SEKULERISME


Oleh : Shiddiq Aminullah

indexaDalam majalah The Economist edisi 28/2-5/3-2004 disebutkan: US is the most religious countries in the industrialized world (Amerika adalah Negara paling religius atau agamis di era / dunia industri), 80 persen penduduk Amerika mengaku percaya kepada Tuhan dan 40 persennya mengaku pergi ke gereja setiap minggu. Dalam uang dollar tertulis kalimat: In God We Trust (Kami percaya kepada Tuhan).  Namun karena kuatnya sekulerisme, dimana agama itu hanya dianggap sebagai urusan pribadi dengan Tuhan, tidak boleh dibawa ke wilayah publik, tidak boleh dicampur aduk dengan kehidupan sosial kemasyarakatan dan bernegara; maka budaya yang berkembang adalah budaya hedonistik, konsumeris, narkotikis dan permisif. Sebuah kehidupan yang longgar terhadap nilai-nilai moral dan agama, kesenangan duniawi menjadi tujuan utama, sehingga tidak heran jika  HIV/AIDS Surveilance Report 1/12-2003 menyebutkan bahwa penderita AIDS yang terditeksi oleh Departemen Kesehatan AS sampai tahun 2002 sebanyak 886.575 orang dan yang mati karena AIDS sebanyak 501.669 orang.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 60 persen peredaran narkoba di dunia ada di Amerika.  Dari sekian banyak kegiatan bisnis AS :   senjata, elektronik, pesawat udara, dsb. maka bisnis prostitusi menempati rangking keempat. Surat Kabar Al-Ahram Mesir edisi no. 39713 menginformasikan bahwa di AS tindak kekerasan terjadi tiap 17 detik, pencurian kendaraan tiap 18 detik, pembunuhan terjadi tiap 21 menit, perampokan bersenjata tiap 4 jam, perampokan ke rumah tiap 10 jam.  Lebih dari satu juta ABG (12-13 tahun) pertahun  menjadi korban pemerkosaan.

Dengan dalih globalisasi, demokratisasi dan Penegakkan HAM, Imperialism culture (Imperialisme budaya) dan sekulerisasi telah mewarnai berbagai aspek kehidupan dan mewabah ke berbagai belahan dunia, tak terkecuali negara-negara berpenghuni mayoriytas muslim, termasuk Indonesia.

Di Bidang Politik, politik oportunistik. Banyak orang berlomba mengejar kedudukan dan jabatan politik lebih dalam rangka memenuhi ambisi pribadi dan memperkaya  diri dengan kroni. Sehingga berbagai cara batil ditempuhnya.  Di Bidang Hukum, hukum yang barbaris. Keadilan menjadi barang langka dan mahal di negeri ini. Hukum lebih berpihak kepada orang kaya dan penguasa. Hukum yang ada ibarat sarang laba-laba yang hanya bisa menjerat lalat, nyamuk dan capung, sementara kingkong dan gorilla bisa bebas lepas. Para Koruptor super besar dibiarkan kabur dan menikmati hasil jarahannya. Tak pernah ada upaya paksa seperti yang dipertontonkan aparat dalam menangani para da’i, dan aktifis mesjid, yang dinilai terlibat pidana, apalagi dengan cara “menculik” seperti yang dilakukan terhadap Ustadz Abu Fida di Surabaya, yang di culik tanggal 4/8 dan dilempar di halaman sebuah rumah sakit tgl 11/8, dalam keadaan tubuh penuh luka bakar, memar dan  luka sayatan senjata tajam, dengan beberapa kuku jari kaki lepas, dan mengalami depresi berat. Dengan tuduhan telah menyembunyikan buronan Polri kelas kakap Dr. Azhari dan Nurdin M TOP. Tidakkah aparat kepolisian membaca UUD 45 pasal 28-I, dimana Hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa adalah Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun?

Di Bidang Pendidikan, pendidikan yang materialistik. Hasil pendidikan harus terukur secara materi. Para orang tuapun  didorong untuk menuntut pengembalian investasi yang ditanamkan untuk pendidikan anaknya dalam bentuk gelar, duit atau jabatan. Pendidikan dinilai gagal melahirkan manuia soleh yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.   Di Bidang Ekonomi, ekonomi kapitalistik. Sistem ekonomi yang sarat dengan hal-hal yang diharamkan Islam seperti : Riba, Gharar dan Maisir (gambling). Sistem yang telah melahirkan konglomerasi, monopoli dan oligapoli, yang telah memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Kekayaan Negara hanya beredar pada segelintir penguasa dan pengusaha, sebuah kondisi yang kontras secara diametral dengan yang dikehendaki Allah swt seperti termaktub dalam QS. Al-Hasyr : 7.

Di Bidang Budaya,  Budaya hedonistik dan permisif.  Kita menyaksikan bagaimana pornografi dan pornoaksi yang semakin menggila.  Tampilan-tampilan erotis pamer aurat, yang bukan hanya di TV, majalah dan tabloid murahan, tapi juga di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Beredarnya VCD jorok yang melibatkan mahasiswa ITENAS, dan VCD ” Bulan Madu ”  serta film   Buruan Cium Gue, dsb. Merajalelanya judi togel dan sejenisnya, kian luasnya peredaran narkoba ,  serta bisnis prostitusi yang kian menggila . Semakin membuat kusam wajah dan jiwa bangsa ini.  Khofifah IP sewaktu menjabat mentri Pemberdayaan Perempuan mengutip data PKBI menyebutkan bahwa antara tahun 1999-2000 jumlah aborsi yang dilakukan di Indonesia  sebanyak lebih kurang dua juta kasus, sekitar 750.000 di antara pelakunya adalah remaja belum menikah. Dr. Biran Affandi, SpOG , ketua umum Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia ( POGI) malah menunjuk angka 2,3 juta kasus aborsi pertahun.  Prof. DR Dadang Hawari memprediksi  uang yang beredar dalam bisnis narkoba  sebanyak  Rp 200 Milyar perhari, di bisnis judi Rp 50 Milyar perhari ,  di bisnis Miras  Rp 40 Milyar perhari , dan di bisnis Prostitusi Rp 24 Trilyun pertahun.  ( Hidayatullah .com 03/9-04 )

Demam “Idol ”  melalui  acara Akademi Fantasi Indonesia (AFI ) di Indosiar, Kontes Dangdut TPI (KDI); Indonesian Idol  (RCTI), Indonesian Star (Metro TV), dsb.  Telah  ” menyihir ” masyarakat untuk  memelototi sajian-sajian yang mengidolakan bintang-bintang buatan TV. Masyarakat digiring untuk memberikan dukungan dalam bentuk sms , sehingga untuk AFI satu terkumpul lk 5 juta sms dan untuk AFI-2 sebanyak lk 8 juta sms. Yang Untung ? Tentu saja perusahan Televisi dan telepon seluler.  Penonton di lokasi acara dan di depan pesawat televisi  di rumah-rumah begitu khusuk , kadang terharu dan histeris, ketika yang diidolakan menang.  Bagi seorang mukmin sikap seperti itu mestinya dilakukan pada saat berjumpa Allah, baik ketika membaca Al-Quran atau dalam shalat. Masyarakat kita memang sedang haus Idola, tapi sayang idola yang ada bukan karena kepribadiannya yang luhur, tapi karena ia terbanyak dapat sms. Idola yang lahir dari tontonan bukan dari tuntunan. Sementara figur-figur yang mestinya jadi idola lebih banyak tampil sebagai selibritis.

Siapakah yang patut disalahkan dari kondisi seperti ini ? Adakah yang bisa kita harapkan dari sistem kapitalis dan pemimpin sekularis perbaikan terhadap kondisi yang buruk ini ? Wallohu a’lam !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s