Akar Intelektulisme Persis


persis-ss-290x236

Oleh:  Tiar Anwar Bachtiar

Pertengahan abad ke-20 lalu, Persatuan Islam cukup diperhitungkan dalam perkembangan dunia pemikiran Islam di Nusantara. Nama A. Hassan cukup dikenal luas, tidak hanya di kalangan awam, tapi juga di kalangan intelektual. Tak kurang dari Soekarno, selama dalam masa tahanan di Endeh tahun 1930-an gemar berkirim surat dengan A. Hassan, berdialog tentang masalah-masalah keagamaan (Lihat, Surat-surat dari Endeh). Tulisan-tulisan A. Hassan dalam majalah Pembela Islam dan terbitan lainnya diapresiasi oleh banyak ulama, baik tradisionalis ataupun modernis. Tentu bukan hanya karena gayanya yang keras, terus terang, dan terkadang menjatuhkan, tapi justru karena bobot intelektualisme yang patut diperhitungkan.

Puluhan buku yang ditulis A. Hassan menunjukkan adanya konsistensi pemikiran dalam menyikapi berbagai problem kehidupan dan kemasyarakatan. Konsistensi itu dapat dilihat cukup mudah dalam kumpulan tanya jawabnya dalam berbagai majalah yang diberi titel Soal-Jawab sebanyak empat jilid. Tradisi itu belakangan diikuti oleh putranya, Abdul Qadir Hassan, dan cucu-cucunya yang mengelola penerbitan majalah Al-Muslimun di Bangil, bahkan juga oleh murid-muridnya yang mengelola majalah Risalah di Bandung—sayang, sekalipun tradisi tanya jawabnya diikuti, tapi kelihatannya tidak ada pendalaman atas pemikiran yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh Hassan hingga pemikiran Persatuan Islam generasi berikutnya terlihat stagnan, bahkan hanya berkutat pada masalah-masalah yang sama, itu-itu saja.

Tentu konsistensi pemikiran ini tidak muncul begitu saja. Sifat pengetahuan yang kumulatif dan evolutif tidak memungkinkan seseorang memiliki pengetahuan tertentu tanpa ada dasar pijakan awal yang dipakai. Termasuk pemikiran-pemikiran A. Hassan. Kenyataan ini dengan sendirinya menepis anggapan bahwa Persis yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran A. Hassan “tidak bermadzhab”, dalam arti tidak memiliki dasar rujukan intelektualitas yang jelas. Memang secara eksplisit Persis menyatakan tidak berpihak pada mazhab manapun dalam mengambil satu putusan keagamaan, namun pada kenyataannya metodologi pengambilan hukum dalam berbagai masalah keagaamaan menunjukkan kecenderungan pada salah satu mazhab tertentu, yaitu mazhab Hambali. Tulisan berikut akan mencoba membuktikan adanya kecenderungan itu.

Karir Intelektual A. Hassan

Untuk merujuk ke mana sesungguhnya pemikiran Persis berakar, kisah perjalanan intelektual A. Hassan menjadi sangat penting untuk dikemukakan. Dari sana kita akan tahu apa yang membentuk corak khas pemikiran A. Hassan dan sekaligus membentuk pemikiran Persis. Karir intelektual Hassan sudah dimulai sejak ia masih di Singapura, sekalipun ia baru serius menekuni pemikirannya ketika ia memutuskan untuk mencurahkan segenap perhatiannya di Persatuan Islam bersama Muhammad Yunus dan Muhammad Zam-Zam akhir tahun 1920-an.

Karir intelektual Hassan tidak ditekuninya melalui sekolah formal. Bahkan sekolah dasarnya di Singapura tidak sempat ia selesaikan. Selebihnya ia belajar bahasa Arab dan memperdalam Islam. Itu pun lebih banyak dilakukannya secara informal (talaqqi) sambil mencari nafkah. Berbagai pekerjaan ia tekuni, dari mulai jadi guru, pedagang tekstil, agen distribusi es, juru tulis jemaah haji, sampai menjadi anggota redaksi majalah Utusan Melayu. Rupanya dari Utusan Melayu inilah kemampuan intelektual dan menulisnya terasah. Sangat mungkin juga perkenalannya dengan arus pemikiran dunia, ia peroleh dari sini.

Di Singapura A. Hassan telah membaca majalah Al-Manar dari Kairo yang diterbitkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, dua tokoh pentolan Pembaharuan Islam di Mesir. Ia juga membaca majalah kaum pembaharu Al-Imam terbitan Singapura dan Al-Munir dari Padang. Sejak itu, sesungguhnya A. Hassan sudah mulai mengenal pemikiran kelompok pembaharu. Melalui Al-Manâr inilah A. Hassan berkenalan dengan pemikiran teologis Wahabi yang banyak menentang praktik-praktik khurafat, bid’ah, takhayul, dan kemusyrikan. Perlu diketahui bahwa pemikiran A. Hassan lebih dekat kepada Rasyid Ridha daripada Muhammad Abduh. Abduh sangat rasionalis, sementara Ridha lebih tekstualis seperti halnya Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703-1787).

Sekalipun Rasyid Ridha adalah murid Abduh, namun dalam banyak hal, Ridha tidak sepenuhnya mengikuti Abduh yang lebih dekat dengan pemikiran-pemikiran rasionalisme modern. Sedangkan Rasyid Ridha lebih cenderung pada pndekatan tekstualis-Wahabian.

Dalam pemikiran hukum (fiqh) kebanyakan pengikut Wahabi menganut mazhab Hambali. Oleh sebab itu, tidak heran bila pemikiran-pemikiran teologis yang diperkenalkan kaum pembaharu bercorak Wahabi yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibn Taimiyyah dan muridnya, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah. Kedua orang ini disebut-sebut sebagai pencetus mazhab salaf. Sedangkan pemikiran fiqh-nya cenderung bercorak Hambali.

Kekhasan pemikiran mazhab Hambali terletak pada keharusan lebih berpegang pada teks Al-Quran, Al-Sunnah, dan perbuatan sahabat (salaf), baik dalam persoalan akidah (teologi) maupun fiqh. Pendekatan ini berbeda, misalnya, dengan kelompok Mu‘tazilah (dalam bidang teologi) yang lebih mengedepankan pendekatan rasional; atau dengan mazhab Maliki (dalam bidang fiqh) yang lebih mengedepankan prinsip maslahah mursalah, sesudah nash Al-Quran dan Al-Sunnah. Pendekatan yang cenderung “tekstualis” ini pada gilirannya menuntun pada sikap yang sangat tegas terhadap berbagai praktek bid‘ah dalam agama.  Dan isu inilah yang juga menjadi isu penting yang dikampanyekan kelompok-kelompok pembaharu Islam di Indonesia seperti Persis, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan sebagainya pada periode awal pergerakannya.

Sejak di Singapura itu, A. Hassan sudah sering mendengar perdebatan antara kelompok tua yang di Melayu kebanyakan menganut mazhab Syafi‘i (fiqh) dengan kelompok muda pembaharu yang tidak ingin terkungkung oleh satu mazhab tertentu. Bahkan A. Hassan sempat juga terlibat dalam polemik itu. Sewaktu di Singapura intensitas dukungannya pada kelompok muda masih belum terlihat jelas. Baru setelah tahun 1921 ia pindah ke Surabaya, rasa simpatiknya terhadap pemikiran-pemikiran kelompok pembaharu semakin besar. Akhirnya, di Bandung pertengahan tahun 1920-an, A. Hassan berkenalan dengan Muhammad Yunus dan Muhammad Zam Zam yang telah mendirikan Persatuan Islam (Persis). Di sinilah ketertarikan Hassan pada pemikiran kaum pembaharu menemukan tempat tumbuh yang sangat subur. Sampai kemudian, ketika usaha tekstil yang semula direncanakannya tidak berjalan baik, A. Hassan benar-benar memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada pengkajian Islam.

Seperti dapat dilihat dalam berbagai tulisannya, pemikiran-pemikiran A. Hassan yang tersebar dalam berbagai majalah dan buku menunjukkan semakin konsistennya A. Hassan mengikuti cara berpikir kelompok muda pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Howard M. Federspiel merekam dengan baik berbagai pemikiran keagamaan A. Hassan dalam disetasinya, Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century in Indonesia (Persatuan Islam: Pembaharuan Islam Indoensia Abad XX). Berikut akan dilihat sekilas beberapa pemikiran A. Hassan berdasarkan penelitian Federspiel.

Cukup jelas bahwa sekalipun Persis selalu menolak disebut terikat pada satu mazhab tertentu, akar intelektualismenya tetap tidak bisa dilepaskan dari bukti historis yang telah dikemukakan di atas. Persis sesungguhnya, sejak awal, telah memiliki kecenderungan pada mazhab Hambali dalam fiqh dan mazhab salaf (Ibnu Taimiyyah, Muhammad ibn Abdul Wahhab) dalam akidah, sekalipun A. Hassan juga mengapresiasi pemikiran Asy’ariyah-Maturidiyah. Kecenderungan itu menjadi sangat jelas dengan pilihan rujukan fiqh Persis. Di pesantren-pesantren Persis rujukan fiqh yang diambil, selain menggunakan kitab fiqh-hadis seperti Bulûgh Al-Marâm, juga menggunakan kitab Zâd Al-Ma‘âd yang ringkasannya diberi judul Hady Al-Rasûl. Metode belajar dengan menggunakan kitab fiqh-hadis adalah metode balajar fiqh yang sering digunakan para ulama mazhab Hambali, sekalipun tidak selalu. Bahkan Imam Ahmad ibn Hambal konon melarang para muridnya untuk menuliskan fatwa-fatwa fiqhnya. Yang dia lakukan justru mengumpulkan hadis yang ia beri titel Al-Musnad (atau lebih populer dengan nama Musnad Al-Imâm Ahmad ibn Hanbal). Pemilihan kitab Zâd Al-Ma‘âd semakin memperjelas kecenderungan fiqh Persis. Kitab ini ditulis oleh Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, salah seorang ulama mazhab Hambali yang meletakkan prinsip-prinsip metodologis fiqh mazhab Hambali.

Evaluasi dan Kritik

Kecenderungan itu pada mazhab mestinya jangan hanya diartikan sebagai pemihakan pada keputusan mazhab itu, tapi harus dipahami sebagai pemihakan pada metodologi yang dipakai oleh mazhab tersebut. Namun yang cukup mengganjal sampai hari ini, belum terlihat adanya perumusan matang metodologi fiqh Persis. Katakanlah A. Hasan secara umum pernah meletakkan dasar-dasar pengambilan putusan hukum dalam beberapa bukunya. Kemudian putranya, Abdul Qadir Hassan, pernah juga membuat satu buku khusus tentang ushul fiqh yang diajarkan di beberapa pesantren Persis, terutama di Bangil. Di beberapa pesantren lain diajarkan ushul fiqh yang ditulis Abdul Hamid Hakim (Mabâdî Awwaliyah, Al-Sulam, dan Al-Bayan). Ushul Fiqh yang ditulis oleh kedua ulama itu malah lebih memperlihatkan pendekatan mazhab Syafi‘i daripada mazhab Hambali. Paradoks ini memang perlu ditelusuri lebih komprehensif dan jelas. Tulisan ini hanya melihat secara highlight.

Pengetahun ini sangat penting diketahui oleh para pendukung kelompok pembaharu seperti Persis. Mengingat, selama ini, karena yang selalu dikampanyekan bahwa Persis tidak menganut mazhab apapun, hanya berpegang pada Al-Quran dan Al-Sunnah, seolah-olah Persis tidak punya rujukan intelektual yang jelas. Akibatnya, banyak generasi muda Persis yang beranggapan pemikiran Persis tidak sophisticated karena belum memiliki tradisi yang panjang dan mengakar dalam sejarah.

Bertolak dari pandangan itu pula, banyak generasi muda Persis yang tidak dapat mengapresiasi perkembangan pemikiran Persis secara baik dan tepat. Banyak di antara mereka yang akhirnya apriori, dan bahkan antipati. Mereka menganggap pemikiran Persis hanya pemikiran kelas lokal dan kacangan. Padahal, bila fakta di atas bisa ditangkap dengan baik anggapan seperti itu akan hilang. Sekalipun mungkin belum tentu sepakat dengan pilihan Persis, paling tidak apresiasi yang diberikan bisa lebih baik. Apalagi, perkembangan fiqh kontemporer yang lebih cenderung pada fiqh muqâranah (fikih perbandingan) menuntut apresisasi yang proporsional terhadap berbagai kecenderungan pemikiran berbagai mazhab.

Di sisi lain, bila kader Persis sendiri sadar akan kenyataan ini, mereka akan dapat lebih mudah mengembangkan kreativitas intelektualismenya. Sebab, perkembangan pemikiran Persis belakangan ini, terutama di bidang hukum, seringkali ketinggalan isu. Selain itu, tidak terlihat adanya kretivitas-kreativitas baru yang dikembangkan. Persis hari ini hanya jadi pengekor di bidang fiqh, padahal semasa A. Hassan dulu, benar-benar jadi lokomotif pembaharuan fiqh di Indonesia.

Bisa jadi, stagnasi ini terjadi karena sejak semula Persis dianggap berdiri pada arus intelektualnya sendiri, tidak berakar pada tradisi yang sudah lebih mapan dan menyejarah. Anggapan itu akhirnya menjadi bumerang. Kader-kader penerus Persis menjadi kehilangan pelita, karena pemikiran yang mereka temukan di Persis sama sekali belum seberapa dibandingkan dengan arus pemikiran lain yang sudah sangat maju dan mengakar dalam sejarah. Padahal, bila sejak awal sudah disadari ke mana kecenderungan intelektualismenya, kader-kader muda Persis akan lebih mudah ke mana mencari pendalaman pemikiran yang telah dikembangkan Persis. Dengan begitu, akan lebih mudah dilakukan terobosan-terobosan baru dalam berbagai pemikiran keagamaan, tanpa menghilangkan akar intelektualismenya sendiri. Barangkali sudah sunnatullâh bahwa sesuatu yang tidak berakar kuat, tidak akan kuat diterpa angin, apalagi angin kencang. Semoga tulisan ini bisa menjadi tadzkirah buat kita semua. Amin. Wallâhu A‘lam bi Al-Shawwâb.