebelum memusyawarahkannya terlebih dahulu agar mereka dapat saling tolong menolong dengan pandangan-pandangan mereka dalam hal seperti (urusan) perang, dan yang semisal dengannya agar hati mereka merasa senang (puas), dan begitupula ketika (tanda-tanda)kematian datang kepada umar tatkala dia ditusuk, umar pun menjadikan urusan (kepemimpinan) setelahnya melalui jalan musyawarah atas enam orang (diantara para tokoh sahabat) yaitu: ‘Utsman, ‘Ali, Tolhah, Zubair, Sa’id dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf r.a, hingga terpilihnya ‘Utsman sebagi pengganti ‘Umar.
Maka dengan ayat diatas disertai penjelasan dari para mufassir, penulis berijtihad bahwa sebagaimana strategi perang itu dibahas melalui jalan musyawarah dan hasil keputusannya adalah merupakan kebulatan tekad bersama, maka seperti itulah QA/QD dibuat dan diputuskan sebagai alat dalam memuluskan gerakan dakwah jama’iyyah dalam lingkup jam’iyyah. Maka dengan dalil peristiwa diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hasil musyawarah dalam hal apapun, paling tidak akan mengikat dan melahirkan sebuah kewajiban yang merupakan dosa bagi yang tidak meng-iyyakannya apalagi mengingkarinya. Adapun pihak-pihak yang dibebankan padanya hasil musyawarah adalah sebagai berikut:
1. Bagi seorang ‘Amir
إن الله يأمركم أن تؤدوا اللآمنت إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل.
-النساء:58-
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”. –QS.An-Nisa:58-
Berkata Ibnu Katsir: “Diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Ahlus-Sunan, amanat itu mencakup kewajiban atas manusia (pemimpin) untuk memenuhi hak-hak Allah atas hamba-hambanya yaitu shalat, zakat, shaum, (pemenuhan) kifarat-kifarat dan nadzar, dan lain-lainnya dari apa yang diamanatkan kepadanya yang tidak boleh dilewatkan oleh hamba-hambanya (pelaksanaannya), dan juga mencakup hak-hak hamba atas sebagiannya terhadap yang lainnya seperti ketentraman, dan yang lainnya dari apa-apa yang diamanatkan kepadanya (pemimpin) dengan tanpa penela’ahan yang (menghendaki) bukti atas hal tsb.
2. Bagi peserta musyawarah

كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون.-الصف:3-
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.-QS.As-Shaf:3-

عن حذيفة بن اليمان قال: إن المنافقين اليوم شر منهم على عهد النبي صلى الله عليه و سلم كانوا يومئذ يسرون واليوم يجهرون-رواه البخاري,كتاب الفتن باب إذا قال عند القوم شيئا ثم خرج فقال بخلافه –
Dari Hudzaifah bin Yamani ia berkata: “sesungguhnya orang-orang munafik pada masa sekarang itu lebih buruk ketimbang zaman nabi s.a.w, dimana mereka waktu itu menyembunyikan (kemunafikannya), dan pada masa sekarang mereka memperlihatkan (kemunafikannya).”- Shohih Bukhori, kitabul fitan, bab jika ada yang berkata pada suatu kaum sesuatu, kemudian dia keluar (dari kumpulan itu-pen) dan mengatakan apa yang menyelisihi (ucapannya ketika bersama) kaum itu-
3. Bagi anggota
عن علي بن أبي طالب قال: سئل رسول الله صلعم عن العزم؟فقال: مشاورة أهل الرأي ثم إتباعهم.-رواه ابن مردويه-.
Dari ‘Ali bin ‘Abi Tholib ia berkata: Ditanya rasulullah s.a.w tentang al’azmu (‘azam)? Ia menjawab: Musyawarahnya ahli fikir (ahli ‘ilmu), kemudian mengikuti (hasil musyawarah) mereka.-HR.Mardawih-
عن أبي هريرة ر قال: قال رسول الله صلعم: عليك السمع والطاعة في عسرك ويسرك, ومنشطك ومكرهك,وأثرة عليك.-رواه مسلم-
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Telah bersabda rasulullah s.a.w: “diwajibkan bagimu untuk mendengar dan ta’at (kepada pemimpin) dalam kesulitan dan kelapanganmu, rajin dan malasmu, dan dalam urusan duniamu”.-HR.Muslim-
قال النواوي:والأثرة…هي الاستئثار والاختصاص بأمور الدنيا عليكم أي اسمعوا واطيعوا وان اختص الأمراء بالدنيا ولم يوصلكم حقكم مما عندهم, وهذه الأحاديث في الحث على السمع والطاعة في جميع الأحوال وسببها اجتماع كلمة المسلمين فإن الخلاف سبب لفساد أحوالهم في دينهم ودنياهم.-شرح النواوي على صحيح مسلم-
Berkata Imam Nawawi: “(yang dimaksud) al atsarotu adalah penguasaaan eksklusif dan pengkhususan tentang urusan keduniawian (diluar yang ditentukan syara’) atas kalian, maksudnya ialah dengarlah dan ta’atilah walaupun para pemimpin itu mengkhususkan (kebijakannya) dalam urusan keduniawaian dan mereka tidak memenuhi hak kalian dari apa-apa yang menjadi kewajiban mereka, dan hadits-hadits ini (maknanya) tentang perintah untuk mendengar dan menta’ati dalam semua hal atau keadaan, dan penyebabnya adalah kesatuan kalimat (komitmen) kaum muslimin, sebab sesungguhnya perselisihan itu adalah penyebab kehancuran urusan mereka dalam agama dan dunia mereka.
قال ابن حجر: والحكمة بالأمر بطاعتهم المحافظة على اتفاق الكلمة لما في الإفتراق من الفساد
Berkata Inu Hajar: “Hikmah dalam perintah menta’ati mereka (para pemimpin) adalah menjaga kesatuan kalimat (komitmen), yang mana dalam perpecahan itu ada kehancuran”.

(Penulis adalah Bid. Jam’iyyah PW. Pemuda Persis Jawa Barat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s