PILPRES 2009, ANTARA ORMAS vs PARPOL ISLAM


Oleh : Shiddiq Amien

Pulau-Bulan-BintangMenjelang  Pemilu 1955 ormas-ormas Islam yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan parpol, benar-benar menjadi pilar bagi parpol, mereka bersatu padu dalam satu muara, dengan mendeklarasikan dan mendirikan Partai Masyumi  pada tanggal 7 Nopember 1947 di Yogyakarta, dan dikenal dengan ” Ikrar 7 Nopember ”  Mereka memiliki kesepahaman dan bersepakat  mendirikan partai ini sebagai  alat memperjuangkan Islam sebagai dasar ideologi Negara; Menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;  Memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia dari segala bentuk penjajahan.  Polarisasi  antara Masyumi yang mengusung Islam dengan partai-partai nasionalis sekuler yang mengusung Pancasila sebagai ideologi Negara  di Konstituante (Parlemen) sangat jelas dan kontras. Padahal para tokoh Masyumi itu tak lain merupakan produk dari pendidikan Belanda, tapi mereka memiliki ghirah keislaman di samping keindonesiaan yang sangat kuat. Ghirah itu mereka perjuangkan melalui arena politik, seperti yang dilakukan oleh Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Syafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimejo, Burhanuddin Harahap, Isa Anshari, dll. Meski perjuangan Masyumi akhirnya gagal karena pada tahun 1960 Partai Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno, Masyumi tetap dikenang sejarah sebagai  Vanguard (Pelopor) dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara di Republik ini.

Sekarang di era reformasi ada suasana yang sangat berbeda, khususnya menjelang Pilpres 2009 nampak dan terasa ada yang tidak nyambung bahkan paradok dalam dinamika politik, terutama antara ormas Islam dan parpol Islam atau parpol berbasis masa Islam.  Tidak adanya kesatuan tujuan, sikap dan cita-cita. Mereka berjalan sendiri-sendiri mengikuti alur tujuan masing-masing. Tidak nampak keinginan dan usaha yang sungguh-sungguh bersatu dengan satu tujuan (ghayah), yakni menegakkan Islam, menjadikan Islam sebagai mabda dari cita-cita perjuangan mereka. Bahkan cenderung bersaing dengan tidak sehat, disertai intrik bahkan fitnah. Sebuah fenomena yang amat getir. Umat Islam terpolarisasi menjadi beberapa kutub, yang akan berimplikasi serius bagi masa depan umat Islam itu sendiri. Menjelang Pilpres 2009 polarisasi itu makin mengkristal, dan masing-masing ormas Islam di satu sisi dan parpol Islam atau berbasis masa Islam di sisi lain telah menjadikan para kandidat Capres dan Cawapres yang didukungnya sebagai patron (panutan) mereka.  Masing-masing berlomba untuk memenangkan dan memberikan garansi kepada masing-masing pasangan kandidat pilpres tersebut.  Yang menjadi pertanyaan besar tentu menyangkut motivasi ormas dan parpol Islam memberikan dukungan dan pilihan kepada para kandidat itu?

Pada Pilpres 2009 partai-partai Islam dan berbasis masa Islam seperti : PKS, PPP, PAN, PKB dan PBB serta sejumlah tokoh Islam memberikan dukungan dan garansi kepada pasangan SBY-Boediono.   Di pihak lain hampir semua ormas Islam serta sejumlah ulama memberikan dukungan kepada pasangan JK-Win. Bahkan beredar selebaran yang dicetak lux yang menegaskan ada delapan alasan kenapa warga Muhamadiyyah mesti memilih pasangan JK-Win. Ada juga  selebaran yang bertema hasil Bahtsul Masail dua puluh ulama terkemuka NU yang menyimpulkan bahwa  warga NU  sebaiknya  memilih pasangan JK-Win. Padahal kalau dilihat kedua pasangan Capres-Cawapres ini diusung oleh Partai Demokrat, Golkar dan Hanura, yang semuanya tergolong partai-partai sekuler.  Maka kiranya integritas, kapabilitas, dan pribadi para kandidat yang menjadi bahan utama untuk mempertimbangkan keberpihakan dan pilihan. Pertanyaannya: Mengapa parpol Islam dan berbasis masa Islam dengan dukungan ormas-ormas Islam tidak mengusung pasangan Capres-Cawapres sendiri? Apakah karena pesimis untuk menang sehingga tidak dapat bagian dari kursi kekuasaan? Apakah dukungan partai-partai Islam dan berbasis masa Islam kepada pasangan SBY-Boediono didasarkan pertimbangan-pertimbangan syar’i, atau karena faktor SBY yang incummbent Presiden yang dinilai memiliki potensi dan peluang lebih besar untuk menang dibanding pasangan Capres-Cawapres lainnya, sehingga ujungnya bisa mendapatkan  bagian dari kekuasaan? Dan apakah dukungan ormas-ormas Islam kepada JK-Win juga didasarkan atas pertimbangan syar’i, atau penilaian bahwa pasangan ini lebih menampakkan kesolihan karena istri keduanya berjilbab, dan dinilai akan lebih akomodatif dan bisa menjadi kanalisasi bagi kepentingan umat, atau lebih karena tidak diperhitungkan oleh pasangan SBY-Boediono? Wallahua’lam.

Ada sejumlah kekawatiran terhadap pasangan Capres-Cawapres yang berkompetisi, misalnya menyangkut keberpihakan yang lebih pro kepentingan asing.  Pernyataan kandidat Presiden dan petinggi salah satu Parpol Islam yang menyatakan secara eksplisit bahwa  Pancasila dan UUD’45   sebagai ideologi Negara sudah final dan menjadi harga mati, ini dikawatirkan akan menjadikan posisi ideologi tersebut berada di atas semua keyakinan agama, sehingga menjadikan Islam sebagai subordinasi ideologi Negara, seperti yang pernah diterapkan pada zaman Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto, dimana waktu itu terjadi pemasungan terhadap eksistensi agama, khususnya Islam dan umat Islam dalam mengekspresikan keyakinannya. Dsb.

Berdasarkan hasil hitungan cepat (quick caount) pasangan SBY-Boediono unggul mutlak dengan prosentase suara sekitar 60 %, bahkan konon di lebih 20 provinsi sudah di atas 50 %, Sementara pasangan Mega-Pro dan JK-Win diurutan kedua dan ketiga. sehingga di atas kertas dapat dipastikan SBY akan menjadi presiden lagi. Memang sempat beredar  SMS yang katanya bersumber dari seorang peneliti di lembaga International Foundation of Electoral System (IFES) berinitial YD. IFES adalah organisasi nirlaba asal Amerika Serikat yang menyokong  KPU untuk tabulasi elektronik dengan memanfaatkan teknologi SMS. IFES mengumpulkan data hasil pilpres yang dikimkan ketua-ketua KPPS melalui SMS. SMS itu berbunyi : Tahukah anda kenapa tabulasi KPU dihentikan? info dari YD peneliti IFES, dilarang dipublikasikan, karena tabulasi akhir yaitu : SBY-Budi 47,32 %, Mega-Pro 32,15 %, JK-Win 20,53 %. Sebarkan kabar baik ini kepada yang lain. Tks.  Jika isi SMS ini benar, maka Pilpres seharusnya berlangsung dua putaran. Karena tidak ada pasangan yang memenuhi ketentuan Undang-Undang. Anggota KPU Endang Sulastri  membantah substansi dari SMS tersebut sebagai bukan dari pihak KPU.  Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Demokrasi Fadjroel Rahman kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis 16/7) mendesak agar KPU secara terbuka memberikan klarifikasi atas isi pesan singkat tersebut. Dia menyatakan:  “Kalau memang tak ada busuk yang mesti ditutupi, kenapa KPU harus berdiam diri. Seharusnya KPU terbuka dan transparan, apalagi keterbukaan atas informasi ini merupakan hak publik yang wajib diketahui secara umum. Semakin tertutup, maka 100 persen KPU semakin mencurigakan.”

Apakah kemenangan SBY-Boediono dan kekalahan telak JK-Win ini menjadi pertanda bahwa pengaruh parpol-parpol Islam dan berbasis masa Islam jauh lebih baik dan lebih kuat dibanding dengan ormas-ormas Islam? jawabannya bisa ” ya ” bisa juga “bukan”. Analisa para pengamat politik menyebutkan kekalahan JK-Win yang awalnya diprediksi akan maju ke putaran kedua bukan karena faktor tersebut, tapi lebih disebabkan hal-hal sebagai berikut:  1) Popularitas SBY jauh melebihi JK. Pemilihan terbuka seperti Pilpres atau Pilkada membuat para pemilih bebas menetapkan kriteria berdasar apa yang mereka sukai, tapi pengalaman menunjukkan bahwa yang lebih populer  dan diingat dalam benak orang, maka itulah yang dipilih. Bagi rakyat di desa-desa yang jauh dari pusat-pusat informasi, media televisi memiliki andil besar dalam mendokrak popularitas seseorang. Karena SBY sebagai presiden, maka wajahnya menjadi yang paling sering menghiasi TV, dibanding dengan JK yang berada di posisi kedua. 2) Rakyat sedang berada pada Comfort Zone pada masa SBY, selama dia memimpin (bersama JK tentunya)  dianggap kondusif bagi rakyat, seperti adanya program BLT, Raskin, Sekolah Gratis bagi SD dan SMP Negeri, Pengangkatan tenaga honorer jadi PNS, sertifikasi guru, dsb. Rakyat belum siap dengan perubahan-perubahan drastis yang ditawarkan JK. 3) dukungan yang diberikan ormas-ormas Islam dinilai hanya sampai sebatas para elite ormas, tidak sampai ke tingkat anggota atau simpatisannya. Mungkin karena sistem Jamaah, imamah dan imarahnya tidak berjalan dengan baik, atau karena selama ini setiap ada kegiatan politik selalu dibebaskan berdasarkan aspirasi masing-masing anggota, tidak pernah ada upaya untuk mengarahkan kepada satu pilihan yang sama, agar menjadi sebuah kekuatan riil yang diperhitungkan.  4) Parpol pengusung JK-Win yakni Golkar dan Hanura  mesin politiknya tidak solid, bahkan disinyalir telah terjadi “pekhianatan” yang dilakukan oleh para elite partai Golkar terhadap Ketua Umumnya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s