PDIP Harusnya Berguru ke Persis


islamkiriSOREANG,-Ketua STAI Persatuan Islam (Persis), Anwaruddin mengatakan, seharusnya orang-orang PDIP menjadikan Persis sebagai guru. Hal itu disebabkan panutan warga PDIP yakni Presiden Soekarno menjadikan guru besar Alm. KH. A. Hassan sebagai gurunya.

“Kalau kita baca sejarah di buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi” sudah sangat jelas apabila Soekarno menganggap pendiri Persis, A. Hassan, sebagai gurunya,” kata Anwaruddin, dalam peletakan batu pertama pembangunan kelas baru STAI Persis, Sabtu (24/1).

Acara dihadiri Wagub Jabar Deddy Mizwar, Ketua Umum PP Persis Abdurrahman, para pengurus Persis Jabar dan Kab. Bandung. “Kita jangan melupakan sejarah sehingga seharusnya warga PDIP menjadikan Persis sebagai guru,” katanya.

Anwaruddin menambahkan, apabila ormas-ormas Islam lain sudah memiliki film perjuangan tokohnya seperti NU dengan KH. Hasyim Asy’ari, Muhammadiyah dengan KH. Ahmad Dahlan, bahkan PKS juga sudah membuat film. “Untuk itu, Persis jangan kalah dengan membuat film sepak terjang para tokohnya seperti A. Hassan, HM Natsir, dan tokoh lainnya,” katanya.(Sarnapi/A-107/PR)

Lahirnya Pers Islam di Indonesia


Salah satu hal yang turut menentukan perjuangan umat Islam adalah penguasaan media massa. Melalui media massa, peperangan pemikiran yang sengit, penyebaran ilmu serta penguasaan opini di masyarakat dapat dikuasai. Perjuangan umat Islam di Indonesia melalui media massa nyatanya memang telah berurat dan berakar, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Jika kita bercermin dari lembaran sejarah, akan terlihat media massa Islam menjadi roda-roda penggerak perjuangan umat Islam, menjadi minyak yang membakar perjuangan umat Islam, bahkan seiring sejalan dengan terbit atau terpuruknya nasib umat di negeri ini Continue reading →

A. Hassan: Ulama Nasional yang Serba Bisa, Mandiri, Tegas dan Gigih Berdakwah


Perkembangan Islam nusantara pada paruh pertama abad XX merupakan zaman pergolakan pemikiran dengan semangat memurnikan ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Pergolakan ini menjelma dalam bentuk gerakan sosial keagamaan seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam dan Al-Irsyad. Dalam gerakan-gerakan itu, sosok Ahmad Hassan tidak mungkin dilewatkan karena perannya yang begitu besar dan pengaruhnya yang begitu luas melewati batas organisasi. Continue reading →

Kisah Djohan Effendi, Ahmadiyah dan A. Hassan


Kisah perjalanan hidup Djohan Effendi sungguh unik. Sejak muda ia menjadi pengagum berat pemikiran Islam Ustadz A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis), yang dikenal sebagai penentang keras Ahmadiyah. Namun di usia senja, Djohan Effendi justru menjadi pembela Ahmadiyah. Sungguh ironis!

__________________________

Djohan Effendi. Namanya cukup dikenal sebagai pembela kelompok sempalan Ahmadiyah dan senior di kalangan aktivis liberal. Namanya masuk dalam buku “50 Tokoh Liberal di Indonesia” untuk kategori pionir atau pelopor gerakan liberal bersama dengan Ahmad Wahib, Munawir Sadzali, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Mukti Ali, dan Abdurrahman Wahid.

Peneliti asal Australia, Greg Barton Continue reading →

A. Hassan dan Persis: Sikap Tegasnya terhadap Para Peleceh Islam


OPINI (SALAM -ONLINE.COM): Penghinaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan simbol-simbol kemuliaan ajaran-ajaran Islam pada tahun 1930-an marak terjadi di Nusantara.

Kelompok pengusung paham kebangsaan atau mereka yang biasa disebut sebagai aktivis nasionalis-sekular, yang juga tergabung dalam kelompok Theosofi-Freemason, banyak melakukan hujatan dan propaganda hitam terhadap syariat Islam.

Selain mereka, hujatan terhadap Islam juga dilakukan oleh zending Kristen dan misionaris Katolik, bahkan oleh oknum tokoh etnis Tionghoa. Umumnya, pelecehan tersebut dilakukan secara terbuka lewat media massa.

Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, dan didanai oleh Vrijmetselarij Vereniging (Organisasi Freemason), melakukan penghinaan lewat artikel-artikelnya. Mereka menghina Rasulullah dan melecehkan syariat poligami pada tahun 1937.

Menyikapi hal itu, aktivis Persatuan Islam (Persis) Continue reading →

Kisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis


Setelah berdebat dengan A. Hassan, tokoh atheis mengakui kekeliruan dan mengakui adanya Tuhan

Oleh: Artawijaya (Editor Pustaka Al Kautsar)

Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang Continue reading →