AWAS ” CALEG BUSUK”


Oleh : Shiddiq Amien

18Banyak caleg yang akan dipilih pada tanggal 9 April 2009 ternyata bermasalah, bahkan banyak pihak yang menilai bahwa kwalitas mayoritas caleg 2009-2014 itu jauh lebih buruk dibanding dengan priode yang lalu. Penilaian minor tersebut kontan dibantah oleh beberapa petinggi parpol. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarif Hassan misalnya, dia menyatakan bahwa penilaian tersebut sangat tidak berdasar, apalagi parameter penilaiannya tidak jelas. Dia bahkan menjamin bahwa kwalitas caleg dari partainya jauh lebih baik dibanding dengan priode sebelumnya. Menurutnya faktor pendidikan dan pengalaman berorganisasi menjadi pertimbangan utama Partai Demokrat dalam merekrut calegnya. Dia menyebutkan salah satu indikasinya dengan jumlah yang bergelar doktor dari partainya meningkat dari 5% menjadi 10 %.  Bantahan serupa juga diungkapkan oleh Sekretaris Fraksi PDIP, Ganjar Pranowo, dia menyatakan keheranan dengan penilaian tersebut.

Padahal yang menjadi persoalan tidak hanya sebatas tingkat pendidikan para caleg, melainkan juga terkait dengan masalah mentalitas, akidah dan moralnya. Di media massa banyak diungkap berbagai perbuatan kriminal dan asusila yang dilakukan para caleg. Di Indramayu misalnya,  ada seorang caleg DPRD yang lari terbirit-birit ke arah kuburan cina untuk menghindari kejaran wartawan, karena malu, ketahuan baru saja menghamili seorang gadis. Seorang caleg Sumbar tertangkap basah membawa sabu-sabu di Bandara Soekarno-Hatta, Kemudian seorang caleg dari partai baru, tertangkap polisi sedang berjudi. Selain tindakan amoral seperti itu, banyak pula caleg yang getol mendatangi dukun, paranormal dan kuburan. Nawaitunya, apalagi kalau bukan untuk memuluskan cita-citnya melenggang ke gedung DPR, DPRD atau DPD.

Banyaknya caleg yang berkonsultasi kepada dukun atau paranormal itu dikui oleh Ki Joko Bodo dan Mama Lauren. Menurut Ki Joko Bodo bahwa  sejak Desember 2008 kliennya itu kebanyakan adalah caleg. Mereka datang dua sampai tiga kali dengan sembunyi-sembunyi. Mereka itu bukan hanya dari partai-partai gurem saja, tapi juga dari partai-partai besar.  Banyak pula caleg yang datang ke kuburan-kuburan yang dianggap keramat, di sana mereka melakukan semedi dan tirakat. Salah satu makam yang banyak dikunjungi adalah makam Bung Karno di Kelurahan Bendo Gerit, Kepanjen Kidul, Blitar.  Menurut Suwanto, kuncen makam Bung Karno, para caleg yang datang itu tidak hanya dari partai-partai nasionalis, tapi juga partai-partai berbasis agama. Mereka bukan hanya caleg untuk DPRD, tapi juga DPR. Mereka juga bukan hanya datang dari Blitar dan sekitarnya, tapi juga dari luar Jawa Timur bahkan dari luar Jawa.  Demikian juga makam tua di tengah hutan bakau Teluk Karangan, Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan di Alas Purwo, 67 kilometer dari kota Banyuwangi.

Para caleg klenik  ini membekali dirinya dengan rajah atau jimat pada setiap kali melakukan kampanye, dengan harapan setiap orang akan terpana kepadanya, dan ujung-ujungnya dapat memilih dirinya. Ada juga caleg yang disuruh dukunnya untuk menanam 50 batang paku usuk di tiap desa di Daerah pemilihannya. Banyak dukun menjelang pileg 2009 ini yang panen raya. Ada juga sejumlah caleg yang menggunakan ijazah palsu, dan mengedarkan uang palsu untuk membujuk pemilih. Di Jakarta saja sudah ketahuan beredarnya uang palsu sebanyak lebih kurang 400 juta rupiah, dengan pecahan 100 ribu dan 50 ribu. Di Jayapura malah tertangkap pengedar uang palsu itu caleg dari partai besar. Terungkapnya beragam kasus korupsi yang melibatkan sejumlah anggota DPR priode 2004-2009, ternyata tidak menjadi halangan bagi yang bersangkutan untuk maju kembali di Pemilu 2009 ini, termasuk nama-nama yang diduga terlibat aliran travel cheque dalam pemilihan deputy Gubernur BI, Miranda Gultrom. Bisa dibayangkan akan seperti apa kwalitas DPR/D priode 2009-2014 ini,  jika kelak diisi oleh manusia-manusia dengan mentalitas seperti ini.

Berdasarkan pengumuman KPU, jumlah caleg yang akan bertarung memperebutkan 560 kursi DPR pada pemilu 2009 ini mencapai 12.198 orang. Mereka berasal dari 77 Daerah Pemilihan di 33 provinsi. Partai yang paling banyak mengirim calegnya adalah Partai Demokrat 673 orang, disusul Partai Golkar 644 orang, PDIP  635 orang,  Partai Hanura  606 orang. Partai yang paling sedikit mengajukan calon adalah Partai Penegak Demokrasi Indonesia 50 orang. Hasil Rakapitulasi KPU membeberkan sedikitnya 253 orang caleg tidak memenuhi syarat, alias bermasalah. Dari 253 caleg tersebut 45 caleg diduga melakukan korupsi, 13 caleg tersangkut kasus non-korupsi, 8 caleg terlibat perbuatan asusila, 12 caleg terindikasi berijazah palsu.

Di samping banyak yang pesimis dan skeptis dengan kwalitas caleg 2009-2014, tapi ada juga yang cukup optimis dengan melihat komposisi para caleg. Dengan banyaknya caleg yang benar-benar berbasis di daerah pemilihannya, mereka tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pemilihnya, diharapkan akan semakin besar kemungkinan terparktikannya fungsi perwakilan politik. Dengan semakin besarnya prosentase caleg perempuan, akan semakin besar kemungkinan terbangunnya sensitifitas jender dalam kerja-kerja DPR. Dengan banyaknya politisi baru diharapkan perubahan dalam proses dan hasil kerja lembaga legislatif akan lebih mudah digarap melalui peranan para pelaku baru, ketimbang pelaku lama yang sudah termanjakan dalam proses kerja lama. Dengan semakin banyaknya legislator muda, diharapkan bisa menjadi agen perubahan. Ada sebuah kepercayaan bahwa salah satu sumber persoalan dalam sistem demokrasi kita, masih bertahannya gejala gerontokrasi, yakni penguasaan kendali di tangan kalangan tua. Munculnya politisi berekam jejak yang baik, diharapkan  akan menjadi penyeimbang politisi busuk. Semoga tidak sekedar jadi harapan dan angan-angan. Jangan-jangan mereka malah melacurkan diri terjerumus kepada pengulangan kesalahan lama yang akut.

Melihat begitu ketatnya persaingan antara caleg, dengan modal yang sudah begitu banyak  dikuras, ada seloroh yang menyatakan bahwa bagi para caleg itu sudah disediakan tiga rumah : Rumah Dinas, yang jauh lebih baik dari pada rumah kontrakan, jika berhasil dengan cara yang baik dan berprilaku benar. Rumah Sakit, jika kalah dan tidak tahan banting. Dan Rumah Tahanan,  alias Dubes (Dunia Besi) jika melakukan tindak kriminal atau asusila. Kini banyak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang siap buka 24 jam, dan menyiapkan unit rawat inap atau unit rawat jalan,  untuk mengantisipasi membludaknya pasien akibat stress pasca pileg 9 April 2009 .  RSJ Kurungan Nyawa Lampung salah satunya. Bayangkan di Bandar Lampung calegnya ada 845 orang, sementara kursi yang diperebutkan hanya 45 buah, sebanyak 800 orang akan tersingkir, dan yang 800 orang ini berpotensi mengalami gangguan jiwa, ungkap Fauzi Heri anggota KPU Bandar Lampung.

Banyak caleg atau calon pemimpin Negara yang menilai jabatan yang didapat itu sebatas sebuah anugrah yang sering lupa untuk disyukuri, padahal jabatan itu juga merupakan sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan rakyat, tapi di hadapan Allah swt kelak. Bahkan seperti diingatkan Nabi saw. Bahwa jabatan itu  bisa jadi sumber kehinaan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali mereka yang mendapatkannya karena dia orang yang layak mendapatkannya, dan ia dapatkan jabatan itu dengan cara yang baik dan benar, bukan dengan cara-cara culas, licik dan kotor. Dan yang tidak kalah pentingnya, ia menunaikan tugas dan kewajiban yang ada pada jabatan itu. Jika ia berkhianat dan menipu rakyatnya, maka kelak di akhirat Allah akan mengharamkan baginya masuk surga ( HR.Muslim).

Bagi para calon pemilih, menentukan piligaan dengan mencontreng nama atau tanda gambar di ruang TPS relatif mudah, tapi mesti diingat pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak akan menjadi berat. Jika kita memilih seseorang menjadi wakil atau pemimpin, hanya karena dasarnya ta’ashub (fanarisme buta) lebih karena pertimbangan perasaan atau ikatan emosional semata, apalagi hanya karena yang bersangkutan telah memberi sejumlah uang atau materi, dengan mengabaikan kriteria sebagai calon wakil atau pemimpin yang baik yakni a.l : beriman, bertakwa, jujur, amanah, aspiratif, memiliki kemampuan, sehat lahir batinnya, dan memperjuangkan kepentingan Islam dan umatnya, maka oleh Nabi saw ia dinilai telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kwalitas pemimpin  sebuah bangsa adalah cerminan dari kwalitas bangsa itu sendiri. Wallahu’alam bis showwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s