Khutbah Jum’at: Takwa itu ada disini


Its me  3

Masih dalam suasana hari raya Idul fitri 1437 H ini, pertama-tama khatib mengucapkan do’a Taqobalallahu minna wa minkum, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt.

Sebulan penuh kita digembleng dalam ‘madrasah’ Ramadhan. Dalam menjalankan berbagai ibadah dalam bulan suci tersebut tentunya kita mendapat cobaan dan ujian, baik itu dari dalam diri kita (hawa nafsu), maupun dari luar (massa dan media massa) yang tidak henti-hentinya menggoda iman kita, sehingga nilai ibadah shaum kita rusak, walaupun kita kuat menahan lapar dan haus, namun tidak sedikit dan tidak terasa oleh kita, seperti: melakukan ghibah, namimah, suudzan dan lain-lain, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Oleh sebab itu jangan-jangan kita termasuk dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” Continue reading →

MINTA MAAF SEBELUM SHAUM RAMADHAN


masjid-sunset

Menjelang tibanya bulan Ramadhan, pada sebagian kaum muslimin terdapat keyakinan dan praktik untuk bermaaf-maafan sebelum melaksanakan shaum di bulan itu. Keyakinan dan praktik ini, menurut pengamatan kami, tidak terlepas dari peranan sebuah hadis yang sering kali disampaikan oleh sebagian khatib dan ustadz, baik dalam acara pengajian, buku, media elektronik maupun internet. Setelah kami analisa, ternyata redaksi dan maksudnya telah menyimpang dari maksud dan rujukan aslinya.

Berikut redaksi hadis yang keliru dan telah banyak beredar: Continue reading →

Soal Pengawasan Masjid oleh Kader-kader PDIP, Ini Komentar Ketua MUI


Ketua MUI M Amidhan Soal Pengawasan Masjid oleh Kader kader PDIP, Ini Komentar Ketua MUI

PENGAWASAN yang dilakukan oleh kader-kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap khatib di masjid, dinilai sangat melukai perasaan umat Islam. Demikian dilontarkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Amidhan Saberah Continue reading →

URUNAN KURBAN TERGANTUNG HARGA DOMBA? (BAGIAN II-TAMAT)


oleh : Amin Muchtar

PIC_0359Dalam menyikapi perkembangan jumlah urunan pada unta, para ulama menjelaskan:

Abu Thayyib Muhammad Syams Al-Haq berkata:

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي الْبَدَنَة أَيْ الْإِبِل ، فَقَالَتْ الشَّافِعِيَّة وَالْحَنَفِيَّة وَالْجُمْهُور إِنَّهَا تُجْزِئ عَنْ سَبْعَة ، وَقَالَ إِسْحَاق بْن رَاهْوَيْهِ وَابْن خُزَيْمَةَ إِنَّهَا تُجْزِئ عَنْ عَشَرَة ، وَهَذَا أَيْ إِجْزَاء الْإِبِل عَنْ عَشَرَةٍ هُوَ الْحَقُّ فِي الْأُضْحِيَّة لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس كُنَّا مَعَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَة سَبْعَةً وَفِي الْبَعِيْرِ عَشَرَةً رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَنِ . وَعَدَم إِجْزَاءِ الْإِبِلِ عَنْ عَشَرَةٍ هُوَ الْحَقُّ فِي الْهَدْي  وَأَمَّا الْبَقَرَةُ فَتُجْزِئ عَنْ سَبْعَةٍ فَقَطْ اِتِّفَاقًا فِي الْهَدْي وَالْأُضْحِيَّةِ اِنْتَهَى

“Dan diperselisihkan tentang al-badanah, yaitu unta. Ulama madzhab Syaf’i, Hanafi, dan ulama jumhur bahwa unta itu memadai dari 7 orang. Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah berkata, ‘unta itu memadai dari 10 orang.’ Dan pendapat ini, yaitu unta memadai dari 10 orang adalah benar dalam kurban berdasarkan hadis Ibnu Abbas, ‘Kami bersama Rasululah saw. (dalam perjalanan), maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang,” riwayat para pemilik kitab as-Sunan. Dan pendapat unta tidak memadai dari 10 orang adalah benar dalam hadyu. Adapun sapi memadai dari 7 orang saja disepakati dalam hadyu dan kurba. Selesai.” (Lihat, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, XII:373)

Muhammad bin Ali Asy-Syawkani berkata:

وأما كون البدنة عن سبعة كالبقرة فلحديث جابر في الصحيحين وغيرهما قال: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر كل سبعة منا في بدنه” وفي لفظ لمسلم رحمه الله “فقيل لجابر أيشترك في البقرة ما يشترك في الجزور فقال: ماهي إلا من البدن” وأخرج أحمد وابن ماجه عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أتاه رجل فقال: أنا على بدنة وأنا موسر ولا أجدها فأشتريها فأمره النبي صلى الله عليه وسلم أن يبتاع سبع شياه فيذبحهن” ورجاله رجال الصحيح ولا يعارض هذا الحديث حديث ابن عباس عند أحمد والنسائي وابن ماجه والترمذي وحسنه قال: كنا في سفرة فحضر الأضحى فذبحنا البقرة عن سبعة والبعير عن عشرة” وكذلك لا يعارضه ما في الصحيحين من حديث أبي رافع بن خديج أنه صلى الله عليه وسلم قسم فعدل عشرا من الغنم ببعير” لأن تعديل البدنة بسبع شياه هو في الهدي وتعديلها بعشر هو في الأضحية والقسمة

“Adapun unta memadai untuk 7 orang seperti halnya sapi berdasarkan hadis Jabir dalam Shahih al-Bukhari-Muslim dan lain-lain, ia berkata: ‘Rasulullah saw. memerintahkan kami agar berserikat dalam unta atau sapi. Setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam seekor Badanah (unta atau sapi yang gemuk).’ Dalam redaksi Muslim: ‘Maka ditanyakan kepada Jabir, apakah bisa berserikat pada sapi sebagaimana pada unta?’ Ia menjawab, ‘Tidaklah sapi itu melainkan termasuk badanah.’ Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa Nabi saw. didatangi oleh seorang laki-laki seraya berkata, ‘Aku berkewajiban untuk menyembelih seekor unta dan aku mampu untuk membelinya, namun aku tidak bisa mendapatkannya?” Nabi saw. lalu memerintahkannya untuk membeli tujuh ekor kambing dan menyembelihnya.’ Para rawi hadis itu shahih dan hadis ini tidak bertentangan dengan dengan hadis Ibnu Abas riwayat Ahmad, an-Nasai, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi, dan ia menilainya hasan, ia berkata, ‘ Kami (bersama Nabi saw.) dalam sebuah perjalanan, maka tibalah waktu berkurban, maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan pada seekor unta sepuluh orang.’ Begitu pula tidak bertentangan dengan hadis Avu Rafi’ bin Khadij dalam Shahih al-Bukhari-Muslim, bahwa Nabi saw. membagi rata di mana bagian setiap sepuluh kambing sama dengan satu ekor unta, karena pembagian satu ekor unta sebanding dengan tujuh kambing itu pada ‘kasus’ al-hadyu, sedangkan pembagian satu ekor unta sebanding dengan sepuluh kambing itu pada ‘kasus’ al-udhiyyah (qurban) dan ghanimah (harta rampasan perang).” (Lihat, ad-Durariy al-Mudhiyyah Syarh ad-Durar al-Bahiyyah, II:199-200)

Ibnu Hajar berkata:

وَاتَّفَقَ مَنْ قَالَ بِالِاشْتِرَاكِ عَلَى أَنَّهُ لَا يَكُونُ فِي أَكْثَر مِنْ سَبْعَة إِلَّا إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ سَعِيد بْن الْمُسَيِّبِ فَقَالَ : تُجْزِئُ عَنْ عَشَرَةٍ وَبِهِ قَالَ إِسْحَاق بْن رَاهْوَيْهِ وَابْن خُزَيْمَة مِنْ الشَّافِعِيَّةِ وَاحْتَجَّ لِذَلِكَ فِي صَحِيحِهِ وَقَوَّاهُ وَاحْتَجَّ لَهُ اِبْن خُزَيْمَة بِحَدِيثِ رَافِع بْن خَدِيج أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسَمَ فَعَدَلَ عَشْرًا مِنْ الْغَنَمِ بِبَعِير الْحَدِيث وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الشَّاةَ لَا يَصِحُّ الِاشْتِرَاك فِيهَا

“Orang yang berpendapat dibolehkan urunan unta bersepakat bahwa urunan unta itu tidak melebihi dari tujuh orang kecuali salah satu riwayat dari Sa’id bin al-Musayyib, ia berkata, ‘Unta memadai dari sepuluh orang.’ Pendapat ini dikemukakan pula oleh Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah dari madzhab Syafi’I, dan ia berhujjah untuk itu dalam kitab Shahih-nya dan ia mengukuhkannya. Ibnu Khuzaimah berhujah dengan hadis Rafi’ bin Khadij bahwa Nabi saw. membagi rata di mana bagian setiap sepuluh kambing sama dengan satu ekor unta. Hadis itu diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari-Muslim, dan mereka bersepakat bahwa tidak sah urunan pada seekor kambing.”  (Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, III:535)

Memperhatikan penjelasan para ulama di atas tampak jelas bahwa perubahan jumlah urunan pada unta untuk sepuluh orang, hemat kami, juga merupakan taqdiir Syar’I, yaitu ukuran yang ditetapkan secara syariat, karena pada bayan fi’li itu pun Nabi saw. sama sekali tidak menyinggung qiimah (harga), baik harga unta, sapi maupun domba. Apalagi menetapkan harga domba sebagai standar harga pembagi terhadap jumlah urunan sapi atau unta.

Berdasarkan analisa bayaan qawli  & Fi’li—sebagaimana telah disebutkan di awal—dapat diambil kesimpulan bahwa penetapan urunan 1 sapi = 7 orang dan unta = 7 atau 10 orang merupakan urusan ta’abbudi (ibadah), sementara penetapan harga saham 1/7 atau setiap orang “peserta kurban” bukan urusan ta’abbudi, melainkan urusan keduniaan yang ta’aqquli (rasional) sesuai harga pasaran sapi atau unta.

Adakah Pendekatan lain?

Maksudnya penetapan kebolehan urunan sapi lebih dari 7 orang menggunakan perspektif lughah (bahasa), dalam hal ini kata al-Badanah.

Pengertian badanah

Al-Badanah menurut bahasa digunakan secara khusus untuk al-ibil (unta), baik jantan maupun betina. Bentuk jamaknya al-budn. Unta disebut badanah karena gemuk tubuhnya. Secara istilah, makna al-Badanah mengalami perkembangan. Pada awalnya, mengikuti makna bahasa, yaitu  khusus al-ibil. Namun karena dalam syariat qurban urunan sapi disamakan  dengan unta dilihat dari aspek hukum kebolehannya, maka sapi dikategorikan badanah. (Lihat, Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi, VI:110)

Dengan demikian, kategorisasi sapi sebagai al-badanah bukan dari aspek kesamaan jenis binatang, namun dari aspek kesamaan hukum. Dalam konteks inilah pemahaman hadis Jabir di bawah ini

اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ

“Kami bersekutu bersama Nabi saw. di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor Unta atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam kambing sebagaimana bolehnya bersekutu dalam Badanah (Unta atau sapi)?” Jabir menjawab, “Tidaklah kami bersekutu, kecuali dalam Badanah (unta atau sapi).”

Karena itu, menurut sebagian ahli fiqih, bila disebut secara ijmal (global) kata al-badanah mencakup unta dan sapi, namun bila disebut secara tafshil (terpisah/terinci) hanya bermakna unta, tidak meliputi sapi. Pendapat ini mengacu kepada penggunaan kata itu dalam hadis-hadis sebagai berikut:

A.   Penyebutan secara Ijmal

  عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ

Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Kami bersekutu bersama Nabi saw. di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor Unta atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam kambing sebagaimana bolehnya bersekutu dalam Badanah (Unta atau sapi)?” Jabir menjawab, “Tidaklah kami bersekutu, kecuali dalam Badanah (unta atau sapi).” HR. Muslim, Shahih Muslim, II:955, No. hadis 1318; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:287, No. 2.900; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IX:295, No. 19.018.

B.   Penyebutan secara Tafshil (Terinci)

 عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir, ia berkata, “Pada tahun Hudaibiyyah kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw. seekor unta dari tujuh orang dan seekor sapi dari tujuh orang.” HR. Malik, Al-Muwatha, II:486, No. hadis 9, Asy-Syafi’I, Musnad Asy-Syafi’I, I:217, I:367, Muslim, Shahih Muslim, II:955, No. hadis 1318, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, III: 239-240, No. hadis 8209, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, IV:89, No. hadis 1502, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:451, No. hadis 4122, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1047, No. hadis 3132, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:215, No. hadis 9858, IX:294, No. hadis 19.016, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban,  IX:317, No. hadis 4006, dengan sedikit perbedaan redaksi antara kalimat ‘aam al-Hudaibiyyah dan bi al-Hudaibiyyah.

Pada hadis ini, kata al-Badanah disebut terpisah dengan kata al-Baqarah (sapi). Dengan demikian, kata al-Badanah pada hadis ini hanya bermakna unta, tidak meliputi sapi.

Adapun hadis dengan redaksi:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ سَبْعِينَ بَدَنَةً الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ”

Pada tahun Hudaibiyyah kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw. 70 ekor badanah,  dan seekor badanah dari tujuh orang.” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, III:364, No. hadis 14.966

Tidak dapat dimaknai ijmal, meliputi unta dan sapi, karena pada

pada riwayat Ath-Thabrani telah dijelaskan oleh Jabir sendiri

dengan redaksi:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، قُلْنَا لِجَابِرٍ وَالْبَقَرَةُ قَالَ هِيَ مِثْلُهَا

“Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw. seekor badanah dari tujuh orang.” Kami (Amr bin Dinar dan Abu Zubair) bertanya kepada Jabir, “Bagaimana dengan sapi?” Ia menjawab,

“Sapi seperti itu pula.” HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VIII:312, No. hadis 8734

Penjelasan Jabir di atas menunjukkan bahwa albadanah dalam riwayat Ahmad di atas bermakna unta. Dengan perkataan lain,  para sahabat dan Nabi saw. berkurban 70 ekor unta, dan seekor unta mencukupi tujuh orang kurbani. Dengan demikian, karena Nabi saw.–sebagaimana disampaikan para sahabat–sudah menetapkan tafshil (rincian), baik jenis hewan maupun jumlah orangnya, maka pendekatan bahasa (kata al-badanah) tidak dapat dijadikan hujjah kebolehan urunan sapi itu lebih dari 7 orang.

URUNAN KURBAN TERGANTUNG HARGA DOMBA? (BAGIAN I)


Oleh : Amin Muchtar

PIC_0348Sebagaimana telah dimaklumi, bahwa qurban merupakan salah satu bagian dari ibadah nusuk, yakni ibadah dalam bentuk sembelihan. Ibadah nusuk terbagi kepada tiga macam:

  1. al-Hadyu, yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi hujjaj (orang yang beribadah haji). Dan hadyu itu adalah rangkaian dari ibadah haji. Selain terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu), yaitu tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah sebelum maghrib, al-hadyu terikat pula oleh miqat makani (ketentuan tempat), yaitu wajib disembelih di daerah Mina dan sekitarnya.
  2. al-Udhhiyyah atau yang biasa disebut qurban,  yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi orang yang tidak sedang beribadah haji. Berbeda dengan al-hadyu, al-udlhiyah tidak terikat oleh miqat makani, yaitu dapat disembelih dimana saja
  3. al-Aqiqah,  yaitu menyembelih binatang tertentu pada hari ke-7 dari kelahiran seorang anak. Sama dengan al-udlhiyah, al-Aqiqah tidak terikat oleh miqat makani, yaitu dapat disembelih dimana saja

Karena qurban itu termasuk nusuk, maka terikat dengan berbagai ketentuan yang berhubungan dengan jenis dan sifat binatang, cara dan waktu penyembelihan, pendistribusiannya, termasuk masalah urunan atau patungan.

Ketentuan Urunan

Untuk tiap orang dianjurkan berqurban satu ekor kambing dan bila yang diqurbankannya itu unta mencukupi dari sepuluh orang. Sedangkan sapi mencukupi dari tujuh orang. Apakah jumlah sebanyak itu merupakan taqdiir Syar’I atau taqdiir ‘urfi? Taqdiir Syar’I berarti penetapan ukuran secara syariat, sedangkan  taqdiir ‘urfi berarti penetapan ukuran secara ‘adat.

Perbedaan cara pandang itu berimplikasi terhadap istinbath hukm (penetapan hukum) urunan unta dan sapi. Apabila menggunakan pendekatan taqdiir Syar’I, maka jumlah itu merupakan batasan maksimal dan statusnya sebagai  syarat sah urunan unta & sapi. Pendekatan ini tidak tergantung kepada qiimah (harga), baik unta, sapi maupun domba, juga tidak terpengaruh dengan standar harga pembagi, baik yang dijadikan standarnya harga domba maupun harga sapi/unta itu sendiri.

Dengan pendekatan ini, maka penetapan 1 sapi = 7 orang dan unta = 7 atau 10 orang merupakan urusan ta’abbudi (ibadah), sementara penetapan harga saham tiap orang bukan urusan ta’abbudi, melainkan urusan keduniaan yang ta’aqquli (rasional) sesuai harga pasaran domba, sapi atau unta.

Namun apabila menggunakan pendekatan taqdiir ‘urf’i, maka jumlah itu bukan batasan maksimal dan jumlahnya dapat berbeda sesuai dengan fluktuasi harga pada waktu tertentu dan di daerah masing-masing. Selain itu, tergantung pula mana yang akan digunakan sebagai standar harga pembagi. Apabila yang dijadikan standar harga pembagi adalah harga domba, maka tergantung harga domba yang berapa dan harga sapi atau unta yang berapa, sehingga penetapan harga saham tiap orang juga akan berbeda. Misalkan harga domba/ekor = Rp. 1.200.000, sementara harga sapi/ekor Rp. 40.000.000, maka 40 jt:1,2 jt = 33,3. Sehingga 1 sapi mencukupi dari urunan 33 orang. Jumlah urunan ini akan berbeda bila harga sapi dan dombanya juga berbeda, baik lebih mahal ataupun lebih murah. Misalkan harga domba/ekor = Rp. 1.500.000, sementara harga sapi/ekor Rp. 14.000.000, maka 14 jt:1,5 jt = 9,3. Sehingga 1 sapi mencukupi dari urunan 9 orang, dan begitu seterusnya.

Untuk itu perlu kita analisa mana di antara kedua pendekatan itu—taqdiir syar’I & taqdiir ‘urfi—yang lebih tepat digunakan? Untuk menjawab itu, mari kita analisa hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah urunan tersebut sebagai berikut:

Kategori Bayan

Dilihat dari aspek bentuk bayaan (penjelasan), pensyariatan urunan sapi & unta menggunakan dua bentuk bayaan: (1) bil qawl (sabda Nabi saw.) dan (2) bil fi’l (perbuatan Nabi saw.)

Bayaan bil qawl (sabda Nabi saw.)

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْجَزُورُ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasululah saw. bersabda, “Seekor sapi (mencukupi) dari tujuh orang dan seekor unta (mencukupi) dari tujuh orang.” HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, III:98, No. hadis 2808, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VI:98, No. hadis 5917, IX:35, No. hadis 9064. Dan  Ath-Thabrani meriwayatkan pula dari shahabat Ibnu Mas’ud (Al-Mu’jam Al-Kabir, X:83, No. hadis 10.026, dengan redaksi:

الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْجَزُورُ عَنْ سَبْعَةٍ فِي الأَضَاحِيْ

“Seekor sapi (mencukupi) dari tujuh orang dan seekor unta (mencukupi) dari tujuh orang dalam penyembelihan hewan qurban.”

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi, dari Jabir bin Abdullah, dengan redaksi:

الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ

“Seekor sapi (mencukupi) dari tujuh orang dan seekor unta (mencukupi) dari tujuh orang.” H.R. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:235, No. hadis 9976

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi mengungkap ketentuan berserikat itu dengan menggunakan fi’il ‘amr (kata perintah)

اشْتَرِكُوا فِي الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ

“Berserikatlah kalian dalam unta atau sapi. Setiap tujuh orang berserikat dalam seekor Badanah (unta atau sapi yang gemuk).” HR. Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, IX:227, No. hadis 3919.

Dalam riwayat lain, Jabir mengungkap ketentuan berserikat itu dengan kalimat:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَشْتَرِكَ فِى الإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِى بَدَنَةٍ.

“Rasulullah saw. memerintahkan kami agar berserikat dalam unta atau sapi. Setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam seekor Badanah (unta atau sapi yang gemuk). “ HR. Muslim, Shahih Muslim, II:882, No. hadis 1213, II:955, No. hadis 1318, Ahmad, Musnad Ahmad, III:292, No. hadis 14.148, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:234, No. 9974, IX:294, No. hadis 19.017, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir, VII:120, No. hadis 6563, Ibnu Al-Ja’di, Musnad Ibnu Al-Ja’di, I:384, No. hadis 2628.

Memperhatikan bayaan qawli  di atas tampak jelas bahwa Nabi saw. mensyaratkan urunan pada sapi & unta untuk tujuh orang. Hemat kami, penetapan jumlah sebanyak itu merupakan taqdiir Syar’I, yaitu ukuran yang ditetapkan secara syariat, karena pada hadis itu Nabi saw. sama sekali tidak menyinggung qiimah (harga), baik harga unta, sapi maupun domba. Apalagi menetapkan harga domba sebagai standar harga pembagi terhadap jumlah urunan sapi atau unta.

Berdasarkan analisa bayaan qawli  dapat diambil kesimpulan bahwa penetapan 1 sapi = 7 orang dan unta = 7 orang merupakan urusan ta’abbudi (ibadah), sementara penetapan harga saham tiap orang bukan urusan ta’abbudi, melainkan urusan keduniaan yang ta’aqquli (rasional) sesuai harga pasaran sapi atau unta.

Bayaan bil fi’l (perbuatan Nabi saw.)

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيْرِ عَشْرَةً.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Kami bersama Rasululah saw. dalam perjalanan, maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” H.R. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, IV:89, No. hadis 1501, dan ia meriwayatkan pula dengan kalimat wa fil jazuur ‘asyrah (Sunan At-Tirmidzi, III:249, No. hadis 905) Sedangkan dalam riwayat Ibnu Majah dengan redaksi:

فَاشْتَرَكْنَا فِي الْجَزُورِ عَنْ عَشَرَةٍ ، وَالْبَقَرَةِ عَنْ سَبْعَةٍ

“Lalu kami patungan pada seekor unta untuk sepuluh orang dan pada seekor sapi tujuh orang “ (Sunan Ibnu Majah, II:1047, No. hadis 3131)

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, III:59, No. hadis 4482, Sunan An-Nasai, VII:222, No. hadis 4392, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, IX:318, No. hadis 4007, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:291, No. hadis 2908, Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala As-Shahihain, IV:256, No. hadis 7559, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir, XI:336, No. hadis 11.929, dengan sedikit perbedaan redaksi.

Sementara dalam riwayat Ahmad dengan redaksi

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَ النَّحْرُ فَذَبَحْنَا الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَعِيرَ عَنْ عَشَرَةٍ

“Kami pernah bersama Nabi saw. dalam sebuah perjalanan, maka tibalah waktu berkurban, maka kami menyembelih seekor sapi atas tujuh orang dan seekor unta atas sepuluh orang.”  (Musnad Ahmad, I:275, No. hadis 2484)

Dalam riwayat Ibnu Hibban dengan menggunakan aw (atau) pada unta

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَ النَّحْرُ ، فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ سَبْعَةً ، وَفِي الْبَعِيرِ سَبْعَةً أَوْ عَشْرَةً

“Kami pernah bersama Nabi saw. dalam sebuah perjalanan, maka tibalah waktu berkurban, maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan pada seekor unta tujuh atau sepuluh orang.”  (Shahih Ibnu Hibban, IX:318, No. hadis 4007)

Selain oleh Ibnu Abbas, urunan itu diterangkan pula oleh Jabir bin Abdullah sebagai berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir, ia berkata, “Pada tahun Hudaibiyyah kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw. seekor unta dari tujuh orang dan seekor sapi dari tujuh orang.” HR. Malik, Al-Muwatha, II:486, No. hadis 9, Asy-Syafi’I, Musnad Asy-Syafi’I, I:217, I:367, Muslim, Shahih Muslim, II:955, No. hadis 1318, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, III: 239-240, No. hadis 8209, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, IV:89, No. hadis 1502, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:451, No. hadis 4122, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1047, No. hadis 3132, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:215, No. hadis 9858, IX:294, No. hadis 19.016, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban,  IX:317, No. hadis 4006, dengan sedikit perbedaan redaksi antara kalimat ‘aam al-Hudaibiyyah dan bi al-Hudaibiyyah.

Sementara dalam riwayat Ahmad dengan redaksi:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ سَبْعِينَ بَدَنَةً الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ

“Pada tahun Hudaibiyyah kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw. 70 ekor badanah,  dan seekor badanah dari tujuh orang.” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, III:364, No. hadis 14.966

Dalam riwayat Ath-Thabrani dengan redaksi:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، قُلْنَا لِجَابِرٍ وَالْبَقَرَةُ قَالَ هِيَ مِثْلُهَا

“Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah saw. seekor badanah dari tujuh orang.” Kami (Amr bin Dinar dan Abu Zubair) bertanya kepada Jabir, “Bagaimana dengan sapi?” Ia menjawab, “Sapi seperti itu pula.” HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VIII:312, No. hadis 8734

Dalam riwayat lain diterangkan oleh Hudzaifah

عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَكَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Hudzaifah bahwa Rasulullah saw. menetapkan urunan di antara kaum muslimin satu ekor sapi untuk tujuh orang. (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, V:405, No. hadis 23.493)

Memperhatikan bayaan fi’li di atas tampak jelas bahwa urunan pada sapi tidak mengalami perubahan atau perkembangan jumlah, yakni 1 sapi = 7 orang. Namun urunan pada unta menunjukkan perubahan atau perkembangan jumlah. Dalam keterangan Jabir, 1 unta = 7 orang, sementara dalam keterangan Ibnu Abbas 1 unta = 7 atau 10 orang.

Meski terjadi perkembangan jumlah urunan pada unta, namun pada hadis itu sama sekali tidak disinggung standar harga pembagi. Apalagi menetapkan harga domba sebagai standar harga pembagi terhadap jumlah urunan pada unta.